NovelToon NovelToon
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arenna Noir

"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
​Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.

​Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.

​"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."

​Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.

​Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."

bukan buku ****-****...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU

​Keputusan Edgar Emiliano Addison untuk membatalkan seluruh agenda di luar kamar bukanlah sebuah gertakan sambal. Pria yang biasanya hidup dengan kedisiplinan tingkat tinggi, yang jadwal hariannya dihitung dalam hitungan menit oleh sekretaris korporatnya, hari ini benar-benar menjelma menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Sang penguasa dinasti bisnis yang ditakuti di dua benua itu memilih untuk menanggalkan seluruh jubah keangkuhannya dan melebur dalam mode manja yang luar biasa pekat.

​Matahari Paris sudah merangkak naik, memancarkan cahaya benderang yang menembus tirai tipis kamar Katara Suite. Jam dinding digital berbahan obsidian di sudut ruangan telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, namun posisi mereka di atas ranjang sutra kelabu itu hampir tidak bergeser satu sentimeter pun sejak fajar menyingsing.

​Gaby perlahan menggerakkan badannya, mencoba untuk bangkit berdiri. Perutnya sudah mulai menyuarakan keroncongan halus, meminta untuk diisi. Namun, baru saja ia mengangkat bahunya beberapa senti dari kasur, sepasang lengan kekar yang melingkar di pinggangnya langsung mengetat seketika, menarik tubuh mungilnya kembali terhempas ke atas dada bidang yang kokoh dan hangat itu.

​"Mau ke mana, hm?" suara bariton Edgar mengalun berat, serak, dan teramat malas tepat di samping telinga Gaby. Pria matang itu bahkan tidak membuka matanya; ia justru semakin menenggelamkan wajah tegasnya di celah rambut hitam panjang Gaby yang tersebar di atas bantal.

​"Mas... aku mau mandi dan memesan makanan. Ini sudah siang, Mas Edgar," bisik Gaby lembut, jemari tangannya mengusap lengan kekar suaminya yang dipenuhi urat-urat maskulin, mencoba memberikan pengertian.

​"Jangan bergerak, Gaby. Tetap di sini," gumam Edgar posesif, sama sekali tidak memberikan celah. Ia malah mengangkat satu kaki panjangnya, mengunci kaki Gaby di bawah selimut bulu angsa tebal mereka. "Makanan bisa menunggu. Layanan kamar bisa dihubungi lewat telepon di dekatmu tanpa perlu kau beranjak dari posisimu saat ini."

​Gaby tidak bisa menahan tawa kecilnya. Suara tawa renyahnya bergetar di keheningan kamar. Ia berputar di dalam dekapan suaminya, kini menghadap langsung ke arah wajah tampan Edgar yang masih memejamkan mata dengan ekspresi yang begitu rileks sebuah pemandangan langka yang tidak akan pernah dipercayai oleh siapa pun yang mengenal seorang Edgar Addison di dunia luar.

​"Mas Edgar, kalau rekan bisnismu di Jakarta melihat pimpinan tertinggi Addison Group bersikap seperti anak kucing yang manja begini, harga saham perusahaan bisa anjlok dalam semalam," goda Gaby, jemarinya dengan berani mencubit pelan dagu kokoh suaminya yang mulai ditumbuhi rambut-rambut halus tipis.

​Edgar membuka sepasang manik mata elangnya perlahan. Kilat matanya yang semula redup karena kantuk instan berubah menjadi begitu dalam dan penuh dengan binar pemujaan yang pekat. Ia menangkap jemari tangan Gaby yang berada di dagunya, membawanya ke bibir, lalu mengecup ujung-ujung jari istrinya satu per satu dengan gerakan yang teramat lambat dan sensual.

