Kemala adalah seorang wanita mandiri yang masih memiliki suami. Namun karena suami yang sangat pelit ia terpaksa bekerja sambil membawa anak nya yang masih kecil. setiap hari Burhan suaminya hanya memberi uang sebesar 10.000 rupiah beserta uang jajan untuk nya. Selama menikah dengan Burhan ia hanya tahu bahwa Burhan adalah seorang supir truk pengangkut sawit, tanpa ia ketahui suaminya itu adalah manajer di perusahaan kelapa sawit terbesar di kota itu. bagaimana kah kelanjutan rumah tangga Kemala? akan kah badai itu terus menerus datang ataukah akan ada pelangi setelah hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Aku Bukan Pelakor
"Siapa kalian? Dan Ibu, mengapa tiba-tiba menampar saya? Pelakor? Bahkan saya sendiri tidak tahu suami kalian itu siapa."
"Tamparan itu memang cocok di tujukan untuk wanita perebut suami orang seperti dirimu. Yakin kamu tidak mengenal suamiku?"
"Saya? Ibu yakin? Apa mungkin ada laki-laki yang tertarik dengan saya yang seperti ini?"
Kemala menunjuk dirinya sendiri.
Saat itu Kemala memakai pakaian lusuh dan jilbab lusuh nya. Kemala masih belum memiliki baju yang bagus. Ia sangat sibuk mengurusi pekerjaan nya, sehingga ia tidak sempat memikirkan penampilan nya.
"Nggak usah banyak cerita kau Kemala. Apa mungkin ini menjadi penyebab kau bercerai dengan suami mu?" Wanita muda yang berdiri disamping Ibu itu langsung mengucapkan kata demi kata.
"Suami ku? Kau mengenalnya? Luar biasa sekali, bahkan aku saja tidak mengenal kakak ini. Kok dia bisa kenal sama suami aku." Ucap Kemala lagi.
"Kakak? Siapa yang menjadi kakak mu! Bahkan wajah mu terlihat lebih tua daripada wajah ku yang cantik ini. Apa lagi penampilan mu yang tidak ada menarik nya sedikit pun."
"Lihat! Dia saja mengakui kalau saya tidak menarik. Lalu, apa mungkin suami kalian bisa tertarik dengan saya? Dan satu lagi. Wajah cantik tapi hati nya busuk itu nggak ada guna nya."
Karena kesal dengan perkataan Kemala, wanita muda itu langsung mendorong tubuh kurus Kemala. Untung saja ada Asih yang menahan nya.
"Kalian ini siapa? Kok datang-datang langsung main tampar orang. Kalian tahu, kalian bisa dilaporkan kalau begini."
"Salah nya yang menjadi Pelakor." Tunjuk wanita yang sudah berumur itu.
"Dari tadi kalian terus saja menuduh ku sebagai Pelakor. Ingat ya, Aku bukan Pelakor. Memang nya siapa suami Ibu? Sehingga Ibu bisa menuduh saya tanpa bukti."
"Ini, rumah ini bukti nya."
"Rumah ini? Ini bukan rumah saya. Saya menyewa rumah ini dari pak haji. Dan saya sudah membayar lunas untuk tiga bulan kedepan. Jadi Ibu nggak bisa menuduh saya seperti ini." Ucap Kemala dengan suara yang keras.
Kemala yang sedang pusing karena masalah nya datang bertubi-tubi seperti ini. Ia tidak tahu harus bagaimana sehingga dengan orang yang lebih tua pun harus meninggikan suaranya.
Para tetangga yang penasaran dengan ada nya keributan langsung mendatangi rumah tersebut.
"Loh, Buk Badriah? Ada apa ini ribut pagi-pagi begini? Kemala, Asih. Ada apa ini?"
"Oo kau mengenal Pelakor ini Nur? Apa jangan-jangan kalian kerja sama? Berapa kau di bayar oleh suami ku?"
"Ya ampun Badriah. Sudah tidak waras kau itu ya. Tidak tahu apapun malah menuduh Kemala yang bukan-bukan." Wak Nur yang kesal langsung menjawab begitu saja.
Padahal selama ini mereka selalu akur dan tidak pernah bermusuhan. Namun, pantang bagi Nurbaiti di salahkan seperti ini. Ia pasti akan melawan.
"Memang nya suami Ibu itu siapa Wak Nur?"
"Suaminya itu haji Badrun."
"Apa?"
"Kenapa kau terkejut? Apa memang benar kalian menjalin hubungan? Apalagi Siska bilang kau akan bercerai dengan suami mu itu. Pasti kau tidak mau hidup susah dengan menumpang hidup menjadi Pelakor."
"Jangan kan menjalani hubungan, wajah pak haji saja aku tidak tahu seperti apa. Rumah ini disewakan dengan perantara. Bahkan dari dulu. Bukan kah begitu Bu Badriah?"
"Pelakor dimana-mana pasti nggak akan ada yang mau mengaku."
"Daritadi kau itu terus menyudutkan kak Kemala. Siapa kau itu sebenarnya?" Tanya Asih geram.
"Dia anakku Siska. Dari teman nya Siska aku tahu kalau Kemala adalah wanita yang sedang mendekati suamiku. Dan Suami ku bahkan memberikan rumah ini untuk nya."
"Siapa nama teman mu Siska? Tanya Kemala.
" Sudah bu, nggak usah di perpanjang lagi masalah ini. Mereka cuma mau mencari pembelaan."
"Bukan nya kamu yang mau lari. Takut?"
"Buat apa aku takut sama wanita seperti mu."
