Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut Dengan Permintaannya
"Dek!?"
"Astaghfirullah Abang!"
Seyila mengelus dadanya. Terkejut dengan panggilan samar dari abangnya yang kini berdiri tepat di samping pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanyanya, "tumben ke sini."
Laki-laki dengan kaos santainya itu duduk pada tepian ranjang Seyila—adiknya.
"Kamu masih suka main sama teman kamu itu?"
Seyila menoleh penasaran.
Alisnya tertaut bingung.
"Teman?"
"Yang mana?"
"Itu loh... yang dulu suka main sama kamu ke sini,"
"Yang pake hijab sama suka baca buku."
Seyila beralih duduk di dekat abangnya.
"Oh ......—"
Ia menautkan alisnya heran.
"Ngapain Abang tanya-tanya? Biasanya juga gak peduli tuh."
Hanif yang mempertanyakan hal itu memainkan jemarinya. Bingung harus memulai darimana.
"Bang?"
"Kok malah melamun sih?"
"Abang mau bicara serius sama kamu,"
"Emang tadi gak serius bang?"
Hanif mendecak.
"Bukan."
"Maksud Abang, Abang mau bicara serius tentang teman kamu itu."
"Dia kenapa?"
"Perasaan tadi pagi ketemu gak kenapa-napa."
"Bukan kenapa-napa, Yila."
"Terus apa bang?"
"Kalau Abang serius... Kamu mau gak bantu Abang buat dekat sama dia?"
"HAH?"
Seyila tentunya terkejut dengan ucapan abangnya.
25 tahun dirinya hidup, baru kali ini abangnya membicarakan seorang wanita—dan itu..... temannya sendiri?
"Bang, kamu gak kerasukan kan?"
Hanif sebal.
Laki-laki itu memang sepertinya salah mengambil langkah.
"Capek banget bicara sama kamu."
Ia langsung melenggang pergi dari kamar adiknya.
(Abang minta dikenalin sama teman adiknya sendiri?)
(Teman aku yang cantik itu?)
(Yang baru aja ditinggal selingkuh sama pacarnya?)
Seyila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
(Tapi kayaknya mereka cocok juga deh)
(Abang yang dingin begitu, kayaknya cocok sama dia)
(Apa aku bantu abang aja ya?)
Seyila berlari dengan kaki telanjangnya.
"Abanggggg!?" teriaknya berlari mengejar Hanif yang kamarnya cukup berjauhan.
Ayah dan ibu yang sedang menonton televisi saja merasa heran. Apa yang sedang dilakukan adik kakak ini?
"Yila.... bisa pelan-pelan aja gak panggil abang kamu? Nanti tetangga pada ke sini dikira ada maling," ucap Ibunya.
Seyila terkekeh.
"Maaf ibu! tapi ini penting banget, makanya Yila teriak biar abang gak keburu masuk ke kamarnya."
"Di pikiran kamu, rumah kita kayak istana dongeng?"
"Yang luasnya sama dengan 5 sampai 10 kali rumah kita?"
Seyila cengengesan.
"Kan Abang nyebelin Ibu. Kalau gak teriak begitu dia gak bakal dengerin."
"Emangnya mau apa sih sama abang kamu? Dia cari gara-gara sama kamu barusan?" tanya Ayah.
Seyila menggelengkan kepalanya.
"Bukan, Ayah."
"Tapi dia—"
"Yila sini!" pinta Hanif langsung membuat Seyila bergegas pergi dari hadapan orang tuanya.
Hanif membawanya untuk mengobrol di kamar.
"Abang minta kamu jangan pernah bilang ke ibu ataupun ayah tentang permintaan abang ini."
Seyila mengangguk.
"Yila mau bantu Abang."
"Tapi Yila gak bisa jamin dia mau sama abang atau enggak."
"Kenapa kamu setuju?"
"Bukannya tadi malah syok denger apa yang abang minta?" tanya Hanif menyipitkan matanya.
Seyila mengedarkan pandangannya.
"Setelah dipikir-pikir kalian kayaknya cocok."
"Yila juga kan adik yang baik."
(Kalau dia jadi kakak ipar, kan lumayan bisa akur sama ipar yang katanya suka pada nyebelin itu)
Seyila menoleh pada abangnya kembali.
(Kalau dia marahin aku, tinggal bilang ke istrinya nanti)
"Tapi Yila gak bisa berbuat banyak. Semuanya tergantung usaha Abang sendiri."
"Usaha gimana?" tanya Hanif, "emang rencana kamu kenalin dia ke abang gimana?"
Seyila mengerdikkan bahunya sembari keluar dari kamar Hanif.
