Dua puluh tahun berlalu, Zaki dan Adhelia sudah hidup berbahagia bersama kedua putra mereka Farel Al Farabi, dan Muhammad Fathan Al Farabi. Kebahagiaan keluarga mereka semakin lengkap dengan adanya Mutiara Salsabilla, putri bungsu Bi Ita yang sudah dianggap anak oleh Zaki dan Adhelia.
Zaki dan Adhelia sudah berencana menjodohkan Farel dengan Tiara. Namun sayangnya Farel justru tewas dalam kecelakaan satu hari sebelum pernikahan digelar. Akhirnya, Fathan si bungsu memutuskan untuk menggantikan posisi kakaknya : Menikah dengan Tiara.
Nb : Kisah ini hanya fiktif dan murni hasil pemikiran penulis. Jika ada kesamaan peristiwa, waktu dan tempat kejadian itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Trie Afni Ramadhany II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Selepas sholat isya Adhelia mondar mandir didalam kamarnya.
"Astagaa.. Sekarang gimana?
kok **** banget sih aku, bisa-bisanya aku lupa untuk pesan dua ranjang.
Dia gak bakal tidur disini juga kan?
Tapi, kalo dia tidur disini gimana?
Biar gimanapun juga semua perabotan ini dibeli pake uang dia, bahkan rumah ini juga punya dia.
Kalo aku bersikap seenaknya, terus dia ngusir aku dari sini kayak di serial-serial ftv yang sering di tonton sama nenek gimana?"
Gumam Adhelia.
"Kamu mondar mandir gitu gak capek?"
Tanya Zaki yang sudah berdiri didepan pintu dan sukses membuat Adhelia terkejut.
"Kamu? Kapan kamu pulang? Kok aku gak nyadar?"
Ucap Adhelia.
"Udah dari tadi, aku ucapin salam kamunya malah asyik mondar-mandir kayak setrikaan."
jawab Zaki enteng.
Matilah aku.. Dia dengar yang aku bilang tadi gak ya?
Batin Adhelia sambil menatap Zaki dengan tatapan canggung.
"Kenapa menatapku begitu? Jadi, sekarang kamu takut kalo aku bakal ngusir kamu dari rumah ini?"
Ujar Zaki sambil melangkah mendekati Adhelia.
"Jaga jarak, jangan terlalu dekat."
Ucap Adhelia sambil mundur beberapa langkah.
Melihat reaksi Adhelia, Zaki berniat untuk menjahilinya.
"Sekarang udah malam, diluar juga mulai sepi. Apalagi disini kamu gak punya kerabat atau kenalan. Apa jadinya ya kalau aku mengusir kamu?"
Zaki memutar bola matanya seolah-olah sedang berpikir.
"Tapi, kamu gak berniat melakukan itu kan Zaki? Biar gimanapun juga aku kan istri kamu."
Adhelia tampak mulai takut bahkan menanggapi ucapan Zaki dengan serius.
"Iya sih, tapi kalau kamu masih bersikap seenaknya dan gak nurut sama aku ya aku rasa aku juga gak punya pilihan lain kan."
Ucap Zaki.
Adhelia menelan ludah dan hanya menatap Zaki dengan penuh harap, seolah meminta belas kasihan.
"Semuanya tergantung sama kamu sih. Kalau kamu ingin tetap tinggal disini, kamu harus nurut apa kata suami.
Tapi kalo gak..."
"Oke, aku akan nurut. Tapi tolong jaga jarak."
Ucap Adhelia memotong ucapan Zaki.
"Good wife. Sekarang kamu pasti lapar kan, aku udah beli makanan tadi di warung dekat masjid. ayo makan."
Adhelia menunduk kemudian berjalan mendului Zaki.
Zaki tersenyum sumringah melihat tingkah Adhelia.
Diusir dari rumah? Benar-benar korban drama. Tapi ada bagusnya juga.
Batin Zaki sambil menatap punggung Adhelia.
Setelah makan malam, Adhelia duduk di ruang keluarga sambil menyalakan tv.
Oke, lebih baik aku tidur disini aja dan biarkan dia yang tidur di kasur. Aku gak mau nantinya nasibku berakhir jadi gelandangan diluar sana hanya karena rebutan kamar sama dia.
Batin Adhelia.
"Kamu gak tidur? Udah larut."
