Luna yang hidup dengan kakeknya yang sudah tua mau tidak mau menerima pernikahan paksa yang sudah diatur oleh sahabat kakeknya.
"Kakek aku hanya ingin menemani Kakek dimasa tua," Luna berkata lirih sambil menyentuh tangan keriput kakeknya.
Tidak pernah terlintas di pikiran Luna jika akan menikah dalam perjodohan, Luna gadis polos dan tidak neko-neko harus menikah dengan CEO yang dingin dan galak tidak pernah dekat dengan seorang wanita.
Lalu bagaimana Luna bisa menjalani pernikahan dengan suami yang super Perfect, sedangkan dirinya merasa seperti Upik abu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Al-Humaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ranjau Luna dan Raditya
...Ranjau ngak suka skip 🤣...
Suasa malam yang dingin tidak tidak membuat kedua orang yang bergumul di atas ranjang berhenti, justru keduanya merasakan panas yang membuat tubuh keduanya berkeringat.
Raditya menelan ludah dengan susah payah, saat melihat tubuh Luna yang polos. Mungkin ini pertama kali untuk Raditya melihat tubuh polos seorang wanita, dan ternyata wanita itu adalah istrinya sendiri. Sebagai pria dewasa Raditya memang tidak pernah bersentuhan intim dengan seorang wanita, ia menggunakan nalurinya yang bekerja membuat Luna pasrah dengan keadaanya.
"Om jangan liatin aku kayak gitu," Luna merapatkan kakinya dan menutup kedua dadanya menggunakan tangan. Wajahnya memerah malu di tatap Raditya seperti itu.
Raditya menarik kedua tangan Luna untuk menyingkirkannya, "Kenapa malu, aku suamimu bukan orang lain." Raditya mengecup bibir Luna.
********** dan kembali menggoda menghadirkan gelayar-gelayar aneh dalam diri keduanya.
Raditya mengangkat wajahnya dan menatap wajah Luna yang tampak sayu.
Bibir Raditya turun ke bawah, mengecup dagu Luna sampai ke dada dan memberikan tanda kepemilikan di sana hingga bibir basah Raditya semakin turun dan berhenti di tempat di bawah perut rata Luna.
Ahhh
Luna mendesahh saat Raditya menyesap kulitnya dibagian perut. tangan Luna mencekram erat kain sprei di bawahnya saat kedua tangan Raditya melebarkan kedua pangkal kakinya.
Tatapan Raditya menggelap, jakunnya naik turun dengan napas yang terasa begitu berat. Belahan daging kenyal seperti bunga mawar kuncup terlihat begitu indah, warna peace yang begitu kontras dengan kulit Luna yang putih bersih.
Perlahan wajah Raditya mendekat hingga bibirnya meniup belahan daging kenyal kuncup itu membuat Luna mendesahh berat.
Fyuuhh
"Shh, enghh." Luna menggerakkan tubuhnya gelisah, rasa dingin menyerang tubuhnya saat Raditya meniup surganya, sungguh rasanya membuat syaraf dalam tubuhnya mati.
"Ahhh Om!" Rintihan Luna bersaman tubuhnya yang mengejang saat merasakan sapuan bibir hangat mengecup dan bahkan menyesap seperti eskrim yang begitu lezat.
Kepala Luna sampai bergerak ke kanan dan kiri saat merasakan sesuatu menyerangnya bertubi-tubi. Tubuhnya begitu sensitif membuat Luna tidak bisa diam, bibirnya terus bergumam dengan lenguhan dan desahann yang membuat Raditya kian semakin bersemgat untuk mengobrak abrik di bawah sana.
Lidah dan bibir Raditya bergerah cepat saat merasakan milik Luna berkedut- kedut.
"Ahh Om, Luna mau shh uhh pipis!" Ucapnya dengan tersengal-sengal.
Gulungan gelombang dahsyat seolah akan menerjangnya, tangan Luna yang tadinya mencekram kain sprei kini berpindah meremat kepala Raditya di bawah sana, menekan kepala lebih dalam seolah menegaskan jika dirinya akan segara sampai, Raditya yang mengerti semakin buas menguasai milik Luna, hingga saat gelombang nikmat datang melesak dengan cepat dan-
Arggkk
Tubuh Luna mengejang sempurna dengan kepala mendongak, Raditya tersenyum puas saat melihat cairan hangat Luna meleleh begitu banyak.
Sebelum mengangkat kepalanya, Raditya mengecup sebentar dan kini ia menatap wajah Luna yang penuh dengan keringat, dada Luna naik turun seiring dengan napasnya yang memburu.
Raditya sudah melepaskan segitiga birunya penutup terakhir, tangannya membawa burung perkutut ke depan rumahnya untuk berkenalan.
Uhhh
Luna kembali meleguh saat merasakan gesekan benda tumpul nan keras itu menyentuh bibir bawahnya, hingga Luna merasakan sodokan yang sangat kuat dan membuatnya begitu sakit saat tiba-tiba melesak begitu sulit.
"Akkh, Om s-sakit." Luna meringis dengan rintihan kesakitan.
Sudut matanya basah seolah menandakan jika dirinya benar-benar merasakan sakit.
"Sial, kenapa susah sekali." Umpat Raditya yang begitu sulit memasukkan burung perkutut nya kedalam sangkar. Padahal Luna sudah sangat basah.
Melihat Luna yang sudah menangis, membuat Raditya tidak tega, tapi dirinya juga tidak akan berhenti begitu saja di tengah jalan.
Raditya melumatt bibir Luna lembut menyalurkan rasa nyaman agar Luna rileks.
"Mungkin akan sedikit sakit, kamu tahan sayang nanti juga akan enak." Ucap Raditya dengan tatapan yang sudah tidak bisa menahan hasratnya lagi.
Hingga Raditya kembali mengarahkan burungnya, kali ini Raditya sedikit memaksa, dan
Nyess
Akkkh-emph
Luna kembali menjerit, dan Raditya langsung membungkam bibirnya dengan sebuah lumatann. Hingga saat Raditya melesakkan dengan sedikit paksaan, jeritan Luna semakin keras di iringi dengan cengkraman kuat jari-jari Luna di punggung Raditya Saat burung perkutut Raditya masuk sempurna dengan penuh perjuangan menembus dinding seorang gadis perawan.
Jleb
Arggkk
Raditya bersama Luna, sama-sama merasakan tubuhnya seperti terbelah menjadi dua, keduanya melakukan hubungan suami istri sama-sama untuk yang pertama.
Rasanya begitu sakit dan membuat kepala pening, tapi setelahnya keduanya justru sama-sama menikmati sentuhan percintaan yang begitu melenakan untuk terus bergerak mencari kenikmatan.
Awal kisah mereka dalam berumah tangga ataupun percintaan, banyak batu kerikil yang menunggu mereka di depan sana, karena sejatinya rumah tangga tidak ada yang berjalan dengan mulus, mereka diuji dengan ujiannya masing-masing.
"Sempit sekali sayang, ahh" Raditya bergerak secara konstan dan menghasilkan rasa yang begitu luar biasa.
Sedangkan Luna begitu pasrah dengan bibirnya yang terbuka dan tutup mengeluarkan suara merdunya yang semakin memancing gairah Raditya begitu hebat.
"Ahh Om, mau p-pipis Ahhhh,"
Syuurr
*
*
Mansyurrr🤧