Keira tidak punya apa-apa
Dibuang ibunya saat usia lima tahun dibesarkan di panti asuhan yang lebih mirip penjara dan dijual seperti barang bekas ke dunia orang kaya yang tidak pernah ia pahami
Tapi suatu malam ia terbangun di tepi kolam teratai sebuah mansion mewah di Jakarta basah kuyup jantung berdegup kencang dan kepala dipenuhi potongan memori yang bukan miliknya Api Darah Seorang pria yang memeluk tubuhnya yang tak bernyawa dan ikut terbakar bersamanya
Keira tahu dua hal pertama ia sudah pernah mati Kedua pria itu Darren Hendrawan pewaris konglomerat paling berkuasa di Indonesia akan mati juga Kecuali ia mengubah segalanya
Masalahnya Darren sudah punya tunangan dari keluarga elite Seluruh klan Hendrawan menganggap Keira sampah Dan racun yang perlahan membunuh Darren dari dalam ditanam oleh ayahnya sendiri
Tapi Keira bukan gadis yang mudah menyerah Ia pernah makan dari tempat sampah ia tidak takut dengan tatapan merendahkan para sosialita Jakarta Ia pernah mati ia tidak takut dengan ancaman
Yang ia takutkan hanya satu kehilangan pria yang ternyata telah memilihnya bukan sekali bukan dua kali tapi di setiap kehidupan
Kehidupan ini sudah cukup bisiknya
Tidak jawab Darren Aku akan menemukanmu di kehidupan berikutnya juga
Tapi bagaimana jika kehidupan berikutnya sudah tidak ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tere Nusa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024: Cincin dan Dosa
Seminggu setelah ulang tahunnya, Keira menerima cincin.
Bukan di ruang pesta.
Bukan di depan keluarga.
Bukan dengan musik, bunga, atau lutut yang menyentuh lantai seperti adegan lamaran di drama.
Darren memberikannya di balkon kamar Penthouse Utama, ketika Jakarta mulai menyalakan lampu malam dan angin tinggi membawa aroma hujan dari kejauhan.
Kotaknya kecil.
Hitam.
Terlalu sederhana untuk sesuatu yang begitu berbahaya bagi jantung Keira.
"Buka," kata Darren.
Keira menatapnya curiga. "Kalau isinya kontrak, aku menolak membaca."
"Bukan kontrak."
"Kalau isinya tagihan belanja Plaza Indonesia, aku pingsan."
Sudut bibir Darren bergerak sedikit. "Buka."
Keira membuka kotak itu.
Di dalamnya ada cincin rubi.
Batu merahnya tidak terlalu besar, tetapi warnanya dalam, seperti setetes darah yang dibekukan di bawah cahaya. Rangkanya tipis, elegan, dan ketika Keira mengangkatnya, ia melihat huruf kecil di bagian dalam.
K.
Ia mendadak tidak bisa bercanda.
Darren mengambil cincin itu dari kotak, lalu menggenggam tangan kirinya.
"Ini bukan lamaran," katanya.
Keira mengangkat mata.
"Ini janji."
Suara Darren tenang. Tetapi jari-jarinya, ketika memasangkan cincin itu, bergetar sangat halus.
Keira melihatnya.
Dan entah kenapa, getaran kecil itu membuat cincin tersebut terasa lebih berat daripada semua berlian di toko yang pernah ia coba.
"Cuma satu batu?" katanya akhirnya, berusaha menyelamatkan diri dari menangis. "Pak Darren pelit juga."
"Mau ditambah?"
"Jangan. Nanti tanganku kelihatan seperti toko emas berjalan."
Namun begitu cincin itu pas di jarinya, Keira menyembunyikan tangan ke belakang dan menggenggamnya erat-erat.
Seolah takut cincin itu hilang.
Seolah takut janji itu berubah pikiran.
Darren melihat semua itu dan tidak membongkarnya.
Ia hanya mengangkat tangan Keira lagi, menariknya dari balik punggung dengan sabar, lalu mencium buku jarinya tepat di atas cincin itu.
Keira benar-benar berhenti bernapas.
Gerakan itu bukan dramatis. Tidak lama. Tidak disertai kata indah.
Tetapi bagi Keira, yang sepanjang hidupnya lebih sering menerima barang bekas daripada janji, sentuhan singkat itu terasa seperti dokumen yang diberi stempel resmi oleh seluruh dunia.
"Kalau hilang?" tanyanya, masih mencoba terdengar biasa.
"Aku buat lagi."
"Kalau aku jual?"
"Aku beli kembali."
"Kalau harganya naik?"
"Bagus. Berarti investasimu berhasil."
