Baca sinopsis dulu
Adrine adalah anak biasa. hidupnya berubah ketika ia menemukan sebuah Divine Cube.
Semuanya berubah dan berubah. ia dapat mengalami seluruh kondisi kondisi yang ada. Adrine bisa mengalami bagaimana rasanya kemenangan, tersiksa, ditantang, dan situasi yang lainnya. Namun ia tidak pernah menyerah dengan keadaan. Dirinya terus berkultivasi dan berusaha menjadi yang paling kuat dan bersama temannya, dirinya akan menjadi seorang Dewa.
Ingin tahu kisahnya?
Ini ceritanya ngawur, buat yang ga paham ga usah dibaca gapapa, soalnya ini cerita gw bikin pas masih SMP, belum kenal apa yang namanya alur, logika, setting cerita, dll
Jadi ini cerita cuman ngikut imajinasi liar gw yang .... Aduh, dah lah!
Mending baca aja karyaku yang
Lug : Nedhen Star [Reincarnated of Acestral Dimension]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nicho Yudhistira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertunjukan (2)
SLAAAH! SLAASH! CRASHT**! .
Monster laba-laba milik Kania telah tumbang, dan kembali ke wujud sebuah jiwa. Adrine menggunakan kecepatannya sebagai andalannya. Adrine juga menggunakan sub-skill Dead Silent agar pergerakannya tak bisa dilihat maupun dibaca.
'Apa apaan bocah ini, dia... dia, gerakannya seperti tak terlihat. Pola serangannya pun juga tak dapat dibaca sedikitpun. Siapa sebenarnya bocah ini??' Kania bertanya tanya pada dirinya sendiri. Ia berpikir tak mungkin seorang bocah ingusan dengan pencapaian sungai bisa mengalahkannya.
Adrine mulai menggunakan pisau belati miliknya. Ia masih mengandalkan kecepatannya.
SLAASH! CRAASHT**! .
"Aku tak percaya, kera sebesar itu tumbang dalam sekali tebas. Haha." Adrine mengalahkan monster kara tersebut hanya dalam sekali tebas saja.
'Mungkin benar dengan kecepatan yang seperti itu ia diverifikasi sebagai tipe assassin, tapi bagaimana dengan kedua pasukan tersebut?' Kania masih memikirkan kemampuan milik Adrine.
"Mengalahkannya terlalu mudah, tak perlu pakai Light Body Dagger." Kata Adrine.
'Yah benar, aku tahu, aku bisa merasakannya. Kedua pasukan itu, jika mungkin aku punya 100 pasukan, mungkin tak akan bisa mengalahkan dua pasukan tersebut, bahkan dengan skill -grow up-. Iya benar.' Kania masih terus memikirkan hal tersebut.
"..."
"Aku menyerah!" Kata Kania.
"Apa? Kau bilang apa tadi?" Tanya Adrine memastikan.
"Apa kau tuli!? Aku menyerah! Apa aku harus mengeja untukmu, ha?" Kata Kania yang masih agak emosi.
"Hah, semudah itukah? Kau menyerah? Kau bahkan belum menunjukan gaya bertarung milikmu, Hehe!" Adrine yang berbalik mengejek Kania.
"Pertarungan ini dimenangkan oleh ADRINE!!!" wasit langsung mengumumkan pemenangnya. Adrine dan Kania turun dari arena hampir bersamaan. Adrine langsung menemui Arpha.
"Wah, tak kusangka kau sangat kuat. Kau mengalahkan mage pencapaian gunung level-1 semudah itu?" Arpha langsung bertanya tanya sesaat Adrine turun dari arena.
"Yah, begitulah." Kata Adrine.
"Oh ya, bukankah kau itu tipe assassin? Bagaimana mungkin kau mengeluarkan pasukan?" Tanya Arpha.
"Oh, sebenarnya aku ini tipe mag-assa (Mage-Assassin)!" Jawab Adrine.
"Oh, bisa begitu ya? Mungkin aku harus serius saat menghadapimu nanti!?" Kata Arpha.
"Ah, biasa saja. Aku tak akan mampu mengalahkanmu nanti, kau itu berlebihan, hehe." Kata Adrine.
"Haha, tolong jangan terlalu keras ya!" Kata Arpha. Dan disaat waktu yang bersamaan, nama Arpha dipanggil untuk memasuki arena.
"Semoga kau berhasil!" Kata Adrine.
"Baik." ...
"..."
"Pemenangnya adalah ARPHA!!" Kata dari wasit.
"Kau itu sangat hebat ya!?" Puji Arpha.
"Ah jangan begitu... Kita ini nantinya adalah saling berlawanan. Mari kita latihan dulu." Kata Arpha.
"Ah, iya juga. Kalau kita akan berlawanan, kenapa mengajakku berlatih bersama? Semoga beruntung!" Kata Adrine menyindir.
"Baiklah, semoga beruntung juga!" Begitupun Arpha.
Keduanya berpisah di tempat tersebut. Mereka berlatih dengan sungguh sungguh. Pertandingan akan dimulai dalam 10 menit lagi. Adrine telah memperkirakan waktunya. Ia berkultivasi untuk meningkatkan energinya.
Hingga 10 menit berikutnya, tak ada yang tahu Adrine berada dimana. Yang secara tiba-tiba, Adrine muncul begitu saja dari belakang arena. Dan dalam waktu yang bersamaan, nama Adrine dan Arpha terpanggil untuk bertanding memperebutkan posisi pertama. Keduanya memasuki arena bersama sama.
Point indera yang dimiliki oleh Adrine tidaklah tinggi. Namun, cukup untuk merasakan aura yang sangat kuat dari Arpha.
"Aura milikmu itu tak pernah semengerikan ini. Kau sedang bersungguh sungguh kah?" Tanya Adrine meledek.
"Itu pasti. Bagaimana denganmu?" Arpha menanyakan balik.
"Jangan tanya lagi!! Mari kita mulai!!" Seru Adrine.
"MULAI!!!" Seru wasit memulai pertandingan.
MC ny ga jelas,, bgtu jg author ny gmn sih?
dri Sistem