Hira Arinta perempuan memiliki banyak talenta yang diwarisi oleh ayahnya. Hidup Hira selalu di bawah kendali orang tuanya, keinginan terbesar orang tuanya yaitu menjadi dokter bedah. Namun, Hira mematahkan harapan keduanya dengan mengambil jurusan desain komunikasi visual.
Tidak ada cinta dan kasih sayang yang Hira dapatkan sejak kedua orang tuanya mengusir dari rumah dimana tempat selalu mendapatkan cinta.
"Aku membenci kata cinta yang meruntuhkan cita-cita ku."
Bintang Aditya Prawira pria berprofesi sebagai tentara berpangkat Kolonel, berstatus duda. Memiliki putri cantik bernama Kihana, Adit harus menjadi sosok ayah sekaligus ibu untuk Kihana. Cintanya tidak bisa terukur untuk sang putri, kehilangan sosok ibu tidak akan kehilangan juga sosok ayah, baginya Kihana prioritas utama.
Tuhan berkehendak lain, Adit dipertemukan dengan sosok Hira Arinta yang penuh misterius.
"Aku akan menumbuhkan dan memberikan cinta yang pernah hilang dalam hidupmu." Bintang Aditya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NatiaGeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia milik kita berdua
Hira merasa takjub dengan pria yang duduk di antara dua sujud, Aditya kidmat membacakan doa. Tubuh tegap itu menunduk sambil mengangkat dua tangannya meminta keridhoan sang pencipta.
Aditya berbalik berdiri dan berjalan ke arah Hira, dia menggulurkan tangan untuk bersalaman, mencium kening sang istri. "Semoga saya bisa membahagiakan kamu." Ucap Aditya melepaskan ciumannya.
"Panggung kamu masih perih? coba saya periksa dulu...semalam saya sudah memberikan antiseptic." Aditya membuka sarung dan peci dan mendekati kembali Hira yang membuka mukenanya.
Hira membalikkan tubuhnya, Aditya melihat seksama bekas luka yang sudah mengering, dia menekan bagian memar yang sudah menggelap.
"Abang....bagian itu sakit...banyak ya bekas cambukan ikat pinggang bapak." Ucap Hira yang berniat akan turun dari tempat tidur.
"Mau kemana kamu?"Aditya menahan tangan Hira yang akan beranjak menuju cermin besar dekat pintu kamar mereka.
"Aku mau lihat hasil karya Johan Siregar."
"Ga usah....nanti kamu bisa trauma.... sekarang ikut saya beli salap." Aditya mengganti baju dan celananya, tak butuh lama pria itu sudah selesai berpakaian.
"Tangan udah bisa gerak? Atau mau saya bantu." Hira menggeleng lalu mengangguk patuh, kapan lagi dilayani seperti putri bangsawan.
Aditya mencari baju yang cocok digunakan Hira, dia mencari pakaian di dalam koper sang istri, baju Hira tak kurang hanya lima buah.
"Kamu ternyata suka baju kemeja dan kaos." Komentar Aditya mengambil salah satu kemeja kotak-kotak besar dan celana skinny jeans milik Hira.
"Abang ga lupa kan...kalau aku masih anak kuliahan...ga mungkin ada koleksi dress atau gaun malam." Hira duduk di tepi tempat tidur agar memudahkan Aditya memasangkan baju untuknya.
"Saya suka kok dengan selera pakaian kamu... Saya merasa sepuluh tahun lebih muda kalau jalan bersama kamu." Ucap Aditya menyelesaikan memasangkan celana Hira.
Ketika akan memasangkan baju, Hira sejak tadi memang belum memakai penutup untuk bagian buah pepaya yang membuat Aditya kagum.
"Gimana keluar jika tidak memakai penutup itu...bisa bergoyang nanti itu buah kesayangan saya." Gumam Aditya kebingungan untuk bagian atas tubuh Hira.
Hira melotot mendengar gumaman Aditya, pikirnya pria itu tidak memiliki fantasi dengan buah yang tergantung dengan indah di tubuhnya.
"Ambil tank top bra warna putih itu Abang...ada dalam koper aku." Tunjuk Hira pada kain tipis berwarna putih itu.
Aditya mengambil lalu memasang dengan hati-hati, ada pakaian multifungsi seperti ini pikirnya. Selesai memasang pakaian untuk Hira, Aditya menyisir rambut Hira yang bergelombang.
"Biar tidak kelihatan kucel...kasih foundation atau pelembab dulu ya....alat makeup kamu sedikit sekali... berbeda dengan Dina." Ucap Aditya mengacak-acak isi penyimpanan peralatan makeup Hira.
"Kasih bedak bayi aja...aku ga suka muka terlalu berat dengan foundation." Sejak dulu Hira paling tidak suka dengan berpenampilan girly, dia memilih apa adanya sesuai dengan kantong sakunya.
Pagi ini Hira dilayani layaknya seorang putri bangsawan, dari berpakaian hingga memoleskan wajah dilakukan oleh Aditya. Pria dengan telaten mengurus Hira, dia tidak mengeluh jika Hira meminta ini itu.
"Aku udah seperti putri kerajaan Joseon." Komentar Hira melihat tampilan di cermin rias kamar mereka huni.
"Kamu permaisuri saya....putri dari kerajaan Johan Siregar saya cilik lalu menjadi ratu nya Aditya Prawira." Hira melongo mendengar ucapan Aditya, tidak seperti yang dikiranya, Pria ini memiliki selera humor juga.