"Lalu? Mengapa ingin langsung pergi setelah membuat keributan."
"Aku hanya tindak ingin berurusan dengan Pelakor yang takut hidup susah seperti mu."
"ha ha ha hidup susah? Aku takut hidup susah?"
Kemala tertawa terbahak-bahak saat mendengar perkataan Siska. Bagi Kemala perkataan itu sangat lucu.
"Selama menikah, aku sudah hidup susah Siska. Uang makan untuk mengisi perut ku ini, aku harus mencari nya sendiri. Bahkan aku tidak tahu kapan terakhir kali aku membeli baju baru. Lihat lah anak ku, dari lahir sampai sekarang tidak pernah merasakan kasih sayang ayah kandung nya. Aku, sudah janda sejak lama. Dan anakku menjadi yatim semenjak ia dilahirkan. Dan baru sekarang aku berani cerai dari nya. Karena apa? Karena aku tidak ingin ma-ti sia-sia di tangan Suami dan mertua ku."
Bu Badriah langsung menutup mulut nya karena terkejut dengan cerita Kemala. Siska hanya diam saja karena dia memang sudah lama tahu tentang rumah tangga Kemala.
"Namanya Tiwi. Dia itu teman nya Siska." Ucap Bu Badriah.
"Tiwi? Oh Maling teriak Maling rupanya ya."
"Siapa yang Maling? Jangan asal ngomong kau Kemala. Menuduh orang sembarangan." Ucap Siska.
"Hey Siska, yang di maksud Kemala itu bukan maling beneran. Bo-doh sekali kau itu. Aku saja yang tidak sekolah tahu maksudnya." Ucap Wak Nur sambil tertawa mengejek.
"Iya. Apa kau mengenal nya Kemala?" Bu Badriah yang penasaran tidak ingin memperdulikan anak dan teman nya itu yang sedang berdebat.
"Tentu saja aku mengenal nya. Wanita yang menyukai suami ku dari dulu. Bahkan ketika ia sudah menikah dengan Bang Beni, Abang kandung suami ku."
"Jaadi...kau!"
"Iya, aku lah menantu yang tak pernah di anggap itu. Kemana aja Ibu selama ini sampai ketinggalan informasi terhangat di kampung ini?"
"Jadi, kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengan suami ku?"
"Minta saja bukti nya kepada Tiwi. Dia lah Pelakor yang sebenarnya yang telah menghancurkan rumah tangga ku."
"Sebaik nya kau pulang saja Badriah. Satu kampung ini juga tahu bagaimana Kemala. Kau saja yang ketinggalan berita. Minta maaf kau pada suami mu. Berdosa kau sudah memfitnah suami yang tidak tahu apa-apa."
"Siska! Ayo pulang. Bikin malu saja."
"Tapi Bu, Tiwi nggak mungkin bohong."
"Bu Badriah, bisa minta Nomor whatsapp Ibu? Saya akan mengirimkan foto Pelakor yang sebenarnya." Ucap Asih tidak ingin ketinggalan. Akan ia berikan pelajaran kepada wanita yang sudah mengusik Kemala.
"Ini nomor saya dek."
"Di tunggu ya."
Asih pun mengirimkan foto-foto Tiwi bersama Burhan. Banyak foto-foto kebersamaan mereka yang di dapat Asih dari akun lambe-nyinyir.
"Ini?"
"Iya. Begitulah kenyataan nya. Dia telah menjadikan Kak Kemala Janda sejak lama."
"Makanya Badriah, kau itu sekali-kali gabung sama emak-emak di sini. Biar tahu gosip terhangat. Jangan nanti kau tuduh lagi perempuan lain jadi pelakor."
"Aku minta maaf Nur, aku tidak menyangka anak ku Siska bisa bergaul dengan wanita seperti Tiwi."
"Mereka itu bestie Badriah. Sudah lama mereka berteman."
"Yasudah kalau begitu, aku permisi dulu Nur. Sekali lagi aku minta maaf."
Bu Badriah dan Siska akhirnya pulang. Siska sangat kesal tidak berhasil memprovokasi Ibu nya. Padahal Tiwi sudah menjanjikan tas keluaran terbaru jika ia berhasil.
"Ibu itu benar istrinya Haji Badrun bu?" Tanya Asih.
"Iya. Emang kenapa?"
"Kok kayak lain gitu. Kebalikan nya Kak Mala dan Bang Burhan."
Asih tertawa sambil menutup mulut nya. Memang tidak salah apa yang dikatakan Asih. Setiap orang yang mengenal Haji Badrun pasti mengatakan hal yang sama.
"Haji Badrun orang yang sederhana. Beda dengan istri dan anak-anak nya." Ucap Wak Nur.
"Kenapa istri nya nggak di panggil Buk Hajjah seperti suami nya bu?"
"Ya karena memang bukan bu Hajjah."
"Tapi Pak Haji?"
"Pak Haji itu juga belum naik Haji. Masyarakat di sini memanggil nya begitu karena beliau sering membantu orang-orang yang ingin naik Haji. Pernah ada yang nanya kenapa beliau nggak mau naik Haji, jawabannya karena beliau masih belum pantas."
"Padahal selama ini banyak yang pengen naik Haji ya bu."
"Pak Haji Badrun takut tidak bisa mempertanggung jawab kannya. Entah lah Asih, kita kan nggak bisa menyamaratakan manusia."
Kemala hanya diam menyimak perkataan Ibu dan anak itu. Pikiran nya saat ini berkelana entah kemana.
Akankah Kemala mampu menyelesaikan masalah ini?
Bersambung...
wajar di siksa burhan