Zaki menemui Adhelia yang masih menonton serial kartun detective conan di tv.
"Em, ya. Sebentar lagi. Kamu tidur aja duluan. Oh iya, maaf. aku cuma pesan satu ranjang. Jadi kamu aja yang tidur dikamar. Biar aku tidur disini."
Ucap Adhelia dengan canggung.
Zaki menatap tajam pada Adhelia.
Dia bahkan menolak tidur bersamaku? Aku ini suaminya, dia pikir apa yang akan kulakukan padanya?
Batin Zaki.
"Ayo tidur dikamar."
Zaki menarik tangan Adhelia, namu Adhelia langsung menepisnya.
Baiklah, mari kita lanjutkan drama ini.
Batin Zaki.
"Apabila seorang wanita menghindari tempat tidur suaminya pada malam hari, maka para malaikat melaknatnya hingga pagi hari."
Ucap Zaki.
"Kamu nyumpahin aku?"
Adhelia mendelik.
"Aku gak nyumpahin, itu salah satu hadist dalam riwayat Bukhori."
Jawab Zaki dengan polos.
sontak saja Adhelia langsung bangkit dan berlari ke kamar.
Zaki tertawa melihat tingkah Adhelia.
Benar-benar seperti bocah. Tapi, setidaknya dia sudah mulai menerimaku. Walaupun mungkin karena terpaksa.
Batin Zaki.
Zaki masuk kedalam kamar, dan merebahkan diri di samping Adhelia yang memunggunginya.
"Jangan tidur membelakangi suami, gak baik."
Ujar Zaki.
Adhelia tak bergeming.
"Jadi, kamu mulai gak nurut?"
Zaki memainkan jurus andalannya, dan seketika Adhelia langsung berbalik menghadapnya dengan tatapan tajam.
"Puas?"
Ucapnya.
"Masya Allah.. Ngambeknya aja secantik ini, apalagi kalau tersenyum. Pasti bikin hati meleleh."
Goda Zaki.
Adhelia mendelik, namun tak bisa berkutik.
Akhirnya dengan sangat terpaksa dia menunjukkan senyum palsunya.
"Selamat malam istriku sayang.."
Bisik Zaki sambil melingkarkan tangannya di pinggang Adhelia.
Perlakuan Zaki membuat Adhelia merasa kikuk. Terlebih lagi saat ini wajah Zaki hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Bahkan wajah Adhelia sudah memerah seperti kepiting rebus.
Untunglah Zaki sudah memejamkan mata sehingga dia tidak melihatnya.
Jika saja dia tahu, pastilah dia sudah menjahili istrinya habis-habisan.
Astagaa.. Aku ini kenapa coba? Apa yang terjadi denganku? Rasanya ingin menghilang saja dari muka bumi ini.
Batin Adhelia.
Cukup lama dia menatap wajah tenang Zaki yang sudah terlelap.
Jika saja waktu boleh diputar, aku ingin mengenalmu lebih dulu. Kemudian perlahan-lahan dekat denganmu, hingga aku bisa mulai mencintai kamu. Ya, bisa saja aku jatuh cinta kepada kamu secara perlahan. Atau kamu yang mulai jatuh cinta kepadaku, lalu kita saling mencintai dan akhirnya memutuskan untuk menikah disaat kita sudah sama-sama siap lahir dan batin. Tapi pada kenyataannya, aku harus menjadi istri kamu disaat lahir dan batinku belum siap untuk itu.
Bagaimana aku bisa mengimbangi kamu? Sedangkan aku masih ingin menikmati masa mudaku.
Aku belum ingin dikekang dengan ikatan pernikahan. Aku tidak ingin nasibku seperti aunty Fatimah, yang hanya membaktikan hidup untuk mengabdi pada suaminya.
Bahkan aunty Humairah juga meninggalkan karirnya sebagai seorang Dokter demi suaminya. Aku tidak ingin itu terjadi. Masih terlalu banyak hal yang ingin ku capai.
Kenapa semua orang begitu egois?
Kenapa tak seorangpun memahamiku?
Mereka justru membuat keputusan yang tidak ku inginkan.
Bukan aku tidak menginginkanmu, aku hanya belum menginginkan pernikahan ini.
Batin Adhelia. Dan perlahan airmatanya menetes.