​"Biarkan saja saham itu anjlok, Sayang. Aku bisa membelinya kembali dalam hitungan jam," balas Edgar dengan keangkuhan kelas atasnya yang khas, namun nadanya terdengar sangat santai. "Hari ini, duniaku tidak sedang berputar di sekitar angka-angka korporasi atau laporan keuangan. Duniaku hari ini hanya sebatas ukuran ranjang ini, dan ratuku sedang berada di dalam pelukanku. Tidak ada urusan dunia yang lebih penting daripada memanjakanmu hari ini."

​Debaran di dada Gaby kembali menggila mendengar kalimat gombalan berkelas yang keluar dari bibir suaminya. Tingkat kebucinan pria matang di depannya ini benar-benar sudah berada di luar nalar. Edgar tidak hanya melimpahinya dengan materi dan kemewahan fungsional, melainkan menyerahkan seluruh perhatian, waktu, dan afeksinya tanpa sisa.

​Setelah perdebatan kecil yang manis itu, Gaby akhirnya diizinkan untuk meraih gagang telepon di atas nakas hanya untuk memesan menu sarapan terlambat (brunch) yang super mewah dari dapur utama The Peninsula. Setengah jam kemudian, ketukan pelan di pintu luar terdengar.

​Gaby hendak beranjak untuk membuka pintu, namun Edgar menahannya dengan tatapan mata yang tegas. Pria itu bangkit berdiri terlebih dahulu, mengenakan jubah mandi satin hitam panjangnya yang mewah, lalu berjalan menuju pintu depan untuk mengambil troli makanan dari pelayan hotel. Edgar bahkan tidak mengizinkan pelayan pria itu melangkah masuk ke dalam area kamar utama untuk menjaga privasi mutlak wanitanya.

​Edgar mendorong troli perak itu mendekati ranjang. Di atasnya sudah tertata rapi dua piring French toast dengan siraman madu organik dan buah beri segar, sepiring omelet kaviar, beberapa pilihan croissant mentega yang hangat, serta dua cangkir kopi espresso yang aromanya sangat menggugah selera.

​Gaby sudah duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra, merapikan jubah mandi satin marunnya sendiri. Begitu Edgar duduk kembali di tepi kasur, Gaby menjangkau garpu dan pisau, bersiap untuk memotong French toast miliknya. Namun, gerakan tangannya lagi-lagi dihentikan oleh Edgar. Pria itu merebut alat makan dari tangan Gaby.

​"Mas?" Gaby menatap suaminya dengan alis berkerut heran.

​"Buka mulutmu, Sayang," perintah Edgar lembut, menyendok sepotong kecil makanan yang sudah dipotong rapi lengkap dengan buah stroberi di atasnya, lalu mengarahkannya ke depan bibir Gaby.

​"Mas Edgar, aku bisa makan sendiri. Tanganku tidak sedang terluka," protes Gaby dengan pipi yang mulai merona merah. Perlakuan Edgar yang terlalu memanjakannya ini terkadang membuatnya merasa seperti seorang anak kecil yang sangat rapuh.

​"Aku tahu tanganku dan tanganmu sama-sama sehat, Gaby. Tapi semalam aku sudah berjanji untuk memanjakanmu sepanjang hari ini, dan menyuapimu adalah bagian dari daftar yang harus kuselesaikan," ucap Edgar dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan, namun sepasang matanya memancarkan kelembutan yang teramat pekat. "Ayo, buka mulutmu."

​Gaby akhirnya menyerah kalah di bawah dominasi manis suaminya. Ia membuka bibirnya, menerima suapan dari Edgar dengan senyuman manis yang merekah. Edgar menatap garis bibir istrinya yang mengunyah makanan dengan binar kepuasan yang luar biasa besar di dalam hatinya. Pria itu dengan telaten menyuapi Gaby bergantian dengan potongan omelet, bahkan sesekali menyeka sisa madu di sudut bibir Gaby menggunakan ibu jarinya sendiri, lalu mengulum ibu jarinya tanpa rasa canggung sedikit pun.

