Bahagia karena telah memenangkan tiket liburan di kapal pesiar mewah, Kyra berencana untuk mengajak kekasihnya liburan bersama. Namun siapa sangka di H-1 keberangkatan, Kyra justru memergoki kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya.
Bara Elard Lazuardi, CEO tampan nan dingin, berniat untuk melamar tunangannya di kapal pesiar nan mewah. Sayangnya, beberapa hari sebelum keberangkatan itu, Bara melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ternyata mengkhianatinya dan tidur dengan lelaki lain yang merupakan sepupunya.
Dua orang yang sama-sama tersakiti, bertemu di kapal pesiar yang sama secara tak sengaja. Kesalahpahaman membuat Kyra dan Bara saling membenci sejak pertama kali mereka bertemu. Namun, siapa sangka setelah itu mereka malah terjebak di sebuah pulau asing dan harus hidup bersama sampai orang-orang menemukan mereka berdua.
Mungkinkah Bara menemukan penyembuh luka hatinya melalui kehadiran Kyra? Atau malah menambah masalah dengan perbedaan mereka berdua yang bagaikan langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmiLovi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bara Sang CEO
"Ck, Morgan! Kenapa lama sekali!?" sungut Bara begitu Morgan membuka pintu dan memasuki ruangannya.
Morgan menggaruk kepalanya dengan keki. "Maaf, Pak. Tadi waktu buru-buru ke sini, saya jatuh dan menabrak staf bagian produksi."
Bara mengernyit. "Untuk apa staf produksi berada di lantai ini?"
"Saya juga tidak tahu. Sepertinya dia tersesat karena masih baru." Morgan menjelaskan sembari menyerahkan flashdisk yang diminta oleh Bara.
Dengan sigap, Bara menerima flashdisk itu dan mencolokkannya di usb laptop. Beberapa video hasil rekaman CCTV di apartemen Valeria muncul ketika Bara membuka isi filenya.
"Berdasarkan hasil pantauan mereka, Pak Edy terhitung sudah lima kali mengunjungi apartemen Nona Vale," jelas Morgan sembari menunjukkan lima video yang ia maksud.
Bara mengklik salah satu video dan memperhatikannya dengan penuh konsentrasi. Benar, pria itu adalah Edy yang baru saja keluar dari lift dan kemudian masuk ke apartemen Vale. Bahkan Edy tahu kode akses di pintu apartemen. Bara menghembuskan napasnya berat. Dasar pembohong! Vale bilang ia hanya sekali tidur dengan Edy tapi nyatanya mereka sudah sering bertemu secara diam-diam!
"Apa sampai hari ini mereka masih sering bertemu di apartemen?" tanya Bara setelah ia mematikan video itu karena tak kuat melihatnya lebih jauh.
"Sejak anda memergoki perbuatan mereka, tidak ada lagi rekaman CCTV yang menampilkan kedatangan Pak Edy ke apartemen Nona Vale, Pak."
Bara mengangguk paham. "Baiklah, Morgan. Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik."
Senang karena telah dipuji, Morgan mengeratkan tali dasinya yang kendur. Jarang-jarang Bara memuji hasil kerja kerasnya.
"Oh ya, ada satu lagi tugas yang harus kamu cari tahu. Aku ingin kamu memantau kegiatan seseorang."
"Nona Vale?"
Bara menggeleng. "Kamu pernah bertemu dengannya ketika kami terjebak di pulau waktu itu. Tapi terakhir kali aku bertemu dengannya, penampilannya sudah jauh berbeda dibanding dulu. Mungkin kamu akan susah mengenali dia sekarang. Aku akan mengirimkan alamat kantornya nanti padamu, carilah informasi tentang dia sedetail-detailnya!"
Morgan mengangguk cepat. "Baik, Pak."
"Jadwalku kosong sampai jam makan siang, kan?" tanya Bara memastikan.
"Betul, Pak. Setelah jam makan siang ada klien yang sudah membuat janji untuk nego harga dengan anda."
Bara mengangguk. "Baiklah, aku akan keluar sebentar untuk mencari udara segar," pamitnya sebelum kemudian bangkit dan berniat untuk mengunjungi seseorang.
.
.
Sementara itu di ruang produksi yang luasnya hampir memakan seluruh lantai 5, Kyra mengecek hasil pekerjaan puluhan penjahit dan mencocokkan datanya dengan lembaran yang ia bawa. Bila di perusahaan yang lama Kyra hanya perlu mendesain, di sini ia malah menjadi mandor yang mengawasi puluhan pekerja. Entahlah, mungkin karena Kyra masih baru jadi tugas kali ini seolah dibebankan pada karyawati sepertinya.
"Kamu karyawan baru itu?" suara seorang lelaki mengagetkan Kyra yang sedang asyik melamun.
Kyra menoleh cepat, lelaki tinggi yang sedang menatapnya itu membuat Kyra jadi salah tingkah sendiri.
"I-iya! Namaku Sada!" Kyra mengulurkan tangannya dengan sigap.
Lelaki itu tak membalas uluran tangan Kyra. Ia malah berbalik dan beringsut pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Menyadari bila semua orang di perusahaan ini nampak sangat arogan dan tak bersahabat, Kyra jadi frustasi sendiri. Apa susahnya bersikap ramah? Tak sampai menjual harga diri, ginjal dan usus, bukan?!"
"Awas saja kalian semua! Aku akan buktikan kalo kinerjaku lebih baik dari kalian. Aku akan menggantikan Pak Ronald dalam hitungan bulan, lihat saja!" ucap Kyra dengan tekad yang sudah bulat.
Tak menyadari bila seseorang sedang memperhatikannya dari CCTV di ruang direksi, Kyra terus saja mengomel dan membuat lelaki itu tersenyum gemas dari ruangannya.
Ketika tiba jam pulang, Kyra masih belum bisa beranjak dari tempatnya karena ia masih harus berjaga hingga jam lembur pekerja berakhir. Untuk menghilangkan jenuh, Kyra menggambar beberapa desain di balik lembaran yang ia bawa. Ia sudah rindu membuat desain.
"Pulanglah! Biar aku yang standby di sini sampai mereka selesai."
Kyra tersentak kaget dan menoleh pada lelaki yang sudah berdiri di samping mejanya.
"Nggak apa-apa. Ini hari pertamaku bekerja. Aku harus menuntaskan tugasku hingga akhir."
"Ini bukan tugasmu! Mereka semua mengelabuimu," tukas lelaki itu dengan ketus. "Pulanglah. Biar aku yang akan berjaga di sini."
"T-tapi..."
"Kamu mau berjaga di sini sampai jam11 malam?"
Kyra menggeleng cepat. Meskipun jarak rumahnya dekat, Kyra tak mau membuat ayahnya khawatir karena ini adalah hari pertamanya bekerja, sangat lucu bila Kyra pulang tengah malam.
"Kalo begitu pulanglah!" desak lelaki itu memaksa.
Mau tak mau akhirnya Kyra menurut. Ia berdiri dan menyerahkan lembaran kertas itu pada teman barunya.
"Terima kasih banyak. Boleh aku tahu nama ..." Kyra mengawasi lelaki itu yang ngeloyor pergi begitu saja."Aaah, dasar pria aneh!" sungutnya kemudian sembari mengayunkan langkah pergi dari ruang produksi yang bising oleh suara mesin jahit dan mesin-mesin lainnya.
Sebelum pulang, Kyra masih harus kembali ke ruangan desain di lantai 10 untuk mengambil tasnya. Seluruh ruangan itu sudah sepi ketika Kyra masuk karena semua teman-temannya sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
Tiba di lift yang juga sudah sepi, Kyra segera memencet angka 1. Namun ternyata lift masih bergerak naik dan Kyra terpaksa harus bersabar hingga lift berhenti di lantai 25. Seorang lelaki yang sudah familiar masuk dan tersenyum ramah begitu melihat Kyra.
"Hai, kita ketemu lagi!" sapanya hangat.
"Hai, Morgan." Kyra membalas senyuman itu dengan keki.
Kyra hendak memencet close sebelum kemudian Morgan secara reflek menarik tangannya.
"Tunggu sebentar, masih ada satu lagi yang akan masuk!" cegah Morgan sembari tetap mencekal tangan Kyra tanpa ia sadari.
Sesosok lelaki berjas muncul ketika Kyra dan Morgan sama-sama terpaku dan saling tatap. Menyadari bila Bara datang dan berdiri di antara mereka, Morgan lekas melepas cekalannya dan berbalik.
Tatapan tajam Bara seolah hendak membunuh Morgan. Ia bergeser dan memberi Bara tempat untuk masuk.
Kyra menoleh ketika menyadari seseorang sedang memperhatikannya, ia sontak terbelalak dan terkejut bukan kepalang. Bara!?? Tunggu, tunggu! Jadi Bara juga bekerja di perusahaan ini? Apakah Morgan adalah Boss yang Bara maksud?? Lelaki yang telah merebut kekasih Bara adalah Morgan!?
Oh, pantas saja kekasihnya berpaling, Morgan jauh lebih ramah dan murah senyum dibanding Bara! Apalagi Morgan adalah seorang Boss yang kaya raya, semua wanita pasti akan takluk di bawah kakinya.
"Maaf, Pak. Silahkan masuk." Morgan mempersilahkan Bara yang masih mematung di depan pintu lift untuk segera masuk ke dalam.
Glek. Kyra menelan salivanya kasar. Pak?? J-jadi ... Bara bukan drivernya Morgan!? Ya Tuhan, skenario macam apa lagi ini!? Belum cukupkah hari Kyra berantakan seharian ini!? Mengapa masih harus ditambah dengan kejutan yang sangat membagongkan seperti ini!?
"Suruh dia keluar, Morgan. Aku tidak mau satu lift dengan staf!" perintah Bara seraya memberi penekanan pada kata terakhirnya.
Morgan menolehi Kyra dengan sedih. "Maaf, bisakah kamu menunggu lift selanjutnya?" pintanya sopan.
Kyra mengangguk. "Baiklah," sahutnya santai sebelum kemudian beringsut keluar dari lift.
Sekelebat aroma tubuh Kyra terendus oleh Bara ketika melewatinya. Bukan aroma parfum mahal seperti milik Vale, sepertinya hanya berasal dari parfum mist murahan. Hanya saja entah mengapa aroma ini terasa hangat di dada Bara.
"Pak Bara?"
Bara tersentak dan buru-buru menghapus imajinasi kotornya. Ia meringsek masuk ke dalam lift sembari menghela napasnya berat. Sebelum pintu lift tertutup, Bara masih menatap tajam pada Kyra yang berada di luar.
"Nerakamu akan dimulai besok, Kyra. Selamat datang di perusahaanku!"
...****************...
gengsi aja di gedein pake ga ada cinta
di abaikan dikit udah kesel hahah