Keira menatapnya beberapa detik.
Lalu tertawa.
Tawa itu ringan, hampir tidak percaya, dan Darren memandangnya seolah tawa itu adalah satu-satunya hal di Jakarta yang layak disimpan malam ini.
Malam itu ada jamuan kecil di taman compound.
Kata kecil, dalam rumah Hendrawan, berarti meja panjang, lampu taman yang disusun seperti acara amal, makanan terlalu banyak, dan tamu yang jumlahnya cukup untuk membuat Keira ingin bersembunyi di balik tanaman hias.
Helena Hartono datang dengan gaun yang lebih cocok untuk pesta malam di hotel daripada makan malam taman. Bahunya terbuka, parfumnya tajam, dan senyumnya selalu mengarah pada Darren meski tubuhnya berdiri di mana pun.
"Koh Darren," katanya manis, membawa kotak kecil berlapis kain merah. "Mama saya titip sarang burung. Katanya bagus untuk kesehatan Koh."
Keira yang sedang memegang gelas langsung menoleh.
Koh.
Sarang burung.
Mama titip.
Hebat. Tiga tusukan dalam satu kalimat.
Darren bahkan tidak melihat kotak itu. "Serahkan pada staf."
Helena tertawa kecil, seolah penolakan itu lelucon pribadi. "Koh selalu dingin. Tapi justru itu yang bikin orang penasaran."
Keira menyesap minumannya.
Rasanya tiba-tiba seperti air keran.
Sepanjang makan malam, Helena terus mencari celah. Bertanya apakah Darren sudah makan, apakah ia masih sering sakit, apakah ia ingat acara amal keluarga Hartono tahun lalu. Ia duduk terlalu dekat ketika ada kursi lain. Tertawa terlalu keras ketika Darren hanya menjawab satu kata.
Darren mengabaikannya dengan elegan.
Masalahnya, diabaikan Darren tidak cukup untuk membuat Keira puas.
Karena Helena tidak sedang berbicara kepada Darren saja.
Ia sedang berbicara kepada semua orang di taman.
Lihat, aku cukup dekat untuk memanggilnya Koh Darren.
Lihat, keluargaku bisa mengirim sesuatu untuk kesehatannya.
Lihat, aku punya alasan berada di sini.
Keira pergi ke kamar kecil menjelang akhir jamuan, bukan karena perlu, melainkan karena jika tetap duduk di sana ia mungkin akan menusukkan garpu ke taplak meja.
Ketika ia kembali lewat koridor samping, Ratna muncul dari balik pilar.
"Mbak Keira."
Nada suaranya terlalu tenang.
Keira berhenti. "Apa?"
Ratna menatap taman, lalu kembali padanya. "Helena baru saja berkata di meja bahwa anak panti asuhan tidak mungkin menjadi nyonya besar. Dia juga bilang seseorang harus tahu diri sebelum mempermalukan keluarga besar."
Udara malam mendadak hening.
Keira menatap Ratna.
"Dia bilang begitu saat aku tidak ada?"
"Ya."
"Darren dengar?"
"Pak Darren sedang menerima telepon beberapa langkah dari meja."
Tentu saja.
Helena tidak cukup bodoh untuk bunuh diri di depan Darren.
Keira tersenyum.
Ratna tidak terlihat lega melihat senyum itu.
"Mbak?"
"Tidak apa-apa."
Kali ini, Keira tahu persis bahwa itu bohong.
Ia kembali ke meja dengan wajah tenang. Helena menatapnya sekilas, senyumnya ringan dan puas. Keira duduk di samping Darren, membiarkan tangan bercincin rubi itu berada di atas meja.
Helena melihat cincin itu.
Senyumnya kaku sepersekian detik.
Keira merasa sesuatu yang gelap di dadanya tersenyum balik.
Keesokan paginya, Keira membuka lemari obat di Sayap Giok.
Ningsih berdiri di belakangnya, wajah pucat.
"Mbak, untuk apa?"
"Teh Helena."
Ningsih menelan ludah. "Mbak..."
"Dia ingin duduk di tempatku."
Keira mengambil bungkusan kecil dari bagian belakang laci. Ia tidak menyebutkan nama isinya. Tidak menjelaskan takaran. Tidak memberi ruang bagi Ningsih untuk berpura-pura ini hanya obat masuk angin.
Justru karena tidak dijelaskan, udara terasa lebih berat.
"Kalau begitu," kata Keira pelan, "jangan pernah punya anak yang bisa mengancam posisiku."
Tangan Ningsih gemetar.
"Mbak, ini... ini benar?"
Keira menoleh.