​Sikap manja dan perhatian Edgar yang begitu intens ini membuat Gaby benar-benar merasa tenggelam dalam lautan cinta yang tak bertepi. Di bawah lensa kamera dunia, Edgar Addison adalah sosok predator bisnis yang kejam dan tak kenal ampun, namun di dalam kamar tidur ini, pria itu hanyalah seorang suami yang teramat bucin, yang kebahagiaannya bersumber murni dari seberapa kenyang dan bahagianya sang istri.

​Selesai makan, troli makanan disingkirkan kembali ke sudut ruangan. Udara luar Paris mulai terasa sedikit lebih hangat seiring matahari yang meninggi, namun Edgar tetap menolak untuk melangkah keluar dari kamar. Ia menarik Gaby untuk berpindah duduk di atas sofa beludru panjang yang terletak menghadap langsung ke arah jendela kaca besar dengan pemandangan Menara Eiffel yang berdiri dengan anggun di bawah langit biru.

​Edgar bersandar di sudut sofa, meluruskan kaki panjangnya, lalu menarik tubuh Gaby untuk duduk di antara kedua kakinya, menyandarkan punggung polos istrinya pada dada bidangnya. Edgar memeluk pinggang Gaby dari belakang, melingkarkan selimut wol kecil untuk menutupi tubuh mereka berdua dari terpaan pendingin ruangan.

​"Mas... apa kamu tidak bosan jika seharian hanya berdiam diri di dalam kamar bersamaku?" tanya Gaby lirik, jemari tangannya bermain dengan kancing kemeja santai yang kini sudah dikenakan Edgar.

​Edgar mengecup pundak Gaby yang sedikit terbuka dari balik jubah mandinya, menghirup aroma sabun mandi vanila yang manis dari kulit istrinya. "Bosan? Gaby, aku bisa menghabiskan waktu sepuluh tahun ke depan hanya dengan posisi seperti ini bersamamu tanpa merasa bosan sedetik pun."

​Pria matang itu mengusap lembut perut datar Gaby yang terbungkus kain satin. "Selama puluhan tahun hidupku, duniaku selalu dipenuhi oleh kebisingan rapat, persaingan bisnis yang kotor, dan kemunafikan orang-orang di sekitarku yang hanya menginginkan uangku. Baru setelah bersamamu... di tempat ini, di dalam keheningan bersamamu, aku akhirnya mengerti apa arti kata 'pulang' yang sesungguhnya. Kau adalah ketenanganku, Gaby."

​Mendengar penuturan jujur dan mendalam dari Edgar, Gaby membalikkan tubuhnya sedikit, menatap wajah suaminya dari jarak dekat. Ia bisa melihat ketulusan murni yang terpancar dari sepasang manik mata elang yang biasanya begitu dingin itu. Rasa cinta yang membuncah di dada Gaby membuatnya secara refleks memajukan wajahnya, mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir kokoh Edgar sebuah inisiatif manis yang jarang ia lakukan sebelumnya.

​Edgar tersentak kecil menerima kecupan mendadak dari istrinya, namun detik berikutnya, seringai tampan dan kilat posesif kembali menguasai matanya. Ia tidak membiarkan Gaby menjauh; tangan besarnya langsung menangkup tengkuk leher Gaby, memperdalam ciuman itu menjadi sebuah pagutan yang lambat, hangat, dan penuh dengan gairah matang yang menuntut kepemilikan mutlak.

​Di dalam keheningan kamar Katara Suite, di bawah langit kota Paris yang menjadi saksi bisu, Gaby membiarkan dirinya kembali melebur di dalam dekapan hangat suaminya. Hari ini, sang penguasa dinasti memilih untuk menjadi sosok yang manja dan bucin, dan Gaby dengan segenap hatinya siap untuk menemani dan membalas seluruh cinta tanpa batas yang diberikan oleh sang sugar daddy sepanjang sisa hidup mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!