NovelToon NovelToon
My Cold Husband, Rafael

My Cold Husband, Rafael

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Noor.H.y

Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24. Menatap kagum

Keisya memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah Kanaya. Begitu mesin dimatikan, ia menoleh ke arah sahabat sekaligus kakak iparnya itu.

"Sudah sampai."

Kanaya mengangguk pelan, "Ayo turun.." lirihnya, lalu membuka pintu mobil. Keisya ikut turun dan berjalan mengiringinya menuju pintu utama.

Saat pintu terbuka, Keisya tanpa sadar mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah. Rumah itu cukup luas dengan desain yang elegan. Langit-langit tinggi, perabotan tertata rapi, dan ruangan yang lapang memberikan kesan mewah sekaligus nyaman.

Namun entah kenapa, suasananya terasa begitu sunyi.

Tidak terdengar suara televisi, tidak ada suara obrolan penghuni rumah, bahkan langkah kaki para pelayan pun nyaris tak terdengar.

"Sepi banget. Mbok Sum mana ? Biasanya dia paling heboh kalau ada tamu." tanya Keisya. Saat tak melihat sang asisten rumah tangga itu.

Keisya hafal betul sifat Mbok Sum, karena sejak dulu ia sudah menjadi asisten rumah tangga di kediaman utama. Namun saat Rafael memutuskan memilih untuk tinggal dirumahnya sendiri, Opa Theo menyuruh Mbok Sum untuk ikut Rafael untuk mengurus semua keperluan rumahnya.

"Ada kok. Tapi, tadi Mbok Sum ijin pulang kampung. Katanya cucunya masuk rumah sakit, katanya manggil-manggil nama Mbok Sum terus. Jadi terpaksa dia harus pulang." balas Kanaya.

"Mau minum apa ?" tanya Kanaya, menoleh kearah Keisya saat mereka sudah sampai di ruang tengah.

"Air putih aja deh, tapi yang dingin beb. Panas banget." kata Keisya, sembari merebahkan tubuhnya duduk bersandar di sofa ruang tengah.

Kanaya meletakkan tasnya, lalu berjalan ke arah dapur. Sedangkan Keisya meraih remote, dan menyalakan televisi di depannya sembari menunggu Kanaya kembali.

Tak selang lama, Kanaya membawa air putih dingin dengan beberapa camilan yang ada di dapur.

Keisya yang sedang asyik menonton sinetron khas Ikan Terbang langsung menoleh saat Kanaya kembali dari dapur membawa segelas air putih dingin.

Dengan cepat ia menerima gelas itu lalu meneguk air putih tersebut hingga hampir habis. Setelah itu, Keisya menghela napas panjang dengan wajah puas.

"Haus banget neng ?" kata Kanaya heran, saat Keisya langsung meminum air di gelas sampai hampir habis.

"Banget,".

Keisya kemudian menepuk-nepuk sofa di sampingnya.

"Sini, duduk dulu."

Kanaya menurut. Ia duduk di samping Keisya sambil sesekali melirik layar televisi yang menampilkan seorang wanita paruh baya dengan riasan menor sedang memarahi menantunya.

"Masih aja suka nonton sinetron beginian. Ini sinetron apa lagi ?" tanya Kanaya.

Mata Keisya langsung berbinar.

"Nah! Kamu datang di waktu yang tepat. Jadi ceritanya, ibu mertua yang pakai baju ungu itu jahat banget."

Kanaya menatap layar televisi.

"Yang lagi teriak-teriak itu?"

"Iya!" Keisya menunjuk layar. "Dia selalu menyalahkan menantunya. Padahal menantunya baik, sabar, rajin, cantik, pokoknya paket lengkap."

"Lalu yang laki-laki itu siapa?"

"Itu suaminya."

Kanaya mengangguk pelan.

Keisya mendengus kesal. "Tapi suaminya durhaka."

"Durhaka?"

"Iya! Lebih percaya sama mamanya daripada istrinya sendiri. Istrinya difitnah, dia percaya. Istrinya nangis, dia malah marah. Pokoknya bikin darah tinggi."

Kanaya terkekeh kecil melihat ekspresi emosi Keisya.

"Kayaknya kamu yang paling kesal di sini."

"Tentu saja!" protes Keisya. "Coba lihat. Menantunya sudah berbuat baik, tapi tetap disalahkan. Kalau aku jadi dia, ibu mertuanya sudah aku ajak mediasi dari episode pertama."

Kanaya tertawa semakin keras.

