Di dunia bernama Archeon, sihir bukan sekadar kekuatan.
Sihir adalah hukum.
Langit dipenuhi lingkaran rune raksasa yang terus berputar di atas awan. Laut bercahaya biru di malam hari karena mana mengalir seperti darah di bumi. Dan setiap manusia lahir dengan “Sigil” — tanda sihir yang menentukan takdir mereka.
Ada yang lahir sebagai penyihir api.
Ada yang mengendalikan badai.
Ada yang mampu berbicara dengan roh.
Namun…
Ada satu Sigil yang dianggap kutukan.
Sigil tanpa elemen.
Sigil kosong.
Dan pemiliknya…
Biasanya mati muda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenken77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Gelombang pertama dari Legiun Abisal tidak datang dengan derap langkah kaki, melainkan dengan bau busuk yang merontokkan dedaunan dan melunakkan batuan pesisir. Azure Coast yang dulunya indah kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh hamparan lumpur keunguan yang berdenyut, seolah-olah tanah itu sendiri telah berubah menjadi organ dalam dari raksasa yang sedang sekarat.
Di batas antara tanah yang sehat dan wilayah yang membusuk, Aliansi Archeon berdiri. Sepuluh ribu prajurit bayangan Vorgas membentuk barisan dinding yang tak terputus, perisai-perisai obsidian mereka ditancapkan ke dalam tanah, memancarkan kabut hitam tipis untuk menahan uap asam yang berembus dari arah laut. Di belakang mereka, para ksatria Solaria menggenggam tombak dengan tangan gemetar, sementara para penyihir Veridian terus merapal mantra pelindung pada zirah rekan-rekan mereka.
Kael Ravenhart berdiri di sebuah bukit karang yang menonjol, menatap lurus ke depan. Di tangannya, pedang kuno dari Eldravale tidak lagi memancarkan api, melainkan dikelilingi oleh distorsi ruang yang samar. Di sampingnya, Liora Ashveil memegang tongkat pemancar yang terhubung langsung dengan jaringan menara katedral di garis belakang.
"Mereka datang," bisik Kael.
Dari balik kabut laut yang pekat, ribuan Abyssal Ravagers melesat maju. Gerakan mereka patah-patah, mengabaikan hukum fisika, melompati jarak puluhan meter dalam sekejap mata. Di antara mereka, merangkak makhluk-makhluk yang lebih besar—Abyssal Behemoths, gumpalan daging berotot tanpa kulit seukuran rumah yang membawa palu-palu dari batu karang kuno.
"Tahan barisan!" raung Jenderal Vorgas. Suaranya yang bervibrasi dengan energi Void menggelegar di sepanjang garis depan.
BOOM!
Benturan itu menghasilkan gelombang kejut yang meruntuhkan beberapa tebing karang di sekitarnya. Barisan prajurit bayangan terdorong mundur beberapa meter, namun mereka tidak pecah. Tentakel-tentakel hitam melonjak dari balik perisai obsidian, melilit kaki-kaki para Ravager, mencoba mengunci mereka di tempat.
"Sekarang! Sayap Eclipse, serang!" Jaina memberi perintah dari barisan ksatria manusia.
Tombak-tombak panjang yang telah dilumuri minyak obsidian dihujamkan menembus sela-sela perisai. Ketika tombak itu menusuk daging luar para Ravager, suara mendesis keras terdengar. Seperti yang telah diprediksi Kael, energi Void pada senjata itu tidak membunuh mereka, melainkan menciptakan reaksi penolakan yang memperlambat regenerasi sel mereka.
Namun, Legiun Abisal tidak mengenal rasa takut atau lelah. Ketika satu Ravager terjebak, makhluk di belakangnya akan menggunakan tubuh temannya sebagai pijakan untuk melompati barisan perisai, mendarat tepat di tengah-tengah ksatria manusia.
"Ahhhh!" Jeritan mulai terdengar saat beberapa ksatria Solaria terkena sabetan bilah tulang. Luka yang dihasilkan langsung menghitam, membusuk dalam hitungan detik karena racun anti-materi.
"Penyihir Veridian, murnikan tanahnya!" teriak Liora melalui kristal komunikasi.
