Karena sebuah kecelakaan membuat Senja Mahalini mengalami amnesia. Senja yang masih dalam keadaan bingung akan kondisi nya kembali di kejutkan dengan pengakuan dari seorang dokter tampan yang merawatnya selama ini.
Raka Bumi Prawija, dokter tampan yang merawat Senja. Menggantikan dokter yang di anggap tidak bisa menyembuhkan Senja, mengakui jika dia dan Senja adalah pasangan suami istri dan mereka sudah menikah sebelum kecelakaan itu terjadi.
Lalu, bagaimana jadinya. Saat ingatan Senja kembali dan mengetahui jika Bumi bukanlah pria yang sudah menikahinya?
Bagaimana juga kelanjutan dari pernikahan Senja, saat Senja tahu jika orang yang ada di balik kecelakaan itu adalah suaminya dan juga kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24
Selia membulatkan matanya saat membuka sebuah surat yang baru saja datang dan di peruntukkan untuk dirinya.
Sebuah surat gugatan cerai yang di ajukan oleh Langit Mahardirga sebagai si penggugat dan Selia Anjani sebagai tergugat.
Tangan wanita itu bahkan sampai tremor saat membaca kalimat demi kalimat yang tertulis dalam surat gugatan yang saat ini dia pegang.
"Tidak, ini tidak mungkin. Kenapa? Kenapa tiba tiba dia begini?" gumam Selia terduduk lemas di atas sofa di ruang tamu rumah nya.
Sungguh, Selia begitu shock karena tiba tiba mendapatkan kirim sebuah surat gugatan cerai dari Langit setelah di tinggalkan pergi selama satu minggu lebih oleh pria itu.
"Tidak, ini bukan waktunya untuk menangis. Aku harus berbuat sesuatu. Mama, iya Mama, aku yakin saat ini hanya Mama Elda yang bisa membantuku." gumam Selia lagi saat matanya mulai mengeluarkan air mata.
Selia pun akhirnya bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan rumah untuk pergi ke sang mertua.
Selia yakin, jika saat ini yang bisa membantunya hanyalah Mama Elda. Karena selama ini, Langit terlihat sangat patuh pada wanita baya itu.
Langit sama sekali tidak pernah membantah dan menolak semua permintaan Mama Elda. Hingga, Selia pun berpikir, mungkin saat ini Mama Elda bisa membantunya membujuk Langit untuk tidak menceraikan nya.
["Bagaimana? Apa dia pergi]
"Iya, Tuan. Sama seperti dugaan anda, Nyonya langsung pergi setelah mendapatkan surat dari pengadilan,"
["Baiklah, terus awasi dia dan laporkan semua yang dia lakukan selama dia berada di dalam rumah,"]
"Baik, Tuan,"
["Baiklah. Lanjutkan tugas Bibi, jangan sampai dia curiga jika kita selalu berkomunikasi,"]
"Baik, Tuan. Saya tutup teleponnya kalau begitu."
Bi Imah pun segera menutup teleponnya, lalu bergegas kembali melakukan pekerjaan nya seperti biasa agar Selia tidak curiga jika selama ini Bi Imah menjadi mata mata untuk Langit.
Selia pun terus melajukan mobilnya menuju ke rumah mertuanya. Selia berharap dengan mendatangi dan membujuk Mama Elda akan membantunya menggagalkan perceraian nya dengan Langit.
*
*
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mobil yang di bawa oleh Selia pun tiba di halaman rumah Mama Elda.
Seperti biasa, kedatangan nya di sambut baik oleh para pekerja yang bekerja di rumah keluarga Mahardirga.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Selia saat salah seorang satpam di rumah itu membukakan pintu gerbang untuknya.
"Iya, sama sama Nona besar." jawab sang satpam menunduk hormat pada Selia.
Selia pun kembali melajukan mobilnya memasuki halaman rumah keluarga Mahadirga yang memiliki halaman yang cukup luas itu.
Hingga membutuhkan beberapa saat untuk tiba di depan rumah besar dan mewah itu.
Setelah memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah itu, Selia pun segera turun dan berjalan memasuki rumah Mama Elda.
"Assalamualaikum," ucap Selia saat memasuki rumah mertuanya.
"Waalaikumsalam, eh Nona Selia. Sendirian Non?" jawab Mbok Jumi yang saat itu menyambut kedatangan Selia.
"Iya, Mbok. Saya datang sendiri, Mama ada di rumah?" jawab Selia seraya bertanya tentang keberadaan mertuanya di rumah itu.
