Ada seorang anak perempuan yang baru lulus SD dan masuk SMP IT bernama AQEELA MENTARI PUTRI dan dia dekat dengan ketua OSIS yang bernama MUHAMMAD RIAN ALFATIH. Mentari yang di panggil Tari ternyata menyimpan luka batin yang sangat dalam dan semua itu ia curahkan kepada Rian apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24 Titipan Di Ujung Istirahat
Tari baru saja mendapatkan izin dari Bu Tita untuk mengadakan rapat internal kelas VII selama jam kosong ini, sekaligus trik cerdas agar anak-anak tidak keluyuran dan kena hukuman OSIS.
Tari melangkah keluar dari kelas IX dengan perasaan lega yang samar. Begitu kakinya kembali menginjak lantai kelas VII, ia langsung membuang jauh-jauh sisa kegundahannya. Sebagai ketua kelas, ia harus terlihat tangguh di depan teman-temannya.
Tari berjalan tegap menuju meja guru, lalu mengetuk meja beberapa kali untuk menarik perhatian seisi kelas yang mulai gaduh.
"Teman-teman, minta perhatiannya sebentar!" seru Tari lantang. "Karena sekarang kita sedang jamkos dan dilarang berkeliaran di luar oleh Bu Tita, mending kita manfaatkan waktu ini untuk mengadakan rapat kecil. Kita perlu buat kesepakatan kelas biar kelas VII ini makin tertib dan solid. Setuju?"
"Setuju, Bu Ketua!" sahut Fikri dari bangkunya, yang langsung diikuti sorakan setuju dari anak-anak lain.
Tari mengambil sebatang kapur baru, siap menuliskan ide-ide yang muncul. Setelah melalui perdebatan yang cukup seru, tawar-menawar antar-kelompok, dan masukan dari teman-temannya, akhirnya rapat kecil itu menghasilkan empat poin kesepakatan bersama yang ditulis Tari dengan rapi di papan tulis:
KESEPAKATAN BERSAMA KELAS VII:
Sistem Piket Baru: Petugas piket harus melaksanakan tugasnya pada saat pulang sekolah di hari sebelumnya. (Contoh: Petugas piket hari Selasa wajib membersihkan kelas pada hari Senin sepulang sekolah, begitu pun seterusnya, agar pagi hari kelas sudah dalam keadaan bersih).
Uang Kas Rutin: Wajib membayar uang kas rutin setiap minggu yang nantinya akan digunakan untuk keperluan dan kegiatan internal kelas VII.
Stop Bullying: Tidak boleh ada aksi saling mengejek, merendahkan, atau perundungan dalam bentuk apa pun di dalam maupun di luar kelas.
Solidaritas Tanpa Batas: Semua anggota kelas wajib berteman dengan siapa saja tanpa boleh kubu-kubuan atau pilih-pilih teman.
"Gimana? Ada sanggahan atau semua sepakat?" tanya Tari sambil berbalik badan, menatap satu per satu wajah teman-temannya.
"Sepakat, Ri! Poin nomor satu bagus tuh, jadi pagi-pagi kita gak perlu buru-buru datang cuma buat nyapu," puji Sina yang langsung diangguki setuju oleh Nira dan Dena.
"Kalau ada yang melanggar kesepakatan terutama poin tiga dan empat, hukumannya apa, Ri?" celetuk Rayyan memancing suasana.
Mendengar pertanyaan memancing dari Rayyan, seisi kelas kembali menatap Tari, menunggu keputusan tegas dari sang ketua kelas mengenai sanksi bagi para pelanggar.
Tari menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di dada dengan pembawaan yang sangat dewasa. "Untuk hukuman pelanggar poin nomor tiga dan empat, kita tidak akan urus sendiri di kelas. Pelanggarannya akan langsung kita serahkan kepada Wali Kelas, kemudian naik ke Pembina OSIS, baru setelah itu ke Ketua OSIS," jelas Tari tegas tanpa keraguan.
