Bagian dari The fate of marriage
Memiliki paras yang nyaris sempurna, ternyata tidak menjamin Ivannia menerima sembarang lelaki untuk mengisi hatinya. Ivannia mengalami trauma terhadap lelaki hingga membuatnya bersikap dingin terhadap semua pria. Dia menolak dan menjauh jika hal itu terjadi.
Sementara Gavin dibesarkan keluarga sederhana yang penuh kewaspadaan dan tidak mudah percaya pada orang lain kecuali Joevanka. Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan ia menjadi pria yang susah jatuh cinta. Namun semenjak dia mengenal Ivannia yang memiliki sifat jutek dan dingin membuat Gavin penasaran dan semakin jatuh ke dalam jurang cinta.
Di sisi lain seorang pria juga mengagumi Ivannia. Dia adalah seorang asisten yang bekerja di perusahaan Donisius. Lelaki itu adalah Halbret, dia humoris dan suka tersenyum kepada siapa saja. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta dari Ivannia.
Bagaimanakah pertarungan cinta segitiga ini. Siapakah yang berhasil menahlukkan cinta Ivannia.
Ikuti kisah cinta mereka.
Whisper Of Love Season 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau bisa keluar!
💌 Whisper of love season 2 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Ibarat sebuah pohon, Gavin dan Joevanka adalah daun serta batangnya. Pohon tersebut adalah ikatan kami, yakni ikatan persahabatan. Daun tanpa batang bagaikan kulit tak bertulang, lemah begitulah adanya. Sedang batang tanpa daun tak berdaya, hidup namun kerontang. Persahabatan yang enam tahun lamanya membuat Gavin sedih. Tentu saja jarak itu akan tercipta di antara mereka. Joevanka sudah mempunyai keluarga. Otomatis Gavin tidak bisa sesering mungkin menghubungi Joevanka. Senyum lebar terpancar jelas di wajah Joevanka. Kebahagiaan telah menjemputnya lengkap dengan kedatangan Gavin sebagai sahabatnya.
Urusan hati antar sepasang manusia selalu saja menawarkan sejuta cerita. Dimulai dari proses perkenalan, penjajakan, keyakinan satu sama lain hingga keputusan untuk menikah. Kisah Joevanka dengan pak direktur baginya begitu unik. Sehingga Gavin meyakini, mereka akan terus menerus mensyukuri dan menjaga cinta itu dengan baik.
Gavin masih mengikuti acara resepsi pernikahan Joevanka dengan baik. Betapa meriahnya pesta pernikahan ini. Semua tamu yang di undang dengan spesial. Gavin hanya duduk diam sambil menikmati makanannya.
Berbagai acara telah berlalu dari kata sambutan tuan ruman dan tamu undangan yang memberikan ucapan selamat. Kini tibalah momen saat ke dua mempelai memotong kue pernikahan mereka. Kue bergaya klasik ini ada 10 tingkat dipotong menggunakan pedang yang di hias bunga. Gavin berdiri yang di ikuti para tamu undangan lainnya.
Tidak berhenti sampai di situ saja, di acara selanjutnya Joevanka juga mempersiapkan surprise spesial untuk pak direktur. Joevanka tampil menari salsa. Gavin tersenyum. Joevanka melakukan gerakan salsa dengan sangat indah dan luwes.
"Kau memang sangat berbakat dan berhasil menghibur seluruh tamu undangan yang hadir di pestamu Joe." Ucap Gavin dalam hati.
Gavin ikut bangkit dan memberikan tepukan tangan yang di ikuti para undangan yang lain. Keriuhan dari penonton membuat Joevanka semakin bersemangat. Di akhir penampilan Joevanka ia memberikan puisi untuk pak direktur. Kata-kata yang indah, berhasil membuat para undangan berdecak kagum sambil menikmati bait demi bait puisi yang dibawakan joevanka. Gavin tahu, Joevanka sangat suka membuat puisi. Karena Joevanka pernah mengatakannya. Menurut Joevanka, menulis puisi adalah salah satu cara untuk mengekspresikan dan melepaskan kepenatan jiwa dan mewakili perasaannya sendiri. Ia juga bisa mengungkapkan segala rindu dan cintanya melalui coretan-coretan pena nya. Itu suatu kelegaan bagi Joevanka.
Gavin ikut terharu melihat kebahagiaan mereka. Puisi yang diucapkan Joevanka benar-benar mewakili perasaannya untuk sang suami. Indah mampu membuat semua orang ikut merasakannya. Di saksikan tamu-tamu undangan.
Dddrrrttt Dddrrrttt nada getar dari ponsel Gavin bergetar di atas meja.
Gavin sekilas memandang handphonenya yang ia letakkan di atas meja. Gavin menatap layar pipih itu dan melihat siapa yang memanggilnya. Seketika wajahnya mengerut.
"Halbret?"
Gavin menggeser tanda terima layar di handphonenya sebelum panggilan itu berakhir.
"Iya, Halbret?"
"Dimana Gavin?"
Mendengar pertanyaan itu Gavin tersenyum. "Dimana lagi kalau bukan di acara resepsi pernikahan Joevanka. Kau sendiri dimana kenapa tiba-tiba menghilang?" tanya Gavin.
"Sekarang kau datang ke kamar ekslusif di ujung koridor hotel, kamarnya nomor 2020 iya?" Kata Halbret dari seberang.
"Acara di sini belum selesai Halbret."
"Aku tunggu dude. Kita merayakan pesta kebahagiaan atas pernikahan pak direktur lagi. Jadi secepatnya ke sini iya?"
"Tapi...?"
TIT!
Panggilan terputus, Gavin menatap ponselnya yang sudah mati. "Bukankah disini sudah merayakan pesta kebahagiaan pak direktur? perayaan apa lagi?" Ucap Gavin merasa heran. Ia tidak langsung beranjak meninggalkan ballroom. Gavin tetap mengikuti acara sampai selesai.
Acara berjalan lancar di venue mewah dengan di dekorasi cantik dan penuh dengan bunga.
Para tamu undangan sudah mulai pulang satu persatu, begitu selesai berjabat tangan dan mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Gavin melangkah meninggalkan ballroom.
"Gavinnnnnnn......?" terdengar suara tidak asing di telinga Gavin. Ia menghentikan langkahnya dan melihat Joevanka melangkah cepat sambil memegang gaunnya yang panjang sampai menyapu lantai. Gavin tersenyum ketika melihat wajah Joevanka mengerut ingin menangis. Gavin membuka tangannya dan membiarkan Joevanka berhambur memeluknya. Air mata tidak di undang jatuh tergelincir di pipi Joevanka.
Gavin ingin ikut menangis, dengan cepat ia menghapus air mata di pelupuk matanya yang sudah berair. Gavin membuka mulut, menarik napas dan mendongak ke atas. Mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis dihadapan Joevanka. Gavin membuang napas panjang, Ia mendorong pelan bahu Joevanka. Gavin tersenyum memiringkan wajahnya dan menatap sendu ke arah Joevanka.
"Akhirnya kau menemukan cinta sejati mu Joe. Ku doakan semoga kau bahagia dalam menjalani kehidupan rumah tanggamu. Belajar jadi dewasa dan mengerti dengan pasanganmu. Semoga kau dan pak direktur bahagia selalu ya. Dan cepat-cepat diberikan momongan yang lucu- lucu agar bisa meramaikan rumahmu," Kata Gavin sungguh-sungguh.
Joevanka mengangguk dan tersenyum dan berusaha menahan air matanya agar tidak terjatuh. Wajahnya mengerucut ke bawah.
"Bagaimana keadaan ibu?" Tanya Joevanka.
"Sudah lumayan Joe. Oh iya. Leoana memberikan hadiah untuk pernikahanmu. Dia menyampaikan selamat untukmu." Kata Gavin memberikan sebuah kotak untuk Joevanka.
