The Sekuel :
1. Heart Darkness
2.The Secret Woman of Mr. Mafia
Secret Love of Mr. Mafia...
Hellton Pascalito seorang pengusaha dari perusahaan terbaik dalam industri UHT, seorang CEO tetapi jua merupakan seorang Mafia yang tak pernah mengekspos dirinya ke dunia luar, hanya gunakan nama samaran untuk mengelola bisnis, telah terpancing ke permukaan publik saat seorang reporter wanita bergabung bersama Pemerintah lakukan genosida pada Mafia. Bisnis ilegalnya terhenti, keluarganya terseret ke balik sel, tetapi lebih dari itu ia terobsesi pada sang reporter yang sangat antipati pada Mafia. Hellton Pascalito akhirnya mulai berburu.
Reporter yang di maksud Hellton adalah Irishak Bella. Seorang wanita yang berani, tegas dan tak takut pada apapun. Ia selalu berdiri di depan kebenaran. Puteri salah seorang pengacara yang berjuang untuk bersihkan negara dari para Mafia. Ayahnya kemudian dibunuh, diracuni dalam pesawat saat akan bertemu Perdana Menteri. Dendam Irishak pada para Mafia membuatnya habiskan hari sebagai jurnalis yang terang-terangan mengejar Mafia. Tak menduga ia malah disekap oleh penjahat yang ia buru.
Sedangkan kolega Hellton Pascalito, Axel Anthony, Putera seorang petinggi Mafia, adalah seorang pria introvert sekaligus pemalu. Kehidupannya lurus taknikuti jejak sang Ayah. Ia sangat tampan, kendati demikian ia takut pada wanita. Ia adalah seorang insinyur dan miliki perusahaan besi baja. Suatu ketika Ayahnya terbunuh ketika putuskan berbalik mendukung pemerintah, dieksekusi di hadapan publik oleh pemimpin tertinggi dalam organisasi Mafia. Irama balas dendam dimulai. Kumpulkan informasi tentang Puteri Tetua yang mengeksekusi ayahnya, Axel Anthony bergerak gunakan kekuasaan Ayahnya untuk memburu Puteri Sang Tetua yang adalah seorang Dokter Muda.
Piqueena Mendeleya seorang dokter magang di sebuah rumah skait swasta, miliki kehidupan sederhana bersama kedua orang tuanya. Setidaknya itulah pikirannya. Tak menduga suatu ketika seorang pria menculiknya dan menodainya di sebuah base camp para Mafia ....
Kisah ini terjalin erat antara dua orang wanita yang dinodai oleh dua orang pria di waktu berbeda dan tempat berbeda.
Takdir secara aneh pertemukan mereka dan mempermainkan kehidupan mereka.
Well, kemana kisah mereka akan berakhir ....
****
Cinta butuh Dinamika.... Please baca Heart Darkness untuk ketahui asal muasal pertemuan para tokoh ini.
Plagiarisme dilarang keras. Please dukung author dengan Like, komentar, vote, rate dan share.
Ja'o Mora Ne'e Miu (I Love You All)
Big Love 😍😍😍 from Senja Cewen To #SenjacewenLover....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24. Lean on Me
Cast for Axel Anthony.
Axel Anthony bukan pria romantis. Seberangi dunianya yang muram dan selalu kesepian, ia bersama Pequeena kini. Satu harapan, ia bisa keluar dari kegelapan hati karena Queena benar-benar sosok yang bisa cerahkan dirinya.
"Terima kasih Tuan Axel Anthony, telah menjemputku dan mengantarku kemari," kata Queena menunduk di bawah kap mobil, tersenyum pada Axel. Mereka di parkiran belakang klinik dalam backstreet relationship dan bersiap-siap suatu waktu disergap Ibunda Axel. Baik Axel maupun Queena hanya ingin bersama habiskan waktu, tak ingin bebankan diri mereka dengan masalah. Sekalipun masalah itu sangat serius.
"Ya, Nyonya. Santai saja! Kita akan bersama malam ini di peternakan Diomanta. Ya Tuhan, aku seperti pria miskin saja, harus menumpang pada temanku untuk berduaan dengan wanitaku," keluh Axel suram. "Baiklah, Queen ..., aku akan pergi ke kantor sebentar dan memeriksa sesuatu lalu kembali untuk menjemputmu!" Axel tersenyum sedikit.