Ningsih langsung menunduk, tetapi pertanyaannya sudah menggantung di antara mereka.
Benar?
Tidak.
Tentu saja tidak benar.
Keira tahu itu.
Bagian dirinya yang masih mengingat daisy putih, ulang tahun pertama, tangan Darren yang gemetar saat memasangkan cincin, tahu bahwa ini bukan perbuatan orang baik.
Tetapi bagian lain dirinya mengingat hal yang berbeda.
Mengingat bagaimana perempuan-perempuan dengan senyum manis bisa menusuk tanpa meninggalkan darah. Mengingat bagaimana orang yang terlalu lama menunggu untuk membalas akhirnya mati dengan semua kesabarannya masih utuh.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu baik.
Dan ia mati karenanya.
"Ning," kata Keira, suaranya lebih lembut. "Kalau kamu takut, letakkan saja. Aku akan cari cara lain."
Ningsih menggigit bibir sampai hampir berdarah.
Ia takut.
Keira bisa melihat itu.
Tetapi rasa takut Ningsih pada dunia di luar sana, pada orang-orang seperti Helena, pada kemungkinan Keira terluka dan berubah semakin jauh, juga hidup di matanya.
Akhirnya Ningsih mengambil bungkusan itu dengan tangan gemetar.
Keira tidak memuji.
Tidak menghibur.
Ada hal-hal yang jika diberi kata-kata manis justru menjadi lebih menjijikkan.
Siang itu, Helena menerima teh kurma merah di area duduk taman.
Ningsih meletakkannya dengan wajah menunduk.
Helena bahkan tidak melihatnya.
"Taruh saja."
Keira menonton dari balik jendela Sayap Giok.
Rio berdiri jauh di dekat jalur samping, berbicara dengan salah satu staf keamanan. Keira tahu compound punya kamera di banyak sudut. Ia tahu Darren mungkin bisa mengetahui apa pun yang terjadi jika ia mau.
Pikiran itu seharusnya menghentikannya.
Tidak.
Justru membuat dadanya terasa lebih dingin.
Kalau Darren tahu, apa yang akan ia lakukan?
Keira tidak punya jawaban.
Malamnya, ia berdiri di depan cermin.
Cincin rubi bersinar di jarinya.
Scarf tipis menutup bekas gigitan di lehernya.
Wajah di cermin tampak cantik, mahal, dan asing.
"Kamu jahat," bisiknya pada bayangan sendiri.
Bayangan itu tidak menyangkal.
Keira menutup mata sebentar.
Ia menunggu rasa penyesalan datang seperti di cerita moral yang baik.
Yang datang hanya ketakutan lama.
Takut kehilangan tempat.
Takut seseorang mengambil Darren.
Takut ia kembali menjadi gadis yang berdiri di luar pintu, menunggu dipilih, lalu tidak pernah dipilih.
Ia mencoba membayangkan dirinya berjalan ke Helena besok pagi, meminta maaf, menyuruh Dokter Xiao memeriksanya sebelum semuanya terlambat.
Bayangan itu ada.
Keira bukan tidak punya hati nurani.
Justru karena punya, ia merasakan kuku kecil rasa bersalah menggores bagian dalam dadanya.
Tetapi setelah bayangan itu, muncul bayangan lain.
Helena tertawa di meja makan.
Helena berkata anak panti tidak tahu diri.
Helena atau perempuan lain duduk di samping Darren, menyentuh lengannya, membawa nama keluarga, membawa rahim yang bisa dipakai orang-orang tua sebagai alasan menggantikannya.
Keira membuka mata.
Di cermin, gadis itu masih dirinya.
Hanya saja lebih dingin daripada kemarin.
Mungkin inilah harga tinggal di sisi Darren Hendrawan.
Bukan karena Darren meminta ia menjadi kejam.
Melainkan karena begitu ia mencintai sesuatu, dunia tiba-tiba penuh tangan yang ingin merebutnya.
Ketika ia membuka mata lagi, suaranya sudah dingin.
"Aku tidak akan mati karena terlalu baik untuk kedua kalinya."
Di sayap tamu, Helena menekan perutnya.
Awalnya hanya rasa tidak nyaman.
Lalu mual ringan.
Ia mengerutkan kening, menatap cangkir teh kosong di meja, lalu memanggil pelayan dengan kesal.
"Makanan malam ini kenapa aneh sekali?"
Pelayan itu panik meminta maaf.
Helena mengibaskan tangan, terlalu sombong untuk merasa takut.
Ia belum tahu tubuhnya baru saja menjadi medan perang kecil.
Dan Keira, dari kejauhan, sudah menutup pintunya.