Codename: Claw, adalah seorang Agent Assassin wanita muda yang berasal dari Asia Tenggara. kemampuan dan kekuatannya jauh diatas rata-rata Agent Assassin lain. walaupun ia bekerja sebagai Assassin, bukan berarti dia adalah seseorang yang jahat. ia bergabung kesebuah Organisasi Rahasia berskala dunia bernama "Balance Keeper", sebuah organisasi yang mementingkan dan menjaga keseimbangan dunia. namun itulah yang menjadi masalah, karena organisasi mereka ada sebuah Organisasi Rahasia lainnya yang ingin menghancurkan Balance Keeper. Mereka meneror anggota Balance Keeper lain dan terus-menerus merusak keseimbangan dunia. dan Claw sebagai Agent Assassin dari Balance Keeper, ingin mengungkap dan menghancurkan mereka. karena salah satu tujuan Claw, adalah membalaskan dendam Ayahnya yang telah dibunuh oleh mereka
ini adalah sebuah Light Novel atau Novel Ringan, yang semuanya spontan dari kepala saya. jadi mohon bantuannya ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMiYA1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 23: Eye For An Eye Part 3
tidak lama setelah Sebastian dan Yohan, selesai mengantar Vera ke pintu masuk Kota Kowloon. Kini mereka berdua berada di sebuah hotel, tidak jauh dari Kota Kowloon
Di salah satu kamar hotel yang memiliki 2 tempat tidur, Yohan terlihat duduk di sebuah kursi yang berada di dekat jendela. dari jendela tersebut terlihat bangunan kota Kowloon dari kejauhan. Dan Yohan terlihat melihat kota Kowloon tersebut dengan wajah yang khawatir
Tidak lama setelah itu, Sebastian membuka pintu dan memasuki kamar tersebut dengan membawa secangkir kopi dan juga teh diatas sebuah nampan. Setelah itu Sebastian meletakkan kopi dan juga teh nya diatas meja yang berada didepan Yohan
"terima kasih banyak" ucap Yohan yang menyadari apa yang dilakukan Sebastian
Sebastian menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu ia duduk di kursi yang berada di sisi lain meja dan mengambil teh nya
"kau.. Tidak khawatir dengan majikan mu?" tanya Yohan, sebari meminum kopinya sedikit demi sedikit
Sebastian meminum sedikit teh nya dengan cara yang elegan dan disiplin sebari menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Yohan
"menghawatirkan nona, hanyalah membuang-buang waktu" jawab Sebastian
"sebagai agen Assassin yang sedang melaksanakan misi, hanya ada 2 kemungkinan yang terjadi. Pertama, Sang agen kembali dengan misi selesai atau gagal. Kedua sang agen kehilangan nyawanya" ucap Sebastian sebari melihat keluar jendela
"nyawa... tidak memiliki harga yang mahal, huh?" ucap Yohan yang melihat kopinya
"tidak seperti itu. Organisasi kami bukanlah organisasi yang melatih seorang Assassin yang tidak memiliki perasaan. nyawa tetaplah yang paling utama, bagi para agen" ucap Sebastian
Setelah itu Sebastian meletakkan teh nya diatas meja, ia menyenderkan tubuhnya kebelakang. Sebastian menutup matanya, dan ia merilekskan tubuhnya seperti masuk ke dalam mode istirahat
"saya lebih menghawatirkan hal lain dari pada keselamatan nona" ucap Sebastian lagi
*sfx: BOOOM!!!* sebuah ledakan terjadi dari dalam sebuah Bar. Saat ledakan terjadi, sesuatu yang diselimuti sebuah kain berwarna putih terpental keluar dari bar melalui sebuah jendela
Itu adalah Vera, ia menutupi seluruh tubuhnya menggunakan jaket jubah miliknya. Ia memposisikan dirinya kesebuah jendela, setelah itu Vera membiarkan tubuhnya terlempar karena ledakan dan melewati jendela.
