NOVEL INI MENGANDUNG BACAAN DEWASA || PILIHLAH BACAAN YANG BIJAK. DILARANG PLAGIARISME!
JANGAN LUPA FOLLOW INSTAGRAM: LilyQuinza || info update visual disana yah 🥰❤
"Liora, mungkin ini semua salah mengingat aku Pamanmu, tapi, jika mengingat kita tak sedarah, aku tidak perduli!"
"MarcoI—itu apa?"
"Kau harus membiasakan diri baby, cobalah berkenalan dengannya."
"Gila benda itu tidak akan cukup jika—"
"Ssstttt, Cobalah... "
"Ini sakit!"
"Sial! Kau sangat cantik saat kau tidak memakai kacamata itu!"
"Berhenti menggodaku, aku bisa gila Marco!"
Liora adalah gadis culun yang selalu menyembunyikan kecantikannya di balik kacamata tebal, pakaian sederhana, dan sikap pemalu. Ia hanya ingin menjalani kehidupan kampus dengan tenang tanpa menarik perhatian siapa pun. Namun, semua berubah karena Marco.
Marco adalah adik angkat ibu kandung Liora yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Quinza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Kau...!
Liora tertegun menatap kemegahan yang berada di hadapannya saat ini. Tatapannya masih terpaku pada bangunan megah dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi.
Lampu kristal berkilauan menghiasi langit-langit hunian mewah itu, sementara para pelayan berjajat di kedua sisi seolah menyambut seorang tuan putri yang baru saja kembali.
Jantungnya berdetak cepat. Semua ini terasa seperti mimpi yang sangat nyata
"Akhirnya, aku menemukanmu," ujar seorang wanita cantik yang berdiri di hadapannya saat ini.
Wanita itu adalah Mauren. Air mata wanita itu mengalir deras. Dengan langkah tergesa, ia mendekati Liora lalu memeluknya erat-erat. Seolah jika pelukan itu lepas sedikit saja, Liora akan pergi. Pelukan itu terasa hangat, tetapi asing. Mengingat ia sudah begitu lama tidak tinggal bersama sang ibu.
"I—ibu" suara Liora bergetar.
Mauren melepaskan pelukannya perlahan. Jemarinya yang lembut mengusap pipi gadis itu yang masih menyisakan bekas kelelahan.
"Kau putriku, Liora. Putri yang selama ini kucari selama bertahun-tahun. Maafkan Ibu Nak karena tidak bisa memenangkan Hak Asuhmu saat kau masih kecil."
Mata Liora membelalak. Ia menggeleng pelan.
Mauren mengeluarkan sebuah kalung berbentuk bulan sabit.
"Kalung ini. Kau masih menyimpannya, bukan?"
Tangan Liora refleks menyentuh kalung tua yang selama ini selalu ia kenakan sejak kkecil Kalung yang ditinggalkan ayahnya. Kalung yang tidak pernah ia ketahui asal-usulnya.
"Pelayan, siapkan pakaian bersih untuk putriku."
"Baik, Nyonya," jawab salah satu pelayan dengan hormat.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan wanita datang membawa gaun indah berwarna krem lembut, handuk hangat, serta perlengkapan mandi.
Mereka mendekati Liora dengan senyum ramah. "Nona, mari ikut kami," ujar salah seorang pelayan dengan sopan.
Liora masih kikuk. Semua yang terjadi terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk dipercaya. Baru saja ia diusir dari rumah, diterpa hujan tanpa tujuan, dan kini ia berada di dalam mansion megah yang bahkan terasa mustahil.
Mauren menggenggam tangannya lembut. "Pergilah, Sayang. Kau pasti kedinginan."
Liora menatap wanita itu sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk.
Para pelayan membawanya menuju sebuah kamar yang sangat luas. Begitu pintu dibuka, Liora kembali terdiam. Kamar itu lebih besar daripada seluruh rumah yang pernah ia tinggali.
Tempat tidur berukuran besar berdiri di tengah ruangan. Jendela-jendela tinggi dihiasi tirai putih elegan. Sebuah lemari besar dan meja rias mewah berada di sudut ruangan.
"Ini, kamar siapa?" tanya Liora pelan.
"Sekarang ini kamar Nona Liora," jawab pelayan itu.
Liora menahan napas, "Kamar, milikku?"
"Ya, Nona."
Seumur hidupnya ia hanya tidur di kamar sempit yang bahkan lebih mirip gudang. Kini seseorang memberinya kamar sebesar ini.
Para pelayan dengan hati-hati membantu membersihkan dirinya. Rambut panjangnya yang basah itu dikeringkan menggunakan handuk hangat lalu hair dryer.
Tubuhnya yang menggigil karena hujan akhirnya mulai terasa hangat.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Liora menatap pantulan dirinya di cermin. Ia hampir tidak mengenali gadis yang berdiri di sana.
