Frisha Natalia, kabur dari rumah ketika dipaksa menikah dengan pria beristri, sebagai penebus hutang ayahnya. Di jalan, Frisha mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gadis itu lumpuh.
Clyton Xavier Sebastian, pria yang tidak sengaja menabraknya, bersedia bertanggung jawab memberi kompensasi dan menjamin pengobatannya.
Akan tetapi, Frisha menolak. Dia menuntut tanggung jawab dalam bentuk lain, yakni menikahinya.
Apakah Xavier, seorang CEO perusahaan besar, mau menerima pernikahan dengan wanita asing begitu saja? Ikuti kisahnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 : CARUT MARUT
“Ma ... maaf,” gumam Frisha berusaha bangun. Sedikit kesulitan, hingga akhirnya Xavier sendiri pun bangkit sembari memeluk istrinya.
“Enggak apa, kamu hebat!” ucap Xavier membangunkan istrinya dengan seutas senyum tipis yang tentu hanya ditunjukkan pada wanita itu.
Xavier memapahnya untuk duduk, meraih beberapa lembar tissu yang tersedia di meja sang dokter. Dengan telaten, lelaki itu menyeka keringat di wajah Frisha.
Dokter bergeming menatap pasangan itu tanpa berkedip. Ia menjadi salah tingkah sendiri ketika Xavier meliriknya dengan tajam. Karena sejak tadi hanya diam saja.
Segera dokter itu beranjak duduk, menuliskan laporan kesehatan Frisha pada rekam medis perempuan itu. “Semangat ya, Nona. Minum obat dan vitaminnya teratur, plus pola makan seimbang disertai dengan terus latihan bergerak. Anda pasti segera sembuh,” ucap Dokter Tita dengan sopan menyerahkan resep obat.
“Baik, terima kasih banyak, Dok,” sahut Frisha tersenyum, sambil meremas jemari Xavier yang terletak pada salah satu bahunya.
“Kalau sudah, kami permisi.” Xavier memutus percakapan mereka tanpa menoleh sang dokter. Langsung mempersiapkan kursi roda Frisha agar siap jalan.
“Silakan, Tuan,” balas dokter mengangguk ramah.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Keluar dari ruangan Dokter Tita, Xavier melenggang menuju apotik rumah sakit tersebut. Di belakang mereka, sudah ada Yenny bersama Gissel yang terus memantau pergerakan keduanya. Sudah terlalu lama mereka bersembunyi, menunggu targetnya.
Gissel sudah membawa kain yang cukup besar di pelukannya. Melangkah anggun agar tidak ada yang mencurigainya. Dua perempuan licik itu kini membuntuti Xavier dan Frisha.
Setelah duduk selama beberapa waktu, nama Frisha dipanggil oleh apoteker. Xavier segera beranjak, mendekat pada loket. Yenny dan Gissel pun bergerak cepat. Sudah berdiri dan hampir menusukkan sebuah suntikan di lengan Frisha, Xavier menoleh dengan cepat. Membuat dua wanita itu gelagapan dan berpura-pura berjalan saling berpegangan tangan. Mereka merapatkan kerudung di kepala mereka, agar tidak dikenali oleh siapa pun.
Netra tajam pria itu mengikuti gerakan mereka hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
“Ini, Tuan, obatnya,” ucap apoteker menyerahkan beberapa obat serta menjelaskan aturan minumnya.
Xavier hanya menjawab dengan deheman, segera meraih dan berjalan cepat menghampiri istrinya. Lelaki itu berjongkok, menyentuh kedua bahu Frisha memeriksa tubuhnya. “Kamu tidak apa-apa, ‘kan?” tanya Xavier khawatir.
“Enggak, memangnya ada apa?” Frisha bertanya balik, keningnya mengernyit ketika melihat wajah suaminya yang panik.
“Syukurlah,” gumam Xavier mendesah lega.
Ia segera berdiri dan membawa sang istri keluar dari rumah sakit tersebut. Sedangkan Yenny dan Gissel menggeram marah di balik dinding karena gagal melanjutkan misnya.
“Gimana sih, Sel! Lelet banget kamu kerjanya!” sentak Yenny pada anak tirinya itu.
“Maaf, Bu. Tadi aku kesusahan keluarin suntikannya. Eh keburu Xaviernya menoleh!” sanggah Gissel.
“Memang kamunya aja yang bodoh! Pulang! Kita pikirkan cara lagi!” ucap Yenny berjalan duluan, meski langkahnya terseok.
Gissel hanya menghela napas panjang, “Selalu saja aku yang salah!” decaknya kesal namun tetap mengekori ibunya.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Dua minggu kemudian.... Gissel sudah datang ke kantor Xavier. Gaun yang dikenakan begitu ketat dan pendek. Sengaja memamerkan pahanya, tak lupa belahan dadanya yang rendah.
Ia menunggu di depan lobi. Xavier berjalan sambil berbincang serius dengan Yogi. Tidak begitu memperhatikan depannya. Setiap karyawan yang dilalui, pasti akan selalu membungkuk memberikan jalan untuk sang presdir itu.
“Brugh!”
Gissel langsung menghambur pada dada lelaki gagah itu. Berjinjit dan meraih tengkuknya, lalu mencium paksa bibir Xavier.
Xavier mendelik, lalu mendorong tubuh perempuan itu hingga terjengkang. Matanya menatap nyalang dengan deru napas yang kasar. Ia lalu berjongkok dan mencekik leher wanita itu.
“Lancang kamu ya!” geram Xavier mengetatkan giginya. “Sepertinya kamu tidak bisa dibiarkan! Haruskan aku membunuhmu sekarang juga?!” lanjutnya menekan setiap kalimatnya.
“Tunggu! Tunggu! Aku hanya ingin memberikan ucapan perpisahan. Karena rencananya, aku akan pindah ke luar negeri,” ucap Gissel dengan panik.
Xavier melepas cengkeraman tangannya, akhirnya Gissel bisa bernapas dengan lega. Ia terbatuk-batuk sembari berusaha berdiri. Beberapa petugas keamanan sudah mendekat dan hendak mencekal Gissel.
“Ini terakhir kalinya aku melihatmu. Jika kamu berani lancang seperti ini lagi, aku ledakkan kepalamu saat itu juga!” geram Xavier tanpa menatapnya. Membelakangi perempuan itu, dengan kepalan tangan yang begitu kuat.
“Iya, aku janji. Aku tahu, kamu sudah menemukan penggantiku. Semoga kamu bahagia, Xavier,” ucap Gissel menyeka air matanya. Ya, tentu saja air mata pura-pura.
Xavier sama sekali tak tersentuh, wajahnya mengeras, mengibaskan jasnya lalu melangkah panjang memasuki perusahaan besar miliknya itu. Pintu utama menggeser otomatis ketika Xavier dan Yogi melewatinya.
Yogi mengunci bibirnya, tidak berani menyenggol sang atasan. Karena tahu saat ini suasana hatinya sedang buruk. Ia akan berucap ketika ditanya saja.
\=\=\=0000\=\=\=
Sementara itu, Gissel tersenyum licik ketika melihat Xavier semakin jauh dan menghilang dari pandangannya. “Minggir!” Gissel melalui barisan para penjaga.
Gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu melenggang dan segera keluar dari area perusahaan. Di dalam mobil, sudah ada seorang pria yang menunggu kedatangannya.
“Mana?” tanya Gissel menengadahkan tangannya.
Sebuah ponsel kini mendarat di telapak tangannya. Jemari lentiknya segera menggeser slide demi slide foto-foto saat ia berciuman dengan Xavier. Tepatnya saat dia mencium lelaki itu.
“Hahaha! Kerja bagus.” Gissel tertawa terbahak-bahak, kemudian menyerahkan amplop cokelat pada lelaki di sampingnya. Setelah itu, mereka berpisah. Gissel segera meminta taksi yang ia tumpangi itu pergi ke suatu tempat.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
“Tepat sekali kamu sendiri yang melayani!” gumam Gissel tersenyum licik.
Ia telah sampai di Sky Flower, melihat dari kejauhan Frisha tengah merangkai bunga bersama para karyawannya sambil bersenda gurau.
Dengan langkah angkuh, Gissel memasuki toko bunga tersebut. Melihat-lihat sekeliling, betapa luasnya bangunan itu.
“Selamat datang di Sky Flower, ada yang bisa saya bantu?” Frisha dan beberapa karyawan menyambutnya.
“Emm ... saya ingin buket bunga untuk calon suami saya. Berikan buket yang paling bagus!” ucap Gissel.
Frisha terdiam sejenak, merasa tak asing dengan wajah perempuan itu. Namun tidak bisa mengingatnya. “Ah, baik, Nona. Sepertinya mawar sangat cocok. Karena bunga itu melambangkan cinta,” ujarnya tersenyum ramah.
“Ya! Jangan lama-lama!” ketus Gissel memilih duduk di sofa yang disediakan.
Dengan bersemangat Frisha pun membuatkannya, memadukan mawar merah dan putih, menjadi rangkaian yang begitu indah.
Tak butuh waktu lama, tangannya dengan cekatan menyelesaikan permintaan pelanggannya itu.
“Nona! Bunganya sudah selesai. Ingin memberikan seuntai kalimat cinta mungkin?” tawar Frisha menyerahkan buket bunga hasil karyanya.
Gissel memicingkan mata, “Emm ... kasih saja tulisan, teruntuk Clyton Xavier Sebastian, semoga cinta kita selalu abadi. Aku tidak sabar mengucap janji suci bersamamu! I love you.”
“DEG!”
Senyum yang sedari tadi mengukir indah, perlahan memudar. Tubuhnya gemetar dengan debaran jantung yang tidak karuan. Hatinya serasa diremas tangan-tangan tak terlihat. Sesak, beban yang begitu besar seolah menghimpit dadanya.
“Anita, tolong lanjutkan!” pinta Frisha ketika melihat salah satu karyawannya.
“Baik, Nona!” ucap perempuan itu.
Frisha segera menyingkir dari sana. Menggerakkan kursi rodanya menuju ruangannya. Ia baru mengingat, jika perempuan yang memesan bunga itu adalah foto yang pernah ia lihat di ponselnya Xavier.
Dada Frisha bergemuruh hebat, kepalanya berdenyut nyeri saat ini. Tubuhnya melemas dengan pikiran yang carut marut. Berkali-kali menarik napas panjang dengan mata terpejam. menekan dadanya yang hampir menghentikan detak jantungnya.
Bersambung~
con; ketika panik, terburu2, kan gak mungkin memakai kata melenggang.
Melenggang itu lbh ke arah berjalan santai...
sdh terburu2 mosok pakai kata melenggang..
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