NovelToon NovelToon
MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

MAHAR KECOA UNTUK NONA MANJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: Katumbiri Lazuardi

Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.

Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...

bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??

kisah CHICK-LIT ROMANCE

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: TAHTA YANG KEMBALI DAN PAHLAWAN YANG TERGANTI

​Malam itu, Jakarta nampak seperti hamparan permata yang dingin dari balik jendela rumah sakit. Vanya melangkah keluar dari lobi dengan langkah yang masih sedikit goyah. Ada perban kecil yang menempel di pelipis kirinya, kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Secara fisik, luka-lukanya hanya lecet ringan, namun ada sesuatu yang terasa kopong dan hampa di dalam dadanya—sebuah ruang kosong yang tiba-tiba ditinggalkan oleh pemiliknya.

​Derian, dengan kesigapan yang nampak begitu tulus namun berlebihan, langsung merangkul bahu Vanya. Ia membukakan pintu mobil sport mewahnya, memperlakukan Vanya seolah-olah gadis itu adalah porselen retak yang sangat berharga dan bisa hancur kapan saja jika tersentuh udara kasar.

​"Pelan-pelan, sayang," bisik Derian lembut. "Aku nggak akan biarkan hal buruk menyentuhmu lagi. Cukup malam itu saja aku hampir kehilanganmu."

​Vanya hanya mengangguk lemah, menyandarkan kepalanya pada jok kulit yang dingin. Pikirannya melayang pada detik-detik sebelum mobil box itu menghantam. Ia ingat aroma parfum maskulin yang samar, ia ingat sebuah lengan kokoh yang mendekapnya erat sebelum ia terpental ke trotoar. Namun, ingatan itu kabur oleh suara Derian yang terus-menerus mengklaim bahwa dialah yang melakukan semuanya.

​Desisan Iblis di Garasi

​Sesampainya di kediaman Hutama, suasana terasa mencekam. Derian tidak langsung masuk ke dalam rumah. Setelah membantu Vanya duduk di sofa ruang tamu, ia kembali ke halaman depan. Matanya yang tajam menangkap sosok Kang Ujang yang sedang membersihkan teras dengan wajah yang tampak mendung dan mata sembab.

​"Kang, ke sini sebentar!" panggil Derian dengan nada memerintah yang mutlak.

​Kang Ujang meletakkan sapunya perlahan dan mendekat dengan kepala tertunduk. "Ada apa, Den?"

​Derian merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebungkus rokok mahal dan menyodorkannya dengan senyum yang tidak sampai ke mata. "Nih, rokok buat kamu. Capek kan nunggu di rumah sakit dan mengurus kekacauan ini?"

​"Terima kasih, Den..." jawab Kang Ujang sangsi. Ia tidak menyentuh rokok itu.

​Derian kemudian melangkah maju, memperkecil jarak hingga ia bisa membisikkan kata-kata di telinga Kang Ujang. Suaranya berubah menjadi desisan yang mengancam, penuh dengan racun intimidasi.

​"Dengar ya, Kang. Kamu jangan sekali-kali bilang kalau si Reyhan yang menolong Vanya malam itu. Bilang saja dia kabur entah ke mana karena takut tertangkap. Kalau sampai ada satu kata pun bocor ke kuping Vanya atau Pak Bram, habis kamu. Kamu tahu kan posisi pentingku di perusahaan sekarang? Satu telpon dariku, dan kamu akan jadi gembel di jalanan tanpa pekerjaan. Paham?"

​Kang Ujang menelan ludah. Jakunnya naik turun. Ia hanya seorang supir tua, sementara Derian adalah calon menantu sekaligus tangan kanan tuannya. "I... iya, Den. Paham."

​"Bagus. Ambil saja rokoknya, anggap itu upah untuk tutup mulutmu." Derian berlalu masuk dengan gaya pemenang, merapikan kerah jasnya seolah baru saja menyelesaikan transaksi besar.

​Kang Ujang menatap sebungkus rokok mahal itu dengan tatapan muak yang mendalam. Ia meremas bungkus itu hingga hancur. "Huh, dasar... dunia memang sudah terbalik. Yang berkorban sampai patah kaki siapa, yang jadi pahlawan kesiangan siapa," gumamnya pelan. Air matanya hampir jatuh membayangkan Reyhan yang saat itu menahan sakit luar biasa namun masih memikirkan keselamatan Vanya.

​Gudang yang Dingin dan Bau Kenangan

​Di dalam rumah, Vanya tidak langsung menuju kamarnya untuk beristirahat. Meskipun tubuhnya butuh tidur, batinnya memberontak. Langkah kakinya, seolah memiliki memorinya sendiri, justru melangkah ke arah belakang rumah, menuju bangunan kecil yang selama enam bulan ini menjadi tempat tinggal Reyhan.

​Gudang itu. Tempat yang selalu ia sebut "kandang kecoa".

​"Reyhan?" panggilnya lirih. Suaranya hilang ditelan angin malam.

