Biah merupakan seorang Single parent yang membesarkan ke-tujuh orang anak, dan diantaranya adalah anak dari adiknya sendiri yang meninggal dalam kecelakaan.
Hidupnya yang dulu bisa berada dirumah setiap hari kini harus berjuang seorang diri untuk membesarkan mereka.
Suaminya meninggal karena menolong seorang perempuan yang hendak diperkosa oleh beberapa orang, dia meninggal sehari sebelum adiknya meninggal dunia dan menitipkan kedua putranya kepadanya
Mampuka dia membesarkan mereka dengan segala himpitan ekonomi dan juga penghinaan orang-orang??
Novel terbaru kami yang penuh kisah inspiratif dan juga tangis
Silahkan dukung kami🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Biah berjalan dengan langkah pasti, dia kini berasa ditempat rahasia yang akan menjadi saksi bagaimana para petinggi itu ikut terseret.
"Mari kita sebar semuanya terutama video rekaman CCTV dan yang lainnya untuk mengungkap semuanya". Ucapnya pada semua orang yang berada dalam ruangan itu.
"Anda yakin komandan, ini berisiko besar untuk anda sekeluarga, mereka akan memburu komandan secara brutal, tadi saja mereka berusaha membunuh keluarga komandan".
"Saya sudah mengamankan keluargaku, setelah ini saya akan berhenti dari kemiliteran dan hidup seperti biasa".
Mereka menghela nafasnya karena tidak setuju apa yang dikatakan oleh komandan mereka.
"Maafkan saya komandan, jika bisa memberi saran komandan jangan keluar dari kemiliteran karena jika semua ini selesai, aku yakin mereka tetap akan menyimpan dendam, jika anda menjadi rakyat biasa dan melepaskan kemiliteran maka anda tidak akan bisa membalas mereka dan melindungi keluarga anda seperti anda saat ini".
Aryo yang merupakan sahabatnya dan suaminya yang berada dalam tim yang sama kembali mengusulkan hal serupa.
"Yang dikatakan letnan Farel benar komandan, anda tidak akan punya Otoritas jika melepaskan kemiliteran, ambillah cuti panjang setelah smeua ini tapi jangan keluar sepenuhnya".
Biah menatap mereka semua kemudian berpikir sejenak, yang dikatakan mereka memang tidak ada salahnya, mereka memang akan dihukum tapi tidak ada yang tahu pergerakan mereka di belakang setelah ini.
"Baiklah, Terima kasih memberikan saya usul yang baik, saya juga sangat berterima kasih karena kalian membantu saya sampai sejauh ini".
Mereka semua mengembangkan senyumnya walau wajah mereka terlihat begitu sendu.
"Ini bukan hanya untuk anda komandan tapi juga untuk keluarga kami, kami hanya ingin menegakkan keadilan komandan karena para petinggi kita tidak jujur dan bahkan melenyapkan keluarga kami untuk menutupi kejahatan mereka, kami tidak ingin korban banyak kembali berjatuhan, cukup kami saja".
Mereka tidak hanya kesatuan dan tim Biah dan juga Hasan, mereka adalah orang-orang yang telah berjuang untuk negara tapi mereka ditindas oleh petinggi hukum dengan mengorbankan keluarga mereka. Seperti hal nya komandan Biah mereka semua menuntut keadilan yang sangat minim di mata hukum.
"Kamu benar, selain kita menyelamatkan negara kita dari mafia hukum, kita juga bisa mendapatkan keadilan atas kepergian kelaurga kita dan orang lain yang mereka lenyapkan seenaknya". Farel menepuk pundak sahabatnya yang kini meneteskan airmatanya.
" Mari kita bertindak dan pastikan kita bergerak cepat karena aku yakin jika kita mengeluarkan semuanya sekaligus mereka akan kesulitan dan kocar-kacir menyelamatkan diri sendiri".
Mereka semua langsung bergerak cepat, pemilik salah satu stasiun televisi terbesar di negara ini sudah bekerja sama dengan mereka karena dia juga salah satu korban petinggi Mafia hukum jadi dia membalaskan dendam dengan ikut dalam rencana mereka.
"Kami sudah menyiapkan semuanya komandan, besok pagi presiden akan memberi pernyataan resmi terkait permasalahan ayah anda dan Mafia hukum di media massa maupun media sosial".
"Bagus, hubungi stasiun televisi itu untuk mengungkapkan dan membuat berita ini semakin besar agar mereka tidak memiliki cela".
Mereka semua menyeringai sinis, mereka akan bergerak pelan namun pasti.
"Aku akan pulang, pastikan kita bergerak tepat subuh menjelang agar mereka terkejut pada kejutan kita esok hari".
"Baik komandan".
"Saya pamit dulu".
Biah langsung melangkahkan kakinya keluar untuk keluar dari sana dan memakai penyamarannya kembali.
"Kalian akan tahu akibatnya besok