Dikhianati suami tercinta selama tujuh tahun, Nadira baru tahu Raka sengaja menghalangi kehamilannya demi cinta lamanya. Saat nyawanya hampir habis, ia terlahir kembali ke malam kebakaran sebelum hari akad.
Melihat Raka meninggalkannya di api demi wanita itu, Nadira membatalkan pernikahan dan menikah kilat dengan Bima, petugas Damkar yang menyelamatkannya. Pernikahan kontrak demi balas dendam ini justru memberinya cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4
Ia benar-benar menyerahkan sesuatu.
Kiana menatap kartu ATM itu sampai mobil berhenti di gerbang Vila Lim. Di hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya dengan Jovian, ia pulang bukan sebagai calon pengantin yang ditinggalkan, melainkan sebagai istri sah pria lain.
Ironisnya, rumah sudah lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
Begitu masuk, ia mendengar suara perempuan-perempuan dari ruang tengah. Tawa ditahan, bisikan dipanjangkan, cangkir teh beradu pelan. Keluarga jauh dari pihak Hendro dan beberapa kerabat Lim yang biasanya baru muncul saat ada acara besar sudah duduk memenuhi sofa.
Mereka datang membawa buah, kue, dan wajah prihatin.
Mata mereka membawa hal lain.
"Aduh, Kiana," seorang tante berkalung mutiara langsung berdiri. "Kamu yang sabar, ya. Namanya jodoh memang nggak bisa dipaksa."
"Untung belum telanjur pesta besar," sambung yang lain, suaranya rendah tapi cukup jelas. "Kalau sudah resepsi, malu sekali."
Bi Lan yang berdiri di belakang kursi roda Kiana langsung menegang. Namun Kiana hanya tersenyum tipis.
"Terima kasih sudah datang."
Tidak ada tangis. Tidak ada penjelasan. Tidak ada buku nikah yang ia keluarkan untuk membungkam mereka.
Kiana tahu jenis orang seperti ini. Jika ia menunjukkan luka, mereka akan menyentuhnya sambil berpura-pura mengobati. Jika ia menunjukkan kemenangan, mereka akan mencari cara membuatnya terlihat sombong.
Jadi ia hanya duduk tenang, menerima teh, dan membiarkan mereka lelah sendiri.
Ketika salah satu kerabat bertanya apakah Jovian masih bisa "dibicarakan baik-baik", Kiana meletakkan cangkirnya.
"Tidak perlu. Saya sudah selesai dengan dia."
Ruang tengah mendadak sunyi.
Lily yang duduk di sampingnya menatap putrinya, lalu tersenyum sangat kecil. Untuk pertama kalinya pagi itu, Kiana melihat Mama tidak lagi berusaha menutupi luka keluarga mereka demi wajah orang lain.
Siang menjelang, para kerabat akhirnya pergi setelah tidak mendapatkan air mata yang mereka inginkan.
Begitu rumah lengang, Kiana masuk kamar dan menelepon Vani.
"Vani, aku mau mulai proses notaris untuk wasiat Engkong."
"Udah gue susun daftar dokumennya," jawab Vani cepat. "Gue juga hubungi Pengacara Tjen. Tapi siap-siap, Hendro pasti nggak diam."
"Aku tahu."
Kiana membuka kotak perhiasan di meja rias. Kalung berlian dari Jovian. Gelang emas. Anting mutiara. Semua benda yang dulu ia simpan karena mengira itu bukti cinta.
Sekarang semuanya hanya barang.
"Satu lagi," kata Kiana. "Semua perhiasan dari Jovian aku jual. Hasilnya masuk yayasan bantuan korban kebakaran."
Vani diam sebentar. "Lo yakin?"
Kiana mengambil satu kalung, menaruhnya di atas kain hitam, lalu memotretnya untuk dikirim ke rumah lelang daring.
"Api kemarin mengajariku satu hal. Barang yang tidak bisa menyelamatkan hidupku tidak perlu aku simpan untuk menyiksa hati."
Sore itu, ia mengunggah daftar perhiasan lewat akun pihak ketiga. Tidak pakai drama. Tidak pakai sindiran. Hanya keterangan singkat bahwa hasil penjualan akan disalurkan untuk korban kebakaran bar Kemang.
Namun masa lalu ternyata belum selesai mengetuk pintu.
Ponselnya bergetar.
Jovian.
Kiana menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.
"Ada apa?"
Di seberang sana, suara Jovian terdengar tertahan. "Kamu mengirim paket ke rumahku?"
Kiana baru ingat.
Hadiah pernikahan.
Figur kecil berbasis AI yang ia rancang selama setengah tahun. Bentuknya hanya boneka meja sederhana, tetapi di dalamnya ada chip mini yang bisa membaca kebiasaan pengguna, menyusun jadwal, mengingatkan obat, bahkan belajar dari suara pemiliknya. Ia membuatnya untuk Jovian karena dulu ia percaya rumah tangga mereka akan punya masa depan.
"Itu dikirim sebelum pernikahan batal," jawab Kiana.
"Kiana, ini terlalu kekanak-kanakan." Jovian menghela napas. "Aku sudah berikan ke Vanya. Dia lebih suka benda-benda lucu seperti itu."
Jari Kiana berhenti di atas meja.
Lucu.
Setengah tahun begadang, ratusan baris kode, dan satu chip yang bahkan Navara Tech belum pernah lihat, di mata Jovian hanyalah benda lucu untuk menghibur Vanya.
Aneh, kali ini Kiana tidak marah.
Ia hanya merasa ada satu pintu lagi yang tertutup.
"Bagus," katanya.
"Bagus?"
"Setidaknya sekarang benda itu berada di tangan orang yang kamu pilih."
Kiana membuka laptop. Masuk ke panel kontrol jarak jauh yang dulu ia tanam untuk pembaruan sistem. Ikon figur itu masih menyala.
Jovian berkata, "Kiana, jangan bersikap seolah kamu tidak peduli."
"Aku memang sedang belajar."
Kiana menekan satu perintah.
Pembersihan inti.
Di layar, status berubah dari aktif menjadi gagal permanen. Chip itu tidak meledak, tidak membahayakan siapa pun, tetapi seluruh struktur pembelajaran di dalamnya terbakar habis secara digital. Tidak ada yang bisa memulihkan desain itu tanpa kunci asli.
"Selesai," bisik Kiana.
"Apa yang selesai?" suara Jovian berubah curiga.
"Hadiah pernikahan kita."
Ia memutus telepon.
Tiga hari kemudian, Kiana meninggalkan Vila Lim.
Lily ingin menahannya, tetapi Kiana hanya menggenggam tangan Mama dan berkata bahwa jarak membuatnya lebih mudah bergerak. Ia membeli apartemen kecil yang sudah rapi di Jakarta Selatan, tidak jauh dari kantor Bintang Grup dan jalur utama menuju Navara Tech.
Tidak sebesar Vila Lim. Tidak ada tangga marmer. Tidak ada ruang makan panjang yang selalu terasa seperti ruang sidang.
Tapi pintunya hanya bisa dibuka dengan sidik jarinya sendiri.
Malam pertama di apartemen baru, Kiana baru selesai menyusun pakaian ketika suara keras terdengar dari atas.
Buk.
Buk.
Buk.
Langit-langit bergetar pelan.
Kiana menatap jam. Hampir pukul sebelas malam.
Ia menunggu lima menit. Suara itu tidak berhenti. Kadang cepat, kadang berat, seperti ada benda besar dihantam berulang kali.
Dengan kaki yang masih belum pulih sepenuhnya, Kiana naik lift ke lantai atas. Di depan pintu unit tepat di atas apartemennya, suara itu makin jelas.
Buk. Buk. Buk.
Ia menekan bel.
Suara berhenti.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.
Kiana lupa kalimat protesnya.
Hans berdiri di ambang pintu tanpa kaos.
Rambutnya basah oleh keringat. Bahunya lebar, dadanya naik turun pelan, dan di belakangnya tergantung samsak hitam yang masih berayun. Lampu ruang tengah jatuh di garis otot perutnya, terlalu nyata untuk seseorang yang pagi kemarin menyerahkan kartu ATM dengan wajah datar.
"Kamu?" Hans menatapnya.
Kiana memaksa matanya naik ke wajahnya. "Aku tinggal di bawah."
"Oh."
"Suara dari sini terdengar sampai unitku."
Hans menoleh ke samsak. "Latihan."
Kiana melihat sekeliling cepat. Ada dua pasang sarung tinju di sofa, dua botol air, dan handuk di lantai. Dalam kepalanya, kalimat Hans di Catatan Sipil kembali berputar.
Aku tidak tertarik pada perempuan.
Ia langsung salah paham.
"Maaf," kata Kiana cepat. "Aku tidak bermaksud mengganggu... aktivitas pribadi kalian."
Alis Hans bergerak sedikit. "Kalian?"
Kiana mundur setengah langkah. "Aku cuma minta volumenya, maksudku, suaranya dikurangi."
Hans diam dua detik, lalu seperti memahami sesuatu. Sudut bibirnya nyaris bergerak.
"Mau coba bareng?"
Wajah Kiana panas.
"Tidak. Terima kasih. Selamat malam."
Ia berbalik terlalu cepat sampai hampir lupa kakinya masih sakit. Hans mengulurkan tangan untuk menahan lengannya, tetapi Kiana sudah masuk lift dengan telinga merah.
Begitu pintu lift tertutup, ia mengirim voice note pada Vani.
"Vani," suara Kiana tertahan, antara malu dan panik, "sepupu kamu... badannya terlalu bagus."