Itu adalah sesuatu yang gegabah. Namun Vera berani melakukan itu, karena ia percaya dengan tubuhnya dan juga jaket jubahnya yang sudah didesain untuk melindungi dirinya dari berbagai bahaya. Dan salah satunya adalah menahan sebuah ledakan
Vera terlempar dan tergeletak ditanah, ia mencoba berdiri dengan tubuhnya bergemetar karena dampak dari menahan ledakan. Dan disaat-saat tersebut, Vera melihat ke segala arah dan mencoba mencari seseorang yang melempar bom tadi
Dan dengan singkat, Vera langsung mengetahui siapa pelakunya. Yaitu seorang pria bertudung yang sedang berlari memasuki sebuah gang. Pria tersebut memakai sebuah jubah dengan lambang gerhana matahari dipunggung nya
"uhuk.. Uhuk... Sialan. Jebak orang sih jebak orang, tapi nggak kek gitu juga anjing" ucap Vera yang batuk-batuk karena asap yang masuk ke hidungnya. Ia agak emosi sampai Mulutnya keceplosan berbicara menggunakan bahasa Indonesia
Vera langsung mengambil masker besi yang sering ia pakai, dan memakainya. Disaat Vera memakainya, ia langsung menghirup nafas dalam-dalam karena masker tersebut memiliki fungsi untuk memfilter udara
setelah itu Vera langsung mengejar pria yang melempar bom tersebut dengan cepat. Saat Vera mengejarnya, ia melihat pria tersebut namun pria tersebut memiliki kecepatan yang seharusnya tidak dimiliki orang normal. Melihat itu, Vera menjadi yakin jika pria yang ia kejar adalah Whisper atau Morian
mereka berdua berlari dengan sangat cepat melewati gang-gang dari bangunan. kecepatan berlari Vera tidak bisa mencapai batas kecepatannya, karena tubuhnya masih syok setelah menerima dampak ledakkan
"kaki terasa agak lemas karena ledakan tadi" gumam Vera
Saat mereka berdua berlari menuju ujung dari jalan gang, tiba pria tersebut melompat kedepan. Dan ternyata alasan kenapa ia melompat adalah karena tempat yang mereka pijak bukanlah lantai pertama, melainkan lantai kedua
Pria tersebut melompat kedepan menuju atap bangunan yang berada di seberang, karena bangunan tersebut dipisahkan untuk dijadikan sebuah jalan di lantai 1. Dan dengan lompatan yang jauh tersebut, pria itu mendarat dengan sempurna di atap bangunan
Melihat itu, Vera langsung menambah kecepatannya. Dan saat ia sampai di ujung gang, ia menempatkan kekuatan kakinya di 1 titik lalu melompat menuju atap bangunan yang berada di seberang. Dan dengan kemampuan tubuhnya, ia berhasil mendarat dengan sempurna diatas atap bangunan
Saat Vera mendarat di atap bangunan, pria bertudung tersebut tidak lanjut berlari. dia berdiri di sisi lain bangunan, dan menghadap kearah Vera dengan wajah yang tertutupi tudung jubahnya. Sepertinya dia tidak berniat untuk kejar-kejaran lagi
"kenapa? sudah lelah kejar-kejaran? Padahal kita tidak berlari terlalu lama" ucap Vera, sebari membersihkan jubahnya dari debu
lalu tiba-tiba ada seseorang dari samping kanan Vera, dan menembakkan sesuatu. Namun Vera langsung melindungi dirinya menggunakan jubah, tanpa melihat dari mana asal tembakan tersebut. anehnya tembakkan tersebut tidak memiliki suara sama sekali
"Claw... Atau haruskah aku menyebut mu, The White Tiger? Ini adalah sebuah kehormatan bisa bertemu dengan sang legenda hidup era sekarang" ucap pria bertudung yang berada didepan Vera, sebari memberikan salam seperti seorang Gentleman
"namun sayangnya... Tempat ini akan menjadi kuburanmu. haaah... Padahal aku ingin melihat wajahmu dari dekat, dengan tatapan serius mu itu" ucap pria bertudung lagi
