Julius sedang berada di puncak karier dan kesuksesan sebagai seorang musisi ketika berita duka itu datang.
Berita tentang sahabatnya yang seorang model majalah pria dewasa tewas dan di isukan mabuk sebelum loncat dari lantai 4 Apartemen sungguh membuat Julius berhenti sejenak.
Julius yang bermasalah di masa lalu putuskan untuk membereskan segalanya. Ia juga tidak percaya sahabatnya itu tewas bunuh diri.
Julius pun pergi sendirian.
Pacarnya yang seorang artis jelas tidak terima dengan keputusan Julius yang tiba-tiba meninggalkan ketenaran dan hidup mapan.
Di saat yang sama, Nani mencari Julius dan bertemu dengan Angela.
Angela curiga, Nani cinta pertama Julius dan Nani Yakin, Angela belum putus dengan Julius. Walau demikian, keduanya sepakat untuk sama-sama mencari Julius.
Sampai akhirnya, Nani dan Angela jadi tahu siapa dan bagaimana kehidupan Julius seutuhnya.
Sisi gelap dunia hiburan, persabatan dan cinta.
Kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang jatuh bangun mengejar mimpi.
tidak cengeng, tapi sanggup membuatmu nangis. Tidak gombal, tapi sanggup membuatmu jatuh hati.
jujur, terbuka dan menginspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
PLARR...! PLARR!
langkah tergesa seseorang di lantai lorong sebuah rumah sakit terdengar menggelepar di kesunyian malam. Seorang Tina tampak bergetar. Ia lelah dan lesu terduduk di bangku tunggu di ujung lorong itu.
“Tina, ini aku,” ucap Julius mendekati Tina. Tina pun membuka mata dan hatinya. Seseorang yang datang tergesa itu ternyata adalah Julius.
“Kak? kak Julius???” Tina serasa mimpi kedatangan Julius.
“Kamu baik-baik aja.”
“Kak Wini, kak Wini meninggal,” ucap Tina spontan memeluk Julius. Julius pun melipurnya.
“Kamu tidak sendirian. Tenanglah.” Tina yang bergetar mulai redam. Kegetirannya mulai luluh.
“Kakak antar kamu bawa jenazah kak Wini ke kampung yah?”
“Tina tidak sanggup menghadapi Abah sama Ambu, Kak.”
“Kamu tidak sendiri,” Julius meyakinkan Tina.
“Oh iya, selama ini kamu tidak pulang?” tanya Julius. Tina yang sudah tenang dan duduk pun menjawab apa adanya.
“Engga Kak, kami terlunta-lunta setelah bang Haris meninggalkan kami. Ceritanya panjang.” Julius paham, tidak mungkin dalam keadaan seperti ini ia memaksa Tina untuk bercerita.
“Sudahlah, sekarang kamu sudah aman. Kita cari makan yuk,” ajak Julius.
“Tina gak selera makan,” jawab Tina lemah. Mukanya lusuh. Hampir hampir Julius tidak percaya itu Tina. Tina yang dulu bersih dan wajahnya selalu berseri-seri kini pucat dan lusuh sedikit berjerawat.
“Ayo, tidak baik menyiksa diri. Jangan sia-siakan pengorbanan kakakmu. Ayo.” Akhirnya Tina mau diajak makan.
Besoknya, pagi-pagi sekali Julius membawa Tina dan mengemasi barang-barang Tina dan Wini lalu kembali ke rumah sakit, menuntun mobil Jenazah.
“Apa kamu sudah memberitahu orang rumah.”
“Udah Kak, Tina ngasih tahu kerabat,” jawab Tina pelan penuh keharuan. Rasa rindu yang menggebu dan bayangan kemarahan orangtuanya berkecamuk dalam batinnya.
“Kamu tau siapa pelakunya?” tanya Julius.
“Tidak Kak. Tina cuma tahu kak Wini pergi bersama om Dandi.”
“Dandi? Dandi pelatih akting?”
“Iya.”
“Oh iya, kenapa tidak ada polisi dan,”
“Mungkin Dandi dan teman-temannya yang kaya dan terhormat itu menutup kasusnya. Dalam hal ini, keadilan bisa dibeli dengan uang. Lagi pula siapa yang mau peduli pada model majalah pria dewasa yang di-isu-kan mabuk sebelum loncat.”
“Kakak peduli Tina dan Kakak akan mencari tau kebenarannya dan membalas kematian Wini.”
“Sudahlah Kak, tidak baik menaruh dendam.”