"Terima kasih Gavin. Nanti aku akan menghubungi Leona." Mata Joevanka kembali berkaca-kaca.
"Jangan menangis lagi. Aku mohon Joe, ini hari bahagiamu." pinta Gavin.
Tanpa sadar, karena kebiasaannya selama mereka di Australia. Gavin selalu menerima tinju dari Joevanka tepat mengenai perut Gavin. Namun kali ini Gavin menangkap tangannya. Dan mata Gavin berubah sayu. Pandangannya terus mengunci Joevanka. Sepersekian detik mereka lalu tertawa.
"Biasanya kau membiarkan aku meninju mu Gavin." Joevanka terkekeh.
"Sekarang tidak bisa lagi Joe." Ucap Gavin tegas.
"Wah gak adil Gavin." Ujar Joevanka.
"Ssstttt pak direktur memperhatikan kita." Bisik Gavin. Ivander sudah datang menyusul Joevanka.
"Kalau begitu aku permisi dulu Joe. Saya pergi dulu pak direktur." kata Gavin.
"Ehmmm, terima kasih Gavin." Ucap Ivander.
Setelah mengambil kunci dari resepsionis, Gavin melangkah kekamar 2020 sesuai ucapan Halbret. Ia sendiri penasaran pesta perayaan apalagi maksud dari Halbret.
TING
Pintu lift terbuka, Gavin langsung menuju kamar ekslusif di ujung koridor hotel. Ia akhirnya sampai di kamar 2020 yang tertulis di pintu.
TOK TOK TOK
Gavin mengetuk pintu tiga kali. Sambil menunggu pintu terbuka, ia membuka pesan WhatsApp yang di kirim Leona yang belum dibacanya. Leona mengomentari kiriman video yang dikirimnya tadi.
KAK AKU JUGA MENGINGINKAN PERNIKAHAN SEPERTI ITU. ADAKAH PANGERAN YANG BERSEDIA MENIKAH DENGANKU KAK. AKU MAU.....🤣🤣🤣
Gavin tersenyum ketika membaca komentar Leona. Lalu Gavin membalasnya.
BELAJAR YANG BENAR DULU LEONA.
Setelah pesan itu terkirim, Gavin menyimpan handphonenya ke dalam kantong celananya.
Pintu belum juga terbuka. Gavin kembali mengetuk pintu itu dan kali ini lumayan keras.
TOK TOK TOK TOK
CEKLEK!
Akhirnya pintu mulai terbuka sempurna dan..
DEG
DEG
DEG
Sosok yang membuat perasannya tidak enak tiba-tiba ada di hadapannya. Jantung Gavin kembali terpukul begitu kencang ketika melihat Ivannia membuka pintu untuknya dalam keadaan marah.
"Buat apa kau kembali lagi Amber?" Ivannia menatap ke arah luar dan sangat terkejut bukan amber yang ada dibalik pintu itu. Melainkan Gavin sahabat Joevanka yang sering ditemuinya di apartemen Joevanka.
"Ivannia?" Ucap Gavin tak kala terkejutnya. Ia mulai salah tingkah dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tersenyum samar untuk menutupi degup jantungnya yang semakin berdetak kuat.
"Gavin?" Kata Ivannia akhirnya.
"Maaf..Tadi... Halbret menghubungiku untuk datang ke kamar ini..." Gavin tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia berusaha mengatur debaran-debaran dari jantungnya yang terpompa kencang.
"Astaga, ada apa denganku. Jantungku tidak kuat kapan melihat dia. Kenapa saat ada dia saja jantungku begitu berdebar kencang? Kenapa saat bersama teman-teman yang lain hatiku biasa saja? Apa aku jatuh cinta?"
Gavin menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya secara berlahan.
"Maksudmu Halbret yang menghubungimu datang ke sini?" tanya Ivannia menatap Gavin dengan wajah penuh penghakiman. Alisnya terangkat sebelah. Bahkan Ia melipat kedua tangannya di dada dengan lengan kanannya bertumpu di sisi pintu.
