Danisha putri, gadis berusia 25 tahun yang harus bekerja seumur hidupnya untuk membayar hutang pada Boss nya atas apa yang dia lakukan, belum lagi dia adalah seorang single parent untuk seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang dulu tiba-tiba dia temukan didepan kost nya waktu anak itu masih bayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
baba 24
my Dika 24
banyak yang komen kalau cemburu nya Dika kayak anak kecil 😂
tapi author setuju 😝
happy reading 😉
----------
"Saya sudah menyelesaikan semua tugas saya, saya mau pulang, mana handphone saya?" Danish meletakkan map berisi laporan yang sudah dia print ulang dimeja kerja Dika dan mengulurkan tangannya meminta handphone kembali
"Saya belum mengizinkan kamu untuk pulang" jawab Dika tanpa melihat wajah Danish
"Tapi ini sudah lebih dari yang seharusnya, apa ini dihitung lembur?" Tanya Danish
"Tentu, temani aku makan malam, aku akan menambah uang lembur mu tiga kali lipat" jelas Dika
"Tapi aku tidak bisa, Kevin sendirian di rumah" tolak Danish, sebenarnya bukan hanya alasan itu, Danish masih malas untuk bertatap muka dengan Dika
"Kevin sedang bersama Mbak Titi tetangga mu, dia juga sudah makan malam" ucap Dika, kali ini dia menatap Danish dengan senyuman yang mengembang diwajahnya
"Bagaimana kamu tahu?" Kali ini Danish benar-benar penasaran, bagaimana Dika bisa tahu hal yang bahkan dia sendiri tidak mengetahui nya
"Diam lah, kamu hanya perlu mengikuti perintah ku" Dika beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju keluar dari ruangan nya, mau tidak mau Danish harus mengikutinya
"Masuk!" Perintah Dika saat mereka sudah berada di parkiran, Dika membukakan pintu mobilnya untuk Danish
Danish hanya bisa mengikuti setiap perintah Dika tanpa bisa menolaknya, terukir senyuman di wajah Dika saat Danish hanya bisa pasrah dan patuh pada perintah nya
Selama perjalanan Danish dan Dika saling bungkam, tidak ada diantara kedua nya yang mau membuka mulutnya, hingga sampai ke restoran tempat tujuannya
"Pesan lah!" Perintah Dika saat seorang pelayan laki-laki menyodorkan buku menu
'nih orang demen banget ngasih perintah, anak nya jenderal kali ya, yang setiap perintah nya harus segera di 'laksanakan' gerutu Danish dalam hati
"Cepet!" Ucap Dika
"Iya ih, sabar napa!" Danish merasa benar-benar kesal pada Dika, dia mulai membolak-balikkan buku menu, sampai akhirnya dia memutuskan pesanannya
"Asparagus soup, tenderloin steak sama minumnya lemon tea aja" ucapnya
Pelayan itu mencatat pesanan Danish dan juga Dika yang memesan sama persis seperti yang Danish pesan
"Aku sama kayak pesanan dia" ucap Dika saat Danish telah menyebutkan pesanannya
Namu Danish masih enggan mengatakan apapun pada Dika, dia masih malas untuk memulai percakapan dengan nya, setelah apa yang dia ucapkan kala itu, hatinya masih sakit, karena dia pikir Dika akan berbeda dengan orang lainnya, ternyata sama saja
"Handphone saya mana pak?" Tanya Danish, membuka percakapan diantara mereka, karena dari tadi begitu hening tanpa suara
"Saya kasih besok, kalau mood saya lagi bagus" jawab Dika seenak perutnya
"Enggak bisa gitu dong pak! Saya butuh untuk menghubungi seseorang, lagi pula sekarang sudah bukan jam kerja!" Emosi Danish memuncak saat Dika dengan seenaknya mempermainkannya
"Terserah saya, anggap saja, handphone kamu buat jaminan bayar hutang sama saya" jelas Dika
Danish menatap jengah pada Dika yang bertindak semaunya sendiri
"Danish ..."
Seseorang memanggil Danish, sontak Danish menengok sumber suara, begitu juga dengan Dika yang penasaran dengan siapa yang memanggil Danish
"Revan! Kamu disini?" Tanya Danish girang saat melihat Revan lah yang tadi memanggilnya
'jadi dia yang namanya Revan, sialan!!! Dia ganteng lagi, saingan berat buat gue' batin Dika
"Iya Nish, aku mau makan, kamu juga makan disini?" Tanya Revan, dia menatap Danish dengan lembut dan tersenyum manis padanya, begitu juga Danish yang membalasnya dengan senyuman yang tidak kalah manis
Dika mengepalkan tangannya melihat mereka berdua saling pandang dan melemparkan senyuman tepat didepannya
"Iya, aku makan disini nemenin Boss aku, oh iya kenalin Van, ini Boss aku, namanya Dika" Danish mengenalkan Dika pada Revan
"Halo, aku Revan teman Danish" Revan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Dika, namun Dika mengabaikan nya, Danish geram dengan tingkah Dika, dia menginjak kaki Dika dan melotot kearahnya
Dengan malas Dika menjabat tangan Revan, namun Revan seolah tidak memperdulikannya, dia hanya terus menerus menatap wajah Danish
"Apa aku boleh gabung disini?" Tanya Revan membuat darah Dika seakan mendidih dan akan meledak
"Enggak!!" Tolaknya, Dika tidak menggubris apapun, dia seolah sedang sibuk dengan ponselnya
Revan terlihat terkejut, namun masih setia dengan senyuman manis nya
Danish menatap geram pada Boss nya itu
"Enggak apa-apa Van, sini duduk bareng kita aja" ucap Danish ramah
"Enggak boleh, saya Boss nya disini !!" Tolak Dika lagi, dia sama sekali tidak ingin melihat wajah Revan
"Ya udah, santai aja kali Nish, aku kesana ya" ucap Revan menunjukan kursi kosong yang akan dia tuju
"Tunggu Van, aku ikut kamu boleh?" Tanya Danish, dia sungguh kesal dengan sikap Dika yang kekanakan
"Eh tunggu, kamu kesini dengan ku, jadi kamu harus tetap disini" perintah Dika, dia menahan lengan Danish agar tidak meninggalkannya
"Ya udah, kamu boleh bareng kita" ucap Dika pada Revan dengan malas, karena tidak ingin Revan dekat dengan Danish
Revan duduk disebelah Danish, sedang Dika berada di hadapan Danish, dan segera memesan makanan
"Nish, handphone kamu kenapa kok susah dihubungi?" Tanya Revan dengan santainya, sembari memakan makanan yang baru saja datang, tanpa memperdulikan tatapan membunuh dari Dika
"Handphone aku buat jaminan bayar hutang" jawab Danish jujur, Danish melirik sebal kepada Dika, namun Dika hanya mengangkat bahu nya acuh
"Hahahaha... Kamu lucu banget sih Nish, aku makin gemes sama kamu" ucapan Revan sukses membuat Dika semakin ingin mengulitinya hidup-hidup
"Praang!!!"
Dika menusukkan pisau steak nya dengan keras hingga piring didepan nya hancur berantakan dan mengenai tangannya
"Pak Dika, bapak kenapa?" Danish khawatir dengan tindakan Dika, dia takut Dika terluka, Danish menghampiri nya dan melihat tangan Dika yang berlumuran darah
"Danish kita harus segera membersihkan lukanya" saran Revan, namun ditolak mentah-mentah oleh Dika
"Enggak perlu, biarin aja" ucapnya
Danish benar-benar kesal pada tingkah kekanakan dari Dika, mengambil sapu tangan dari tas nya dan mengikatkan nya pada tangan Dika yang terluka, dika tersenyum saat Danish begitu mengkhawatirkan nya
"Antar aku pulang!" Perintahnya
Danish menatap wajah Dika untuk menyakinkan bahwa dia benar-benar ingin pulang
"Baiklah, Revan maaf aku harus mengantar nya dulu" ucap Danish
"Enggak masalah, pulang lah, dan hati-hati dijalan" Revan tersenyum kepada Danish sebelum Danish pergi dari sana
"Kamu bisa bawa mobil kan?" Tanya Dika saat mereka berdua sampai di parkiran
"Bisa, ya udah biar aku aja yang bawa mobilnya" Danish membukakan pintu untuk Dika dan segera masuk untuk mengemudikan mobil Boss nya
"Alamat rumah bapak dimana?" Tanya Danish
"Ke rumah kamu, aku mau nginep di rumah kama"
Ciiiit suara rem mobil terdengar saat mobil berhenti mendadak
"Apa kamu sudah gila Danish?!!" Teriak Dika
"Bapak yang sudah gila, ngapain bapak nginep di rumah saya!!!" Danish ikut berteriak menyamainya
"Terserah aku dong" jawab Dika seenaknya
"Kenapa?"
"Maksud kamu?" Dika bingung kenapa Danish menanyakan kepada nya 'kenapa'
"Kenapa bapak mau deket-deket sama wanita seperti saya, yang rela melakukan apapun demi mencapai keinginannya?" Tanya Danish dengan nada lemahnya
Dika terdiam menatap danish, dia ingat, dia yang mengatakan hal itu pada Danish, sejujurnya dia sangat menyesali perbuatannya karena mengatakan hal itu pada Danish
"Baiklah terserah bapak, saya mau antar bapak ke kantor, terserah bapak mau pulang kemana, yang penting jangan kerumah saya"
Danish kembali melajukan mobil Dika untuk menuju ke kantor nya
"Jangan ke kantor, bukankah aku sudah bilang untuk ke rumah mu" perintah nya
"Sayangnya saya tidak mengizinkannya"
"Aku akan memotong hutang mu sebanyak satu juta semalam, kalau aku boleh menginap di rumah mu" tawar Dika
Danish melirik kearah Dika namun tidak menjawab tawarannya
"Baiklah 2 juta, bagaimana?" Tawarnya lagi, namun Danish masih tidak merespon
"Keras kepala! Lima juta, bagaimana?!" Dika mulai habis kesabaran nya, namun reaksi Danish masih sama, tetap bungkam
"Terakhir, 10 juta!!!" Ucap Dika kesal
"Deal!!!" Jawab Danish, senyum manis terukir indah di wajahnya, membuat Dika yang melihatnya seakan terhipnotis masuk kedalam hatinya
"Baiklah, selama sebulan pak Dika tinggal di rumah saya, itu berarti hutang saya lunas, bagaimana?" Tanya Danish antusias
"Deal!!!" Dika tersenyum manis saat Danish terlihat begitu bahagia
-------
Author bingung mau ngomong apa, mending kalian komen aja, jangan lupa tap jempolnya ya 😘