"Baiklah, aku akan menunggumu, Axel!" Masih tersenyum. "Bisakah kemarikan tanganmu sebentar, Tuan?" tanya Queena.
Axel mengerut, amati tangannya.
"Apa ada sesuatu yang salah? Apa kamu akan menghitung denyut nadiku?" tanya Axel ragu-ragu sodorkan tangan kanannya pada Queena.
Queena menggeleng.
"Aku sangat mencintaimu, Axel Anthony! Sampai jumpa nanti!" ujar Queena mengecup punggung tangan pria yang lekas meleleh oleh Queena, terpesona bolak-balik dan biarkan tangannya mengambang di udara sementara Pequeena telah melangkah cepat tinggalkan parkiran. Kecupan berbekas dan secara ajaib berhasil membuat Axel Anthony gagu, merasa jadi pria paling beruntung.
"Oh Man ..., do you see that?! She is mind! I am so so melting!" (Hei Bung, kamu lihat yang barusan?! Wanita itu milikku! Aku melumer!" kata Axel pada dirinya sendiri yang terpantul di spion mobil. Matanya berbinar-binar dan ia tak akan konsentrasi urusi pekerjaan kantor sebab ia akan memikirkan Pequeena sepanjang saat.
Axel Anthony mengemudi tenang menyusuri keramaian kota, ia tak peduli kini meski nanti ada kameraman memotret dirinya dan Queena. Tidak, jangan sampai. Queena akan diserang haters, dituduh perebut kekasih orang. Itu akan lebih mengerikan daripada diserang macam tutul kelaparan.
Apa yang kamu rencanakan, Axel?
Pergi bersama Queena ke sudut bumi lain.
Di mana itu? Salah satu pulau yang tak berpenghuni di Indonesia?
"Baiklah mari kita naik pesawat 18 jam seberangi benua dan pergi ke Indonesia. Lalu, aku akan membeli pulau terpencil yang tak terpeta dan yang tak berpenghuni. Apakah ada?" tanya Axel pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba saja, sesuatu bergetar dari arah bawah lantai mobil. Axel terkejut dan dapati ponsel Queena tergeletak di sana. Layarnya menyala dan sebuah panggilan tengah berlangsung menunggu di angkat.
Putuskan kembali ke klinik, Axel memutar mobilnya di persimpangan jalan menuju kantornya.
Sedangkan Pequeena tersenyum merona merah, mereka nyaris selalu bersama tapi getaran di antara mereka berlangsung lebih dalam dan terasa kuat. Ia mendorong pintu klinik belakang, berjalan nyaris bersenandung di koridor klinik masuk ke dalam ruang praktek bertuliskan "QM", lalu senyumannya pudar perlahan sebelum lenyap. Matanya bercahaya penuh kecemasan, lihat siapa yang berdiri di ruangan prakteknya.
"Pequeena?!"
"I ... ibu Rosana?!" Queena tiba-tiba kelu. Apakah Ibu Rosana melihatnya diantar Axel tadi? Jendela kaca ruangannya menghadap langsung ke parkiran belakang.
"Sayang, mengapa wajahmu ketakutan seperti itu?! Kamu seperti habis melihat hantu? Apakah bedak di wajahku lebih putih satu tone dari kulitku?" tanya Ibu Rosana edarkan pandangan sekeliling mencari kaca untuk bercermin.
"Ti ... tidak Ibu. Wajah Anda baik-baik saja," sahut Queena coba untuk tenang.
"Mengapa wajahmu gelisah? Apa kamu tak suka Ibu berkunjung kemari?!"
Queena menggeleng cepat. "Bukan seperti itu Ibu. A ... aku hanya terkejut," angguk Queena lagi coba yakinkan Ibu Rosana dan dirinya sendiri.
"Mengapa berbohong padaku, Queena?!" tatap Ibu Rosana dengan nada suara tajam dan berubah dingin hingga Queena langsung pucat pasi. Jadi, Ibu Queena melihatnya bersama Axel dan mencium tangan Axel Anthony. Menahan napas. Tangannya berkeringat dingin.
