Di usianya yang beranjak remaja, pengkhiatan menjadi cobaan dalam terjalnya kehidupan. Luka masa lalu, mempertemukan mereka di perjalanan waktu. Kembali membangun rasa percaya, memupuk rasa cinta, hingga berakhir saling menjadi pengobat lara yang pernah tertera
"Pantaskah disebut cinta pertama, saat menjadi awal dari semua goresan luka?"
-Rissaliana Erlangga-
"Gue emang bukan cowo baik, tapi gue bakal berusaha jadi yang terbaik buat lo."
-Raka Pratama-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caramels_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Seminggu setelah kepulangan Rissa dari rumah sakit, sekolahnya akan mengadakan acara khusus untuk kelas 12 seluruh siswa sibuk menghiasi aula sekolah dengan berbagai macam ornamen indah. Rissa sedang duduk-duduk di tepi lapangan melihat lalu lalang para siswa.
Sejak ia masuk sekolah lagi, ia belum pernah bertemu dengan Raka. Ia menanyakan keberadaan Raka pada teman sekelasnya dan ternyata cowoknya itu sedang sibuk mengurus administrasi masuk Universitas. Ia juga mendapat kabar bahwa Raka telah diterima di Fakultas Kedokteran, ia ikut bersyukur sebab pada akhirnya Raka dapat menggapai mimpinya menjadi seorang dokter.
Malam harinya, Rissa bersiap untuk datang ke acara prom night. Ia berdiri di depan cermin, menatap bayangannya. Ia berangkat menggunakan sebuah dress panjang bernuansa hitam dengan punggung terbuka serta pernak-pernik berwarna emas memenuhi gaunnya. rambutnya disanggul rapi dengan menyisakan beberapa helai rambutnya tergerai di sisi wajahnya, tak lupa sedikit polesan di wajah membuat kecantikannya kian bertambah.
Rissa menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia sudah lama tak merasakan degup jantung seperti ini.
Ketika ia masuk ke area aula sekolah semua mata tertuju padanya Risa berjalan sangat anggun dan tersenyum membalas sapaan dari teman-temannya cahaya para bintang di angkasa pun merasa iri dengan aura yang dipancarkan oleh Rissa.
“Wah, ada bidadari nyasar sampai sini nih,” ucap Dika, playboy kelas kakap yang setelahnya mendapat sikutan dari teman sebelahnya.
“Lo mau dihajar sama si Raka?” Dika hanya cengengesan seusai mendapat bisikan dari temannya, sedangkan Rissa mengabaikan cowok-cowok tersebut yang berusaha menggodanya. Sedari tadi ia mencari keberadaan seseorang, matanya berkeliling melihat seluruh sudut aula hingga ia menemukan sosok yang sangat dirindukannya baru saja datang.
Risa langsung menghampiri ke tempat Raka berada, namun tiba-tiba segerombol laki-laki lewat di hadapannya hingga ia kehilangan jejak Raka lagi.
Ia pun menelusuri seluruh sudut aula, namun sosok Raka yang dirindukannya tak kunjung terlihat. Rissa mulai merasa putus asa.
Apakah Raka sengaja menghindar darinya?
Tiba-tiba, alunan musik mengalun lembut. Sebuah lagu lama yang dulu sering mereka dengarkan bersama. Rissa tertegun.
Ia menoleh ke arah panggung dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Raka, dengan jas hitam elegan dan senyum yang menawan, berdiri di atas panggung. Di tangannya, sebuah gitar akustik.
"Ini untukmu, Rissa," kata Raka, matanya menatap lurus ke arah Rissa. Suara Raka terdengar begitu merdu, mengalun bersama iringan gitarnya.
Rissa terpaku. Ia tak percaya Raka bisa melakukan hal ini. Air mata mulai mengalir deras dari kedua matanya. Rasa bahagia bercampur haru menyelimuti dirinya.
Raka menyanyikan lagu 'Atap berteduh' dengan penuh penghayatan. Lirik lagu yang romantis seakan menggambarkan perasaan Raka yang selama ini terpendam.
"Beruntungnya ku milikimu..." perlahan Raka turun dari atas panggung beserta lampu sorot yang mengikutinya, hingga lirik terakhir dari lagu tersebut, membawa Raka berhenti tepat dihadapan Rissa.