“Apa kamu juga menerima suap dari Dandi?” Julius jadi berbalik curiga pada Tina. Tina tidak menjawab, hanya sedikit mendelik.
***
Tanah basah, daun-daun basah, udara basah menyambut kedatangan Tina dan Julius. Orang-orang banyak berkerumun dan Tina sudah siap dengan apapun yang akan orangtuanya lampiaskan.
Mobil jenazah masuk pelataran rumah duluan dan langsung dikerubuti orang. Tina turun dan melangkah dalam tuntunan Julius. Bapaknya Tina menghampiri.
“Kakakmu meninggal karena apa? Coba kalo kamu nurut sama Abah??”
“Tenang dulu Abah,” Julius menghadang orang tua yang kalap itu dan menyentuh kedua pundaknya seolah meredam gejolak jiwanya.
“Saya kenal Tina dan Wini sejak lama. Kami satu kerjaan. Wini bekerja demi Abah, demi keluarga. Wini banyak cerita. Wini mau membangun rumah untuk Abah. Wini bekerja keras. Tapi siapa sangka ada orang menculik Wini dan menjual Wini.” Sampai di situ bapaknya Tina mulai luluh. Sementara Tina dirangkul dengan tangis oleh ibu dan saudara-saudaranya.
“Wini diculik dan dijual. Demi kehormatan dan nama baik keluarga ia memilih loncat dan jatuh dari atas gedung,” Ucapan Julius hampir seperti mahasiswa yang sedang berorasi. Julius jadi pusat perhatian. Orang-orang mulai mengerti musibah yang menimpa Tina dan Wini.
“Abah harus ikhlas yah,” lanjut Julius, “Tina juga tidak akan pergi merantau lagi. Tina mau nurut sama Abah. Yah?” Bapaknya Tina pun manggut-manggut sambil menyeka air mata.
Akhirnya suasana histeris pun redam. Julius ikut mengurus pemakaman Wini. pemakaman Seperti dulu ia mengubur adiknya yang paling kecil. Julius pikir, selalu ada ketidakadilan pada kematian. Dulu adiknya meninggal mungkin karena trauma. Rumahnya di kepung dan di bakar warga yang terprovokasi dan membabi-buta. Julius membayangkan, keluarganya selamat dengan bersembunyi di rumah tetangga dan pergi malam-malam. Sangat mungkin karena itu adiknya demam dan tak tertolong. Sangat tidak adil Julius rasa. Adiknya menjadi korban.
Dan sekarang, Wini harus tewas dengan mengenaskan hanya karena mengejar karier. Hidup kadang tak adil.
Bunga-bunga pun jatuh ke atas kubur.
Siang kemudian Julius pun pamit. Setelah keringatnya kering dan membersihkan diri.
“Tina, Kakak pamit dulu yah.”
“Kakak lagi sibuk?”
“Tidak juga, cuman banyak yang harus Kakak lakukan. Ini kartu nama Kakak. Kalo ada apa-apa telepon yah. Jangan sungkan. Kakak mau mencari Restih. Kakak mau minta maaf sama dia.”
“Tina tidak tahu harus membalas kebaikan Kakak dengan apa.”
“Cukup dengan kamu berjanji untuk tidak pergi jauh-jauh dari rumah.”
“Iya Kak, Tina kapok dan gak lagi-lagi jauh dari keluarga.”
“Oh iya, apa kamu punya nomor telepon Dandi?”
“Ada, tapi tidak aktif,” jawab Tina.
“Sini, mana nomornya.”
“Tapi Kak, sudahlah, jangan sampai urusannya jadi ribet,” ucap Tina.
“Kamu tenang saja, ini jadi tanggung jawab Kakak sepenuhnya.” Tina pun memberikan nomor telepon Dandi dan Julius segera berlalu meninggalkan Tina yang khawatir.
Tekad Julius sudah bulat. Ia pun melesat untuk mencari Restih dengan petunjuk nama sekolahan Restih dulu.
bagussss bgt thor dan ini kadang masalah yg d alami semua orang
bentar lagi masuk bagian inti teka tekinya neh
liat nani berasa liat diri sendiri, dulu temenan 10 orang, 8 cwo dan 2 cwe, sekali2 nya nonton konser grtisan tuh, yg ngeslank bareng jinggo, pulang jam 2 malem baju basah nyampe rumah abang gw dah nungguin, kabayang kan lanjutan nya apa, auto d ceramahin mpe seminggu kdepan
kadang perih dan sakit itu perlu, dalam mencapai impian, suatu saat nanti kita sukses akan terasa lebih hebat
baru ngeh q bacanya kebalik, baca purnama k2 dulu yg ini