"Ibu ...."
"Mengapa tak jujur padaku kalau kamu bekerja di klinik ini?"
Queena mendadak plong. Udara berlarian dalam tubuhnya setelah tertahan lama di tenggorokan. Terakhir kali pamitan, Queena katakan akan bekerja di sebuah klinik jauh di pedesaan.
"Aku dapatkan tawaran di sini, Ibu Rosana," sahut Queena pelan.
"Apakah kamu berubah pikiran karena seseorang?" tanya Ibu Rosana lagi.
"Ibu Rosana ... aku ...." kata-kata Queena terjeda begitu saja oleh kegugupan.
"Lupakan Queena! Mari ikut Ibu, Sayang. Elleanor telah menunggumu di La Mode House untuk fitting gaun."
"Ibu ... aku sedang si ...."
"Ayolah, Sayang. Aku telah beritahu temanmu, Anna Marylin, bahwa kamu absen sampai malam karena kita ada sedikit kejutan untukmu di rumah."
"Ibu ..., aku ...."
Namun akhirnya, Queena melangkah patuh di belakang istri dari paman bungsunya itu. Ia memikirkan cara untuk mengirim pesan pada Axel. Mencari ponsel. Tak temukan benda itu di dalam tasnya
Ya Tuhan, apa ponselku tertinggal di peternakan? Ia juga harus menelpon Tuan Hellton untuk beritahu bahwa Irishak harus dikasih obat.
"Apakah sesuatu akan terjadi, Ibu Rosana?"
"Ya, setelah fitting, aku akan membawamu ke rumah. Pamanmu ingin bicarakan hal penting."
"Pasti sangat penting," guman Queena sebab Ibu Rosana capek-capek sendirian berkunjung dan menjemputnya.
Mereka naik mobil dalam pengawalan. Ibu Rosana menggenggam tangannya selama dalam perjalanan seperti Ibu dan anak hingga raga Queena dipenuhi pertanyaan sebesar benua Eropa. Ada apa gerangan?
Jangan bilang Axel Anthony akan menikahi Elleanor hari ini! Oh ya Tuhan, tidak. Tolong jangan lakukan ini padaku. Tolong jangan pisahkan aku dan Axel!
Mereka sampai di sebuah butik gown berpapan reklame besar tertera; La Mode Navy Blue. Queena turun dari mobil, gunakan kaca mata hitam pekat dan topi atas perintah Ibu Rosana, mungkin hindari awak media. Ia melangkah masih dengan sejuta tanya di benaknya.
"My Dear Queen," sapa Elleanor Mendeleya tersenyum penuh semangat. Elleanor Mendeleya, sepupu tersayang juga tunangan kekasihnya. Ellen dengan keluguannya, berhasil menyiksa hati Queena. Ya Tuhan. Ellen sangat menyayanginya, begitupula dirinya. Bagaimana bisa ia tega pada Ellen?
"Ellen?!" balas Queena lebarkan tangan dan berpelukan. Ia akan beritahu Eleanor tentang hubungannya dan Axel Anthony.
"Ya Tuhan, terakhir kali aku bertunangan aku melihatmu di rumah Axel Anthony tetapi kamu kemudian hilang. Kemana kamu pergi?"
"Aku punya sedikit urusan," sahut Queena. Percakapan mereka mulai menyerempet ke Axel Anthony.
"Lihat ini, Queena! My wedding gown," ujar Ellen berbinar-binar saat asisten Bridal mendorong manekin beroda memakai gaun pengantin model Sabrina yang sangat indah. "Mom ... aku akan bersama Queena di dalam. Bisakah Ibu tunggu di luar?"
"Baiklah, Sayang. Ibu akan menelpon calon suamimu untuk datang melihatmu." Ibu Rosana mengalah. Mengapa Ibu Rosana berubah lebih lembut dari terakhir kali yang ia lihat.
"Tak perlu, Ibu! Axel mungkin sangat sibuk!" elak Elleanor terlihat tak ingin bertemu Axel. Queena menduga, Elle menghindari Axel yang menuntutnya untuk segera carikan solusi perpisahan mereka sebelum pernikahan terjadi.