"Nyonya sedang keluar Non. Kebetulan hari ini Non Senja ada jadwal kontrol ke rumah sakit. Jadi, Nyonya pergi untuk menemani Non Senja,"
"Oh, begitu ya. Kira kira jam berapa ya Mama akan pulang?" tanya Selia lagi yang sudah mulai terlihat panik karena orang yang dia cari ternyata sedang tidak ada di rumah.
"Kalau untuk itu, saya kurang tahu Nona. Karena Nyonya tidak bilang akan pulang jam berapa berapa nya. Memang nya kenapa, Non? Apa ada yang penting?" tanya Mbok Jumi, menatap penuh tanya pada Selia.
"Iya, ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama dan ini cukup penting," jawab Selia dengan wajah yang panik.
"Kalau begitu, Non tunggu saja dulu. Siapa tahu sebentar lagi Nyonya dan Non Senja pulang,"
"Benar juga. Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu. Tolong buatkan aku kopi ya Mbok, aku akan menunggu di ruang televisi," lanjut Selia yang tidak memiliki pilihan lain selain menunggu mertuanya pulang dari rumah sakit.
"Baik, Nona. Tunggu sebentar, akan saya buat kan kopi nya."
Setelah itu, keduanya pun berpisah dengan Selia yang pergi ke ruang televisi dan Mbok Jumi pergi ke dapur untuk membuatkan Selia kopi.
Berbeda dengan Selia yang tengah menunggu kepulangan Mama Elda dengan cemas. Saat ini, Langit malah terlihat tengah duduk di pinggir pantai dengan beralaskan hamparan pasir putih yang luas.
Berulang kali pria itu terlihat menghela nafas yang panjang dan juga berat. Sulit di percaya dan di terima, jika selama ini wanita yang dia nikahi tega menipu dirinya dan juga keluarga nya.
Hingga, kedatangan sebuah bola yang mampir di kepala nya pun akhirnya membangunkan pria itu dari lamunan nya.
"Bruugggghhhh....."
"Awww....." seru Langit saat merasakan sebuah benturan di kepalanya akibat sebuah bola yang entah datang dari mana dan mendarat tepat di kepalanya.
"Astaghfirullah al adzim, maaf, Tuan. Saya tidak sengaja," ucap seorang wanita yang datang menghampiri Langit dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari mengejar bola miliknya yang terlempar jauh hingga mengenai kepala Langit.
"Iya, tidak ap_____ anda? Wali murid nya di kelas Liona, kan?" ucap Langit saat melihat jika wanita yang menghampiri dirinya itu adalah Mentari, wali kelas Liona sebelum gadis kecil itu di pindahkan ke sebuah sekolah yang memiliki asrama.
"Papanya Liona? Maaf, saya benar benar tidak sengaja," jawab Mentari dengan raut wajah yang sangat menyesal.
"Tidak apa apa, tapi ngomong ngomong. Anda sedang apa di sini? Bukan nya seharusnya anda masih mengajar? Ini belum waktunya liburan, kan?" tanya Langit, saat melihat Mentari di sana.
Padahal, setahu Langit ini masih jam nya Mentari untuk mengajar para murid murid di sekolah yang dulu juga di tempati putrinya untuk bersekolah.
"Saya sudah tidak mengajar di sana Pak. Insya Allah, mulai minggu depan saya akan mengajar di sekolah yang ada di kota ini. Bapak sendiri, sedang apa disini? Pasti liburan bareng keluarga, ya? Oh iya, Liona mana? Saya kangen sekali sama Lili," tanya Mentari, karena memang pada saat Langit membawa Liona. Mentari sudah pamit dari sekolah itu untuk pindah tugas ke luar kota.
Jadi, Mentari sama sekali tidak tahu jika Liona juga mengikuti jejaknya. Keluar dari sekolah itu dan pindah ke sekolah yang ada di luar kota.
so sweet & bikin adem bacanya😍😍😍
Adam partner bisnis di atas ranjang
Bumi laki" yg di cintai Selia
Bnr" Seliaa😱😱😡😡
Smua pria ingin di kuasai
Trnyata Senja & Bumi👍🏻👍🏻
Haduh kebablasan tuh mulut🤣
Selia mencintai Bumi
Bumi mencintai Senja
Selia hamil sama Adam
Adam menikahi dg Senja
Senja mencintai Bumi
Selia menikah dg Langit
Kisah cinta ruwet🤕🥴😅