Naga-naga tulang di langit menukik rendah, menyemburkan getah Yggra yang telah diubah menjadi hujan perak. Ketika cairan itu menyentuh lumpur ungu Abisal, tanah tersebut bergejolak hebat, melepaskan uap putih yang menetralkan asam untuk sementara waktu, memberikan ruang bagi para ksatria manusia untuk bernapas dan menarik rekan mereka yang terluka.
Meskipun pertahanan aliansi berjalan sesuai rencana, Kael tahu ini hanya masalah waktu sebelum pasukannya kelelahan. Di tengah samudera, pilar cahaya hitam bergetar semakin hebat, menandakan bahwa entitas yang lebih kuat dari Malphas sedang bersiap untuk menyeberang.
"Liora, sudah waktunya," ucap Kael tanpa menoleh.
Liora mengangguk, wajahnya dipenuhi keseriusan yang mendalam. Ia menancapkan tongkat pemancarnya ke puncak bukit karang. "Seluruh penyihir di garis belakang, aktifkan Jaringan Jembatan Fajar! Salurkan seluruh esensi matahari perak ke titik koordinatku!"
Jauh di Convergence City, Archbishop Metatron dan ratusan pendeta tinggi mulai merapal mantra sinkronisasi. Matahari perak di langit Archeon mendadak berdenyut. Seberkas cahaya keperakan yang sangat besar meluncur turun dari angkasa, menghantam tongkat pemancar Liora, lalu dibiaskan langsung ke arah punggung Kael.
GRRRRAAAAKKK!
Kael menjerit pelan saat energi murni itu menghantam tubuhnya. Rasa sakitnya luar biasa. rasanya seperti ribuan jarum es cair dipaksakan masuk ke dalam pembuluh darahnya yang terbiasa dengan kehangatan Void. Tubuhnya mulai memancarkan kilatan cahaya putih, sementara pola Sigil di tangannya merespons dengan melepaskan kabut hitam pekat.
Dua energi yang saling bertolak belakang itu bertarung di dalam dada Kael, menciptakan suara dengungan yang membuat seluruh medan perang terdiam sesaat.
"Tahan dirimu, Kael!" Umbra berteriak di dalam pikirannya, kali ini suaranya penuh kepanikan yang nyata. "Kau membiarkan mereka mencampuradukkan jiwamu! Kau akan hancur jika konsentrasimu pecah walau sekejap!"
"Diam..." desis Kael, giginya berkerenyet hingga berdarah. Ia memfokuskan seluruh kehendaknya pada memori tentang Eldravale, tentang tatapan tulus Liora, tentang dunia yang ingin ia lihat esok hari. Kehendak itu bertindak sebagai semen yang merekatkan minyak dan air, memaksa cahaya dan kegelapan untuk berdamai di dalam dirinya.
Ketika Kael membuka matanya, pupilnya telah berubah menjadi lingkaran ganda—putih di luar, hitam pekat di dalam. Ia telah menjadi perwujudan dari Celestial Void.
Kael melompat dari bukit karang, meluncur jatuh tepat di tengah-tengah kerumunan Abyssal Behemoths.
Mendaratnya Kael tidak menciptakan ledakan kawah biasa. Gelombang energi perak-hitam menyapu permukaan tanah dalam radius seratus meter. Puluhan Behemoth dan ratusan Ravager yang berada di area tersebut mendadak membeku. Tubuh mereka tidak hancur atau meledak, mereka perlahan-lahan kehilangan warna, menjadi transparan, lalu memudar menjadi ketiadaan seolah-olah dihapus oleh tangan yang tak terlihat.
Inilah kekuatan sejati dari Celestial Void: Pembatalan Mutlak.
Kael berjalan menembus barisan musuh. Setiap kali ia mengayunkan pedangnya, sebuah tebasan energi perak-hitam meluncur, memotong barisan Legiun Abisal seperti pisau panas memotong mentega. Makhluk-makhluk yang sebelumnya menyerap sihir suci kini menjerit dalam frekuensi yang menyakitkan saat energi Kael menyentuh mereka, merusak kode eksistensi mereka dari tingkat paling dasar.
"Luar biasa..." gumam Captain Jaina yang menyaksikan pemandangan itu dari atas benteng pertahanan. "Dia sendirian meratakan satu pasukan."