"Pakai gaunmu dan biarkan Axel menilaimu!" balas Ibu Rosana tak ingin dibantah.
Tirai ditarik dan Ellen tampak bersemangat mencoba gaun pengantin. Berbanding terbalik dengan Queena yang merana di sisinya.
"Kamu tahu ..., Queena ..., Axel Anthony punya kekasih. Lamaran dibatalkan olehnya waktu itu karena dia punya seorang kekasih."
"Benarkah?!" tanya Queena berbunga-bunga.
"Ya, tetapi aku rasa Axel berbohong!"
"Bagaimana jika benar dia punya kekasih sungguhan?!" Queena mendadak sedikit ngotot.
"Apa aku harus mengalah, Queena?!" tanya Ellen amati dirinya di kaca, sangat cantik dengan gaun mermaid yang membentuk lekuk tubuhnya secara sempurna.
Hening ....
"Apa yang akan kamu lakukan jika kamu ada di posisi kekasih Axel?!" Queena balik bertanya, rapikan tail gaun Elleanor merasa sedih untuk mereka berdua.
"Kamu benar, kekasihnya pasti sangat sedih," jawab Ellen mendung.
Ibu Rosana sekonyong-konyong mengintip dari balik tirai hingga Ellen dan Queena berhenti berbisik.
"Oh Ellen, sayang sekali. Axel Anthony tak akan datang karena sangat sibuk. Axel menitip pesan, berharap kamu tak lupakan janjimu. Jadi, Ibu akan memotret fotomu kenakan gaun dan kirimkan padanya. Pendapatnya juga penting, Ellen. Aku penasaran, janji apa yang sedang terikat?"
Elleanor kepergok langsung gugup dan salah tingkah.
"A ... a ... pa Axel Anthony sungguh katakan itu, Ibu?!" tanya Elleanor lurus pada Ibunya. Mood-nya langsung berubah. Cuaca seakan beralih dari musim semi ke musim panas ekstrim, hingga hati menjadi gersang.
"Aku rasa fitting gaun-nya segini saja," ucap Ellen beberapa saat kemudian.
"Mengapa tiba-tiba tak bersemangat?" tanya Ibu Rosana keheranan.
"Ibu, sebaiknya kita segera bergegas sebelum Ayah menelpon kita," sahut Elleanor malas-malasan.
Queena menghela napas panjang, menduga, Eleanor belum temukan cara untuk batalkan pertunangan. Ini akan bertambah rumit nanti.
"Memangnya apa janjimu pada Axel Anthony, Ellen?" tanya Queen sedih. Mereka kembali berbisik dibalik tirai agar tak kedengaran Ibu Rosana.
"Batalkan pertunangan atau Axel akan lakukan menurut caranya sendiri. Aku pikirkan Ayah, jika Axel mengambil alih langkah ini!"
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tak tahu. Aku merasa sangat payah!" Elleanor menatap nanar pada gaun pengantin yang dibawa pergi asisten bridal lalu pada Queena.
"Aku akan atasi masalah ini walau belum temukan cara. Saat ini, mari kita bersiap."
Elleanor segera mendorong Queena keluar dari ruang fitting dan pergi ke sebuah ruangan lain berisi banyak cermin besar dan didudukan di depan cermin. Beberapa orang penata rias mulai bersiap dengan hamparan produk make up juga berbagai perlengkapannya.
"Ei, ada apa ini?"
"Please! Jangan banyak tanya, Queena!"
"Ellen?!" Queena melirik Elleanor yang duduk tenang di sisinya. Wajah Ellen mendung. Sepertinya salam dari Axel benar-benar telah merusak hari. Queena pejamkan mata, ini tidak benar. Ia harus beritahu Ellen yang sebenarnya.
"Ellen, aku ingin bicarakan hal penting denganmu!" Queena kumpulkan keberanian.
"Oh Queen, tidak ada hal lebih penting selain pergi ke beauty salon denganmu, My Dear Queena. Maaf menyeretmu dalam masalahku. Mari bersenang-senang. Kita akan dibikin sangat cantik hari ini!"
"Eh, Ellen. Aku harus pulang dan merawat seorang pasien yang menderita amnesia."
