Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang diam-diam.
"Kamu cuti?" suara Yumi menggema didalam ponsel milik Cahaya, wajahnya pun menghiasi layarnya dengan latar kantor tempat kerja mereka.
"Iya," jawab Cahaya singkat.
"Sesakit itu ya, yang namanya perceraian karena diselingkuhin?" tanya Mimi.
"Gak sakit, tapi lebih ke kecewa aja. Untungnya aku belum sebucin itu, jadi lebih ikhlas nerimanya," jawab Cahaya, menghela nafas panjang.
Tiba-tiba Yumi menengadah, ia tampak panik didepan layar milik Cahaya. Dilihat dari jam dinding sudah pasti atasannya datang dan kesibukan mulai mendera para pekerja disana.
"Eh ada atasan, aku kerja dulu, ya. Babay!" pamit Yumi yang langsung menutup video call mereka.
Cahaya menghela nafas berat kemudian menaruh ponselnya diatas nakas. Ia inginnya pergi ke rumahnya, namun pak bos melarangnya sebab semalam ia demam tinggi.
Akan tetapi tinggal disana pun Cahaya merasa gak nyaman. Apalagi rumah milik bosnya tersebut luasnya hektaran, ada taman yang beraneka bunga juga yang membuat wanita itu masih ada betahnya. Kebayang kan berapa banyak asisten dirumah itu, tapi penghuninya cuma bosnya saja.
Bagaimana jika ibu dari bosnya tiba-tiba datang?
Atau mungkin pacarnya?
Mengomelinya, ia masih bisa sabar. Kalau mengusirnya, ia masih punya rumah. Tapi kalau salah paham, kata-katanya kadang gak bisa dilupa. Apalagi mulut orang kaya, biasanya pinter banget bikin fitnah.
Namun soal rumahnya, Cahaya merasa seperti masuk ke villa disebuah pulau saja saking luasnya. Rumah mewah dan megah itu bergaya klasik Eropa, furniturnya pun sangat unik dengan ukiran yang khas. Hal itulah yang membuat Cahaya merasa tinggal dinegara lain.
Beberapa asisten dan pembantu juga baik padanya, yang membuatnya merasa dilayani bak dirawat dirumah sakit. Sementara ia yang menjadi tamu dirumah itu hanya ongkang-ongkang saja dikamarnya bak ratu dirumah itu.
Cahaya mulai bosan karena sudah sejak tadi ia hanya didalam kamarnya saja. Ia melangkah keluar kamarnya dan melihat beberapa asisten yang tengah bekerja. Sayup-sayup ia mendengar mereka mengobrol, mungkin tak sadar ia melewati mereka.
Sejenak kaki Cahaya berhenti lalu bersembunyi dibalik tembok. Kala tak sengaja dengar sesuatu yang menarik.
"Aku lihat semalam, tuan sangat panik melihat nona itu. Dia bahkan menjaganya semalaman, mungkin juga ...." mereka terkikik pelan.
"Juga apa?" tanya Cahaya dalm hati.
Ditelinga Cahaya, itu terdengar ambigu yang entah ke arah mana maksud ucapannya tersebut.
"Duh, tuan bisa lembut juga sama wanita. Aku pikir ia tak akan pernah menikah seumur hidupnya, gegara cinta pertamanya yang katanya tak bisa ia miliki itu," sahut yang lainnya.
Cahaya merasa kembali tak nyaman, ia baru tahu kalau bos yang selalu jadi bahan gosip itu ternyata pernah menyukai wanita. Perempuan muda itu mencebikan bibirnya, rasanya males denger gosip tentang pak Rayyan lebih dalam.
"Oh, ternyata pak Rayyan pernah jatuh cinta juga," gumam Cahaya.
Ia melanjutkan langkahnya, ia ingin pergi ke taman karena disana ada bunga kesukaannya. Melihatnya saja bisa memberinya ketenangan apalagi kalau memetiknya.
Namun ia bukan pemiliknya, setidaknya berada disana sebentar bisa menenangkan hatinya yang kusut.
Benar saja taman itu begitu indah, karena bunga-bunga bermekaran dengan cantiknya. Tak tahan lagi, ia langsung berjalan kesana. Ia memetiknya beberapa tangkai dengan beberapa jenis.
Senyumannya merekah seperti bunga disana, membuatnya ingin berlama ditengah taman tersebut tak peduli cuaca sudah terik.
Tanpa ia sadari, dari jendela lantai atas bosnya melihatnya dengan bibir tersungging. Pemandangan ini sudah lama tak ia lihat, namun bahagianya menerobos masuk hingga ke relung hati. Serasa kembali ke masa itu, masa dimana wajahnya belum setampan sekarang.