"jika memang tempat ini menjadi kuburanku, sepertinya kau terlalu meremehkan ku" ucap Vera
Dari samping kanan Vera, terlihat seseorang yang memakai jubah yang sama seperti orang yang dikejar oleh Vera berjalan mendekati mereka berdua. Ia meluruskan tangan kirinya kedepan dan seolah membidik kearah Vera menggunakan sesuatu yang berada di balik baju lengan panjangnya. Dan melihat dari itu, dialah orang yang mencoba menembak Vera tadi
pria yang berada di kanan Vera, berhenti berjalan untuk membuat sebuah jarak yang agak jauh. Lalu setelah itu, kedua pria berjubah tersebut langsung melepaskan jubah mereka dan membuangnya ke lantai. Dan seperti dugaan Vera, pria yang berada didepannya adalah Morian sedangkan yang berada di kanannya adalah Whisper
Morian, yang dikenal sebagai The Gentleman Assassin. Ia memakai pakaian tuksedo yang berwarna hitam dan juga putih. Wajahnya tampan, Rambutnya agak panjang tapi tertata rapi dan ada sebuah bekas luka tebasan di mata kirinya. Walaupun begitu, nama Morian adalah representasi dari pesona aslinya, yaitu sebuah kegilaan
Disisi lain, Whisper terlihat memakai jaket berwarna hitam dengan lengan yang terlihat longgar dan juga kerah yang agak tinggi sampai menutupi mulutnya. Rambutnya acak-acakan dengan sorot mata yang terlihat bosan. Ia dari tadi tidak berbicara atau membuat suara sama sekali, seperti hal nya julukannya yaitu The Silent Death
"kami bukannya meremehkan mu, dan bagaimana bisa kami meremehkan mu. Kau adalah assassin terkuat era sekarang. Tetapi kami percaya diri, untuk membunuhmu disini" ucap Morian sebari mengeluarkan sebuah belati dari dalam baju lengannya
"karena sekarang.. Sudah waktunya untuk racunnya mulai beraksi didalam tubuhmu" ucap Morian lagi
Vera agak tidak mengerti dengan ucapan Morian. Racun? Ia tidak ingat memakan apapun selain Bakpao yang Vera beli sebelum masuk distrik merah. Bahkan Vera juga mengecek bakpao tersebut, dan tidak ada tanda-tanda telah diracuni
"apa yang kau ka-..." ucap Vera yang tiba-tiba terhenti
Ucapan Vera terhenti karena ia merasakan sesuatu di tubuhnya, tubuhnya terlihat akan terjatuh namun ia menahan dirinya agar tidak jatuh ketanah. Sebuah rasa sakit seperti terbakar, menjalar ke seluruh tubuhnya. Kepalanya pusing, pandangannya kabur dan jantungnya berdebar dengan kencang
Kapan? Apa penyebabnya? Adalah apa yang Vera pikirkan. Ia mencoba menenangkan dirinya, dengan rasa sakit yang ia rasakan sekarang, Vera masih bisa menahannya. Sekarang yang terpenting baginya adalah bagimana Vera mengalahkan mereka berdua, Karena kabur bukanlah pilihan yang tepat. dan disaat itu juga Vera menyadari, apa penyebab ia terkena racun
"asap ledakan.... Asap dari ledakan tadi... Adalah racunnya" ucap Vera kepada Morian
mendengar itu, Morian tersenyum dan bertepuk tangan untuk Vera
"Bravo... sesuai dengan reputasi mu. kau memiliki intuisi yang sangatlah tajam. itu adalah sebuah racun asap yang baru kami kembangkan" ucap Morian sambil bertepuk tangan
Setelah Morian berhenti bertepuk tangan, senyumannya yang tadi tiba-tiba berubah menjadi sebuah senyuman yang sinis dan begitu menakutkan, sebari bersiap untuk menyerang Vera dengan belati di tangannya. Jika orang lain melihatnya, sudah pasti mereka akan berpikir jika pria ini sudah gila. Vera yang melihat itu mencoba memasang kuda-kuda nya dan bersiap jika Morian dan Whisper menyerangnya
"Sekarang...! Mari kita mulai salam perpisahannya malam ini..! Claw, The White Tiger" ucap Morian dengan keras