Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Dirawat
Aurel masih terbaring di atas ranjang. Wajahnya terlihat lebih segar dibanding semalam. Meskipun masih pucat, kondisinya sudah jauh membaik.
Sementara itu, di kursi samping ranjang. Arvano tertidur. Kepalanya menyandar ke tepi tempat tidur.
Tangannya masih menggenggam tangan Aurel dengan erat sejak semalam, seolah takut Aurel menghilang lagi jika melepaskannya.
Malam tadi Arvano sama sekali tidak tidur dengan tenang. Setiap beberapa menit bangun. Melihat kondisi Aurel. Memastikan gadis itu baik-baik saja.
Dan tanpa sadar Arvano, Kelelahan akhirnya membuatnya tertidur dalam posisi yang tidak nyaman. Namun genggaman tangannya tetap tidak terlepas.
Kelopak mata Aurel perlahan bergerak. Kepalanya terasa sedikit berat, tubuhnya juga masih lemas. Ia mencoba membuka mata pelan-pelan. Pandangan pertama yang ia lihat adalah kamar rumah sakit. Yang putih, bersih, dan asing.
Aurel mengernyit bingung. "Aku..." Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Kemudian ingatan tentang rumah kosong itu kembali muncul. Mobil hitam, kain berbau menyengat, dua pria asing, rasa takut dan tangis.
Setelah itu, Aurel menatap Arvano. Mata Aurel langsung membesar. Ia buru-buru menoleh ke samping. Di sanalah Arvano berada, yang masih tertidur, dan masih menggenggam tangannya.
Hati Aurel langsung terasa hangat. Meski wajah Arvano terlihat lelah. Lingkar hitam tipis terlihat di bawah matanya, rambutnya sedikit berantakan.
Aurel melihat sisi Arvano yang berbeda, yakni sisi yang begitu khawatir, begitu tulus dan begitu takut kehilangannya. Tanpa sadar, Aurel tersenyum kecil. Lalu perlahan menggerakkan jarinya. Genggaman itu sedikit berubah.
Dan Arvano langsung terbangun, seolah sejak tadi hanya tidur setengah sadar. "Aurel!" Arvano langsung berdiri. Wajahnya yang tadinya lelah mendadak berubah lega. "Aurel... kamu sadar?"
Aurel mengangguk pelan. Masih sedikit lemah. "Iyaa."
Sebelum Aurel sempat mengatakan apa pun, Arvano langsung menggenggam kedua tangannya dengan tatapannya yang penuh kekhawatiran. "Kamu gimana? Ada yang sakit? Pusing? Takut?"
Aurel sampai berkedip beberapa kali, kemudian tertawa kecil. Melihat kepanikan Arvano. "Aku baik-baik aja."
Arvano menghela napas panjang. Dadanya terasa sedikit lebih ringan. Kemudian tanpa sadar, keluar satu panggilan yang membuat wajah Aurel memerah. "Syukurlah, Sayang."
Aurel langsung menunduk malu. Padahal mereka hanya berdua di kamar. Tapi, tetap saja, mendengar panggilan itu membuat jantungnya berdebar.
Tak lama kemudian. Perawat datang memeriksa kondisi Aurel. Setelah pemeriksaan selesai. Dokter mengizinkan Aurel makan bubur dan minum obat.
Arvano langsung mengambil bubur yang sudah disiapkan.
Aurel mengangkat tangan. "Aku bisa sendiri."
"Tidak." Ucap Arvano.
"Mas..."
"Tidak." Sahut Arvano yang keras kepala.
Aurel langsung pasrah, karena ia tahu. Saat Arvano sudah keras kepala, sulit untuk dibantah.
Arvano duduk di samping ranjang. Mengambil satu sendok bubur, terus meniupnya perlahan agar tidak terlalu panas, baru kemudian menyuapkannya.
Aurel menatapnya beberapa detik. Masih sulit percaya. CEO dingin yang ditakuti banyak orang itu, sekarang sedang menyuapinya makan. Kalau Feni melihat ini, mungkin akan pingsan. Kalau Bagaskara melihat, mungkin akan langsung curiga.
Aurel hampir tertawa sendiri membayangkannya.
"Apa?" Tanya Arvano.
Aurel buru-buru menggeleng. "Tidak, apa." Namun senyumnya tidak bisa disembunyikan.
Sejak hubungan mereka dimulai. Aurel selalu berpikir bahwa Arvano hanya sedang jatuh cinta sesaat. Bahwa suatu hari nanti Arvano akan sadar, dan memilih wanita yang lebih pantas.
Namun setelah kejadian penculikan itu, pandangan Aurel mulai berubah. Karena tidak mungkin seseorang mempertaruhkan dirinya seperti itu jika hanya sekadar suka, tidak mungkin seseorang terlihat begitu panik, begitu marah, dan begitu takut kehilangan. Kalau perasaannya tidak lagi bersungguh-sungguh. Dan itu membuat hati Aurel semakin sulit menjauh.
