NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Keluarga / Trauma masa lalu / Kebangkitan pecundang / Antagonis Jahat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yourfee

Ervana yang lahir dari keluarga Moses merasa hidupnya berubah setelah kehadiran anak angkat keluarganya yang begitu disayang semua anggota keluarganya. Orang tuanya dan kakak laki-lakinya lalu memperlakukan Renita, adik angkatnya dengan penuh kasih sayang. Ia diasingkan, semua hal yang menjadi miliknya kini direbut perlahan oleh Renita Moses. Air mata dan kesakitan itu membuatnya nyaris gila. Ervana kalah dan memilih mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak biasa, bunuh diri. Namun, jiwanya yang terperangkap dalam kegelapan sepertinya masih enggan untuk meninggalkan dunia penuh dosa ini. Ervana lalu kembali dengan versi baru yang membuat keluarganya tercengang.
"Aku kembali hanya untuk memberi pelajaran pada mereka bahwa aku tidak pantas diperlakukan seburuk ini". Persis ketika ia membuka matanya, kehidupan baru menyambutnya. Ervana lalu hidup menurut kepercayaannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yourfee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. Mati saja masih menyusahkan

Hujan telah berhenti tepat pukul lima sore waktu kota Zera. Jalanan basah terlihat sedikit berkilau terkena biasan cahaya mobil. Di kiri kanan jalan, pohon-pohon besar menjulang tinggi, terlihat gagah dan begitu kokoh. Kota Zera merupakan wilayah administrasi paling penting di negara Soran. Kota hidup itu seperti punya kekuatan magis yang menarik orang asing untuk datang dan tinggal di kota itu. Jika kau menyukai musim dingin yang menenangkan dan akrab, datanglah ke kota Zera. Kau akan disuguhi pemandangan paling menakjubkan yang membuatnya nyaris lupa bagaimana caranya pulang. Namun, entah kenapa hari ini Zera seperti kota mati yang ditinggalkan oleh para pemenang perang. Seperti sebuah kota tua yang penuh reruntuhan kuno tak kasat mata. Ini sedikit mengejutkan! Efendi Moses telah berusia 48 tahun dan ini pertama kalinya ia merasa Kota Zera begitu sepi. Para penduduk kota lebih memilih menghabiskan waktunya di rumah bersama kerabat daripada berlalu lalang di jalanan kota yang sangat dingin.

Ketika hujan memilih berhenti, tirai basah itu seperti menyisakan setitik kelembutan yang menguar dengan sedikit malu-malu. Efendi Moses dan putrinya tiba di rumah sakit beberapa menit kemudian. Pemandangan di depan matanya seharusnya membuat pria itu merasa bersalah, namun demi Tuhan ia bahkan tak perlu repot-repot menunjukkan ekspresi sedihnya. Efendi memang tak punya empati, minim ekspresi, dan tidak bisa diandalkan.

Semua orang memilih diam, tidak punya tenaga untuk sekadar berbasa-basi menyambut kedatangan sang tuan besar bersama putri kesayangannya.

"Se-selamat sore, Tuan". Itu suara Ema. Tenggorokannya tercekat, suaranya tertahan dan terdengar sedikit bergetar karena gelombang kepanikan dan kecemasan.

"Kau siapa?" Efendi bertanya dengan nada penuh keangkuhan yang begitu khas. Efendi memang angkuh dan semua orang pasti menyimpulkan hal yang sama.

"A-aku adalah perawat yang mengurus banyak hal tentang Nona Ervana, Tuan". Ema tidak bisa menutupi kekagumannya begitu saja. Hei, ia berbagi udara bersama keluarga Moses. Bukankah ini adalah sebuah keberuntungan yang harus dirayakan?

"Lebih tepatnya orang yang bertanggung jawab atas kematian Ervana! Wanita bodoh ini harus membayar harga yang harus mahal karena kepergian adikku". Tatapan Lucas menghunus tajam, nyaris meruntuhkan sisa-sisa kepercayaan diri Ema. Benar, wanita itu begitu percaya diri karena Renita berada di pihaknya. Namun mereka tidak ingin menunjukkan sedikit saja interaksi jika tak ingin semuanya hancur berantakan karena kebodohan sendiri.

Sementara itu, jantung Renita berpacu kencang mendengar suara berat kakaknya. Bertanggung jawab atas kematian Ervana? Gadis itu membatin penuh ketakutan. Perlahan Renita mengangkat kepalanya lalu menatap wajah ketakutan Ema dengan tatapan penuh peringatan seolah mengatakan 'kau akan habis tak bersisa jika berani menyebut namaku sekali saja'.

"Maksudmu bagaimana, Nak?" Efendi mengerutkan keningnya pertanda kebingungan. Putra sulungnya terlalu mahir menyimpan teka-teki. Lucas terlalu kokoh dan sulit ditebak.

"Ah, ayah tak akan paham". Bibir pria itu menerbitkan tawa penuh putus asa. Kehilangan adiknya seperti memberinya pukulan paling telak. Lucas benci kekalahan, tapi saat ini ia bahkan tidak tau caranya membalaskan dendam dan kesakitannya pada sang takdir yang merenggut nyawa adiknya.