​Ia membuka pintu gudang yang tidak terkunci. Hening. Ruangan itu tampak sangat rapi—terlalu rapi untuk seseorang yang "kabur" karena ketakutan. Kasur tipisnya sudah tergulung rapi, pakaian yang biasanya tergantung di paku dinding sudah tidak ada, dan botol minum plastik yang selalu ada di meja kecil pun sudah lenyap.

​Hanya ada satu hal yang tersisa: aroma parfum maskulin yang samar, sisa-sisa keberadaan pria itu yang entah mengapa kini terasa begitu merindukan.

​"Benarkah kamu kabur, Rey? Benarkah kamu sejahat itu?" bisik Vanya, air matanya mulai menggenang.

​Ucapan Derian di rumah sakit terus berputar di otaknya seperti kaset rusak. Penjahat yang buron. Begal yang menyamar. Dia mendekatimu hanya untuk menghancurkanmu. Vanya mencoba membayangkan jika benar pria yang ia ajak berdebat setiap hari, pria yang sering ia maki namun diam-diam selalu ada untuknya, adalah orang yang berniat jahat padanya malam itu.

​"Kalau benar kamu pelakunya... aku akan membencimu seumur hidupku, Reyhan! Kenapa kamu harus pergi tanpa penjelasan?! Kenapa kamu biarkan aku mempercayai orang lain?!"

​Vanya merosot di lantai gudang yang dingin. Ia mendekap lututnya dan menangis tersedu-sedu di ruangan yang kini tak lagi berpenghuni itu. Ia merasa kehilangan sesuatu yang sangat besar, namun ia terlalu angkuh untuk mengakui bahwa yang hilang itu adalah belahan jiwanya.

​Kembalinya Sang Raja Ardiansyah

​Di sisi lain kota, di sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang memantulkan cahaya kota, suasana tampak sangat formal dan tegang. Aula pertemuan lantai paling atas terbuka lebar. Para petinggi perusahaan, dewan komisaris, dan pemegang saham berdiri serentak saat pintu ganda terbuka.

​Suasana menjadi hening seketika saat sebuah kursi roda didorong masuk oleh seorang asisten pribadi berpakaian hitam-hitam.

​Di kursi roda itu, Reyhan duduk. Kaki kanannya dibungkus gips putih yang tebal, namun auranya sangat jauh berbeda dengan "Reyhan sang Supir". Tidak ada lagi kaus oblong atau celana jeans pudar. Ia mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat tajam, kemeja putih bersih dengan kancing manset emas. Wajahnya yang biasa terlihat santai kini dingin, kaku, dan penuh otoritas yang tak terbantahkan.

​"Selamat datang kembali, CEO Reyhan Ardiansyah," ucap asistennya dengan suara lantang yang menggema di seluruh ruangan.

​Reyhan menatap para direksi di depannya satu per satu. Tatapannya begitu tajam hingga membuat para pria paruh baya di sana menunduk takut. Ia bukan lagi pria yang bisa dimaki "gembel" atau "pria tak berguna".

​"Lakukan audit total pada divisi keuangan paman saya," perintah Reyhan. Suaranya berat, mutlak, dan mengandung ancaman yang nyata. "Saya ingin setiap sen yang hilang dilacak. Dan satu lagi... siapa pun yang terlibat dalam konspirasi fitnah enam bulan lalu yang membuat saya harus 'menghilang', saya ingin surat pengunduran diri mereka ada di meja saya sebelum jam lima sore."

​"Tapi Pak Rey, kondisi fisik Anda masih memerlukan pemulihan..." salah satu direksi mencoba bicara dengan suara gemetar.

​Reyhan memutar kepalanya perlahan, menatap direktur tersebut dengan dingin. "Kondisi fisik saya mungkin terbatas karena kaki saya patah, tapi otak saya tidak terganggu untuk menghancurkan kalian semua jika kalian berani berkhianat lagi. Ada pertanyaan?"

​Tidak ada yang berani bernapas.

​Setelah rapat singkat yang mencekam itu selesai, Reyhan meminta asistennya untuk membawanya ke depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kancing baju kecil berwarna putih mutiara—kancing yang ia temukan di genggamannya saat ia mendorong Vanya dari maut kemarin.

​"Tunggu aku, Nona Manja," gumamnya pelan, hampir tak terdengar. Matanya menatap ke arah perumahan elit tempat Vanya tinggal. "Aku akan membersihkan semua sampah dan ular di sekitarmu, sebelum aku menjemputmu kembali ke tempat yang seharusnya. Ke sisiku."

​Reyhan tahu, saat ini Vanya mungkin sedang membencinya karena fitnah keji yang disusun Derian. Namun, sang raja telah kembali ke tahtanya, dan ia tidak akan membiarkan bidak ratunya dimainkan oleh orang rendahan seperti Derian lebih lama lagi. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

1
Dhatu Lukita
halo thor ceritanya menarik berbau2 cio ala ala dracin. saya suka saya suka 🤭😍
Katumbiri Lazuardi: terima kasih...
dracin religi 😄😄😄.

🤭🤭...

sehat dan sukses ya kak
total 1 replies
Katumbiri Lazuardi
chikc-lit..
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!