Tara Datang Menjenguk.
Tok tok tok. Pintu kamar diketuk.
"Masuk." Pintu terbuka.
Tara masuk sambil membawa kantong buah. Begitu melihat Aurel sudah duduk. Wajahnya langsung bersinar lega. "AUREL!" Tara hampir berlari ke arah ranjang.
Aurel tertawa kecil. "Hallo."
"Lo bikin gue takut tau!" Ucap Tara langsung duduk di samping ranjang. Lanjut ucap Tara "gue enggak bisa tidur semalaman."
"Maaf."
"Jangan minta maaf!" Tara langsung memeluk Aurel pelan, matanya Tara terlihat sedikit merah. Jelas benar-benar khawatir. "Untung lo enggak kenapa-kenapa."
Aurel tersenyum. "Iyaa."
Lalu Tara melirik Arvano, kemudian tersenyum. Karena pria itulah yang menyelamatkannya.
Setelah suasana lebih tenang. Mereka mulai mengobrol seperti biasa. Tara menceritakan bagaimana paniknya saat melihat penculikan itu. Bagaimana langsung mencari alamat rumah Arvano. Bagaimana Tara menangis sepanjang perjalanan.
Aurel mendengarkan sambil sesekali tertawa kecil. Kemudian mereka mulai membahas masa SMA. Tentang guru-guru galak, tentang teman-teman lama, dan tentang kejadian lucu di sekolah.
Aurel terlihat benar-benar tersenyum lagi. Dan Arvano hanya memperhatikan dari samping. Melihat Aurel tersenyum membuatnya ikut tenang.
Hampir satu jam berlalu, Tara akhirnya berdiri. "Gue mau pulang ya."
Aurel mengangguk. "Hati-hati."
Tara tersenyum, kemudian menoleh ke arah Arvano dengan tatapannya yang sedikit usil. "Tolong jaga pacar saya."
Aurel langsung tersedak. "TARA!"
Namun Tara langsung kabur keluar sambil tertawa, meninggalkan Aurel yang wajahnya memerah dan Arvano yang tersenyum tipis.
Setelah Tara pergi, kamar kembali sepi. Aurel mulai terlihat lelah.
Arvano langsung menyadarinya. "ayok, Kamu tidur."
"Aku enggak ngantuk." Ngelesnya Aurel.
"Bohong."
"Enggak." Sahut Aurel tegas.
"Kamu nguap tiga kali."
Aurel langsung diam, karena memang benar.
Arvano tersenyum tipis. "Tidur."
Kemudian Arvano membantu membetulkan selimut, merapikan bantal dan duduk kembali di kursi samping ranjang.
Aurel menatapnya. "Kamu enggak pulang?"
Arvano menggeleng. "Tidak."
"Kenapa?" Tanya Aurel.
"Menjaga kamu." Jawaban sederhana ini membuat Aurel tersenyum kecil, lalu perlahan memejamkan mata, dengan perasaan jauh lebih tenang. Karena Arvano ada di sampingnya.
Sementara Di Kantor PT. Argas.
Bagaskara sudah berada di ruangannya. Wajahnya terlihat serius. Tidak ada senyum, dan tidak ada keramahan seperti biasanya. Karena hari ini, memiliki satu tujuan, yaitu menyelesaikan urusan Erika.
Tok tok tok.Pintu diketuk.
"Masuk." Ucap Bagaskara.
Alga. Devon. Dan Fero masuk ke dalam ruangan. Mereka langsung duduk. "Ada apa Om?"
Bagaskara menyandarkan tubuhnya ke kursi, dengan tatapannya yang dingin. "Saya mau kalian cari Erika."
Ketiganya saling pandang.
Bagaskara melanjutkan. "Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Suasana ruangan langsung berubah serius.
Alga mengangguk pelan. "Kami mengerti."
Bagaskara lalu berdiri, menatap keluar jendela. Amarah yang selama ini di tahan mulai terlihat jelas. "Sudah cukup dia mengganggu keluarga saya."
Sore mulai mendekat. Di rumah sakit. Aurel akhirnya tertidur kembali. Arvano duduk di sampingnya, menjaga tanpa berpindah sedikit pun.
Sementara itu, Di sebuah apartemen mewah. Erika sedang duduk santai sambil minum kopi. Erika sama sekali tidak tahu, bahwa beberapa pasang mata sedang mengawasinya.
Tidak tahu, bahwa Bagaskara akhirnya bergerak.
Dan tidak tahu, kali ini. Tidak ada lagi yang akan melindunginya. Di luar gedung apartemen, sebuah mobil hitam berhenti.
Alga mematikan mesin. Devon tersenyum tipis. Fero melihat foto Erika di ponselnya, lalu berkata pelan. "Target ditemukan."
Mereka bertiga keluar dari mobil, dan berjalan menuju gedung apartemen.
Sementara Erika yang berada di lantai atas, masih tidak menyadari apa yang akan terjadi beberapa menit lagi.