Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 2 -LABIRIN TANPA UJUNG (2)
Mereka mulai memasuki labirin dengan persiapan penuh. Di sepanjang jalan, Grom tampak tidak tenang; matanya terus menyapu dinding-dinding batu seolah sedang berusaha memanggil kembali ingatan yang terkubur.
"Kamu terlihat tidak fokus, Grom. Ada apa?" tanya Elian yang berjalan di sebelahnya. Grom menatap Elian dengan raut bingung.
"Entahlah, aku merasa tempat ini tidak asing. Rasanya seperti... seperti cerita legenda kuno bangsa kami."
"legenda apa?" Elian bertanya lagi. Di belakang mereka, Raylen diam-diam mempercepat langkahnya, mencoba menguping pembicaraan itu.
"Itu cerita lama yang sekarang sudah jarang terdengar. Konon, bangsa Dwarf pernah hampir menguasai seluruh benua saat ini dan memiliki kerajaan bawah tanah yang luar biasa kuat. Bukan hanya militer mereka yang hebat, tapi harta mereka juga melimpah ruah," ucap Grom.
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan, "Untuk melindungi kekayaan itu, mereka membangun labirin yang sangat luas. Tujuannya hanya satu: mempersulit akses siapa pun yang ingin menuju istana utama atau kediaman para bangsawan."
"Tapi kalau jalannya serumit ini, bagaimana mereka sendiri bisa saling bertemu?" Elian mengerutkan kening.
Grom hanya mengangkat bahu, ia tidak punya jawabannya. Tiba-tiba Raylen menyahut pelan, "Mereka pasti punya jalan rahasia. Atau mungkin mereka menggunakan altar sihir teleportasi."
Elian dan Grom terdiam. Penjelasan Raylen terdengar masuk akal bagi mereka. Ketiganya kemudian menoleh ke arah Arta, seolah meminta konfirmasi dari sudut pandang seorang ahli sihir.
Arta menghela napas, matanya masih menatap ke arah lorong di depan. "Secara teori, teleportasi jarak pendek itu sangat mungkin. Tapi karena kita belum menemukan sisa-sisa alatnya, aku lebih condong pada keberadaan jalan khusus yang hanya diketahui oleh orang dalam."
Mendengar itu, mereka tampak setuju. Percakapan terus mengalir ringan tentang kemungkinan harta karun dan keajaiban lainnya, hingga tiba-tiba Reldia dan Lilia berhenti mendadak.
"Aku merasakan sesuatu," ucap Reldia. Insting bertarungnya menajam; ia segera mencabut pedang dan mengangkat perisainya, mengambil posisi bertahan yang kokoh.
Lilia pun tidak kalah sigap. Ia sudah menarik busurnya. "Iya, ada sesuatu yang sangat besar sedang mendekat ke arah kita," ucapnya pelan. Pendengaran tajam khas Elf-nya tidak pernah salah.
Seketika, suasana menjadi sangat sunyi, sampai sesuatu menghantam dari arah atas. Sebuah pilar batu tajam menghujam tepat di tengah-tengah mereka. Suara hantamannya memekakkan telinga, namun untungnya semua orang berhasil menghindar tepat waktu.
Arta mendongak ke langit-langit labirin yang gelap, dan jantungnya seakan berhenti sesaat. "Di atas!"
Ternyata pilar itu adalah salah satu kaki dari monster laba-laba batu yang ukurannya luar biasa masif. Dinding labirin tempat mereka berdiri ini sudah sangat tinggi, namun kaki batu itu menjulang jauh ke atas—panjang kaki itu bahkan dua kali lipat dari tinggi dinding labirin.
Tubuh monster itu sendiri berada jauh di atas sana, bersembunyi di balik kegelapan langit-langit kuno. Ukurannya terlalu besar untuk masuk ke dalam lorong labirin yang sempit, sehingga hanya kaki-kaki panjangnya yang sekeras obsidian yang bisa menjangkau ke bawah.
"Lari ke depan!" teriak Elian.
Tanpa perintah kedua, mereka semua bergerak menjauh. Reldia melesat dengan kekuatan fisiknya, sementara Lilia bergerak lincah dan cepat dengan tubuh rampingnya.
Arta berpindah posisi dalam sekejap menggunakan dorongan sihirnya. Grom dan Elian sempat tertahan sejenak namun berhasil menyusul.
Hanya Raylen yang tertinggal. Sebagai seorang alkemis, ia tidak memiliki kecepatan fisik seperti yang lainnya. Kakinya terasa berat karena panik.
Reldia menoleh ke belakang dan mendapati Raylen masih berada di titik bahaya. "Manusia itu, merepotkan saja!" umpatnya kesal.
Laba-laba raksasa itu mengangkat kakinya yang sempat menancap di tanah. Targetnya jelas: Raylen yang paling lemah dan lambat.
Tanpa pikir panjang, Reldia membentangkan sayap merahnya yang lebar.
Dengan hentakan kaki yang kuat dan dorongan sayapnya, ia melesat kembali ke arah Raylen. Reldia menyambar tubuh pemuda itu tepat sebelum kaki batu raksasa tersebut sempat menghancurkannya.
Keduanya menghantam dinding dengan keras. Reldia sengaja membalikkan badannya di udara agar punggungnya yang menabrak permukaan batu. Ia tahu, jika Raylen yang menerima benturan itu, pemuda itu bisa mati seketika.
"Argh!" Raylen berteriak kaget dan kesakitan. Begitu ia membuka mata dan melihat Reldia, ia terdiam. Sayap merah Reldia terlihat terluka dan berdarah di beberapa bagian akibat terkena hantaman saat melindunginya.
Wajah Reldia tampak menahan amarah yang meluap ke arahnya, membuat Raylen tidak berani mengeluarkan suara. Reldia segera mengangkat Raylen dan menggendongnya di pundak, berlari dengan kecepatan penuh untuk menyusul yang lain.
Kaki laba-laba yang super panjang itu kembali terangkat, siap menyerang punggung Reldia dari atas. Elian yang melihat itu segera melesat dan menghantamkan pedangnya dengan kekuatan penuh.
Serangan itu tidak hanya memukul mundur kaki raksasa itu, tetapi juga berhasil memotong ujungnya hingga hancur menjadi serpihan batu.
Monster itu tidak menjerit kesakitan, namun gerakannya terhenti sejenak karena terkejut. Elian memanfaatkan celah itu.
"Aku akan menyusul! Teruslah berlari!" teriak Elian sambil tetap bersiaga menahan gerakan sang monster yang masih mencoba menusukkan kaki-kakinya yang lain dari kegelapan di atas.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat