NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Gadis Penyihir Ruang

Keesokan harinya...

Dalam kegelapan,

Seorang gadis yang sendirian perlahan terbangun.

Matanya berat untuk dibuka, namun rasa sesak dan tidak nyaman yang ia rasakan terus memaksanya untuk sadar.

Kebas dan nyeri mulai terasa saat ia membuka matanya.

"Di mana ini?"

Itulah kalimat pertama yang keluar dari mulutnya.

Entah berapa lama dia tidur, tapi leher dan punggungnya terasa sakit. Kepalanya juga sedikit pusing dan berputar, seperti kapal besar yang terombang-ambing ombak laut.

'Kenapa aku ada di sini?' pikirnya, kebingungan.

Sebelum mengingat kejadian sebelumnya, dia tiba-tiba tersentak ketika seluruh tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Terjebak mungkin adalah pilihan kata yang paling tepat.

"Hah?! A-apa yang terjadi?! Siapa yang melakukan ini?!"

Tubuhnya diikat dengan tali. Ikatannya sangat kuat, dan gadis itu juga mulai kesulitan bernafas. Berulang kali dia mencoba melepaskan diri, namun usahanya terus gagal.

Jangankan longgar, tali itu justru mengikatnya lebih kuat.

Berulang kali mencoba dan gagal, gadis itu memutuskan untuk berhenti. Daripada terus menyakiti diri sendiri, dia perlu berpikir bagaimana caranya selamat dari semua ini.

Apalagi, dia tidak tahu siapa orang yang melakukannya.

'Siapa yang mengikatku di sini?' batinnya, penasaran.

Tidak ada petunjuk apapun, jadi dia menoleh ke sekitar.

Seluruh ruangan tampak gelap, tapi gadis itu tahu bahwa dia berada di sebuah kamar. Bau manis dan harum yang tiba-tiba saja tercium mulai membuatnya merasa cemas.

Gadis itu menunduk dan berpikir,

'Aku harus segera pergi sebelum orang yang mengikat—'

"Akhirnya kau bangun juga."

Dan tak lama kemudian,

Suara seseorang yang muncul menarik perhatiannya.

Gadis itu tertegun dan langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Di sana, ia melihat sosok yang membuatnya ketakutan. Walaupun gelap, tapi dia bisa merasakannya.

"K-kau ...!"

Bibir dan matanya bergetar ketika mendengar suaranya.

Ingatan yang sebelumnya tidak utuh juga kembali.

Keringat dingin mulai bercucuran di sekujur tubuhnya.

"Kau seharusnya bersyukur, aku tidak membunuhmu di toko senjata seperti dua temanmu itu." ucap salah satu orang yang sedang berjalan dan menghampiri gadis itu.

Tidak perlu ditanya lagi siapa sosok yang dimaksud.

Karena sosok itu tidak lain adalah Alexia.

"Jadi jangan buat aku ingin membunuhmu." lanjutnya.

Gadis itu meringkuk dan menjawab, "B-baik, putri Alexia."

"Hoo... kau mengenalku?"

"B-bagaimana saya tidak mengenal orang yang memiliki kecantikan layaknya peri dengan rambut perak dan mata merah yang indah seperti permata di kota ini." balasnya.

Alexia mengerutkan keningnya dan berkata,

"Berhenti memujiku, itu tidak akan berguna padaku."

Satu orang yang datang bersama Alexia menarik gorden, dan sinar matahari yang menyilaukan masuk ke ruangan.

Seluruh ruangan yang di dominasi oleh kegelapan pekat kini menampakkan wujudnya kembali. Udara dingin yang terjebak di dalam kamar juga keluar saat jendela dibuka.

"Kalau begitu, mari kita mulai interogasinya." kata Siria.

'Interogasi?!' batin gadis itu, bingung dan ketakutan.

Siria berjalan ke arah lemari dan mengambil kotak yang ada di atas. Setelah dibuka, gadis itu pun tersentak dan langsung gemetar ketakutan saat melihat peralatan itu.

Berbagai peralatan penyiksaan yang kotor oleh darah.

Sementara itu, Alexia mengambil kursi dan duduk tepat di depannya. Gadis itu menunduk dan takut melihatnya.

"Aku akan langsung bertanya, jadi kau tinggal menjawab saja. Pertanyaan pertama, siapa namamu?" tanya Alexia.

"A-aku... aku ..." dia gugup dan bingung menjawab apa.

"Kalau kau berbohong, kau berakhir di sini." lanjutnya.

Gadis itu terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab.

"N-namaku... namaku adalah Mita, M-Mita Gardenia."

Matanya melirik ke arah rantai yang dipegang Siria, dan dia langsung memalingkannya dengan raut wajah takut.

"Pertanyaan kedua, kenapa kau ingin membunuhku?"

