Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wulan Hamil?
Tak lama kemudian, dari arah gudang belakang terlihat seorang pria berjalan mendekati mereka.
Langkahnya mantap. Tubuhnya tegap dan bahunya bidang, menandakan dirinya terbiasa melakukan pekerjaan berat. Kulitnya sawo matang. Kemeja lusuh yang dikenakannya tampak sedikit berdebu, sementara celana panjangnya juga dipenuhi bekas-bekas pekerjaan sejak pagi.
Pria itu tampak tidak jauh berbeda usia dengan Lindu.
Begitu sampai di hadapan mereka, dia langsung menampilkan senyum ramah.
Wulan yang sejak tadi berdiri di samping Lindu sebenarnya tidak terlalu memperhatikan siapa yang datang.
Namun saat tanpa sengaja mengangkat wajah dan melihat pria itu dengan jelas, tubuhnya langsung menegang.
Jantungnya seakan berhenti berdetak selama sesaat.
Wajahnya berubah pucat.
Nama itu pria itu, bahkan belum sempat disebutkan, tetapi Wulan sudah mengenali wajah pria tersebut.
Sementara itu, Lindu yang berdiri di sampingnya juga merasakan sesuatu yang tidak nyaman dalam dirinya. Sesaat tadi, ketika melihat Baskoro datang mendekat, tangannya sempat mengepal kuat.
Namun Lindu bukan orang yang mudah memperlihatkan perasaannya.
Dengan susah payah dia menekan gejolak yang muncul di dalam dada. Wajahnya kembali datar dan tenang seperti biasa.
Seolah tidak ada apa pun yang mengganggunya.
Mandor yang sama sekali tidak menyadari perubahan suasana itu justru tersenyum puas.
Dia menepuk bahu pria tersebut dengan bangga.
"Mas Lindu, ini pekerja baru yang menggantikan Pak Sudin sementara."
Mandor lalu menunjuk pria itu.
"Namanya Baskoro."
Baskoro mengangguk sopan.
"Senang bisa bekerja di sini."
Nada suaranya terdengar biasa saja. Tidak ada yang aneh.
Namun bagi Wulan, suara itu justru membuat jantungnya berdegup semakin cepat.
Dia buru-buru menundukkan pandangan agar tidak terlalu lama menatap Baskoro.
Berusaha menyembunyikan keterkejutan yang muncul di wajahnya.
Sedangkan Lindu tetap menatap Baskoro selama beberapa detik.
Sampai akhirnya dia berkata dengan suara datar.
"Semoga betah bekerja di penggilingan ini."
Baskoro tersenyum lebih lebar.
"Terima kasih, Mas. Mudah-mudahan saya bisa bekerja dengan baik di sini."
Mandor yang mendengar jawaban itu tampak semakin senang.
"Orangnya rajin, Mas. Dari pagi sudah ikut angkat karung. Saya suruh istirahat sebentar saja malah tidak mau."
Baskoro hanya tersenyum malu.
"Masih belajar, Pak."
"Iya, tapi kerjanya bagus." Kata mandor lagi.
Lindu mengangguk singkat.
"Bagus. Lanjutkan kerjamu."
"Baik, Mas."
Baskoro kembali mengangguk hormat.
Sesaat sebelum berbalik pergi, pandangannya sempat bergeser ke arah Wulan.
Hanya sebentar.
Namun hal itu cukup membuat Wulan semakin gugup.
Untungnya Baskoro tidak mengatakan apa-apa.
Dia segera berpamitan lalu berjalan kembali menuju area gudang untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah pria itu menghilang di balik tumpukan karung padi, suasana di sekitar mereka mendadak terasa canggung.
Wulan masih menunduk.
Sementara Lindu diam memandang ke arah gudang.
Mandor yang berdiri tak jauh dari mereka akhirnya menyadari sesuatu.
Dia memperhatikan wajah Wulan beberapa saat.
"Kok pucat begitu, Mbak Wulan?" t
Tanyanya heran.
Wulan tersentak kecil.
"Nda, Pak."
"Tapi wajah Mbak Wulan kelihatan kurang sehat."
Wulan memaksa tersenyum meskipun senyuman itu tampak lemah.
"Mungkin cuma sedikit pusing."
Mandor mengangguk pelan.
"Kalau begitu jangan dipaksakan."
"Iya, Pak."
Lindu yang sejak tadi memperhatikan Wulan akhirnya bersuara.
"Mau pulang?"
Wulan menoleh.
Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu Wulan mengangguk pelan.
"Iya."
"Baik." Lindu tidak bertanya apa-apa lagi.
Dia kemudian menoleh kepada mandor.
"Pak, saya pulang dulu."
Mandor langsung mengangguk.
"Iya, Mas Lindu."
"Mohon pengawasannya seperti biasa."
"Tenang saja, Mas. Nanti saya awasi."
"Terima kasih."
