NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Tubuh

Rahasia Dua Tubuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:822
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Bagaimana rasanya terbangun di pagi hari dan mendapati dirimu memiliki dua kehidupan yang sepenuhnya berbeda?
Selama ini, hidup 'Bara' adalah sebuah komedi pahit. Bertubuh gemuk, pendek, dan selalu dilingkupi rasa tidak percaya diri, ia menjadi sosok tak kasat mata yang selalu diremehkan di lingkungan sosialnya. "Aku ini siapa?" menjadi pertanyaan retoris yang terus menghantui hari-harinya di kamar yang berantakan.
Namun, takdir memainkan lelucon yang teramat gila.

Tanpa ada penjelasan ilmiah maupun magis, Bara mendadak terbangun dengan dua tubuh yang terhubung pada satu jiwa yang sama.

Saat tubuh aslinya tertidur, kesadarannya berpindah ke tubuh seorang pria lain: sosok yang sempurna, tinggi, tampan, atletis, dan berbalut setelan jas mewah dengan latar belakang gemerlap kota metropolitan. Di satu sisi, ia adalah pria malang yang terpinggirkan; di sisi lain, ia adalah pangeran sempurna yang dipuja semua orang.

"ketika takdir memberikan mu dua tubuh, mana yg akan kamu pilih?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paprika TV

Markas God Lion kembali dipenuhi suara pukulan yang menghantam samsak tinju.

*Bugh! Bugh! Bugh!*

Johan terus melatih pukulannya tanpa mengenal lelah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, sementara beberapa anggota hanya bisa memperhatikan dari kejauhan.

"Bang Johan lagi bad mood ya?"

"Kayaknya sejak pulang dari stasiun."

"Tadi pagi aja dia udah ngabisin tiga samsak."

"Kasihan samsaknya."

Belum sempat obrolan mereka berlanjut, pintu ruang latihan terbuka. Dani dan Danu masuk bersamaan. Seluruh anggota langsung berdiri.

"Bang."

"Latihan lanjut," ucap Danu singkat.

Tatapan Johan langsung berubah serius.

"Ada tugas baru?"

Danu mengangguk. "Bukan sekadar tugas."

"Ini bisnis baru."

Di ruang rapat sederhana markas God Lion, hanya ada tiga orang. Johan, Dani, dan Danu. Di atas meja terdapat sebuah map hitam. Danu mendorong map itu ke arah Johan.

"Buka."

Johan membuka perlahan. Beberapa foto, jalur distribusi, serta daftar nama langsung terlihat. Namun semakin lama ia membaca, wajahnya semakin muram.

"Narkotika?"

"Bukan." Dani menggeleng.

"Obat-obatan ilegal."

"Pil tanpa izin."

"Cairan sintetis."

"Beberapa zat yang sedang laku."

Johan langsung menutup map itu. "Aku tidak mau."

Ruangan mendadak hening. Dani tersenyum tipis.

"Alasan?" tanya Dani singkat

"Aku masih bisa menagih utang."

"Masih bisa menjaga gudang."

"Masih bisa mengurus wilayah."

"Tapi aku tidak akan merusak hidup orang."

Tatapan Danu tetap datar. "Kau sedang menolak perintah."

"Aku menolak bisnisnya." jawab Johan cepat

Danu berdiri perlahan. "Johan."

"Aku menghormatimu."

"Kau disiplin."

"Kau memimpin dengan baik."

"Tapi jangan salah paham." Ia berjalan mendekat.

"Kau bukan partner."

"Kau bawahan."

Kalimat itu menusuk harga diri Johan. Tangannya mengepal. Ia tahu kalau ia menyerang sekarang Ia tidak akan menang.

Empat tahun bersama Four Men Crew membuat Johan memahami satu kenyataan. Danu bukan petarung biasa. Bahkan saat latihan, Johan belum pernah sekalipun mampu menyentuh wajah pria itu.

Begitu pula Dani. Mereka berada di level yang berbeda. Johan menatap kedua tangannya.

'Belum...'

'Aku belum cukup kuat.'

Danu kembali berbicara. "Jalankan distribusi minggu depan."

"Kalau tidak?" Danu hanya tersenyum.

"Aku tidak perlu menjawabnya."

Johan mengembuskan napas panjang.

"...Baik."

Jawaban itu terasa begitu berat keluar dari mulutnya. Seumur hidupnya, ia selalu berusaha menjaga satu batas.

Hari ini batas itu mulai dipaksa runtuh.

---

Sementara itu di sisi lain Kota Surabaya. Suasana rumah Bella jauh lebih ramai.

"BELLA!"

"Iya, Bu!"

"Kamu ngapain dari tadi ketawa sendiri?"

"Lagi live!"

Ibunya hanya menggeleng. "Anak zaman sekarang."

Bella tertawa kecil. Di depan meja belajarnya kini berdiri sebuah tripod murah. Lampu cincin kecil menyala. Ponselnya menampilkan sebuah aplikasi baru yang sedang naik daun.

**Paprika TV.**

Platform baru yang memungkinkan pengguna membuat video pendek sekaligus melakukan siaran langsung. Beberapa minggu terakhir, aplikasi itu menjadi pembicaraan anak-anak muda.

Bella termasuk salah satu yang paling cepat mencobanya.

"Hallo semuanyaaa..." Bella melambaikan tangan ke arah kamera.

"Selamat malam Paprikaaa!"

Kolom komentar langsung bergerak cepat.

*"Kak Bella cantik banget."*

*"Masuk FYP lagi."*

*"Halo dari Bandung."*

*"Pertama nih."*

Bella tersenyum lebar.

"Makasih yang udah mampir."

"Jangan lupa follow ya."

Beberapa hadiah virtual mulai bermunculan.

*"Bunga x5."*

*"Balon x10."*

*"Es Krim x2."*

Bella semakin bersemangat. "Ya ampun makasih Kak Rian!"

"Terima kasih Kak Dimas!"

Tak lama kemudian muncul komentar baru.

*"Kalau dapat 10 Mawar Emas push up lima kali ya."*

Bella tertawa.

"Hah?"

"Masa cewek disuruh push up."

Komentar lain ikut bermunculan.

*"Ayolah kak."*

*"Lucu pasti."*

Bella akhirnya menurut. "Yaudah."

"Satu..."

"Dua..."

Belum sampai lima, Bella sudah tertawa sendiri. "Capek juga."

Komentar semakin ramai.

---

Keesokan harinya di sekolah. Arif langsung menyenggol Bara.

"Bro."

"Hm?"

"Semalam gue masuk live Bella."

"Terus?"

"Dia disuruh push up."

Ani langsung ikut nimbrung. "Masih mending."

"Kemarin disuruh ngelawak."

Bella menyilangkan tangan. "Hei!"

"Itu namanya hiburan."

Arif mengangguk. "Iya."

"Gratis lagi."

Bella menjitak kepala Arif pelan. "Dasar."

Zian ikut tersenyum. "Yang penting hati-hati."

Bella mengangguk santai."Tenang."

"Cuma live doang kok."

Bara yang sedari tadi diam akhirnya ikut bicara. "Live memang tidak masalah."

"Tapi jangan terlalu percaya orang di internet."

Bella mengerucutkan bibir. "Kamu terlalu serius."

"Aku cuma cari teman."

"Cari teman boleh." Bara menatap Bella.

"Tapi tidak semua orang datang dengan niat baik."

Bella hanya mengangguk seadanya.Nasihat itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

---

Beberapa hari berlalu. Popularitas Bella justru meningkat pesat. Video-videonya mulai sering masuk halaman utama Paprika TV. Jumlah pengikutnya naik ribuan.

Setiap malam, jumlah penonton siaran langsungnya terus bertambah. Sampai suatu malam...

Muncul satu nama baru. **KingDragon88.**

Gift pertama.

*"Mobil Sport."*

Gift kedua.

*"Istana."*

Gift ketiga.

*"Meteor."*

Nilainya jauh lebih besar dibanding hadiah lain. Bella sampai terkejut.

"Ya ampun!"

"Makasih banyak Kak KingDragon!"

Kolom komentar langsung heboh.

*"Sultan datang."*

*"Auto trending."*

*"Wah orang kaya."*

Selama hampir satu jam pria itu terus mengirim hadiah. Puluhan bahkan ratusan. Bella nyaris tidak berhenti tersenyum. Di balik layar ponsel lain...

Seseorang memperhatikan semua itu. Bara. Ia memang jarang membuka Paprika TV, namun malam itu ia sengaja menonton siaran Bella. Tatapannya mulai berubah.

"Orang ini..."

Komentar KingDragon berbeda dari yang lain. Tidak banyak namun selalu tepat.

*"Besok ketemu yuk."*

*"Aku ada hadiah asli buat kamu."*

*"Jangan takut."*

*"Aku penggemar kamu."*

Bella membaca komentar itu. "Haha... serius?"

Gift kembali berdatangan. KingDragon mengirim hadiah paling mahal. Bella sampai menutup mulutnya.

"Ya ampun..."

"Makasih banyak."

Pria itu kembali menulis.

*"Besok jam tiga."*

*"Aku tunggu."*

Bella tertawa kecil. "Oke deh."

"Tapi sebentar aja ya."

Bara yang menyaksikan siaran itu langsung mengernyit.

