NovelToon NovelToon
Riyan & Vania

Riyan & Vania

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Rini IR

"Kan ku kejar, akan ku cari kemanapun, dimanapun, di sudut Dunia sekalipun, akan ku dapatkan kamu, lagi. Tidak ada alasan lain, selain karna aku ingin hidup dengan mu, selamanya. " ~Riyan Adijaya

Berkisah tentang Riyan dan Vania, kisah cinta manis berujung pahit. Dimana, setelah satu tahun berkuliah di Jerman, Riyan mengalami kecelakaan mengakibatkan Amnesia Retrograde pada dirinya. Dan melupakan, Vania.

Setelah dua tahun kemudian, Riyan malah di paksa untuk menjadi guru pengganti di SMA MERAH PUTIH. SMA di mana Vania berada.

Akankah, kisah asam manis keduanya masih berlanjut? akankah mereka benar -benar bersanding di pelaminan, nanti? Ataukah, itu memang hanya masa lalu belaka?

yuk simak~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Pergi atau menetap?

***

Arka berjalan memasuki kelas,  dengan santainya dia mengambil satu kursi,  dan menyusun tiga kursi di mejanya. Tas dengan buku seadanya dia letak paling ujung. Tanpa beban dan tanpa rasa bersalah dia tidur di atas tiga kursi yang berjejer dengan tasnya.

"Arka,  kalo kau gitu. Entar Sandy duduk dimana?" protes Disha. Sedikit demi sedikit tampak Disha begitu memperhatikan Sandy.

Vania menoleh ke arah Arka yang sudah terbaring.

Apa Arka selalu tidur di kelas, karena kondisi tubuhnya?

Batin Vania,  dia selalu mencoba melupakan kejadian di rumah sakit. Dan menganggap Arka anak biasa. Namun itu sulit.

"Arka,  kamu gak papa? " tanya Vania memastikan.

"Enggak kok Van, tumben nanya gitu. Biasanya mah kalo gue tidur lo bodoamat, " kali ini Arka bangkit dan menyahuti Vania.

Vania tersentak halus.

Apa perlakuan aku buat Arka sadar? Hmmm?

"Enggak gitu,  kali aja kamu gak enak badan mungkin. " Vania mencoba setenang mungkin.

"Oh,  Udah lo tenang aja. Gue gak papa,  baik-baik aja kok. " Arka menyahutinya dengan lantang. Seakan-akan membuktikan bahwa dia benar-benar baik-baik saja.

"Aku dari tadi nanya loh Ka,  kenapa gak kamu jawab coba? " protes Disha,  dia hanya menatap datar ke arah Arka.

"Oh iya,  lo nanya apa? Gue lupa. "

"Sandy duduk di mana kalo kamu ambil serakah semua bangkunya? "

"Sandy hari ini gak sekolah Dish, dia keluar kota sama orang tuanya ada urusan. Tumben banget lo nanyain Sandy? Kangen? " Arka menaikkan alisnya menatap Disha.

"Iuh,  amit-amit kangen sama tuh anak. Hihh. " Disha bergidik ngeri. Tentu dia benar-benar menolak fakta bahwa dia merindukan Sandy. Bahkan Disha tidak tau,  apa itu rindu yang sebenarnya?

***

Pria ber jas formal itu melangkahkan kakinya masuk. Entah efek apa,  kenapa anak kelas XII IPA lima sebagian besar mendadak diam saat Riyan masuk. Entah sihir apa yang Riyan berikan.

Masih pagi,  dan Vania harus berhadapan lagi dengan Riyan.

Riyan mengedarkan seluruh pandangannya. Menatap satu persatu muridnya itu.

"Bagus,  kalian jadi penurut. Memang harus begitu, dengan begitu setelah kalian tamat kuliah. Akan saya pekerjakan di perusahaan saya. " Ujar Riyan dengan smirknya. Dia menatap anak-anak di sebelah kanannya.

Tampak anak-anak itu tersenyum bahagia. Mencari pekerjaan itu sangat sulit, bahkan untuk orang yang sudah tamat kuliah. Dan saat mereka masih SMA sudah di janjikan sebuah pekerjaan? Tentu saja mereka bahagia. Asal perusahaan Riyan masih berjalan dan tidak bangkut.

Ohhh,  jadi itu kenapa mereka nurut banget waktu di ajar om galak.

