NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Taktik

Mentari pagi menyinari halaman depan vila keluarga Malik yang masih diselimuti udara sejuk khas pegunungan.

Di teras, Bu Ratih sedang menikmati secangkir teh hangat sambil berbincang santai dengan beberapa staf vila. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding beberapa hari lalu.

Sementara itu, di lantai dua...

Pintu kamar perlahan terbuka.

Senja melangkah keluar sambil merapikan rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.

Hari ini ia sudah berganti pakaian.

Dress putih berlengan panjang itu jatuh beberapa senti di atas lutut, dipadukan dengan sepatu putih sederhana dan tas hitam kecil yang disampirkannya di bahu. Sebuah sweater bergaris hitam-putih ia ikat santai di lehernya, membuat penampilannya terlihat manis sekaligus elegan.

Itu memang gaya berpakaian Senja sejak dulu.

Sederhana.

Nyaman.

Dan tanpa ia sadari...

Sangat berbahaya bagi kewarasan seorang pria tertentu.

Saat Senja menuruni anak tangga, Arsen yang sedang berdiri di ruang tengah sambil membaca laporan di tablet perlahan mengangkat kepala.

Lalu...

Diam.

Tatapan mata elangnya berhenti tepat pada Senja.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Laporan di tangannya tak lagi terbaca.

Seperti biasa.

Matanya tanpa sengaja turun.

Dress putih yang dikenakan Senja memang tidak berlebihan.

Panjangnya masih sopan.

Namun lekuk kedua kaki putih jenjang perempuan itu kembali terlihat jelas.

Rahang Arsen mengeras tipis.

Sial...

Kenapa perempuan ini selalu memamerkan kaki mulus itu tanpa merasa bersalah?

Kemarin...

Celana pendek putih.

Hari ini...

Dress putih.

Hasilnya tetap sama.

Konsentrasinya kembali diuji.

Arsen mengembuskan napas pelan, memaksa pandangannya kembali ke wajah Senja.

Kalau saya saja sampai sesulit ini menjaga pandangan...

Bagaimana kalau laki-laki lain yang melihatnya?

Tatapan Arsen tanpa sadar kembali turun sekilas.

Ah...

Kamu selalu membuat saya repot, Senja.

"Pak?"

Suara Senja membuat Arsen kembali tersadar.

"Hm."

"Bajunya aneh ya?"

Arsen menggeleng pelan.

"Tidak."

"Cocok?"

"...Iya."

Senja langsung tersenyum lega.

"Syukurlah. Saya kira Bapak bakal nyuruh saya ganti lagi."

Arsen memilih diam.

Karena kalau mengikuti keinginannya...

Bukan hanya menyuruh ganti.

Dia bahkan ingin menyelimuti perempuan itu dengan mantel panjang agar tak ada satu pun mata pria lain yang ikut menikmati pemandangan yang sejak tadi mati-matian berusaha ia abaikan.

Namun semua itu hanya berhenti di dalam pikirannya.

Dia bukan laki-laki yang berhak mengatur cara berpakaian Senja.

Belum.

"Pak?"

Arsen kembali menatapnya.

"Kita jadi pulang hari ini?"

"Iya."

"Terus... Ibu?"

"Ibu kamu tetap di sini."

Senja langsung mengernyit.

"Sendirian?"

"Tidak."

"Keamanan di vila ini jauh lebih baik daripada rumah kamu."

Arsen mematikan layar tabletnya.

"Selama saya belum menemukan siapa yang membocorkan informasi tentang kamu..."

"...Ibu kamu akan lebih aman berada di sini."

Senja terdiam.

Ia melirik ke arah teras, tempat ibunya sedang tertawa kecil bersama para staf vila.

Mungkin...

Untuk sementara, memang ini keputusan terbaik.

Arsen mengambil kunci Mercedes-Benz G-Class yang terletak di atas meja.

"Kita berangkat lima menit lagi."

"Iya, Pak."

Senja hendak berjalan menuju teras untuk berpamitan kepada ibunya.

Namun baru beberapa langkah...

Arsen kembali memanggilnya.

"Senja."

"Iya?"

Tatapan Arsen turun sekilas.

Lalu kembali naik menatap wajah perempuan itu.

"...Nanti."

"Apa?"

"Kalau sudah masuk mobil..."

"...pakai sabuk pengaman yang benar."

Senja berkedip bingung.

"Iya dong, memang selalu pakai."

Arsen hanya mengangguk singkat.

Padahal alasan sebenarnya bukan itu.

Yang ingin ia katakan sejak tadi adalah...

"Kalau dress itu terus naik setiap kali kamu duduk..."

"Saya yang akan kesulitan mengendalikan pandangan saya sendiri."

Namun kalimat itu tetap terkunci rapat di dalam kepalanya.

Karena sekeras apa pun hasratnya berteriak...