"Hari ini kita pacaran halal ya...saya ingin mengetahui tentang kamu lebih jauh lagi...kita mulai dari awal." Aditya membimbing Hira keluar dari kamar mereka.
"Hmm." Hira melihat ke kanan kiri ini bukan daerah Surabaya, di sini sedikit lebih panas dibandingkan kota Surabaya.
"Kita dimana ini Bang...perasaan kemaren kita tidak jauh pergi deh."
"Ada deh...anggap saja kita bulan madu....Kapan lagi kita keluar dari zona nyaman..saya ingin mengajak kamu ke sesuatu tempat." Aditya melajukan mobilnya ke arah selatan kota Malang.
senyuman Hira terkulum karena dia mendapatkan perhatian lebih dari sang suami, sangat berbeda jauh jika dia bersama dengan keluarganya. Aditya tahu jika hati Hira pasti berbunga atas perlakuannya tadi pagi hingga sekarang, dari balik kaca mata hitam itu, Aditya selalu memperhatikan setiap gerak gerik tubuh Hira.
"Jatim Park....Aku belum pernah ke sini....kata teman aku banyak wahana seru." Hira sumringah membaca pintu masuk area permainan ini.
"Berarti saya tidak salah pilih dong... Nikmati wahana di sini dengan se puas nya....saya ingin melihat kamu kembali tersenyum." Aditya memberi tiket wahana yang dibelinya sebanyak mungkin untuk menikmati semua wahana di taman Jatim Park ini.
"Aku mau naik roller coaster ya...ya... punggung aku udah ga sakit kok....Abang mau ya temani aku." Hira dengan semangatnya menarik Aditya mengikuti wahana yang menguji nyali ini.
Keduanya menaiki wahana roller coaster, Hira sudah lama ingin pergi ke tempat rekreasi seperti ini. Namun, bapak Johan selalu melarangnya pergi jauh, Hira harus patuh dengan perintah Johan.
Rambut bergelombang Hira ikat agar tidak berterbangan, ketika permainan segara di mulai, Hira secara refleks mengeratkan pegangan tangannya pada tangan Aditya. Tangan bertekstur kasar itu bertautan dengan tangan besar Aditya.
Hira dan Aditya keluar dari zona nyaman mereka, Hira berteriak ketika kereta roller coaster memacu kecepatan di jalurnya. Perasaan tersiksa selama ini terpecah belah menjadi berkeping-keping, jiwa Hira merasakan kebahagiaan tak terhingga. Dia bisa merasakan kebebasan bersama orang yang tepat, pria yang ikut berteriak bersamanya, pangkat dan jabatannya dilepaskan untuk satu hari ini demi Hira Arinta.
"Kamu mau naik wahana apa lagi... tiketnya masih banyak." Keduanya mencari wahana yang memacu adrenalin.
Hira menunjukkan salah satu permainan adu nyali, dia memilih permainan Histeria, perempuan seperti tidak puas untuk berpacu Adrenalin, Aditya bersyukur Hira hari ini bisa merasakan kebahagiaan bersamanya terlihat dari binar bahagia yang keluar di wajah Hira.
Sakit pukulan Johan tidak dipedulikan Hira, berbagai permainan mereka coba, Hira dan Aditya tidak bosan menaiki berbagai wahana di Jatim Park.
"Abang Aditya makasih udah ajak aku ke sini....ini jadi kenangan terindah dalam hidup aku." Hira memeluk Aditya, perempuan memang mudah untuk merubah suasana hatinya.
Aditya mengecup rambut Hira, perempuan yang berada dalam pelukannya ini akan menjadi ratu di hati Aditya, pria itu tidak bisa berbohong jika pesona Hira seperti magnet, sangat kuat.
"Kita makan dulu....habis ini kita ke kebun Apple...Kamu suka ga memetik buah."
"Aku lebih suka Abang yang memetik buah kesayangannya Abang." Seloroh Hira meninggalkan wajah Aditya yang memerah, perempuan itu selalu ekspresif jika menyangkut hal intim.
"Kamu menggoda saya ya." Aditya mengejar Hira yang berlari, pria berpangkat Kolonel itu sudah lupa dengan pangkat dan jabatannya jika bersama Hira.
Aditya tahu jika Hira cuma bercanda, ketika ditatapnya secara intens Hira memalingkan wajahnya apalagi jika Aditya benar melakukan permintaan istrinya, pasti perempuan itu kabur.
" Ayo saya suapkan makan...tangan kamu kan masih sakit...ga usah lihatin orang lain... sekarang dunia milik kita berdua." Aditya menyuapkan makanan pakai tangannya ke mulut Hira.
"Abang Aditya malu tahu dilihatin orang-orang...aku coba pake sendok aja ya." Hira risih melihat tatapan kagum orang-orang kepada sang suami.
Aditya menyingkirkan tempat sendok dari meja mereka, dia tersenyum melihat wajah pasrah Hira ketika disuapkan saat makan.
"Istrinya ngidam ya Mas...anaknya ingin merasakan nasi dari tangan bapaknya ya." Ucap salah satu pengunjung restoran itu.
"Iya Mas....lebih enak katanya." balas Aditya sambil memberikan senyuman smirk miliknya, entah apa yang direncanakan Tentara satu ini.
BPK nya