Vania manggut mengerti. Wajar,  permainan orang kaya.

Aku sadar,  aku ini tidak cocok menjadi seorang guru. Guru itu adalah orang yang hebat,  karna bisa menganggap anak orang lain sebagai anaknya sendiri,  mengajarkannya tentang pendidikan, juga arti kehidupan. Maaf,  aku tidak bisa menjadi seorang guru yang baik. Tapi, demi perusahaan ku. Aku harus menjadi guru kalian. Heh! Dan inilah cara ku menkan kalian!

Riyan tersenyum bangga. Dia duduk di kursinya. Riyan juga melirik ke arah Vania tersenyum menang. Namun,  ada yang janggal. Harusnya di balakang Vania masih ada Sandy dan Arka? Tapi keduanya menghilang. Dimana mereka?

"Dimana Arka dan Sandy? " Riyan mulai mengeluarkan nuansa tak sedap.

"Sandy izin pak, itu suratnya di meja. Dia pergi ke luar kota sama orang tuanya. Ada keperluan. " ujar Shina, dia kan sekretaris kelas. Absen mengabsen memang tugasnya.

Riyan melihat suratnya,  dia sama sekali tidak berminat membukanya sekarang.

"Lalu,  dimana bocah Arka itu? "

"Hadirrr pak ..." Tentu yang menyahutinya Arka sendiri. Dia bangkit perlahan dari tidurnya.

"Kau berani tidur pada saat jam pelajaran saya? " Riyan mulai menekan suaranya.

"Siapa yang tidur sih pak? " Arka dengan wajahnya yang setengah mengantuk,  menanyakan itu merasa dirinya tak bersalah.

"Tentu kau."

"Bapak gak liat aku buka mata nih,  duduk, bahkan ngomong sama bapak. Emang ada orang tidur yang  bisa ngomong?" Sungguh Arka sangat berani menyahuti begitu. Tentu karna dia anak orang kaya ketiga di Negara ini.

"Oh begitu, Kau berdiri di belakang. "

"Diri doang kan? Gampang!" Arka tanpa malu berjalan ke belakang,  berdiri tegak di sana.

Riyan menaikkan sebelah alisnya. Dia memang tidak suka Arka dekat dengan Vania. Tapi,  entah kenapa Riyan suka gaya Arka yang tanpa kenal takut.

"Oh ya,  kalian ini sudah kelas tiga, bentuklah kelompok belajar,  karna ujian semester satu akan di mulai bulan depan. Bentuk sekitar empat atau lima kelompok. Aku akan carikan guru privat untuk kalian. Guru yang baik, yang bisa mengasah pisau tumpul seperti kalian. " Maklum,  orang kaya. Cara ngajarnya berbeda. Riyan bahkan sudah mengakuinya sendiri,  bahwa dia memang tidak cocok untuk profesi semulia itu.

Semua murid menyunggingkan senyuman merkah, mendapay guru privat tentu bisa menambah ilmu pengetahuan mereka semua.

***

Vania membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dia terus menatap koper di atas lemari. Pikirannya berkecamuk ingin pergi dari rumah itu. Namun,  wajah manis Airin dan hangan Agung menahan keinginan Vania.

Vania tau benar,  bahwa sepasang suami istri itu sangat menyayanginya. Dan sangat tidak sopan bila Vania pergi dari rumah ini, di saat Agung dan Airin tidak ada.

Namun,  hinaan Riyan semakin lama semakin membuat Vania tercekik di rumah itu. Vania bertahan,  bukan karna ingin lagi melihat Riyan. Hanya saja, dia masih menghargai Agung dan Airin yang membawanya ke rumah itu.

Vania sendiri bingung,  haruskah dia tetap bertahan. Ataukah pergi saja?

"Kenapa melihat koper terus? Takut di usir? " ucapan itu di lontarkan oleh orang tampan yang tengah berdiri menyandari di pintu. Menatap Vania yang terbaring lesu.

"Mau apa ke sini? Ini kamar aku. Pergi deh. " mood Vania benar-benar hancur saat melihat orang itu.

"Kamar kamu bagian dari rumah ku,  artinya kamar ini milik ku. "

"Setiap hari ngancemnya rumah mulu. Gak bosen apa? Bapak maunya apa? Aku keluar daru rumah ini? Oke aku keluar sekarang! " Vania sudah muak. Cukup,  hinaan Riyan ada batasnya. Vania mengambil koper di atas lemari itu.