"Jangan berisik Queena! Kau seakan tak kenal Ibuku saja," balas Elleanor condongkan kepala pada Queena. Ibu Rosana duduk dengan anggun di sofa sambil membaca majalah fashion.
"Tapi, untuk apa ini?"
"Calm down, Baby! Aku juga tak paham tetapi sepertinya kita akan lewati satu ceremonial penting."
Sangat aneh Ibu Rosana inginkan dirinya bergabung di seremonial yang bisa jadi akan ada banyak wartawan.
Begitulah akhirnya Queena dan Elleanor memakai gaun cantik yang indah setelah fitting beberapa gaun berwarna yang sama. Keduanya berubah lebih cemerlang dengan riasan natural flawless. Queena kemudian digandeng Elleanor, digiring masuk ke dalam mobil dan tinggalkan La Mode Navy Blue.
Waktu berjalan dengan cepat. Seakan hanya mengedip, ia telah sampai di rumah pamannya. Bersyukur tak ada awak media seperti kecurigaannya. Suasana rumah tenang, Queena menduga, ini adalah makan malam kekeluargaan terlihat dari nuansa taman belakang yang sedikit cerah oleh lampu dan deretan kursi vintage. Tujuh orang. Okay, Queena tak berharap Ibunda Axel juga hadir. Ia tak ingin terus konfrontasi.
"Ini perjamuan makan malam?" tanya Queena berbisik was-was.
"Ya, dan Axel Anthony juga hadir?! Bukankah tadinya dia sibuk? Hidupku penuh kejutan. Terus terang seandainya ia miliki sedikit saja sifat adiknya yang periang, ia akan sangat sempurna," keluh Elleanor dapati Axel Anthony berpakaian rapi dalam setelan jas abu-abu, rambutnya sedikit berantakan dan mata pria itu tak berkedip menatap ke arah mereka. Elleanor langsung salah tingkah.
Sayang sekali, Axel sedang terpesona dan tujuannya adalah wanita di sebelah Ellen. Setelah sedikit riasan mata natural dan perona pipi, Queena berubah jadi Rossy Chick. Tetapi, Axel tahu lebih baik, Queena lebih cantik tanpa riasan di wajahnya. Wanita itu memang terlahir cantik natural.
"Maksudmu Tuan Hector Anthony?!" tanya Queena pelan.
Hector Anthony juga hadir, duduk di sisi kakaknya. Rambut gondrong menghilang. Kesan liar pria itu musnah dengan sendirinya tapi baik Queena maupun Ellen yakini, penampilan Hector tak akan merubah perilakunya. Pria itu juga terpesona, sama seperti kakaknya. Tak tahu siapa yang berhasil buatnya terpaku.
"Aku berharap dia terpesona padamu bukan padaku," keluh Ellen lagi jengkel pada sikap Hector. "Mengapa juga Axel mengajak adiknya itu?"
"Bukankah tadi, katamu, kamu suka sikapnya yang periang?!"
"Dia over dosis, Queena! Maksudku ... Axel Anthony seperti membawa semua kesedihan di dunia ini dan adiknya seakan menampung semua keceriaan dunia ini. Kamu mengerti kan maksudku? Dan Hector sangat narsis!" tambah Elleanor. "Kamu tahu Queena, dia merayuku!" tuduh Ellen melotot pada Hector yang mengawasi mereka dari jauh. "Padahal aku tunangan kakaknya! Bukankah itu gila? Dia punya banyak kekasih."
"Emm, ya jelas. Bisa kulihat. Lalu ..., siapa pria lain di samping Tuan Hector Anthony?" tanya Queena.
"Kamu akan tahu nanti. Bukankah dia sangat tampan?" goda Ellen.
"Emm, tidak juga," sahut Queena. Axel Anthony jauh lebih tampan darinya. Queena hampir saja utarakan pendapatnya.
"Berhentilah berbisik, Ellen! Queen!" tegur Ibu Rosana kagetkan keduanya. Queena dan Ellen saling pandang. "Apa mulut kalian berdua tak capek terus saja komat-kamit dari tadi?!"
"Apa Ibu dengarkan percakapan kita?" tanya Ellen tanpa suara pada Queena.
"Aku tak tahu!"