Di layar televisi, sang ibu mertua kembali menunjuk-nunjuk menantunya dengan wajah galak.

"Nah tuh!" Keisya kembali menunjuk televisi. "Lihat! Jahat, kan?"

Kanaya hanya tersenyum sambil memperhatikan sahabatnya yang begitu bersemangat menjelaskan alur sinetron, bahkan lebih heboh daripada para pemain yang sedang berakting di layar. Untuk sesaat, rumah yang biasanya terasa sepi itu dipenuhi suara tawa dan celotehan Keisya yang tak ada habisnya. "Dasar korban sinetron," gumamnya pelan.

* *

Setelah sinetron yang di tonton selesai. Keisya menoleh menatap Kanaya yang sedang asik di depan layar laptop mengerjakan tugasnya.

Keisya yang tadinya duduk di sofa, turun dan duduk di samping Kanaya. "Oh iya Nay, tadi kamu mau cerita apa ?" tanyanya, sambil memasukkan keripik pisang ke dalam mulutnya.

Kanaya menoleh, "Sinetronnya udah selesai ?"

Keisya mengangguk, "Udah. Ibu mertuanya berakhir stroke, terus suaminya bangkrut. Si cewek akhirnya nikah sama CEO kaya raya."

"Akhirnya yang cukup memuaskan," Kanaya menutup laptopnya, lalu beralih menatap Keisya dengan tatapan penuh keingintahuan.

"Kei..." lirihnya.

"Hm.." gumam Keisya, masih mengunyah keripik di mulutnya.

"Hubungan Om Darius dan Kak Rafael sebenarnya gimana sih ?" tanya Kanaya penasaran.

Keisya menghentikan kunyahannya, menatap ke arah sahabatnya. Sebelum menjawab pertanyaan itu, Keisya meraih minum terlebih dahulu. Lalu menghembuskan napas panjangnya.

"Ya gitu beb. Seperti yang kamu dengan kemarin, semenjak kecelakaan yang merenggut nyawa Om Darren dan Tante Sintya. Dia selalu saja menyalahkan Kak Rafael, padahal jelas-jelas itu takdir dari yang maha kuasa."

"Yang aku tahu, saat itu Kak Rafael ada pertandingan basket di sekolahnya. Terus dia sangat ingin kedua orang tuanya hadir untuk menyaksikan pertandingan itu. Namun, nahasnya sebuah kecelakaan terjadi saat perjalanan menuju arena pertandingan tersebut."

"Kak Rafael selalu menyalahkan diri sendiri atas kepergian orang tuanya, padahal dari pada kita semua yang lebih tersakiti itu adalah Kak Rafael sendiri. Sampai akhirnya Opa memilih untuk memindahkan Kak Rafael menyelesaikan sekolah dan kuliahnya di Amerika. Kalau pun pulang ke Indo, jika ada urusan bisnis saja."

Kanaya mengangguk pelan, seolah mencerna baik-baik apa yang di katakan Keisya.

"Sampai akhirnya Opa menyuruh Kakak untuk pulang dan menetap di Indonesia. Setelah Opa sering sakit-sakitan. Tapi.. Ya gitu, dia tetap nggak mau pulang ke rumah utama, karena ia tahu disana akan lebih sering terlibat urusan dengan Om Darius yang berujung menyalahkannya kembali."

Keisya menyentuh pundak Kanaya, "Kamu tahu nggak beb, tadi pas kamu bilang Kak Rafael baik-baik aja dan sekarang berada di kantornya juga aku kaget loh."

Kanaya mengernyit bingung, "Emang Kenapa ?"

"Dulu, kalau ada yang mengungkit tentang kejadian itu. Pasti beberapa hari kemudian, Kak Rafael akan mengurung diri di kamar. Tidak keluar sama sekali, bahkan Opa pun tidak bisa untuk membujuknya kalau dia nya belum keluar dengan sendirinya."

"Masa sih ?" tanya Kanaya, tak percaya.

Keisya mengangguk mantap, "Iya. Wah.. Benar kata Opa, kalau kamu itu jodoh yang tepat buat dia. Makasih beb, sudah hadir dalam dunianya." katanya, lalu memeluk Kanaya dengan erat. Membuat Kanaya hanya menepuk-nepuk pelan pundak Keisya, dengan pikiran yang melayang membayangkan kondisi Rafael yang sedikit membuatnya merasa iba.

* *

Malam hari, Rafael baru saja pulang dari kantor. Jas yang dikenakannya masih rapi saat ia melangkah masuk ke dalam rumah.

