NovelToon NovelToon
Mohabbat

Mohabbat

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:105.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: aisy hilyah

Cinta datang tak pernah sendiri, selalu membawa serta ujian yang harus dihadapi. Sanggupkah bertahan, ataukah mengalah pergi?

Daisha, gadis buta yang hidup berdua dengan sang adik sebagai penjual bunga di sebuah desa, tanpa sengaja menemukan sesosok tubuh yang terdampar di tepi sungai dekat kebun bunga miliknya.

Laki-laki yang tak tahu siapa dirinya, pada akhirnya Daisha menamainya 'Al'. Seiring waktu berjalan, rasa di hati keduanya pun tumbuh dan berkembang. Sampai suatu ketika, kedatangan seseorang yang kerap mengganggu Al perlahan memulihkan ingatannya.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Temukan kisahnya di sini. Kisah tentang cinta dan dua hati yang harus saling bertahan dalam ujiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayah dan Anak

"Jadi, dia hanya seorang penjual bunga?" Dewi tersenyum sinis setelah menerima informasi tentang Daisha yang dibawakan oleh mata-matanya.

"Yatim piatu ... begitukah? Apa kau tidak mendapatkan informasi tentang siapa orang tuanya?" tanya Dewi menatap laki-laki yang duduk berseberangan dengannya di sebuah cafe.

Ia menyesap cangkir berisi kopi dengan elegan, melirik tajam laki-laki di depannya itu.

"Tidak ada yang tahu, menurut kepala desa setempat mereka adalah pendatang yang tidak diketahui dari mana asalnya. Masyarakat di sana membantu mereka karena tidak memiliki tempat tinggal. Itu saja," jawabnya sembari mengangkat bahu tak acuh.

Ia melirik Dewi yang tampak berpikir, sepertinya dia harus lebih keras lagi mencari informasi mengenai gadis itu. Itu saja sudah cukup, dengan asal usul yang tidak diketahui dengan jelas sudah menguatkan keputusan Dewi untuk menolak gadis itu sebagai menantu.

"Baiklah, aku harap kau memberiku informasi lebih tentang mereka." Dewi beranjak sambil menenteng tas dan pergi meninggalkan cafe tersebut.

Ia terus berdiam diri di sepanjang perjalanan pulang menuju rumah. Berpikir bagaimana caranya menolak gadis itu dan membuat Dareen sadar bahwa dia tidak sepadan dengan mereka.

"Hmm ... hanya penjual bunga, apa hebatnya? Aleena bahkan jauh lebih baik dari dia, tapi kenapa Dareen begitu tergila-gila padanya?" Dewi bermonolog, tertawa getir harus menerima kenyataan putra bungsunya menginginkan seorang gadis buta.

Sementara itu, di rumah mereka Dareen dan Bardy sedang bermusyawarah di ruang kerjanya. Duduk saling berhadapan dengan secangkir teh hangat di hadapan masing-masing. Berbincang santai, selayaknya ayah dan anak.

"Bagaimana jika Ibu tidak menyetujuinya? Apakah Ayah akan mengalah?" tanya Dareen cemas.

Mengingat Dewi memiliki watak yang keras, segala apa yang dia inginkan harus terlaksana begitu pula dengan sesuatu yang tak disukainya, maka harus enyah dari hadapannya.

"Kau tenang saja, jika itu menyangkut kebahagiaan anak-anak Ayah, maka Ayah tak akan mengalah. Lagi pula, Ayah lihat dia wanita yang baik. Ayah akan membantumu mencarikan donor mata untuknya," jawab Bardy dengan yakin.

Laki-laki tua itu menyesap teh menenangkan hatinya yang berkecamuk. Bayangan wajah Daisha yang tersenyum terus hadir di pelupuk membuat hari-harinya terasa gelisah. Entah mengapa, kehadiran gadis itu seolah-olah akan membawa sesuatu yang besar untuk hidupnya. Apakah ...? Ia sendiri pun tak tahu.

"Terima kasih, Ayah. Lalu, bagaimana dengan Aleena?" Pertanyaan selanjutnya membuat dahi Bardy berkerut dalam.

Seingatnya, saat ia bertemu dengan gadis itu, dia mengatakan bahwa Dareen tidak mengingatnya.

"Kau ingat?" tanya Bardy penasaran.

"Tentu saja, aku tidak akan pernah lupa pada orang yang sudah berkhianat, Ayah. Dia berani bermain api di belakangku, dan ingin menghancurkan aku saat kami berhasil menikah nanti. Apakah aku harus mengingatnya?" geram Dareen dengan tangan yang terkepal dan tanpa sadar menghantam meja.

Kening Bardy semakin mengerut, ia pikir selama ini Aleena adalah gadis baik-baik dan setia. Jika kenyataannya seperti itu, maka dia memang pantas untuk dilupakan. Ia menghela napas panjang, permasalahan anak muda selalu berhasil membuat kepalanya berdenyut.

"Jadi, apa yang akan kau lakukan terhadapnya?" tanyanya sambil kembali menyesap teh menenangkan pikiran.

Dareen menghela napas, genggaman tangannya pada cangkir menguat menekan kesakitan yang diciptakan Aleena. Dulu, Dareen amat mencintainya, tapi setelah ia mengetahui pengkhianatan itu rasa cinta di hatinya menghilang begitu saja.

"Untuk sementara aku akan berpura-pura lupa padanya sampai waktunya tiba, waktu untuk membongkar semuanya. Maka, aku tak akan segan membuka pengkhianatan yang telah dilakukan oleh wanita itu." Dareen berpaling pada ayahnya.

"Apa Ayah bisa membantu? Untuk tidak membocorkan ini semua. Kumohon! Aku tahu, orang tua wanita itu adalah sahabat Ibu dan Ayah, tapi aku tidak ingin melanjutkan pertunangan dengannya. Saat ini, aku mencintai Daisha, Ayah. Hanya dia yang aku inginkan untuk menjadi istriku," pinta Dareen.

Matanya berkaca, memohon pengertian sang ayah. Hanya laki-laki tua itu yang saat ini bisa diandalkannya karena dialah pemegang kekuasaan tertinggi di keluarga mereka.

Bardy tersenyum, apapun demi anaknya akan dia lakukan selama itu membuatnya bahagia. Ia mengangguk yakin, menepuk-nepuk punggung tangan sang putra memberinya dukungan.

"Apa pun yang membuat anak Ayah bahagia, Ayah akan selalu mendukungnya. Terlebih soal memilih pasangan, sepenuhnya Ayah serahkan padamu. Itu hakmu untuk memilih, kau bisa menilai sendiri mana yang terbaik untukmu dan mana yang tidak. Jadi, perjuangkan, gadis itu memang layak untuk diperjuangkan. Ayah mendukungmu," sahut Bardy tanpa keragu-raguan.

Dia sudah memutuskan menerima gadis itu sejak pertemuan pertama mereka. Tidak, bahkan sejak Dareen menceritakan tentangnya melalui sambungan telepon. Hati Bardy sudah terpikat, terlebih saat mereka bertemu siang tadi. Ia bertambah yakin dengan keputusannya.

"Terima kasih, Ayah." Dareen menggenggam tangan sang ayah, menyalurkan rasa terima kasih yang mendalam atas semua dukungan.

"Aku Ayahmu, jangan pernah sungkan untuk bercerita kepada Ayah. Karena dengan begitu, Ayah merasa dianggap dan berguna. Masalah ibumu, kau tidak perlu risau. Ayah yang akan berbicara padanya saat dia membuka bahasan tentang gadis itu. Kau tenang saja," ungkap Bardy dengan senyum meyakinkan.

Dareen tersenyum, mengangguk penuh semangat. Seberat apapun rintangan yang akan dia alami di masa mendatang, Dareen akan bersiap menghadapinya. Hanya kepercayaan yang dalam harus ia tanamkan dalam hubungan itu.

Tunggu aku, sayang. Secepatnya aku akan datang melamar. Kau tak perlu lagi bersusah payah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup karena aku yang akan menanggung kehidupan kalian.

Hati Dareen bergumam senang, bahagia semakin menyelimuti rasa dalam jiwa. Tak sabar rasanya membuka musyawarah besar bersama keluarga. Membahas pernikahan mereka yang tak ingin berlama-lama.

****

Uhuk-uhuk!

"Kakak! Pelan-pelan!" pekik Laila sambil berdiri setelah menyambar gelas berisi air saat Daisha terbatuk.

Mereka berdua sedang menikmati makan malam yang sunyi. Selalu seperti itu disaat mereka kembali ke rumah. Rasanya sangat berbeda, biasanya terdengar celotehan Dareen yang bertanya ini dan itu. Atau membantu mencuci piring.

"Terima kasih," ucap Daisha usai menenggak air yang diberikan Laila padanya.

Ia berdiri, hendak berbalik padahal makanan di atas piringnya belumlah habis.

"Kakak mau ke mana? Habiskan dulu makan Kakak?" cegah Laila dengan cepat.

"Kakak sudah kenyang, bereskan saja semuanya jika kau telah selesai," ucap Daisha seraya melanjutkan langkah menuju kamarnya sendiri.

Laila tercenung, tak biasanya Daisha bersikap demikian. Ia melirik kursi yang biasa diduduki Dareen, seketika mengerti seperti apa perasaan sang kakak saat ini. Gadis remaja itu menghela napas berat, melanjutkan makannya dengan terpaksa.

Ia melirik pintu kamar Daisha yang terlihat dari ruang makan. kembali menghela napas sebelum membereskan meja. Lalu, menatap kursi kosong, membayangkan sosok Dareen yang terkadang menyuapi Daisha makan.

"Rumah ini sedikit berbeda, Kak. Kami sudah terbiasa dengan kehadiranmu, dan sekarang kau telah kembali pada keluargamu. Semoga kau tidak melupakan kami dan menepati janjimu, Kak." Laila bermonolog seraya membawa piring-piring bekas makan mereka.

*****

"Lakukan sesuatu untukku!"

1
Mareew
bagusss t o p begete
Lin Lin
permainan karakternya hebat banget... tanpa d duga2 yin and yang nya ada d setiap karakter menandakan ketidak sempunaan manusia... mantaaaf...👍👍👍
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Ratna Susianingsih
bener kan bardy yg bunuh keluarga daisha....sadis banget daisha cocok jadi ketua mafia...alhamdulilah Dewi juga berubah selamat ya daisha dan dareen semoga menjadi ortu yang bisa mendidik anak dengan baik...jangan dlu tamat donk ..bonchapnya.....
Megawati Goanidjaja
terima kasih Author 🤗😘😘
L0v€💜
extra part Thor❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🙏🙏🙏
Yeni Yanti
penasaran kisah Laila kak..
request kisah Laila dan serta kan daisa dan Daren 😘😘😘
Lusia
extra part ya kk.. min. 10 bab 😁😁😁🤭🤭🤭
Yeni Yanti: setuju..
total 1 replies
Alfiyati Al-Ikhlas
thanks a lot
Liana Liana
ada bonchap nya gak ya
Yeni Yanti: wajib ada
total 1 replies
Ratna Susianingsih
kok blum up
Bil Jak Jak Bil
mantap
Darsih suranto
oh oh siapa dia,?????
Darsih suranto
typo kak, Cakra y maksudnya.bukan Darren
Darsih suranto: sama² kak
total 2 replies
Tri Ernawati
menurut saya pembunuhnya ortu ya daisha pak hendrawan...dia memanfaatkan Cakra yang ambisi akan jabatan,untuk membunuh paman daisha
Bardy kan udah tau kalo daisha anak ya Damian sahabatnya,,
Yeni Yanti
mungkin kah bardy..???
andai ya mungkin dia akan mati terperosok di makam yg dia hali 🤔🤔
Ratna Susianingsih
aku maafkan itulah kehidupan pasti yang pergi bardy dan datang anak dareen dan daisha....daisha punya hati yg peka dia gelisah karena da yg mo ngebongkar malam ayahnya dasar si dareen ga ngerti ga mau ngabulin kemauan daisha udh tau daisha ga bisa tidur dasar laki2 ga peka banget...bardy bener bener jahat kasihan dareen punya ortu yg jahat..semoga aja dareen bisa melihat kejahatan ayahnya.....lanjut thor upnya yang banyak tanggung
Sepriyanti Adelina
bapaknya Alena kah yg udah bunuh orang tua Daisha🤔
Ratna Susianingsih
good job....semoga daisha dan dareen selalu bersama dan bahagia..siapa ya pembunuh ortunya daisha...ga mungkinkan klo bardy kasihan dareen klo bardy yg membunuh ke 2 ortunya daisha...kak upnya bnyakin satu mah kurang ..
Yeni Yanti: bisa saja bardy, sebab Bardy sahabat Damian,,
total 1 replies
Megawati Goanidjaja
siap2 Aleena dan Dewi...apa yg akan dilakukan Daisha sama kalian 🤔😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!