"Sudahlah, tidak perlu membahas hal tak penting seperti ini. Semuanya tidak akan mengubah apapun. Ervana tidak akan kembali! Gadis itu telah mati".

Ayah". Suara Lucas nyaris kalah dengan kekalutannya sendiri. Kalimat tak menenangkan itu seperti menyiram bensin pada kobaran api bernama duka.

"Kenapa Lucas? Bukankah ayah benar?" Efendi bertanya dengan nada santai, terlalu kontras dengan kesedihan di wajah tegas sang putra.

Eva Moses memilih diam, ucapan suaminya di ruang keluarga tadi cukup mengguncangnya. Ia tak ingin mengatakan apapun yang menyulut amarah pria itu.

Renita tersenyum tipis, merasa ini saat yang paling tepat untuk bermain peran.

"Ayah". Efendi menoleh ketika ada yang memanggilnya dengan nada selembut itu.

"Kenapa Nak?" Saat mengetahui drama bodoh keluarga Moses, Ema nyaris berteriak penuh kemenangan. Ia punya tameng baru sekarang. Efendi Moses sepertinya sangat siap untuk berdiri di pihaknya dan Renita. Nasib gadis yang meregang nyawa itu lebih buruk dari yang kukira. Wanita itu susah payah menyembunyikan senyum licik dan penuh intrik di wajahnya.

"Kak Vana adalah putri kandung ayah. Jangan terlalu membencinya". Ema nyaris muntah mendengar suara lembut Renita. Gadis sejahat iblis itu benar-benar tau caranya bertahan hidup.

"Nak, kau memang gadis yang baik dan-"...

"CUKUP". Lucas berteriak nyaring. Suara keras itu bahkan sedikit bergema di tempat putih berdinding itu. Mendengar teriakan itu seorang perawat muda kemudian datang lalu berucap." Mohon jangan berisik ini rumah sakit". Wajah Lucas memerah karena amarah dan rasa tak nyaman yang menggerogotinya.

"Maaf". Cicit pria itu dengan lemah. Semua orang mungkin tak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan. Lucas Moses meminta maaf? Seperti sebuah cerita dari negeri dongeng!

"Apa yang ingin ayah ucapkan? Memuji anak angkat ini sambil membandingkannya dengan adikku begitu? Ayah memang sangat aneh".

"Jaga bicaramu, Lucas! Renita adikmu tidak seharusnya kau berkata seperti itu. Ervana itu sudah mati. Kau tidak bisa melakukan apapun untuk memanggil nyawa adikmu agar kembali dan menetap pada tubuh gadis itu. Lagipula, takdirnya sudah begini. Sehebat apapun seseorang, ia tak akan pernah menang dari kematian. Huh, gadis itu telah mati tapi tetap menyusahkan semua orang".

"Lebih baik ayah pergi sebelum kesabaranku habis". Lucas duduk di bangku, di sebelah ibunya yang sibuk menyeka air mata sejak tadi. Mereka bahkan belum membahas apapun seputar pemakaman karena terlalu sibuk berdebat dan saling menyalahkan. Di dalam kamar rawat, tubuh kaku Ervana kini ditutup kain putih. Para perawat belum melakukan apapun sebelum mendengar persetujuan keluarga Moses. Lucas bahkan belum berani melihat tubuh kaku itu, ini hanya akan menyakitinya lebih dalam.

"Nak, ibu ingin melihat Vana". Eva berbisik lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya serak karena terlalu lama menangis.

"Ibu? Ibu yakin?" Lucas bertanya sangsi. Pertanyaan itu sepertinya lebih cocok ditujukan untuk dirinya sendiri.

"Lebih dari yakin". Dengan langkah pelan, Lucas menuntun ibunya untuk masuk dan melihat sendiri tubuh kaku sang adik. Hah, dalam mimpi terburuk pun Lucas tak pernah membayangkan hal ini.

Beberapa perawat keluar ketika melihat wajah nyonya Moses dan putra sulungnya, membiarkan dua orang itu menunjukkan kesedihannya tanpa rasa canggung.

Penutup wajahnya terbuka, Eva Moses membekap mulutnya sendiri sebelum berteriak. "Anakku ini anakku! Ervana putriku satu-satunya kini telah pergi meninggalkanku bersama dengan segala penyesalan. Tuhan, jangan hukum aku dengan cara seperti ini. Kembalikan putriku siapapun tolong kembalikan putriku". Dada Lucas seperti dihimpit sebuah batu besar yang membuatnya sulit berbicara. Wajah pucat tanpa aliran darah di depannya membuatnya nyaris kehilangan separuh kewarasannya.

Adikku! ini benar-benar adikku ya Tuhan.

1
EMA
Semangat kk lanjut nya 💪 💪
EMA
Semangat kk 💪💪💪
Afee: Makasih kaaa🥰
total 1 replies
EMA
Lanjut kk
Alvi
lanjut thorrrr🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!