Dalam imajinasiku, wajah Henri yang bagian kiri sangatlah buruk, jadi dia memakai topeng.
Rania POV
Aku tulus mencintaimu Tuanmuda, walaupun orang menganggap mu hanya seorang monster.
Cintaku tanpa syarat, itulah yang aku rasakan dengan suamiku.Disaat orang - orang menatapnya dengan tatapan takut.
Tapi aku justru,selalu ingin dekat dengannya.Karena aku sangat mencintainya, walaupun ia selalu meragukan perasaanku padanya.
Karena ia mengira perasaan cintaku, hanya rasa kasian ku padanya, akibat wajahnya yang buruk rupa.
Henri pov.
Apakah dia betul-betul mencintaiku, atau rasa kasian,karena kami menikah atas dasar paksaan dariku, sebab orang tuanya mempunyai banyak hutang padaku.
Tapi aku tidak pernah berharap dia mencintaiku, karena aku menyadari kekuranganku,dengan wajahku yang bak monsther, tidak mungkin ada wanita yang mau mencintaiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon popyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep.24.Aku ingin kau menciumku.
🏥 Rumah sakit🏥
Rania melepaskan pelukannya, dan tersenyum menatap Suaminya, dengan tatapan yang begitu mendalam.
" Anda sangat tampan Tuan.."Ucapnya, dengan memegang pipi Suaminya.
Tatapan mata lelaki tampan itu, memperhatikan wajah istrinya dengan seksama. Seperti ada guratan kesedihan yang terpampang jelas di wajah wanita cantik Rania.
" Kenapa kau tampak tidak semangat, apakah kau tidak senang melihat wajahku kembali kesemula..?" Tanyanya, penuh selidik hingga tatapan mata itu, ikut menyurut.
" Ti.., tidak Tuan, aku sangat senang kalau wajah mu sudah kembali, kau hanya salah paham Tuan." Jawabnya, berbohong.
Henri menyerngitkan dahinya, pria tampan itu sejenak memikirkan omongan istrinya.
" Aku rasa aku tidak salah paham, apakah kau bersedih karena Merindukan pria lain?, Karena kau pikir, jika wajahku sudah kembali, maka aku akan melepaskanmu begitu saja, Kau lupa apa Rania tentang perjanjian kita."
" Tidak Tuan, aku tidak melupakannya sama sekali.
" Bagus kalau begitu, sekarang cepat cium aku. Apakah kau akan memberikan ucapan selamat kepada Suamimu hanya dengan sebuah pelukan..?" Dengan menatap kesal istrnya, yang mewakili perasaannya saat ini.
" Anda ingin aku menciummu Tuan?" Tanya Rania memastikan, keinginan sang Suami.
" Hemmm..., kenapa tidak boleh?"
Tanpa menjawab pertanyaan Suaminya, Rania langsung memberikan kecupan singkat di pipi kanan Henri.
" Sudah Tuan." Serunya, tersenyum malu hingga wajah itu merona.
" Kau sangat bodoh Rania, bukan maksudku disitu, tapi disini." Ucapnya, dengan menunjuk bibirnya karena ia ingin mereka berciuman.
Sedikit terkejut mendengar, saat permintaan Suaminya, saat Henri memintanya untuk mencium bibirnya.
" Aku takut ada yang tiba - tiba masuk Tuan." Tolak Rania.
" Memang siapa yang akan masuk Rania."Berbicara dengan nada kesal, sebab Rania menolak keinginannya.
" Aku takut Bibi Sophia,atau mungkinkah sekretaris Jhon, nanti saja Tuan, kalau kita sudah pulang kerumah." Bujuk Rania, pada Suaminya.
" Apa kau bilang?, jadi kau mau aku menunggu sampai kita pulang?, tadi kau dengarkan Dokter bilang aku baru bisa pulang setelah tiga hari lagi, jadi kau mau aku tunggu selama itu.?" Bertanya disembari tatapan tajam,dan volume suara sudah mulai meninggi.
" Tapi Tuann.."Ucapnya, yang tetap tidak ingin mencium bibir Suaminya.
" Sekarang kau tinggal pilih mau mencium bibirku, atau aku akan menambah hutangmu."
" Anda sangat curang Tuan." Timpal Rania, dengan menatap kesal Suaminya.
" Suka - suka aku, karena kau yang berhutang padaku, bukan aku yang berhutang padamu."
Menghela nafas panjang, berusaha untuk menahan kekesalannya.
" Hanya sebuah kecupan Tuan, setelah sampai di rumah, baru aku akan memberikan ciuman yang lebih panjang."
" Baiklah, Terserah kau saja."
Lalu dengan perlahan Rania duduk disebelah Suaminya, dan ia menatap bolamata berwarna cokelat itu, dengan tatapan penuh cinta.
Seketika tatapan mata mereka saling mengunci, adanya getaran cinta yang terjafi disana. Detakan jantung mereka, berpacu lebih cepat, itulah yang dirasakan oleh keduanya saat ini.
Tapi karena rasa ego yang begitu besar, membuat mereka berdua, tidak mau mengakui satu sama lain.
" Apa yang aku rasakan, kenapa jantungku rasanya berpacu lebih cepat.Disaat tatapan kami bertemu, apakah aku sudah jatuh cinta padanya. Tidak ,tidak mungkin.Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya, tapi kenapa rasanya begitu bedah." Bathin Henri, dengan menatap dalam kedua bolamata istrinya.
" Tuan aku tidak bisa membohongi diriku, kalau aku sudah benar - benar jatuh cinta padamu.Kau buat aku semakin tenggelam dengan lautan asmaramu, hingga sulit bagiku untuk keluar"
Bibir mereka terus saling mendekat, dan dengan nafas saling memburu, dan tatapan mata saling terkunci. Ntah siapa yang memulai, mulut mereka semakin mendekat, hingga membentuk sebuah ciuman, ciuman yang singkat yang awal diinginkan Rania, menjadi ciuman yang sangat panjang, karena terdapat cinta di sana, yang mereka tuangkan lewat ciuman yang mereka lakukan saat ini.
Henri meraih tengkuk istrinya, yang semakin memperdalam ciuman mereka.
Bibir mereka saling bertautan, dan jangan lupa tangan Henri Wilson, tentu saja sudah tak dapat dikontrol lagi.
Seketika Rania langsung melepaskan pagutannya, saat ia menyadari mereka sedang berada dimana.
" Tuan, ingat kita sedang berada di rumah sakit." Serunya, yang mengingatkan tentang keberadaan mereka saat ini.
" Aku tau kau pikir aku gila apa, mau melakukan disini." Seru Henri, yang terdengar kesal.
sayang kan kalau cerita bagus, tapi bahasa ga enak dibaca, bikin males.