NovelToon NovelToon
KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

KERIKIL BERDURI - Sucinya Hati Dan Berdarahnya Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Gangster / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Barat / Persaingan Mafia
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: Ardin Ardianto

rapuhnya sebuah jalan bersih yang dipilih, membawanya ke arah yang berlawanan. Setiap langkahnya seperti berjalan di atas kerikil yang berduri tajam—menyakitkan berbahaya, dan tak mudah untuk kembali pada jalan yang bersih, Di tengah kekacauan, hanya satu yang tetap suci: hati dan janji. Namun janji yang dipilih untuk di ucapkan kini tersayat oleh darah dan pengkhianatan karna arus sebuah jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardin Ardianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berat Yang Tetap Dipikul

senin pagi, pukul 07:00.

Rumah kontrakan terasa seperti ruang kosong yang terus melebar. Matahari menyusup lewat celah gorden tipis, menerangi lantai semen dingin dan sofa plastik reyot yang sudah penuh debu. Shadiq duduk di tepi kasur, tangan memegang ponsel jadul, layar menampilkan foto Arva dan Irva—Irva tersenyum lebar pegang boneka dinosaurus, Arva memeluk dari belakang dengan mata penuh harap.

Hari-hari berlalu seperti kabut tebal. Setiap pagi Shadiq bangun dengan rasa sesak yang sama. Rindu pada Arva dan Irva semakin dalam, seperti luka yang tidak pernah sembuh. Ia rindu suara Irva berlari memanggil “Papa!”, rindu Arva di dapur menggoreng telur sambil mengomel pelan, rindu hidup di jalan benar—hidup yang sederhana, tanpa senjata di bawah kasur, tanpa kebohongan di setiap napas, tanpa darah yang menempel di tangan.

Kini ia masuk ke dalam bisnis gelap makin dalam. Setiap hari ada rapat, ada tugas kecil, ada pesan dari “KP1”. Tapi tanpa sadar, Shadiq makin akrab dengan tim Kelinci Perak. Mereka tidak memaksa seperti Farhank. Mereka tidak ancam mati setiap hari. Mereka kasih gaji rutin, perlakukan Shadiq seperti karyawan penting—ada kursi khusus untuknya di rapat, ada kopi hitam yang disiapkan, ada ucapan “lo berguna buat kami”. Bandingkan dengan Farhank yang selalu paksa, selalu ancam, selalu curiga.

Shadiq sering duduk sendirian di teras, tatap langit malam Jakarta yang penuh polusi. Ia batin:

*Gue rindu hidup benar. Gue rindu Arva dan Irva. Gue rindu jadi bapak biasa yang pulang sore, main sama anak, peluk istri di dapur. Tapi gue masuk terlalu dalam. Gue nggak tahu cara keluar.*

Pagi-pagi seperti ini, Shadiq sering buka kontak Arva di ponsel lama. Ia lihat status terakhir Arva: online 3 jam lalu. Ia tidak berani kirim pesan lagi—takut Arva balas dingin seperti kemarin. Tapi di dalam hati, ia tahu:

*Gue harus berubah dulu. Gue harus buktiin gue bisa keluar dari dunia ini. Gue harus jadi bapak yang baik, bukan cuma kata-kata.*

Ponsel Kelinci Perak bergetar di meja. Pesan dari “KP1”:

“ayo siap-siap.”

Shadiq tatap pesan itu.

*Gue masuk makin dalam. Tapi gue rindu hidup benar. Gue harus berubah dulu. Gue harus buktiin ke Arva dan Irva bahwa gue bisa jadi bapak yang baik.*

Ia taruh ponsel.

*Hari-hari berlalu. Gue rindu kalian. Gue rindu hidup benar. Gue harus berubah dulu.*

Ia berdiri, tatap peti di bawah kasur.

*Gue harus keluar. Gue harus berubah.

Ia tarik napas dalam. Besok malam, pesawat pribadi Kelinci Perak berangkat ke Busan. Rencana sabotase kontainer kuning pengiriman ke-3.

Shadiq tersenyum pahit. Ia memang belum pernah naik pesawat. Paling mentok naik mobil pribadi ke kota lain saat jadi petarung arena. Sekarang, ia akan ke Korea Selatan—Busan—bukan untuk liburan, tapi untuk sabotase. Ironis. Ia ingat Arva dulu bilang: “Suatu hari kita naik pesawat bareng, Nak. Ke luar negeri. Lihat laut yang beda.” Shadiq saat itu cuma ketawa: “Mimpi aja, Va. Tukang galon mana mampu.”

Sekarang ia mampu. Tapi bukan untuk Arva dan Irva. Bukan untuk hidup benar.

Shadiq berdiri, mulai persiapan. Ia buka lemari kecil, ambil baju ganti: kaos hitam polos, jaket jeans usang, celana kargo hitam, sepatu sneakers yang sudah pudar. Semua baju biasa—tidak mencolok, supaya tidak kelihatan seperti orang penting. Ia masukkan ke tas ransel, tambah charger, powerbank, dan paspor palsu yang diberikan Kelinci Perak. Nama di paspor: “Rudi Santoso”. Foto Shadiq, tapi sedikit diedit agar tidak langsung dikenali.

Ia duduk lagi di tepi kasur, tatap peti AK. Jari menyentuh satu senjata.

*Gue bawa satu aja. Untuk jaga-jaga. Kalau Farhank kirim orang ke Busan, gue butuh ini.*

Ia ambil satu AK, magazen, dan beberapa peluru cadangan. Bungkus dengan kain hitam, masukkan ke dasar tas ransel. Ia tutup peti, dorong kasur kembali. Peti kedua tetap di bawah—untuk jaga-jaga kalau ia kembali.

Shadiq berdiri di depan cermin kecil retak di dinding. Wajahnya lelah, mata cekung, janggut tipis tumbuh tidak rapi. Ia gosok dagu, batin:

*Gue berubah. Gue nggak lagi tukang galon. Gue sekarang bagian dari dunia gelap. Tapi gue rindu hidup benar. Gue rindu Arva dan Irva.*

Ia ambil ponsel lama, buka kontak Arva. Ia lihat status terakhir: online 2 jam lalu. Ia tidak berani kirim pesan lagi—takut Arva balas dingin. Tapi di dalam hati, ia tahu:

*Gue harus berubah dulu. Gue harus buktiin gue bisa keluar dari dunia ini. Gue harus jadi bapak yang baik, bukan cuma kata-kata.*

Ponsel Kelinci Perak bergetar di meja. Pesan dari “KP1”:

“Besok malam jam 20:00, bandara Halim. Jangan telat. Tiket dan dokumen sudah di email. Lo ikut jalan-jalan. Nikmati penerbangan pertamamu.”

Shadiq tatap pesan itu.

*Gue tertarik naik pesawat. Bukan karena pekerjaan gelap. Gue cuma ingin merasakan. Gue belum pernah. Tapi gue berharap suatu saat bisa ajak Arva dan Irva jalan-jalan seperti ini.*

Ia taruh ponsel.

*Besok malam. Bandara. Dan gue harus selamatkan semuanya.*

Shadiq duduk di tepi kasur lagi. Tatap foto Arva dan Irva di ponsel lama. Air mata jatuh pelan.

*Gue rindu kalian. Gue rindu hidup benar. Gue harus berubah dulu. Gue harus buktiin.*

Ia hapus air mata.

*Besok malam. Busan. Dan gue harus selamat.*

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!