Mendengar nama Ketua OSIS disebut di urutan terakhir, Rayyan hanya tersenyum simpul sambil mengangguk-angguk paham, sementara anak-anak lain langsung setuju karena sanksi tersebut terdengar cukup serius dan bikin jera.
"Oke, kalau semua sudah sepakat, kesepakatan kelas ini resmi berlaku mulai hari ini!" ketok Tari pada meja guru, menandai berakhirnya rapat kecil mereka.
Kriiiiiiing!
Tepat setelah rapat ditutup, bel panjang tanda istirahat berbunyi nyaring, menggema ke seluruh penjuru sekolah. Suasana kelas VII yang tadinya tertib langsung berubah riuh dalam sekejap. Anak-anak berhamburan merapikan buku, saling mengajak ke kantin, dan dengan cepat pergi meninggalkan kelas yang mulai kosong.
"Ri, ke kantin yuk?" ajak Sina sambil menghampiri meja Tari bersama Nira.
Tari mengulas senyum tipis, lalu menggeleng pelan. "Kalian duluan aja, deh. Aku masih mau merapikan buku absen kelas sebentar. Nanti aku menyusul."
"Ya udah, kita duluan ya, Bu Ketua," pamit Nira.
Dalam hitungan menit, kelas VII benar-benar sepi. Langkah kaki anak-anak perlahan menjauh dan menyaru dengan keramaian di koridor. Kini, tinggallah Tari sendirian di dalam ruangan yang luas itu.
Tari menghela napas panjang, bahunya yang sedari tadi ditegakkan perlahan melorot lemas. Topeng ketegaran yang ia pakai di depan teman-temannya sejak upacara tadi akhirnya runtuh. Ia duduk terkurung di kursinya, menatap deretan empat poin kesepakatan di papan tulis yang baru saja ia tulis dengan tangannya sendiri.
Berteman dengan semua orang, batin Tari mengucapkan poin keempat itu dengan getir. Tari tahu, dia bisa mengatur kelasnya untuk berteman dengan siapa saja tanpa batas. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Tari menyadari satu hal yang menyakitkan: dia tidak akan pernah bisa mengatur hatinya sendiri untuk berhenti mengharapkan sosok penuh wibawa yang kini terasa semakin jauh dari jangkauannya.
Suasana koridor sekolah di luar kelas VII terdengar begitu riuh dengan canda tawa anak-anak yang berhamburan menikmati waktu istirahat. Namun, di dalam ruangan kelas VII, suasananya justru berbanding terbalik. Tari memilih untuk tetap berada di dalam kelas sendirian. Ia sama sekali tidak berniat pergi ke kantin, bukan hanya karena suasana hatinya yang sedang mendung, melainkan karena hari ini ia sedang menjalankan ibadah puasa Senin-Kamis.
Untuk mengalihkan rasa sesak di dadanya sekaligus menghemat energinya, Tari melipat kedua tangannya di atas meja lalu menelungkupkan kepalanya di sana. Ia memejamkan mata, mencoba mencari sedikit ketenangan di tengah riuhnya pikiran yang berkecamuk.
Sret... Sret...
Tak berapa lama, kesunyian di dalam kelas itu terusik oleh suara langkah kaki yang berjalan pelan memasuki ruang kelas VII. Tari mengira itu adalah Fikri atau Rayyan yang barang kalinya tertinggal sesuatu. Namun, suara bariton yang familier yang kemudian terdengar seketika membuat tubuh Tari menegang.
"Ri, kamu gak istirahat?"
Pertanyaan itu spontan membuat Tari kaget. Ia langsung menegakkan tubuhnya dan mendapati sosok Kak Rian sudah berdiri di dekat mejanya, menatapnya dengan sorot mata teduh yang selalu berhasil mengacaukan pertahanan Tari.
