NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Join Grup "PASAR PASEBAHAN JAGAD"

Keesokan paginya, Dinda terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang dan ringan dari biasanya. Beban berat yang selama ini menghimpit dadanya seolah menguap begitu saja. Kini, ia tahu bahwa dirinya tidak lagi sendirian terdampar di dimensi asing ini. Ada Wira—atau lebih tepatnya jiwa Wira Wicaksono—yang senasib sepenanggungan dengannya.

​Gadis itu perlahan turun dari amben bambu, lalu menoleh ke sisi tempat tidurnya yang ternyata sudah kosong dan rapi. Dinda melangkah keluar kamar, menembus ruang tengah, lalu berjalan menuju beranda luar rumah pohon.

​Suasana pagi itu terasa sangat asri. Sisa-sisa embun pagi masih menempel jernih di permukaan dedaunan, bergoyang pelan tertiup angin sepoi-sepoi. Sinar matahari pagi yang hangat mulai menerobos masuk melalui celah-celah kanopi hutan, menciptakan pendar cahaya yang indah.

​Saat sedang asyik berdiri di dekat pagar pembatas sembari menikmati kesegaran udara, netra Dinda menangkap sesosok tubuh kekar yang muncul dari balik jalan setapak kecil arah hutan. Itu Wira.

​Pria itu berjalan tegap dengan busur panah di pundaknya, dan di punggungnya, ada tiga ekor kelinci liar bertubuh gemuk yang terikat rapi hasil buruannya pagi ini. Dinda spontan menyunggingkan senyuman lebar. Ia langsung bergegas turun menapaki anak tangga kayu untuk menghampiri Wira.

​"Wira...!" sapa Dinda ceria begitu kakinya memijak tanah halaman. Matanya langsung berbinar menatap hewan buruan di punggung pria itu. "Wah, kelincinya gemoy banget! Ini mau kamu apakan?"

​Wira menghentikan langkahnya, menatap Dinda dengan binar mata yang melembut. "Tadinya sih mau aku jual semua ke pasar. Tapi kalau kamu menginginkannya, ambil saja. Ini semuanya untuk kamu," ucap Wira ringan sekali, tanpa beban.

​Dinda mengerjapkan matanya, agak tidak percaya. "Eh, beneran boleh? Kamu enggak rugi?"

​"Iya, aku serius. Ambil saja," ucap Wira meyakinkan sembari mengangguk kecil.

​"Asyik! Baiklah, kalau begitu aku ambil semua ya. Aku mau mengolahnya jadi daging kelinci bumbu Rica-rica!" seru Dinda penuh semangat, membayangkan perpaduan rasa pedas, gurih, dan hangat di lidahnya.

​Wira mengernyitkan dahi, menatap Dinda dengan pandangan menyelidik yang serius. "Memangnya kamu pintar memasak? Kulit kelinci itu tebal dan dagingnya bisa alot kalau salah mengolahnya."

​Mendengar itu, Dinda langsung berkacak pinggang. Ia mengerucutkan bibirnya, menatap Wira dengan ekspresi menantang yang menggemaskan. "Heh, kamu meremehkan aku ya? Gini-gini... aku ini mantan peserta MasterChef tahu! Ya... walaupun ujung-ujungnya enggak lolos sih," serunya di akhir kalimat dengan nada yang mendadak lesu karena teringat kenangan pahit.

​Sebenarnya, di dunia modern dulu, Adinda memang pernah mendaftarkan diri dan lolos menjadi salah satu peserta ajang memasak bergengsi itu. Masakannya terkenal sangat enak. Sayangnya, pada babak eliminasi saat itu, hidangannya dinilai juri kurang bisa menyentuh dan memikat lidah mereka secara personal, sehingga ia terpaksa tereliminasi. Sungguh disayangkan, padahal kemampuan memasak Dinda tidak perlu diragukan lagi.

​Melihat tingkah Dinda, Wira terkekeh geli. "Baguslah kalau begitu. Masakkan yang enak untuk kita hari ini. Aku mau pergi ke rumah Jaka dulu sebentar."

​"Mau apa kamu ke rumah Jaka pagi-pagi begini?" tanya Dinda bingung, menahan langkah Wira.