Setelah mendengar pertanyaan itu, Mita tanpa basa-basi langsung membantah. "M-membunuhmu?! Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu atau bicara denganmu, jadi kenapa aku tiba-tiba ingin membunuhmu tanpa alasan?"

"Tuduhan aneh macam apa itu?!" lanjutnya sedikit emosi.

Kalimat yang dia ucapkan dengan nada tinggi membuat Alexia mulai percaya jika dia tidak berbohong. Apalagi, ia bisa tahu hal itu hanya dengan melihat mimik wajahnya.

'Jadi dia tidak tahu tentang rencana pembunuhan itu ...'

Itulah yang ditangkap Alexia setelah mendengarnya.

"Kalau kau benar-benar tidak ingin membunuhku, kenapa kau memasang penghalang ruang di toko pandai besi?"

"A-aku memasang penghalang karena mereka ...!?"

Mita tiba-tiba berhenti bicara dan tampak kebingungan.

'Benar juga, kenapa aku memasang penghalang di sana?'

Seingat Mita, dia diajak oleh dua temannya pergi ke toko pandai besi untuk membeli senjata. Dia mendirikan sihir penghalang agar temannya tidak diganggu pembeli lain.

Aneh mendengar alasan mereka yang tidak masuk akal.

Waktu itu tidak ada pembicaraan atau pembahasan soal membunuh seseorang, jadi Mita menyetujui permintaan mereka untuk membuat sihir penghalang di sekitar toko.

Jadi, apa mereka berbohong?

Mita tidak tahu alasan mengapa mereka berbohong.

Dia sudah berteman dengan mereka selama kurang lebih setengah tahun, jadi Mita tidak percaya jika mereka ingin membunuh orang, dan orang itu adalah Alexia Iris Swan.

Alexia menghela nafas dan berdiri.

"Gadis ini tidak tahu apa-apa, jadi tidak ada gunanya aku bertanya lebih jauh padanya." katanya dan melambaikan tangan. "Kalau begitu, lakukan apa yang harus dilakukan."

Siria mengangguk ringan. "Baik, nona Alexia."

Setelah menginterogasinya, Siria membuang rantai besi di tangannya dan mengambil belati di balik bajunya. Ia berjalan ke arah Mita dengan tatapan dingin dan tajam.

Mita yang menyadari hasrat membunuh Siria langsung menoleh dan berkata, "T-tunggu, apa yang kau lakukan?! Bukankah aku sudah jujur dalam menjawab pertanyaan?"

"Kejujuran tidak dibutuhkan untuk menyimpan rahasia."

"A-aku bisa merahasiakan ini." katanya dengan panik dan putus asa. "Kumohon, beri aku kesempatan. Aku bahkan bisa bersumpah untuk menutup mulut soal masalah ini."

Siria memutar belati di tangannya dan berkata,

"Orang yang sudah mati adalah orang yang bisa menjaga rahasia, karena dia tidak bisa bicara maupun berkhianat."

Pernyataannya tidak salah, namun caranya yang salah.

"Tolong... a-ampuni aku! Jangan bunuh aku!" Mita takut dan langsung memberontak, berusaha lepas dari ikatan tali di kursi, tapi kematian sudah ada di depan matanya.

Siria mulai jengkel mendengar teriakannya yang nyaring.

"Kami tidak punya alasan untuk membiarkanmu hidup!"

'T-tidak, aku tidak mau mati... aku belum merasakan jatuh cinta, punya banyak teman, atau merasakan petualangan di dunia yang besar dan dipenuhi oleh banyak keajaiban!'

Karena tersudut dan takut akan kematian, itu membuat fungsi otaknya bekerja lebih cepat. Daya ingat Mita yang lemah diperkuat hingga dia dapat mengingat masa lalu.

Semuanya diputar dengan cepat hingga otaknya panas.

'Alasan... alasan... aku butuh sebuah alasan!' batinnya.

Saat belati diayunkan ke kepalanya, Mita tiba-tiba bicara.

"Aku punya informasi penting mengenai putri Aurora."

Siria mendadak menghentikan belatinya tepat sebelum ujung belati menyentuh rambutnya. Alexia yang hendak pergi dari ruangan itu berhenti dan menoleh ke arahnya.

"Nona Alexia, apa yang harus kita lakukan?"

Alexia berbalik dan berjalan menghampirinya.

"Informasi apa yang kau miliki?" tanyanya penasaran dan mengangkat dagunya. "Aku tidak menerima kebohongan, jadi katakan semua yang kau tahu ketika aku masih baik."

Melihatnya sangat tertarik membuat Mita tersenyum.

"Akan aku katakan, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak membunuhku. Jika kau menepati janjimu, aku—!?"

Belum menyelesaikan kalimatnya, Alexia tiba-tiba meraih lehernya dan mencekiknya. Mita merintih dan tidak bisa bernafas dengan benar. Pandangannya juga mulai kabur.

"Sejak kapan kau bisa memberikan penawaran padaku?"

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!