Tari mengeraskan rahangnya sejenak, mencoba menguasai rasa terkejutnya. "Enggak, Kak. Lah... Kakak sendiri juga gak keluar?" Tari balik bertanya, berusaha mengalihkan perhatian dari dirinya sendiri.
"Kakak tadi keluar sebentar pergi ke masjid. Nah, dari masjid langsung ke sini," jawab Kak Rian santai, namun tatapannya tetap terkunci pada wajah sembap Tari yang samar. "Kamu kenapa gak istirahat, Ri?" tanya Kak Rian lagi, menuntut jawaban jujur.
Tari menundukkan kepalanya, menghindari tatapan intens mata elang milik sang Ketua OSIS. "Insyaallah aku lagi puasa, Kak. Semoga lancar sampai berbuka nanti," kata Tari pelan, suaranya terdengar tulus.
Mendengar pengakuan Tari, seulas senyuman tipis namun sangat hangat terukir di bibir Kak Rian. "Oh, berarti sama dong. Kakak juga lagi puasa," kata Kak Rian lembut.
Jantung Tari berdesir hebat mendengar kesamaan yang tak terduga itu. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, namun buru-buru ia menepis rasa itu. Mengingat status Kak Rian dan keberadaan mereka yang hanya berdua di dalam kelas, rasa panik perlahan mulai menyerang Tari.
"Kakak ngapain datang ke kelas VII? Nanti bahaya lagi kalau teman-teman tahu Kakak ngobrol sama aku," tegur Tari setengah berbisik, matanya melirik cemas ke arah pintu kelas, takut jika Sina, Nira, atau bahkan Rayyan tiba-tiba kembali dari kantin.
"Karena Kakak ingin tahu kenapa kamu berubah sikapnya sama Kakak," sahut Kak Rian, mengabaikan kekhawatiran Tari. Langkahnya maju satu tindakan, mengikis jarak di antara mereka. "Biasanya kan gak dingin gitu."
Tari mengembuskan napas berat, mencoba menguatkan kembali benteng hatinya yang mulai goyah. "Itu perasaan Kakak aja. Karena aku biasa-biasa saja kok, sama seperti ke yang lain," jelas Tari, mencoba memutarbalikkan fakta dengan nada suara yang dibuat secuek mungkin.
"Beda, Ri. Kerasa sama Kakak," potong Kak Rian cepat, tidak membiarkan Tari mengelak lagi. Suaranya merendah, terdengar begitu tulus dan sarat akan permohonan yang mendalam. "Kamu sama Kakak jadi dingin. Jujur aja, Ri, sama Kakak. Jangan takut... katakan saja, Ri."
Tari terpaku di tempatnya duduk. Kata-kata Kak Rian bergaung hebat di dalam kepalanya, meruntuhkan sisa-sisa logika yang ia pertahankan sejak pagi. Ingin rasanya ia berteriak dan jujur bahwa ia terluka karena merasa tidak pantas bersanding dengan sosok sempurna seperti Kak Rian. Namun, lidah Tari mendadak kelu, terkunci di antara rasa takut akan kenyataan dan besarnya rasa kagum yang ia pendam sendiri.
Tari terdiam sejenak. Di bawah tatapan intens Kak Rian, otaknya berputar cepat. Ia berada di persimpangan jalan, berpikir keras apakah ia harus jujur atau tetap berbohong. Namun, nuraninya berbisik; jika ia kembali mengelak, Kak Rian pasti akan sangat kecewa apabila suatu saat nanti cowok itu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Akhirnya, dengan sisa-sisa kekuatan yang ia punya, Tari memberanikan diri untuk bersuara.
"Kak... sebenarnya aku berubah karena aku gak mau ada salah paham," kata Tari, perlahan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap reaksi cowok di hadapannya. "Karena teman-teman aku pada suka sama Kakak. Aku gak mau kita berantem cuma karena Kakak. Mereka pasti akan marah kalau sampai tahu aku dekat, bahkan ngobrol sama Kakak sekalipun."