​"Ada urusan laki-laki sebentar," ucap Wira misterius.

​Sebelum Dinda sempat memprotes, Wira tiba-tiba menarik lembut tubuh ramping gadis itu mendekat ke arahnya. Tanpa aba-aba, pria itu menundukkan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan super lembut yang hangat di pelipis Dinda, menyalurkan rasa sayangnya yang kian dalam.

​Dinda tertegun dengan pipi yang mendadak terasa menghangat. Namun, ia cepat-cepat menutupi rasa salah tingkahnya dengan sebuah gurauan. "Oke, hati-hati dijalan... Awas ya, jangan mampir atau singgah ke rumah Lilis!" ucap Dinda menyenggol lengan Wira, sengaja menggoda tentang gadis desa yang kemarin sempat genit pada suaminya.

​Wira yang sudah berbalik untuk berjalan sontak menoleh kembali, menatap Dinda dengan gelengan kepala pasrah. "Sembarangan kalau ngomong," sahut Wira santai sebelum akhirnya melangkah lebar meninggalkan halaman rumah pohon, menuju ke rumah Jaka.

••••••••••••••••

​Sembari menenteng tiga ekor kelinci liar yang gemuk-gemuk, Dinda berjalan cepat menaiki anak tangga kayu rumah pohon. Langkah kakinya langsung tertuju ke arah dapur, menghampiri Mbok Ginem yang tampak sedang sibuk beraktivitas di depan perapian.

​"Mbok sedang apa?" tanya Dinda ramah sembari meletakkan hewan buruan itu di lantai bambu.

​"Eh, Nduk Dinda... Si Mbok sedang memasak ini," jawab wanita tua itu ramah. Netranya kemudian beralih menatap tumpukan kelinci di dekat kaki Dinda. "Ada apa, Nduk? Walah... banyak banget kelincinya, sampai gemuk-gemuk begitu."

​"Mbok, aku bantu memasak ya? Sekalian hari ini aku mau mengolah daging kelinci ini untuk menu makan siang kita," kata Dinda bersemangat.

​Mbok Ginem mengerutkan dahi, menatap heran pada hewan berbulu tersebut. "Walah, Nduk... mau dimasak apa toh kelinci liar begitu? Biasanya dagingnya agak keras kalau tidak biasa mengolahnya."

​Dinda terkekeh misterius. "Nanti Si Mbok juga bakal tahu setelah mencicipinya. Sekarang, Mbok bantu aku untuk menguliti dan membersihkan kelincinya saja ya?" pintanya manis.

​Mbok Ginem mengangguk setuju dengan senyuman maklum. Namun, saat Dinda mengalihkan pandangannya pada area dapur, ia mendapati sebuah kendala. Tungku api di dapur tersebut hanya ada satu, dan saat ini tungku tanah liat itu sedang digunakan penuh oleh Si Mbok untuk keliwet nasi. Dinda sempat terdiam, berpikir keras bagaimana caranya ia bisa menumis bumbu Rica-rica jika tidak ada perapian kosong.

​Detik berikutnya, sebuah ide cemerlang mendadak melintas di benaknya.

​‘Kompor gas!’ batin Dinda berseru riang. Ia teringat akan isi rumah minimalis di dalam ruang cincin yang sempat diceritakan Wira semalam. Pasti di dapur rumah itu ada fasilitas kompor yang bisa ia gunakan!

​Dinda lantas berpamitan sebentar pada Si Mbok, lalu melangkah cepat masuk ke dalam kamarnya yang sepi. Gadis itu berniat untuk segera menautkan jemarinya demi memicu portal dimensi cincin bulan sabit. Namun, sebelum jemari lentiknya sempat bergeseran, tiba-tiba dari dalam tas kain modern miliknya, terdengar bunyi getaran beruntun yang cukup intens.

​Drrt... drrt... drrt...

​Dinda mengernyitkan dahi dalam-dalam. Ia berjalan mendekati tasnya, lalu meremang pelan saat mengeluarkan ponsel pintarnya. Begitu layar dinyalakan, rupanya ada rentetan notifikasi baru yang masuk dari aplikasi Toko Online misteriusnya.

​Dengan gerakan cepat, Dinda mengetuk ikon pesan di layar sentuh. Seketika itu juga, muncullah sebuah pop-up teks resmi dari otoritas Sistem.

​[NOTIFIKASI SISTEM: EVENT BARU]

​"MISI MINGGUAN BARU TELAH DIBUKA! SILAKAN LIHAT DAFTAR MISI UNTUK MENDAPATKAN REWARD YANG JAUH LEBIH MENARIK!"

​Dinda hanya membaca sekilas pengumuman misi tersebut lalu memilih untuk mengabaikannya terlebih dahulu. Atensinya justru langsung tersedot sepenuhnya pada sebaris pesan rekomendasi yang berkedip-kedip di bagian paling bawah layar.

​"JIKA ANDA TERTARIK, SILAKAN BERGABUNG KEDALAM GRUP INTERAKTIF PARA MEMBER RESMI TOKO ONLINE: 'PASAR PASEBAHAN JAGAD'."

​Tulisan bersinar itu seketika memancing rasa penasaran Dinda sebagai manusia abad ke-21. Grup member? Apakah itu artinya ada pengguna lain selain dirinya? Dengan gerakan perlahan penuh antisipasi, jemari Dinda menekan tombol hijau bertuliskan [GABUNG/JOIN].

​Ting!

​"SELAMAT! ANDA TELAH BERHASIL BERGABUNG DENGAN 'GRUP PASAR PASEBAHAN JAGAD'. SEKARANG ANDA BISA MELAKUKAN JUAL-BELI, BERTUKAR CERITA, DAN MELAKUKAN OBROLAN SANTAI BERSAMA PARA MEMBER LAINNYA."

​Sebuah ruang obrolan obrolan (room chat) berkelompok langsung terbuka di layar ponselnya. Dinda sempat dilanda kebingungan selama beberapa saat. Iseng-iseng, ia mencoba mengetikkan sebaris sapaan pendek di kolom pesan teks.

​Dinda: "Halo..."

​Pesan terkirim dengan tanda centang dua. Namun, Dinda benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan mendapatkan balasan dalam waktu yang super cepat, bahkan tidak sampai hitungan tiga detik!

​Lalita Sari: "Halo juga!"

Amanda: "Wah, ada anak baru nih yang join!"

Arya Setiono: "Baru terdampar di dimensi paralel mana, Neng?"

Amanda: "Iya nih. Cerita dong, Kak!"

Lalita Sari: "Heh, sudah deh kalian ini! Jangan malah menakut-nakuti dan menggoda anak baru."

Raditya: "Iya, si Arya sama Amanda memang agak kurang kerjaan orangnya, harap maklum ya."

​Dinda terpaku di tempatnya berdiri, membaca deretan balon percakapan yang terasa sangat asyik, santai, dan begitu familier dengan gaya bahasa ini. Jantungnya berdegup kencang karena rasa haru yang mendadak membuncah di dada.

​‘Ya Tuhan... jadi selain aku dan Wira, ternyata ada banyak orang modern lain yang juga merasakan nasib ekstrem seperti ini?’ batin Dinda bertanya-tanya dengan mata berbinar.

​Tanpa membuang waktu lagi untuk berpikir rumit, jemari Dinda langsung menari-nari dengan lincah di atas keyboard layar ponselnya, membalas obrolan hangat tersebut.

​Dinda: "Halo guys, kenalin aku Dinda. Seminggu yang lalu aku tiba-tiba terlempar ke zaman kuno. Dan parahnya, suasananya kuno banget, kental dengan vibes Jawa zaman kerajaan purba!"

​Balasan Dinda langsung memicu kehebohan baru di dalam grup chat.

​Amanda: "What?! Seru banget itu!"

Arya Setiono: "Coba ceritain dong awal mula tragedi kenapa kamu bisa sampai masuk dan terdampar di dunia aneh itu?"

​Melihat pertanyaan dari Arya, Dinda menyandarkan punggungnya di dinding bambu kamar. Gadis itu mengembuskan napas panjang, bersiap untuk mengetikkan kisah kecelakaan trontonnya yang menjadi awal dari semua kegilaan ini...

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!