"Oh lihatlah, mereka sudah datang."
Queena mencuri pandang pada Axel dan pria itu kedipkan sebelah matanya, sangat tipis. Queena segera berpaling takut mata elang Ibu Rosana menangkap gelagat Axel Anthony. Pria itu seakan tak peduli lagi.
"Sayang, apa menunggu lama?!" sapa Ibu Rosana dan duduk di dekat suaminya sedang seorang pria di sisi lain di samping Axel Anthony. Ibu Rosana mengangguk pada Queena juga Ellen untuk mengambil tempat sejajar dengannya.
"Queena, perkenalkan ini Tuan Benedicto Alfonso. Beliau adalah salah satu penasihat terbaikku. Aku mengundangnya malam bersama kita karena aku ingin beliau berkenalan denganmu. Aku ingin seorang pria hebat untuk melindungimu, Queena. Aku sangat yakin, Benedicto bisa menjagamu dengan baik."
Queena menangkap bayangan samar Axel Anthony dan pria itu jelas menatapnya dengan ekspresi teraneh yang pernah dilihat Queena terlempar dari sorot mata indahnya. Semua orang sedang menatapnya.
"Nona Queena ..., perkenalkan namaku Benedicto Alfonso."
Queena terdiam untuk beberapa detik.
"Uncle Jemy ... maafkan aku sangat lancang dan tidak sopan. Aku punya kekasih," ujar Queena terus terang, tidak bermaksud permalukan pamannya. "Maafkan aku, Tuan Alfonso," tambah Queena meminta maaf ke arah pria di sisi Axel. Sedangkan Axel hanya amati dirinya. Mata cokelat pria itu berkilat-kilat diterpa cahaya remang lampu juga cahaya lilin di meja makan.
"Benarkah?"
Queena mengangguk penuh keyakinan. "Ya, Uncle. Aku sangat mencintainya." Queena kemudian bangkit berdiri. "Maafkan aku, tetapi aku akan pergi sekarang!"
"Sayang, kembalilah duduk dan nikmati makan malammu! Aku hanya ingin kamu lebih dekat dengan Tuan Alfonso yang lembut dan baik hati ini Pequeena. Aku memikirkanmu. Tetapi, jika kamu menolaknya, aku harap Tuan Alfonso tidak tersinggung."
Tuan Alfonso tersenyum kecil, "Katakan padaku jika Anda putus dengan kekasih Anda, Nona! Kita mungkin bisa dekat."
"Tidak Tuan, aku tak bisa hidup tanpanya," balas Queena hingga semua mata kini tertuju padanya tidak terkecuali Ibu Rosana. Jadi, alasan Ibu Rosana menjemputnya karena acara perjodohan ini?
"Queena, kamu tak putus sama kekasihmu meski Ibunya menentang hubungan kalian?" tanya Elleanor penasaran.
Queena menatap Elleanor, pertimbangkan sesuatu. Ia tak ingin sakiti Elleanor tetapi ia tak bisa biarkan kisahnya dan Axel terus disembunyikan.
Sementara Queena menyusun niat untuk bicara ....
"Apakah kamu sungguh-sungguh tak ingin berpisah dari Axel Anthony?!" tanya Ibu Rosana tanpa menoleh pada Queena.
Di sinilah akhirnya.
"Queen ... apa maksud Ibu?"
Elleanor menengok pada Queena lalu pada Axel Anthony kembali pada Queena. Mata Ellen berkaca-kaca saat menatap Queena. Elleanor seakan dihantam sesuatu, meremas dadanya kuat. Ia masih memakai cincin pertunangannya.
"Queena?!"
"Ellen ... maafkan aku."
"Elleanor, wanita yang aku cintai adalah Pequeena Mendeleya. Hari ini tepat sebulan lalu, bayi kami meninggal."
***
Wait me Up ....
Aku menunggu komentarnya ya.... Jangan lupa like di komentar readers juga. Aku hargai semua hal sekecil apapun yang dilakukan readers untuk membuat popularitas Novel ini semakin menanjak.
Aku Mencintaimu ....
tapi kenapa aku mesti balik lagi kesini 😭
semoga diluar sana tidak ada wanita yg bernasib seperti irishak