...----------------...
Besoknya,
Lelaki dengan jas putih dan stetoskop pada lehernya masuk ke ruang pemeriksaan. Dimana, beberapa pasien sudah terlihat antri pada bangku yang berderet.
Suara anak kecil menangis.
Belum lagi obrolan ibu-ibu dan pasien lainnya yang mulai mengeluh.
Satu-persatu nama mulai terpanggil.
Lalu, pandangan hanif tertegun pada kertas paling atas yang baru saja ia baca.
Wali pasien pada tulisan paling atas itu terbaca dengan jelas olehnya.
Dia?
Sudah punya anak?
Bukannya dia belum nikah?
Nama Haikal terpanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan.
Anak laki-laki dengan jaket dan celana pendek masuk, tangannya menggenggam tangan perempuan berhijab dengan gamisnya.
Hanif sempat terdiam.
"Dok!?" panggilan dari perawat yang ikut masuk membuatnya kembali sadar.
Hanif mempersilahkan Riyani dan Haikal untuk duduk sebelum ia melakukan pemeriksaan lanjut.
"Keluhannya muntah dan juga demam ya?"
Riyani mengangguk.
Hanif beranjak.
Ia mendekat pada Haikal yang kini berada di pangkuan riyani.
Haikal dengan cepat menggenggam erat lengan riyani—ia ketakutan.
Riyani tersenyum dengan lembutnya.
Ia menggenggam tangan haikal dengan senyuman yang terlukis pada bibirnya.
"Haikal jangan takut ya! Kan Aunty di sini. Om dokter juga baik kok."
(Aunty?)
Hanif sempat tersenyum tipis.
Ia kembali mencoba dekat dengan Haikal.
"Gak apa-apa, Haikal. Gak perlu takut ya! Om dokter cuman mau periksa biar Haikal bisa sembuh."
"Haikal kalau demam begini pasti gak dibolehin main kan sama aunty?"
Spontan Haikal mengangguk.
"Nah kalau Haikal mau diobati sama om dokter, Haikal nanti sembuh terus bisa main lagi deh. Mau kan?"
Lagi-lagi anak itu mengangguk.
Pemeriksaan selesai,
Riyani memangku Haikal untuk pergi ke Farmasi—dimana ia harus membawa resep obat yang dituliskan Hanif tadi.
"Loh Ri!?"
Riyani yang baru saja duduk menoleh pada seseorang yang memanggilnya. Gadis dengan kunciran rambut di belakang, ditambah jas putih yang selalu dibanggakannya itu.
"Yila.."
"Loh Haikal kenapa?" tanya Seyila sembari duduk di sampingnya.
"Kata dokter sih tadi karena makanan yang ga sehat," jawab Riyani sembari membawa selembaran kertas untuk kontrol di minggu depan.
Seyila mengambilnya.
Alisnya naik seketika.
(Jadi dia udah ketemu sama Abang?)
"Ri..."
"hm?"
"Menurut kamu, dokter yang periksa Haikal tadi gimana?"
Riyani menoleh.
Tapi.... sebelum ia menjawabnya, nama keponakannya terpanggil untuk pengambilan obat.
Setelahnya, Seyila ingin menanyakannya kembali. Tetapi kakak ipar terus menghubungi Riyani—meminta untuk membawa anaknya cepat kembali ke rumah.
Riyani pamit.
Dengan obat dan juga Haikal yang merengek sejak dibawa ke rumah sakit.
Setibanya di rumah,
Riyani pergi menidurkan Haikal ke kamarnya. Baru saja ia keluar, wajah cantiknya ditampar begitu saja oleh istri kakaknya.
"Punya hak apa kamu bawa begitu aja anak saya?" tanya Siska—kakak ipar riyani.
Riyani menahan sakit di pipinya.
Matanya mulai berair.
Pipinya memerah karena tamparan dan emosi.
"Kalau Haikal gak aku bawa ke rumah sakit, dia bisa sakit lebih parah, kak."
"Kata dokter tadi dia makan makanan yang gak sehat, bahkan tubuhnya kurus sekali untuk anak yang masih harus berkembang."
"Ini semua pasti gara-gara kamu yang suka kasih jajanan murahan sama dia kan?"
"Emang deh ya, kamu itu gak bisa dipercaya buat jagain anak saya."
Riyani mengepalkan tangannya.
"Kalau saja dia bukan anak abang aku, aku gak akan peduli sama dia."
Wanita itu masuk ke kamarnya.
Mulai menangis tanpa suara.
(Jadi Aunty juga gak sayang sama aku?)
"Maafin Aunty, Haikal!"