***

Hai hai,  Aku ada Novel baru nih. Mampir-mampir yuk, Kalo udah di sana jangan lupa like,  komen,  dan Vote yah^^

Judulnya Baby Anna

Sinopsis :

"Nafsu menghancurkan mu, entah itu harapan ataupun masa depan."

Kata orang Nafsu itu mengerikan, dan itulah yang di buktikan oleh Amel. Dia menyesali perbuatan yang di dasari nafsunya itu, berujung hadirnya janin dalam rahimnya.

Amel yang masih kuliah di rundung stress parah, dia tidak ingin anak ini merusak masa depannya.

Akhirnya Amel jatuh dalam sebuah keputusan, dia memberikan bayinya kepada Maura dan Angga, sepasang suami istri, yang tak kunjung memiliki anak.

Tapi, kejadian itu malah membawa petaka bagi Maura. Maura harus menerima fakta, bahwa suaminya Angga, telah bermain api dengan Amel.

Bagaimana kisah selanjutnya? Tinggal dengan siapa kah itu?

Note : Cerita ini hanyalah sebatas karangan dan haluan dari author.

Kuy mampir, masih baru banget loh.masih angett hehehe

1
Qaisaa Nazarudin
DASAR GILA,DIA YG MABOK MALAH NYALAHIN ANAKNYA..
Qaisaa Nazarudin
Ratden kalo niat mau nolong Vania tuh jangan setengah2,Tolong sampe tuntas..
Qaisaa Nazarudin
Lha ternyata Shandy beneran suka sama Vania? ku pikir cuman iseng nakal doang,udah terbiasa bercanda gitu..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan lagi tambah kepo aku,Apa maksud Rayden dgn rasa BERSALAH??
Qaisaa Nazarudin
Kok aku curiga ya sama Ortunya Riyan??
Dan aku masih kepo apa maksud Rayden tadi soal kecelakaan ortunya Vania?? 🤔🤔
Qaisaa Nazarudin
Lha kalo ia terus apa hubungannya dgn loe..Kenapa loe yg marah2? Dasar gak jelas..
Qaisaa Nazarudin
Noh udah sembuh kan dari Amnesianya..
Qaisaa Nazarudin
OMG Raka sakit apa??
Qaisaa Nazarudin
Nah pasti sembuh nih Amnesia nya. 🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kamu udah gede Vania,Masih punya Rumah sendiri,Usaha Cafe sendiri,Kenapa harus bertahan jafi benalu di rumah orang? Dulu kamu masih kecil jadi ortu nya Riyan kasian sama kamu yg hidup sendiri.. Sekarang belajarlah untuk hidup mandiri..
Qaisaa Nazarudin
Kok tau tuh bibi kerja udah puluhan tahun?? katanya Amnesia..😅😅😜😜
Qaisaa Nazarudin
Whaat baru 20 tahun umurnya yg bener thor? Saat Vania 3 SMP umur Vania 15 tahun,Dan umurnya Riyan 19 tahun lho,BEDA UMUR MEREKA 4 TAHUN lho, Sekarang Vania umur 18 Tahun, Masa ia Riyan masih 20 tahun?? Mana hilang umurnya Riyan yg lagi 2 tahun ya?? 🤔🤔🤔🤔🤣🤣🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kok manggilnya Om?? Beda umur 4 doang,Lagian Riyan umurnya baru 19 tahun juga..Ku pikir Vanoa manggil Om tuh umurnya Riyan udah 26-27 tahun gitu 🤣🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
3 SMP Berarti Vania umur 15 tahun ya,Riyan 19 tahun,Beda cuman 4 tahun doang..
Qaisaa Nazarudin
Waahh memory otak Riyan mundur beberapa tahun nih...
Qaisaa Nazarudin
Emang umur nya Vania ini berapa thor?
Yo rin
karena ganti hp sampai lupa sama novel ini
Siti Mas Ulah Ulah
si nathan noh bapaknya arfen,si legenda
🐾❤︎❣︎𝕲𝖗𝖊𝖞𝖓𝖆𝖙𝖙𝖆✰༆🌿
arka balik yuk nak, belum saatnya masuk😭
🐾❤︎❣︎𝕲𝖗𝖊𝖞𝖓𝖆𝖙𝖙𝖆✰༆🌿
udah pernah baca tapi gak bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!