Ia hendak menaiki tangga menuju kamarnya ketika langkahnya terhenti.

Alisnya berkerut.

Dari arah dapur terdengar suara berisik yang tidak biasa, disusul aroma hangus yang langsung menusuk indra penciumannya.

"Apa itu?" gumamnya pelan.

Rafael segera berbalik dan berjalan menuju dapur.

Namun begitu sampai di ambang pintu, matanya langsung membulat.

"Kanaya!"

Di depan kompor, Kanaya berdiri kaku sambil memegang spatula. Wajan di atas kompor mengepulkan asap hitam pekat, bahkan lidah api terlihat menyambar cukup besar dari dalam wajan.

Wajah Kanaya sudah pucat karena panik.

"Kak Rafael...!"

Tanpa membuang waktu, Rafael segera berlari menghampiri. Dengan gerakan cepat ia mematikan kompor, lalu menarik wajan menjauh dari sumber panas menggunakan kain lap yang tergantung di dekatnya.

Api perlahan mengecil sebelum akhirnya padam.

Dapur yang tadi dipenuhi kepulan asap perlahan mulai tenang.

Rafael mengembuskan napas panjang.

Sementara itu Kanaya masih berdiri membeku di tempatnya.

Rafael menoleh tajam.

"Kamu ngapain? Mau membakar rumah ini ?" tanyanya.

Kanaya menelan ludah gugup.

"Aku... aku cuma mau goreng telur." lirihnya, "Aku lapar, mau grabfood udah malam. Terus, buka kulkas adanya telur. Jadi aku mau goreng telur aja niatnya, tapi.. pas aku kembali ambil piring, apinya udah membesar gini."

Rafael menatap wajan yang kini berubah warna menjadi kehitaman. Rafael menghela napas panjang lagi.

Hening beberapa detik.

Kanaya sudah bersiap dimarahi. Namun yang terjadi justru berbeda.

Rafael meraih pergelangan tangan Kanaya dan memeriksanya.

"Ada yang kena?" tanya Rafael, menatap lekat Kanaya yang berada di depannya.

Kanaya menggeleng.

"Tangan?"

"Enggak."

"Wajah?"

"Enggak juga."

Rafael memeriksa sekilas memastikan gadis itu benar-benar tidak terluka.

Setelah yakin Kanaya baik-baik saja, bahunya yang sempat menegang akhirnya sedikit mengendur.

"Kamu duduk. Saya akan buatkan makan malam buat kamu." kata Rafael pelan.

Kanaya mengangguk pelan. Ia duduk diam di kursi meja makan dengan kedua tangan bertumpu di atas permukaan meja. Matanya tak lepas memperhatikan sosok Rafael yang kini berdiri di depan kompor.

Rafael sudah melepaskan jasnya dan menggulung lengan kemeja hingga sebatas siku, memperlihatkan gerakannya yang sigap dan terlatih. Dengan cekatan ia mengambil beberapa bahan dari kulkas, lalu mulai mengolahnya tanpa banyak bicara.

Suara desisan dari wajan yang terkena minyak panas memenuhi dapur, disusul aroma makanan yang perlahan mulai tercium.

Kanaya berkedip beberapa kali. Entah kenapa, pemandangan di depannya terasa asing sekaligus menenangkan.

Ia terbiasa melihat Rafael dengan penampilan rapi dan formal, sibuk dengan pekerjaan serta berbagai urusan perusahaan. Namun malam ini, pria itu berdiri di dapur rumahnya sendiri, memasak untuknya.

Tanpa sadar sudut bibir Kanaya sedikit terangkat.

"Selain tampan, dia juga jago masak.." gumamnya pelan.

* * * *

1
Noey Aprilia
Ya suami kutub lh,apa lg.....🤣🤣🤣....
Noey Aprilia
Mskpn klkas,tp ttp prhtian....
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
Noey Aprilia
Rafael nih tipe2 kulkas,tp aslinya prhtian....dia ga tau msti brskap ky gmna,mkanya kya acuh gt....tp ykin bgt kl bntr lg dia bkln bucin parah....
Noey Aprilia
Kanaya....tau ga kl sbnrnya km yg nyosor dluan?????🤭🤭🤭....
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Noey Aprilia
Enth spa yg bkln bucin dluan....ga sbr aja nunggu mreka mesra,trs bkin sng mntan nangis guling2...
Noey Aprilia
Hai kk...
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣
Noey Aprilia: Sama2....smngttt...😘😘😘
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!