"Happy Birthday Rissaliana Erlangga... " Raka tersenyum setelah mengatakannya. Pipi Rissa merona, berubah bagai kepiting rebus. Ia tak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini. Ia pun lupa dan tak sadar jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Sedetik kemudian, terdengar sorak sorai dari sekitar mereka. Lampu gedung menyala seperti semula. Rissa menatap seseorang di hadapannya dengan pandangan yang tak bisa di definisikan. ia merasa sangat bahagia malam ini.
...****************...
Mereka berjalan dengan jemari saling tertaut. Acara pun dimulai dengan sambutan dari MC untuk membuka rangkaian acara prom night.
"Kamu cantik banget,” Raka menatap Rissa dari atas hingga bawah.
“Jahat banget sih, nggak ngasih aku kabar? gerutu Rissa.
Sedangkan Raka hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Hehehe. Maafin aku ya. Kemarin aku sibuk ngurusin masuk kuliah.”
“Gimana keadaan kamu? Udah beneran sehat?" Rissa tersenyum dan mengangguk.
Lima belas menit kemudian, panitia mengadakan sesi dansa bersama. Banyak cowok ingin berdansa dengan Rissa, namun hanya Raka yang bisa bersanding dengannya. Semua mata tertuju pada mereka.
“Sangat cocok. Couple goals,” bisik para siswi di aula. Mereka merasa iri melihat Rissa yang begitu cantik bersanding dengan Raka yang tampan.
...****************...
Seusai acara prom night, mereka berdua tak langsung pulang ke rumah. Raka membawa Rissa ke suatu tempat yang telah disiapkannya sejak beberapa hari lalu. Ia juga sudah meminta izin dan memberitahu rencananya malam ini kepada orang tua Rissa.
Mobil Raka berhenti di sebuah taman yang dihiasi begitu indah. Puluhan lilin menyambut kedatangan mereka berdua. Rissa turun dan menggandeng lengan Raka, lalu berjalan sembari menatap kagum pemandangan di sekitarnya. Langkah mereka terhenti di depan sebuah kumpulan bunga yang membentuk kalimat "I LOVE YOU."
Raka berjongkok di hadapan Rissa, lalu meraih jemarinya. Sebuah kotak berwarna merah ia keluarkan dari dalam saku jasnya. Jantung Rissa sudah berdegup sangat kencang, membayangkan apa yang akan dilakukan Raka padanya. Hingga akhirnya, kotak merah itu dibuka, menampilkan sebuah cincin emas dengan berlian cantik di tengahnya.
"Rissa, aku tahu habis ini kita bakal LDR, dan aku nggak mau melepasmu tanpa ada hubungan serius. Percaya sama aku, aku akan selalu berusaha buat kamu bahagia. So, will you be mine?"
Ia mengangguk yakin. Air mata Rissa terbendung di pelupuk, terharu melihat kini di jari manisnya terdapat sebuah bukti akan cinta mereka. Cincin itu tersemat cantik di jemarinya. Ia memeluk Raka begitu erat, dan sang cowok pun membalas pelukannya.
Langit malam begitu cerah, ribuan bintang bertabur di angkasa menemani Dewi Malam yang sedang tersenyum, menyaksikan kisah dua insan yang berbahagia. Mereka saling bertatapan, memancarkan rindu yang mendalam di antara manik matanya.
Cuppp!
Satu kecupan singkat mulus mendarat di pipi Rissa.
"Ih, nakal banget sih!" Rissa memukul bahu Raka setelah mendapat perlakuan tanpa diduga.
"Sorry, kelepasan. Habisnya kamu sih cantik banget, jadi gagal fokus deh akunya." Raka menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Risa yang mendengar ucapan Raka tepat di telinganya langsung merona, bahkan mungkin sudah bagaikan kepiting rebus. Spontan, ia langsung memalingkan wajah, berpaling dari hadapan Raka. Kini wajahnya merah padam menahan malu.
Raka yang melihat hal itu semakin merasa gemas, hingga tanpa sadar mengecup pipi Rissa lagi.
"Ih! Kamu suka banget tiba-tiba nyium!" protes Rissa. Ia menjadi salah tingkah karena perbuatan Raka padanya.
"Hehehe, maaf ya, Sayang." Raka meminta maaf, namun dengan cengengesan.
Rissa hanya mengangguk mendengar ucapan cowok di hadapannya itu. Mereka kembali berpelukan, menikmati semilir angin malam yang begitu sejuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...