Gaun sederhana tapi sangat elegan itu, membuat kecantikannya semakin terlihat.
Kulit putihnya yang selama ini tertutup debu dan kelelahan kini tampak bersih. Mata beningnya terlihat semakin indah.
"Ya Tuhan..." bisiknya.
Ketukan pelan terdengar dari pintu.
Tok!
Tok!
"Nona Liora, Nyonya Mauren menunggu Anda di ruang makan."
Liora menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk.
"Ya."
Saat pintu kamar dibuka, Mauren yang sudah menunggu di luar langsung terdiam. Air mata kembali menggenang di matanya.
"Putriku," bisiknya haru.
Mauren berkaca-kaca ketika melihat putrinya yang begitu cantik berdiri di hadapannya. Bertahun-tahun ia mencari, bertahun-tahun ia menyesali kehilangan itu, dan kini putrinya benar-benar ada di depan matanya.
Tanpa berkata apa-apa, Mauren kembali memeluk Liora dengan penuh kasih sayang.
"Kau sangat mirip denganku saat muda dulu nak."
Liora tidak menolak pelukan itu. Perlahan, kedua tangannya terangkat dan membalas pelukan Mauren.
"Ibu!"
Satu kata itu membuat tubuh Mauren bergetar. Air mata wanita itu jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
"Ya, Sayang. Ibu di sini. Ibu tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Liora menangis di pelukan ibunya. Ia hampir tak percaya dengan ini semua kemewahan ini semua rasanya seperti mimpi, mimpi yang pernah ia mimpikan beberapa waktu lalu.
Mauren mengusap pipi Liora dengan kedua tangannya. "Jangan menangis sayang. Sekarang ayok kita makan."
Gadis itu mengangguk. Lalu duduk di meja makan.
Suara langkah sepatu, terdengar dari arah pintu utama mansion.
Liora dan Mauren yang sedang menikmati makan malam serentak menoleh. Seorang pria muda dengan postur tinggi dan wajah tampan berjalan masuk dengan santai. Rambut hitamnya sedikit berantakan, sementara senyum jahil sudah menghiasi bibirnya.
Mauren mengernyitkan dahi. "Marco? Bukankah kau mengatakan akan kembali minggu depan?"
Pria itu tertawa kecil lalu menarik kursi dan duduk tanpa permisi. "Aku ingin memberimu kejutan Kak."
Tatapannya kemudian beralih kepada Liora yang duduk di samping Mauren. Marco menyipitkan mata seolah berusaha mengenali wajah gadis itu.
"Hey, siapa gadis ini?" tanyanya sambil menunjuk Liora. "Dia memakai kacamata seperti gadis culun."
Liora langsung menegang. Sementara Mauren menatap Marco tajam. "Marco! Jaga ucapanmu."
"Apa? Aku hanya bertanya!"
"Dia putriku. Jangan mengganggunya."
Marco yang sedang mengambil gelas hampir menjatuhkannya. "A-apa?" serunya dengan mata membulat.
Mauren mengangguk tenang. "Namanya Liora Collins."
Deg.
Nama itu bagaikan petir yang menyambar kepala Marco disiang bolong. Ia langsung menatap Liora lekat-lekat.
"Liora Collins?"
Liora yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajahnya. Saat mata mereka bertemu, keduanya sama-sama terkejut.
"Kau!" ucap mereka bersamaan.
Marco berdiri dari kursinya. "Itu mustahil!"
Liora menggenggam erat garpu di tangannya.
Tentu saja ia mengenal pria itu.
Marco adalah mahasiswa S2 yang terkenal di kampus. Tampan, populer, kaya, tetapi juga sangat menyebalkan. Dan yang lebih menyebalkan. Dialah orang yang selalu mengganggunya. Mulai dari menyembunyikan buku-bukunya, mengejek kacamatanya, hingga menjulukinya 'Si Kutu Buku dan Gadis Culun.'
Gadis berkacamata yang selama ini ia ganggu di kampus ternyata adalah putri Mauren?
Putri dari kakak angkat yang selama ini ia hormati? Mauren memandang mereka bergantian.
"Tunggu, apa alian saling mengenal?"
Liora langsung menoleh ke arah lain. "Tidak!"
"Kenal sedikit," jawab Marco bersamaan.
Mauren semakin curiga. "Marco."
"Ya?"
"Apa yang sudah kau lakukan pada putriku saat di kampus?"
Senyum Marco langsung menghilang. Mahasiswa paling usil di kampus itu merasa ada bahaya besar yang sedang menunggunya. Sementara Liora diam-diam menatapnya dengan senyum tipis yang membuat Marco menelan ludah. Sepertinya malam itu adalah awal dari pembalasan panjang yang akan diterimanya.