Gavin bingung mengatakan apa. Dia tidak ingin Ivannia salah paham dengan ucapannya. Gavin pun berusaha mengelak dengan mengibas-ngibaskan tangannya. "Bukan seperti itu maksud ku Ivannia. Maafkan aku, mungkin aku salah kamar. Kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Gavin sedikit menundukkan kepalanya.
"Tunggu! "
DEG!
Jantung Gavin kembali seperti genderang berdegup begitu kencang ketika mata mereka beradu.
"Bisa temani aku minum? setelah itu kau boleh pergi." Kata Ivannia akhirnya. Ia membiarkan pintu terbuka dan memberi jalan untuk Gavin.
Wajah Gavin mengerut dalam ketika mendapati kamar itu berantakan oleh gelas dan botol wine yang sudah pecah. Ivannia menyadarinya.
"Maaf, agak sedikit berantakan." kata Ivannia mempersilakan Gavin duduk.
Gavin mengangguk sambil tersenyum tipis. "Apa sebelumnya ada yang terjadi di sini Ivannia?" tanya Gavin sedikit ragu.
Ivannia mendengkus. Ia memejamkan matanya sesaat. "Jangan banyak bertanya Gavin, kau hanya menemaniku minum, aku tidak memintamu memberi komentar di sini." Ucap Ivannia dingin. Ia mengambil wine yang ada di atas nakas yang biasa disediakan pihak hotel.
GLEK!
Gavin menelan salivanya berulang kali dan hanya bisa menahan napas. Ucapan tegas itu mampu menembus jantung Gavin. Ia pun hanya bisa diam dan memandang Ivannia yang berjalan menuju kursi sofa.
"Biarkan aku yang menuangnya Ivannia?" Ucap Gavin mengambil botol wine itu dari tangan Ivannia.
Ivannia mengelak. "Tidak, biarkan aku saja. Aku sudah bilang kau hanya menemaniku minum dan tidak memintamu untuk minum."
Lagi-lagi pernyataan Ivannia membuat Gavin terkejut "Apa?"
"Kenapa, kau tidak mau?" Ivannia tersenyum miring. Ia sudah menduga semua lelaki sama saja. "Tidak apa-apa jika kau tidak bersedia, kau boleh keluar. Aku bisa minum sendiri."
"Bukan seperti itu maksudku."
"Tidak apa-apa, aku bisa sendiri. Kau boleh keluar!" Kata ivannia tersenyum miring.
"Tapi?"
"Aku sudah bilang, aku bisa minum sendiri Gavin. Arah pintu di sebelah sana. Sekarang keluarlah!" ucap Ivannia kembali.
DEG!
Mendengar itu, Gavin secara tidak langsung diusir oleh Ivannia. Namun ia berusaha untuk memaksakan bibirnya tersenyum.
"Kalau begitu aku permisi." Ucap Gavin akhirnya.
"Anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi Gavin." Ivannia bangkit dari duduknya. "Halbret memang mengundangmu kesini. Tapi mereka sudah pergi. Jangan berpikir aku yang mengundangmu datang."
"Baiklah, aku tahu itu."
"Terima kasih atas pengertiannya." Ucap Ivannia tanpa ekspresi.
Gavin tidak menjawab, ia kembali melangkah meninggalkan kamar itu. Setelah pintu tertutup sempurna, ia memejamkan matanya berusaha untuk mengendalikan debaran jantungnya yang kembali berdetak. Setelah melakukan ritualnya menghembuskan napasnya lewat mulut. Ia kembali berjalan ke arah kamarnya. Gavin belum bisa menebak apakah arti debaran ini. Kenapa semuanya datang tiba-tiba? beribu pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Tapi satu pun tidak bisa dijawabnya.
BERSAMBUNG
❣️ Ih kamu kejam Ivannia, yang suruh masuk siapa yang nyuruh keluar siapa 😒 sakit hati aku tuh 🥺
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu