Apa tujuan dari kehidupan?
Kekayaan?
Kekuasaan?
Kejayaan?
Tidak, tujuan dari kehidupan hanyalah kesenangan.
Ketika mereka mendapatkan kekayaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kekuasaan, mereka senang.
Ketika mereka mendapatkan kejayaan, mereka senang.
Tujuan hidup sesimpel itu, pada akhirnya ketika mereka meraih tujuan, mereka akan senang.
Dan aku bereinkarnasi kedua kalinya untuk kesenangan.
Menggunakan segudang harta kekayaan dan pengetahuan, aku akan mencari kesenangan di kehidupanku yang ketiga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hermit of Imagination, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
024. Tidak
"Salah." Vienna langsung menjawab dengan senyum cerah dan melanjutkan. "Yang benar adalah 5 orang yang mati dan 1 wanita yang merupakan korban adalah orang yang dikirim wakil komandan kepada Lucy untuk menjatuhkan kehormatannya dengan memfitnah Lucy."
"Hah, jangan bicara yang omong kosong, memangnya kamu punya bukti?" Ferdinand langsung membantah.
"Sedari awal kau sudah memutarbalikkan fakta dengan mengatakan penyelamat adalah pelaku dan pelaku adalah tersangka."
"Lalu apa bukti nyata bahwa aku memutar balikkan fakta."
"Kau memangnya juga punya bukti."
"Sudah cukup." Komandan melerai mereka. "Fedi, tolong lakukan dengan benar."
" Baiklah." Setelah itu dia sekali lagi mengamati TKP, dan memberikan perintah "Ambil Sampel darah dan periksa mereka."
Ferdinand menghisap rokoknya dan menghembuskan asap sebelum menjelaskan. " Kelihatannya Lucy adalah penyelamatnya. dilihat dari jejak kaki itu harusnya ada lebih dari sepuluh orang pelaku. Kronologinya seperti ini, setelah Lucy datang ketempat ini, dia melihat adanya kejahatan, setelah itu dia menolong korban dengan membunuh 5 pelaku dengan 1 tembakan untuk membuat yang lainnya lari ketakutan."
"Kenapa dia datang ketempat ini?"
"Aku tidak tahu itu jika tidak bertanya secara langsung?"
"Kenapa dia harus membunuh 5 orang ini?"
"Ada 2 alasan. Pertama karena tidak sengaja, Shogun itu senjata api dengan luas kerusakan yang mendominasi. yang kedua adalah karena tidak ingin repot."
"Maksudmu?"
"Satu hal tentang Lucy yang aku tahu, dia itu memiliki empati yang rendah, aku yakin dia bisa dengan mudah membunuh siapapun tanpa ada perubahan di hatinya. Dengan membunuh lima orang ini dalam satu tembakan itu akan membuat yang lainnya lari ketakutan. Hal seperti ini akan menghindarkan dia melakukan sesuatu yang merepotkan seperti berbicara dengan mereka atau bernegosiasi dan mengancam."
"Ada juga orang yang menyelamatkan seseorang dengan cara yang kejam. Tapi jika dia memiliki empati yang rendah kenapa dia repot-repot membantu?"
"Mungkin suara mereka mengganggunya."
"Hanya karena alasan itu?"
"Hanya karena alasan itu." Ferdinand merokok lagi sebelum melanjutkan. "Apapun alasannya, dia tidak bersalah karena menolong orang. Di dunia ini pembunuhan adalah hal yang biasa."
Ketika mereka berbicara, tes DNA sudah keluar yang berisi informasi dari 5 pelaku itu. Ferdinand hanya bisa berkomentar negatif tentang mereka. "Benar-benar sampah masyarakat, mereka semua melakukan perdagangan narkoba dan perdagangan senjata ilegal. Dengan ini semua Lucy benar-benar dipastikan tidak bersalah."
"Masalahnya sekarang kenapa Lucy disini?"
"Mungkin dia memasang bom disini karena tahu kita akan pergi kesini untuk membunuh kita semua." Ferdinand membuat spekulasi.
Komandan menatapnya dengan tatapan aneh, bukan hanya komandan saja, tapi hampir semua orang disekitarnya.
"apa!?"
"Kau ini kadang kala pintar ta6oi kadangkala tidak." komandan menghela nafas sebelum melanjutkan. "Cobalah untuk tidak mencampurkan emosi dalam pekerjaan ataukah kau kelelahan? Pikirkanlah, jika dia berniat membunuh kami semua dia sudah melakukannya saat kita semua menghadapi penyihir darah."
"Ah!?" Ferdinand menyadari kesalahannya. "Maafkan aku, aku sudah cukup Lelah hari ini."
meskipun dia adalah penyihir, mereka tetap memiliki batas mental. Pagi tadi dia bertarung dengan Lucy, siangnya bertarung dengan penyihir darah, sorenya dia melakukan banyak pekerjaan karena penyihir darah dan tempat pewarisan, dan malamnya, sekarang ada kasus lagi yang harus dipecahkan. Dia sekarang sudah sangat secara mental.
"Kau boleh istirahat sekarang, lagi pula yang bisa melakukan investasi bukan hanya kau saja."
"Tidak ini akan segera berakhir." setelah itu dia memandang salah satu rekannya. "Ryan, bisakah aku meminta tolong padamu untuk melacak keberadaan Lucy?"
Bahkan, tanpa membuka penutup mata Ryan sudah menunjuk ke arah samping dengan tangan kanannya, yang artinya dia sudah melacak keberadaan Lucy dari tadi.
"Apa yang kau maksud itu bangunan di sebelah."
Ryan mengangguk.
"Apa yang dilakukan orang itu disebelah."
"Apapun itu semuanya bisa menjadi cepat."
setelah mendapat informasi mereka dengan cepat pergi ke bangunan sebelah.
Ketika mereka membuka pintu, mereka bisa melihat disini adalah satu-satunya bangunan yang ada pencahayaan. Torch blade masih tertancap di tanah setelah Lucy atur agar tidak kembali ke brankas emas meskipun dia tidur, supaya bisa tetap menjadi penghangat.
Mereka yang datang bisa melihat Lucy sedang nyaman tidur. Tampak bukan seperti seorang yang baru melakukan pembunuhan. Melihat pemandangan ini mereka menjatuhkan rahangnya.
"Yang benar saja dia tidur disini?"
"Uang hadiahnya kemana?"
"Apa-apaan orang ini, menggunakan pedang sebagai penerangan dan sebagai penghangat ruangan." Ferdinand berkomentar tidak senang
Bagi seorang pengguna pedang, pedang itu adalah kehormatan mereka, mereka mendapatkan kehormatan dengan pedang, hidup bersama pedang, mempertaruhkan nyawa dengan pedang. Tapi Lucy dengan santainya menggunakan pedang sebagai sebuah penerangan dan penghangat.
"Itu miliknya, jadi terserah dia mau apa digunakan." Vienna membalas.
Ferdinand tidak membalasnya, karena dia merasa akan menjadi panjang jika dia membalasnya. Sebagai gantinya, dia pergi ke arah Lucy untuk membangunkannya.
"Orang ini benar-benar tidur di sini dengan nyenyak." Dia menyalakan rokok untuk persiapan membangunkan Lucy. "oy bangun, kau pikir ini tempat untuk tidur. BANGUN."
Tapi seberapa kencangnya Lucy dibangunkan oleh Ferdinand dia hanya mengerang dan membetulkan posisi tidurnya. Ini tentu saja membuat Ferdinand merasa kesal.
"Boleh kupotong, boleh kupotong orang yang tidak tau situasi ini." dia berkata dengan tangan di gagang pedang sambil menatap komandan.
"Tentu saja tidak boleh." Komandan menegaskan.
"Halo… tuan tertidur…bangunlah." Vienna mencoba membangunkan Lucy. Sebagai hasilnya Lucy bangun dengan mata yang mengantuk.
"Kau sengaja kan, kau pasti sengaja kan!?" Ferdinand masih marah. "Pura-pura tertidur saat aku membangunkanmu tapi langsung bangun saat dia membangunkan mu."
"Berisik banget kau ini." Lucy menjawab dengan nada malas. "Aku masih belum cukup tidur kau tahu."
"Siapa juga yang peduli dengan tidurmu, kau tahu dimana kau berada?"
"Tanah terlantar."
"Tanah pemerintah, sialan."
"tanah dengan alat kontrasepsi yang tersebar ini? yang sering digunakan untuk hotel gratis para pasangan yang tidak mempunyai uang?"
"Benar, dan juga jangan diperjelas."
"Lalu apa yang kalian lakukan di sini." Lucy melakukan tembakan. "Pesta kesenangan bersama?"
"Mana mungkin kami melakukan itu." Ferdinand langsung membantah. "Kami disini karena tempat ini yang akan menjadi markas kami."
"Kasihan." Lucy memasang wajah berbelas kasih. "Kalian diperlakukan seenaknya oleh negara, ini semua pasti karena Ferdinand."
"Bukan begitu, sialan. juga, jangan membuat tuduhan yang tidak tidak."
"Kalau begitu aku akan pergi dulu. Permisi." dengan begitu Lucy mengeluarkan White branch.
"Tunggu, sialan." Tentu saja Ferdinand akan menghentikannya. "Ada yang perlu aku tanyakan."
"Apa? aku lelah kau tahu" Lucy menghela nafas lelah sebelum melanjutkan. "Ataukah kau ingin menangkap aku lagi?"
"Bukan." Ferdinand memutuskan langsung menanyakannya sebelum menjadi panjang lagi. "Apakah kau yang membunuh 5 orang di bangunan sebelah sana."
"Tidak."
pakai nama aja Thor
saudaraku mohon ini yg sering baca novel saya gk enak baca pakai pihak pertama
Salam Permata Elemen.
🔥SEMANGAT TERUS THOR NGETIKNYA👏👏👏🔥
'setelah meminumnya' yang bener thor