'Tidak benar.'

---

Esok harinya. Pukul tiga kurang sepuluh menit. Bella datang ke sebuah gang kecil di belakang deretan ruko sesuai lokasi yang dikirim pria itu.

"Katanya hadiah..." gumam Bella.

Dari kejauhan Bara mengikuti dengan sepeda motornya. Ia sengaja menjaga jarak agar Bella tidak sadar.

'Semoga cuma firasatku saja.'

Tak lama kemudian. Seorang pria keluar dari sebuah mobil tua. Tubuhnya tinggi besar, lengan penuh tato, lehernya dipenuhi bekas luka. Tatapannya membuat Bella langsung kehilangan senyum.

"Kak... KingDragon?"

Pria itu menyeringai. "Iya."

"Kirain lebih tinggi." Bella memaksakan senyum.

"Hehe..."

"Hadiahnya mana?"

Pria itu justru tertawa. "Santai dulu."

"Ayo ngobrol."

Bella mulai merasa tidak nyaman. Namun ia tetap duduk di bangku beton dekat gang. Awalnya obrolan berjalan biasa.

"Rumahmu di mana?"

"Masih sekolah?"

"Sering live?"

Bella menjawab seperlunya namun beberapa menit kemudian...

Pertanyaannya mulai berubah.

"Kamu punya pacar?"

"Belum."

"Sering keluar malam?"

"Kadang."

Pria itu semakin mendekat. "Lagi datang bulan nggak?"

Bella membeku. "Hah?"

"Aku nanya."

"Lagi datang bulan?"

Bella langsung berdiri. "Maaf..."

"Aku pulang dulu."

Baru dua langkah. Pria itu menarik pergelangan tangan Bella.

"Eh."

"Buru-buru amat."

Bella panik. "Lepasin!"

"Aku cuma mau ngobrol."

"Lepas!"

Pria itu justru menarik lebih kuat. "Diem."

"Dapet hadiah mahal masa nggak mau nemenin."

Saat itulah. Sebuah suara terdengar dari ujung gang.

"Lepaskan dia."

Pria bertato itu menoleh. Bara berjalan mendekat dengan langkah tenang. Bella langsung lega.

"Bara!"

"Kamu di sini?"

"Aku dari tadi."

Pria bertato menyeringai.

"Pacarmu?"

"Bukan." jawab Bara datar.

"Aku temannya."

"Kalau temannya..." Pria itu melepas Bella lalu melangkah mendekat.

"...jangan ikut campur."

"Aku tidak suka." ucap Bara

"Bukan urusanku suka atau tidak."

Bara berdiri tepat di depan Bella. "Kalau dia bilang tidak."

"Berarti selesai."

Pria itu langsung mengayunkan pukulan.

*Bugh!*

Namun pukulan itu hanya mengenai udara. Bara menghindar dengan satu langkah kecil.

"Lambat."

"Apa?!"

Pria itu kembali menyerang membabi buta. Kali ini Bara menangkap pergelangan tangannya. Memutar sedikit.

"AARGH!"

Tubuh pria itu langsung kehilangan keseimbangan.

*Brak!*

Ia terjatuh keras ke tanah. Belum sempat bangkit...

*Bugh!*

Satu pukulan pendek mendarat tepat di ulu hati. Pria itu langsung batuk hebat. Napasnya tersengal.

"Kau..."

*Plak!*

Bara menepis tangan pria itu yang masih mencoba menyerang. Lalu satu tendangan rendah mengenai kakinya.

*Bruk!*

Pria bertato itu kembali tersungkur. Kini benar-benar tak mampu berdiri.

Bara menatapnya dingin. "Kalau masih punya harga diri..."

"...berhenti mencari korban lewat layar ponsel."

Pria itu hanya meringis sambil memegangi perutnya. Bella berdiri beberapa langkah di belakang Bara. Tangannya masih gemetar.

Baru kali ini ia benar-benar menyadari...

Ucapan Bara beberapa hari lalu bukan sekadar nasihat berlebihan.

Di balik dunia yang terlihat menyenangkan, selalu ada orang-orang yang menunggu kesempatan untuk memanfaatkan kelengahan orang lain.

Dan hari itu, kalau saja Bara tidak diam-diam mengikutinya dari kejauhan, mungkin cerita yang terjadi akan berakhir dengan cara yang sangat berbeda.

1
Jian Fitriana
jangan lama’ thor update nya 🤭
rey
semangat thor 🔥🔥
RR
halo teman-teman sekalian. tolong bantu berikan ulasan yaa agar saya lebih semangat untuk memberikan tulisan-tulisan terbaik. jangan lupa like nya terimakasih
rey: semangat thor 🔥🔥🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!