Andai waktu bisa berputar kembali, mungkin ia lah yang akan lebih dulu membawa pulang Cahaya. Namun kesibukannya sebagai pewaris, membuatnya harus tinggal dinegara lain kala itu. Ia kerja, kerja, dan kerja yang ada dalam pikirannya.
Sampai ia lupa bahwa waktu bisa terlambat.
^
Masa itu ...
Seorang gadis berdiri menatapnya saat itu, duduk dikursi belajar milik temannya. Dimana ia diajak belajar bersama, katanya mereka akan diajari oleh om temannya yang sudah lulus dari luar negri.
"Om nya Yumi, ya?" suara canggung gadis muda yang usianya saat itu masih belasan tahun.
"Hmm, kamu pasti Yaya?" tanya balik lelaki muda yang usianya sudah dewasa, wajahnya jelek dengan kulit hitam dan berbadan gemuk.
"Maaf, aku mau minta diajarin matematika." gadis itu merasa gugup memenuhi hatinya.
Bukan karena tampangnya, tapi ia takut ada yang bicara salah paham. Ia sudah dengar bahwa om dari temannya itu sudah dijodohkan sejak kecil, tapi Yumi malah memintanya untuk mengajarkan mereka. Dan gongnya Mimi malah ikut pergi sama keluarganya untuk shoping.
Alhasil, belajar dirumah itu malah membuat mereka berduaan selama seharian. Jangankan mau nanya soal, mau bernafas saja Cahaya merasa susah. Lain dengan om bontot Yumi, wajahnya kalem, sikapnya tenang dan santai. Tapi, menjelaskan soalnya cukup bertele-tele.
Gak ada yang masuk ke otaknya sama sekali, tuh pekerjaan rumah. Tapi untungnya Cahaya gadis pintar, patut dapat rangking satu juga.
Bibir Rayyan makin mengembang mengingat hari itu, namun ada secarik penyesalan juga karena waktu itu.
Saat ia akhirnya kembali, saat gadis itu akhirnya cukup umur, ia mendengar bahwa Cahaya sudah menikah karena perjodohan. Rayyan hanya bisa diam, ia merasa sudah kalah oleh takdir yang mempermainkannya.
Merasa bahwa dunia tak merestui mereka bersama, namun ia tak berharap banyak.
Sejak itu sikapnya berubah, ia merubah penampilannya perlahan. Dari lelaki jelek, dekil dan juga gemuk berubah menjadi lelaki tampan, bertubuh tegap dan berkulit bersih. Namun sifatnya menjadi dingin dan galak. Jarang sekali ia pulang ke rumah, kadang tinggal diluar negri beberapa bulan baru pulang hanya saat acara keluarga.
Hanya demi bisa merelakan Cahaya, luka itu bahkan lebih dalam dari luka sebelumnya. Sakitnya pun tak bisa ia obati selain dari melupakannya dan pergi. Namun saat mereka lulus kuliah, Yumi datang memohon padanya.
"Ijinkan aku magang, ya om. Please!!" Yumi memelas mengatupkan kedua tangannya, matanya mengedip-kedip menggoda paman muda yang sudah menjadi pemimpin perusahaan keluarga tersebut.
"Tak bisa! Kamu kerja sama papa mu saja," tolak Rayyan dengan tegas.
"Aku gak mau, kalau papa tindas aku gimana?" ujar Yumi beralasan.
Rayyan paham, itu karena kakak iparnya mengajarinya bersikap dewasa karena Yumi anak sulung. Juga karena dia rada bego, kalau bukan karena bantuan Cahaya sudah pasti nilainya selalu roti O.
"Om, aku magang sama Yaya loh. Om kan tahu, dia punya pendengaran yang kurang gegara kecelakaan itu. Dia ditolak dibeberapa perusahaan, masa otak pintarnya cuma sampai disini. Kan kasihan, Om," cerita Yumi panjang lebar, menjadi kan Yaya sebagai alasan mereka harus diterima magang diperusahaan Rayyan.
Tangan yang sedari sibuk didepan komputer, mendadak berhenti. Jika mengingat nama itu ia merasa iba. Walau ia tahu, keponakannya itu akan membawa siapa saja kedalam masalahnya, termasuk Cahaya.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat. Tak boleh ada yang tahu kalau kita paman dan ponakan, aku harus adil pada karyawanku," ucap Rayyan pada akhirnya.
"Ah siap, Bos!" ucap Yumi dengan senyum mengembang dan tangan memberikan penghormatan khas pada atasan.
Sejak itu, ia hanya bisa menatapnya dari jauh ...