Arsen Malik masih memilih menjadi pria yang menjaga batas.

Setidaknya...

Untuk saat ini.

Lima belas menit kemudian...

Mercedes-Benz G-Class hitam itu perlahan meninggalkan halaman vila keluarga Malik.

Bu Ratih berdiri di teras sambil melambaikan tangan.

"Hati-hati di jalan ya!"

"Iya, Bu!" balas Senja sambil membuka jendela sedikit.

"Awas jangan bandel!"

"Ih... Ibu."

Arsen yang duduk di balik kemudi hanya mengangguk hormat kepada Bu Ratih sebelum mobil melaju keluar dari kawasan vila.

Begitu gerbang vila tertutup di belakang mereka, suasana di dalam kabin menjadi hening.

Senja menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang.

Matanya memandangi deretan pohon pinus yang berbaris di sepanjang jalan menurun.

"Pak..."

"Hm?"

"Terima kasih."

Arsen melirik sekilas.

"Untuk apa?"

"Udah jagain Ibu saya."

Arsen kembali mengalihkan pandangannya ke jalan.

"Itu memang tanggung jawab saya."

Jawabannya terdengar datar.

Namun Senja tahu...

Pria itu memang selalu seperti itu. Melakukan banyak hal tanpa pernah merasa perlu dipuji.

Mobil terus melaju membelah jalan pegunungan.

Beberapa tikungan kemudian...

Tanpa sadar Senja mengangkat satu kaki ke atas jok, memeluk lututnya sambil menikmati pemandangan di luar jendela.

Gerakan sederhana.

Kebiasaan yang sering ia lakukan saat perjalanan jauh.

Namun...

Arsen yang kebetulan melirik ke samping hampir seketika kembali memusatkan pandangan ke depan.

Rahangnya mengeras.

Sial...

Apa dia memang tidak sadar?

Dress itu memang masih sopan.

Namun posisi duduk Senja sekarang membuat sepasang kaki putih jenjangnya semakin mencuri perhatian.

Arsen menarik napas pelan.

Kalau di vila tadi hanya saya yang melihat...

Bagaimana nanti saat kita kembali ke Jakarta?

Kota itu dipenuhi ribuan pasang mata.

Dan entah kenapa...

Membayangkan laki-laki lain ikut memperhatikan Senja membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Perasaan asing yang bahkan sulit dia jelaskan.

"Pak?"

Suara Senja membuat lamunannya buyar.

"Hm?"

"Kok Bapak diam terus?"

Arsen mengalihkan pandangan sejenak.

"Saya sedang menyetir."

"Hehe... iya juga."

Senja kembali menoleh ke luar jendela tanpa sedikit pun menyadari apa yang baru saja memenuhi pikiran pria di sampingnya.

Arsen mengembuskan napas pelan.

Untungnya...

Perempuan itu tidak bisa membaca isi kepalanya.

Kalau tidak...

Mungkin sejak tadi ia sudah memilih turun dari mobil.

Namun beberapa menit kemudian, ekspresi Arsen perlahan berubah.

Sorot matanya berpindah ke kaca spion tengah.

Sebuah sedan hitam muncul di kejauhan.

Mobil itu menjaga jarak.

Tidak terlalu dekat.

Namun...

Sudah mengikuti mereka sejak keluar dari kawasan Puncak.

Arsen tidak mengatakan apa pun.

Tatapannya kembali tajam.

Kali ini...

Bukan karena Senja.

Melainkan karena instingnya mengatakan...

Perjalanan pulang mereka ke Jakarta tidak akan semulus yang diharapkan.

Hampir dua jam perjalanan berlalu.

Mercedes-Benz G-Class hitam itu kini memasuki jalan tol menuju Jakarta.

Lalu lintas mulai ramai. Truk logistik, bus antarkota, hingga mobil-mobil pribadi memenuhi setiap lajur.

Senja yang sejak tadi menikmati pemandangan akhirnya bersandar nyaman di kursinya.

Sesekali ia menguap kecil.

"Ngantuk?"

Suara Arsen memecah keheningan.

Senja tersenyum malu.

"Sedikit."

"Kalau ngantuk, tidur saja."

"Nggak apa-apa. Nanti Bapak sendirian."

"Saya terbiasa."

Senja terkekeh pelan.

"Kasihan juga ya."

Arsen tidak menanggapi.

Namun sudut matanya sesekali melirik Senja yang mulai memejamkan mata.

Beberapa menit kemudian...

Napas perempuan itu terdengar lebih teratur.

Dia benar-benar tertidur.

Kepalanya perlahan miring ke samping mengikuti guncangan halus mobil.

Arsen melirik sekilas.

Tanpa mengurangi kecepatan, tangan kirinya bergerak pelan mengatur sandaran kursi Senja agar sedikit lebih rebah.

Gerakannya sangat hati-hati.

Tak ingin membangunkannya.

"Tidurlah..."

gumamnya lirih, nyaris tak terdengar.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Tatapan Arsen kembali tertuju ke kaca spion tengah.

Sedan hitam itu.

Masih ada.

Sudah hampir dua jam.

Tetap menjaga jarak yang sama.

Tidak mendekat.

Tidak menjauh.

Insting Arsen langsung bekerja.

"Bukan kebetulan."

Ia menekan tombol kecil di balik setir.

Tak lama kemudian, earphone kecil yang tersembunyi di telinganya berbunyi pelan.

"Ya, Tuan."

Suara Genta terdengar dari seberang.

"Sedan hitam. Plat B 1748..."

Arsen menyebutkan nomor plat tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

"Cek sekarang."

"Baik."

Sambungan terputus.

Arsen kembali fokus mengemudi.

Lima menit kemudian...

Earphone itu kembali aktif.

"Tuan."

"Laporan."

"Nomor platnya asli."

"Tapi..."

"Mobil itu terdaftar atas nama perusahaan rental."

"Dan pagi ini..."

"...mobil tersebut disewa menggunakan identitas palsu."

Sorot mata Arsen langsung berubah dingin.

"Berapa orang?"

"Belum bisa dipastikan."

"Tapi tim kami juga melihat mobil itu sejak keluar dari kawasan vila."

Berarti benar.

Mereka memang sedang diikuti.

Arsen melirik sekilas ke arah Senja yang masih tertidur lelap.

Wajah perempuan itu tampak tenang.

Sama sekali belum menyadari bahwa bahaya kembali mendekat.

Arsen menarik napas pelan.

Lalu berkata dengan suara yang nyaris seperti bisikan.

"Jangan dekati mobil saya..."

"...kalau kalian masih ingin pulang dalam keadaan hidup."

Tatapannya kembali lurus ke depan.

Tenang.

Dingin.

Namun jauh di dalam sorot mata itu...

Sang predator telah menyadari bahwa ada pemburu lain yang mulai memasuki wilayahnya

Sekitar dua puluh menit kemudian...

Lalu lintas mulai semakin padat.

Gedung-gedung tinggi Jakarta sudah tampak samar di kejauhan.

Senja perlahan membuka matanya.

Dia mengusap pelan sudut matanya sebelum menoleh ke arah Arsen.

"Pak..."

"Hm?"

"Kita udah mau masuk Jakarta ya?"

"Iya."

Senja mengembuskan napas pelan.

Entah kenapa.

Setelah beberapa hari berada di vila, kembali ke hiruk-pikuk ibu kota terasa sedikit aneh.

Namun sebelum sempat mengatakan apa pun...

Arsen tiba-tiba menatap spion kiri.

Lalu spion tengah.

Kemudian kaca spion kanan.

Sorot matanya berubah tajam.

"Bangun yang benar."

"Hah?"

"Pasang sabuk pengaman."

Senja yang masih setengah mengantuk langsung menurut.

"Memangnya kenapa, Pak?"

Arsen tidak menjawab.

Tatapannya tetap mengawasi jalan.

Beberapa detik kemudian...

Lampu sein kanan yang semula menyala menuju jalur Jakarta mendadak dimatikan.

Sebaliknya...

Arsen membanting setir dengan halus ke jalur kiri.

Mercedes-Benz G-Class itu keluar dari jalan tol.

"Pak?"

Senja menoleh bingung.

"Ini bukan jalan ke penthouse."

"Tahu."

"Loh... terus kita ke mana?"

Arsen tetap diam.

Di kaca spion...

Sedan hitam yang sejak tadi mengikuti mereka ikut berpindah jalur.

Masih menjaga jarak.

Masih mengikuti.

Bibir Arsen membentuk garis tipis.

"Jadi benar..."

"Tuan."

Suara Genta terdengar dari earphone kecilnya.

"Kami juga keluar tol."

"Sedan itu ikut keluar."

"Perintah?"

Arsen menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.

"Ubah semua rencana."

"Batalkan kembali ke penthouse."

Senja langsung menoleh cepat.

"Bapak..."

Arsen akhirnya menatap Senja sekilas.

Tatapannya tenang.

Terlalu tenang.

"Mereka ingin tahu kita pulang ke mana."

"Lalu..."

Arsen kembali memusatkan pandangannya ke depan.

"...biarkan mereka mengikuti."

Senja merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Bapak..."

"Tenang."

Suara Arsen tetap rendah.

"Dari awal..."

"...tujuan kita memang bukan pulang."

Mercedes-Benz G-Class hitam itu melaju semakin jauh meninggalkan jalur menuju pusat kota.

Sementara di belakang mereka...

Sedan hitam itu masih setia mengikuti.

Tanpa menyadari...

Bahwa pemburu yang mereka incar justru sedang menggiring mereka menuju medan yang telah dipilihnya sendiri..

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!