Mendengar pengakuan jujur itu, helaan napas lega terdengar dari embusan napas Kak Rian. Cowok itu menumpu kedua tangannya di tepi meja Tari, merendahkan posisinya agar bisa sejajar dengan pandangan sang ketua kelas.
"Ri, dengerin Kakak," ujar Kak Rian lembut namun tegas. "Kamu boleh menghargai teman-temanmu, tapi harusnya kamu bilang alasan itu dari awal sama Kakak. Boleh Kakak tebak siapa orangnya?"
Tari mendongak sedikit, merasa heran. "Boleh dong, Kak."
"Apakah mereka itu Nira, Sina, Aisyah, dan Dena?" tanya Kak Rian tenang.
Tari seketika membelalakkan mata, terkejut bukan main. Jantungnya berdegup kencang karena ternyata sang Ketua OSIS sudah mengetahui rahasia itu tanpa perlu ia beberkan.
"Iya, Kak... jawaban Kakak tepat sekali. Mereka semuanya memang suka sama Kakak," aku Tari pasrah, lalu buru-buru menambahkan dengan wajah panik, "Tapi tolong jangan bilang-bilang kalau aku yang kasih tahu ya, Kak!"
Kak Rian terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang membuat atmosfer kelas yang tegang mendadak mencair. "Tenang, Ri. Jangan takut. Karena Kakak sebenarnya udah tahu dari gerak-gerik mereka selama ini."
Kak Rian menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat ke dalam manik mata Tari, menyalurkan seluruh kesungguhan yang ia miliki. "Dengerin Kakak ya, Ri. Biarlah mereka suka sama Kakak, tapi jawaban Kakak ada di hati, dan itu bukan dari mereka berempat."
Deg.
Jantung Tari rasanya melompat dari tempatnya. Kalimat Kak Rian barusan terdengar seperti sebuah deklarasi terselubung yang langsung menyapu bersih semua rasa minder di hatinya.
"Oh... gitu ya, Kak," cicit Tari pelan, wajahnya mendadak terasa panas dan merona merah.
"Iya. Dan harusnya kamu udah tahu itu dari awal," sahut Kak Rian dengan senyum yang tak lepas dari wajah tampannya. "Mulai sekarang, kembalilah menjadi Tari yang seperti biasanya. Jangan menjauh lagi."
Tari menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum yang nyaris terbit. "Insyaallah, Kak. Udah, sekarang Kakak balik lagi aja ke kelas IX, karena waktu istirahat sebentar lagi selesai."
"Makasih ya, Ri, atas alasan kenapa kamu berubah. Tapi mulai sekarang jangan berubah menjadi dingin lagi," pinta Kak Rian bersiap membalikkan badan.
Namun, tepat sebelum kakinya melangkah melewati pintu kelas VII, sang Ketua OSIS menghentikan gerakannya. Ia menoleh sedikit ke arah Tari, mengulas senyuman paling menawan yang pernah Tari lihat, lalu mengucapkan kalimat yang sukses membuat dunia Tari seolah berhenti berputar.
"Oh iya, Kakak mau balik ke kelas IX... tapi sebelum pergi, Kakak mau titip hatinya, ya."
Setelah mengucapkan kalimat yang teramat manis itu, Kak Rian langsung melangkah pergi meninggalkan ruang kelas VII. Sementara Tari masih terduduk mematung di bangkunya, menyentuh dadanya yang berdegup begitu riuh. Rasa lapar karena berpuasa dan luka lara di hatinya sejak pagi, seketika menguap entah ke mana, tergantikan oleh sejuta bunga yang mendadak mekar di dalam hatinya.
AYO RAMEIN NIH KOLOM KOMENTAR NYA... TERIMAKASIH BANYAK YANG SUDAH BACA MENTARI YANG REDUP
eh tapi gapapa deng. kali aja bisa bertahan smpe ke SMA mwehehe