Setelah itu Lindu mengajak Wulan meninggalkan area penggilingan.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan di antara mereka.
Wulan terus menundukkan kepala sambil memandangi jalan di depannya.
Pikirannya kacau. Sedangkan Lindu berjalan di sampingnya dengan wajah tenang.
Namun di balik ketenangan itu, pikirannya terus kembali pada satu orang.
Baskoro.
Kemunculan pria itu di penggilingan padi miliknya terasa seperti awal dari sesuatu yang tidak pernah dia harapkan.
Sesampainya di rumah, Lindu dan Wulan langsung masuk ke dalam.
Bu Diya yang melihat mereka pulang lebih cepat dari biasanya tampak heran, namun tidak sempat bertanya karena keduanya langsung menuju bagian dalam rumah.
Wulan berjalan pelan menuju kamar.
Melihat wajah istrinya yang masih terlihat pucat, Lindu akhirnya menyuru agar Wulan ke kamar saja.
"Kalau memang kurang enak badan, istirahat saja."
Wulan menghentikan langkahnya lalu menoleh.
Beberapa saat dia tampak ragu sebelum akhirnya berkata pelan,
"Maaf, Mas."
Lindu mengernyit.
"Maaf kenapa?"
"Karena aku, Mas jadi harus pulang cepat dari penggilingan."
Lindu terdiam sesaat.
Kemudian ia menggeleng pelan.
"Nda apa-apa."
"Tapi..."
"Nda apa-apa, Wulan." Ulang Lindu dengan tenang.
Wulan menunduk.
Namun Lindu tampak tidak mempermasalahkannya.
"Kalau memang pusing, istirahat saja dulu."
"Iya, Mas."
Setelah itu, Wulan masuk ke dalam kamar.
Melihat Lindu masih berada di ruang tengah, Bu Diya segera menghampirinya.
"Lho, kok cepat sekali pulangnya?" Tanyanya heran.
Biasanya jika ke penggilingan, Lindu baru kembali menjelang siang atau bahkan sore hari.
Lindu duduk sebentar lalu menjawab singkat.
"Wulan kurang enak badan."
"Oh..." Bu Diya mengangguk pelan.
Namun sesaat kemudian, matanya sedikit membesar.
Kurang enak badan?
Entah kenapa, pikiran Bu Diya langsung melompat ke kemungkinan lain.
Jangan-jangan, Wulan sedang mengandung.
Perasaan senang langsung muncul di hatinya.
Kalau benar demikian, tentu itu adalah kabar yang sangat membahagiakan bagi keluarga mereka.
Namun Bu Diya tidak langsung mengutarakan pikirannya.
Dia hanya tersenyum kecil sendiri.
"Kalau begitu suruh dia istirahat yang banyak." Katanya.
"Iya, Bu."
Lindu tidak menyadari apa yang sedang dipikirkan ibunya.
Sementara Bu Diya berusaha menahan senyumnya.
Meski belum tentu benar, hatinya sudah mulai dipenuhi harapan-harapan yang membuatnya bahagia sendiri.
Dengan langkah cepat, Bu Diya meninggalkan ruang tengah dan menuju samping rumah.
Di sana, Juragan Ramli sedang berdiri santai di dekat deretan sangkar burung peliharaannya.
Pria itu tampak sedang bersiul kecil, sesekali mengamati burung-burung kesayangannya yang berkicau riang.
"Pak... Pak..." Panggil Bu Diya dengan wajah berbinar.
Juragan Ramli menoleh.
"Lho, ada apa? Kok semangat sekali?"
Bu Diya langsung mendekat.
"Aku mau bilang sesuatu."
"Apa?"
Bu Diya menurunkan suaranya meski di sekitar mereka tidak ada siapa-siapa.
"Aku itu curiga Wulan sedang hamil."
Juragan Ramli yang tadinya santai langsung membulatkan mata.
"Hamil?"
Bu Diya mengangguk cepat.
"Tadi Lindu pulang cepat dari penggilingan."
"Terus?"
"Katanya Wulan kurang enak badan."
Juragan Ramli mengernyit.
"Itu saja?"
"Iya, tapi wajahnya juga pucat."
Juragan Ramli langsung tertawa kecil.
"Bu... Bu..."
"Apa?"
"Jangan langsung menyimpulkan begitu."
"Tapi bisa saja, Pak."
"Bisa saja, tapi bisa juga memang cuma masuk angin atau kecapekan."
Bu Diya mengerucutkan bibirnya.
Meski begitu, senyum di wajahnya tetap tidak hilang.
"Kalau benar bagaimana?"
Juragan Ramli terdiam sejenak.
Lalu tanpa sadar senyum kecil ikut muncul di wajahnya.
"Kalau benar..." katanya pelan.
"Ya tentu saya senang."
"Kan?" sahut Bu Diya cepat.
Juragan Ramli terkekeh kecil melihat tingkah istrinya yang memang dari lama ingin cucu.