Namun, Liora yang memegang tongkat pemancar tahu harga yang harus dibayar. Tangan Kael yang memegang pedang mulai retak, mengeluarkan partikel cahaya putih seolah-olah kulit manusianya mulai terkikis oleh energi yang ia bawa.
"Kael, jangan terlalu memaksakan diri! Kau harus menghemat energi itu untuk menutup gerbang di dasar samudera!" teriak Liora.
Kael tidak berhenti. Ia tahu bahwa jika ia tidak membersihkan pantai ini sekarang, pasukannya tidak akan bisa mengamankan pelabuhan bagi kapal yang akan membawanya ke Deepest Trench.
"CELESTIAL VOID: JUDGMENT OF ECLIPSE."
Kael mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Langit di atas pantai Barat mendadak terbelah. Sebuah replika matahari perak kecil yang dikelilingi oleh cincin gerhana hitam pekat muncul di antara awan kelabu. Replika itu meluncur turun, menghantam permukaan laut di depan barisan pantai.
SHUUUUUUUU—
Suara ledakannya tidak memekakkan telinga, melainkan sebuah keheningan yang menyedot semua suara di sekitarnya. Air laut yang membusuk, ribuan Ravager yang sedang berenang, dan kabut belerang di atasnya... semuanya terhisap masuk ke dalam titik gerhana tersebut sebelum akhirnya lenyap total. Pantai Barat kembali bersih dalam sekejap, menyisakan pasir putih yang kini berkilau di bawah sinar matahari perak yang asli.
Aliansi bersorak melihat kemenangan mutlak itu. Para ksatria Solaria mengangkat senjata mereka, meneriakkan nama Kael yang dulunya mereka kutuk.
Namun, kegembiraan itu tidak berlangsung lama.
Pilar cahaya hitam di tengah laut yang sempat meredup tiba-tiba meledak dengan kekuatan yang sepuluh kali lebih besar. Gelombang tsunami berwarna ungu setinggi lima puluh meter bergulung menuju pantai, membawa serta tekanan aura yang membuat beberapa penyihir di garis belakang langsung muntah darah dan pingsan, memutuskan sebagian jaringan energi Liora.
"Ah!" Liora berlutut, memegang dadanya yang terasa seperti dihantam godam. "Jaringannya... jaringannya retak!"
Kael merasakan pasokan energi cahayanya berkurang drastis. Sisi Void di dalam dirinya langsung mencoba mengambil alih, membuat matanya kembali menggelap dan retakan di tubuhnya semakin melebar.
Dari dalam ombak raksasa yang mendekat, sebuah suara tawa yang melengking memecah keheningan. Sesosok entitas dengan tubuh kurus tinggi yang menyerupai wanita, namun memiliki delapan lengan berbilah tulang dan kepala berbentuk mahkota duri, melayang di atas air.
Itu adalah Xylar, Sang Ratu Penyesalan, salah satu dari tiga penguasa Abisal.
"Malphas adalah orang bodoh yang terlalu percaya pada ototnya, Ravenhart," suara Xylar terdengar merayap di dalam pikiran setiap orang di pantai, memicu kembali memori-memori terburuk mereka. "Kau pikir kau bisa menutup gerbang ini dengan tubuh manusiamu yang rapuh itu? Lihat dirimu... kau sudah mulai hancur dari dalam."
Xylar melambaikan salah satu lengannya. Gelombang tsunami itu tidak menghantam pantai sebagai air, melainkan pecah menjadi miliaran jarum hitam yang mengincar seluruh pasukan aliansi.
Kael berdiri di depan pantai, membelakangi pasukannya. Dengan sisa-sisa energi Celestial Void yang tidak stabil di dalam tubuhnya, ia menancapkan pedangnya ke pasir, bersiap untuk menahan serangan itu sendirian dengan tubuhnya sebagai perisai.
"Aku mungkin hancur, Xylar," ucap Kael, suaranya terdengar berat dan lelah namun penuh keteguhan. "Tapi sebelum itu terjadi, aku akan memastikan bahwa kalian tidak akan pernah melihat langit dunia ini lagi."
Jarum-jarum hitam itu menghujani posisi Kael, menciptakan kabut debu putih-perak yang tebal. Di belakangnya, Liora berteriak memanggil namanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa penyihir untuk menyambung kembali jaringan yang terputus. Palagan Pesisir Kelabu telah mencapai titik kritisnya, dan sang mantan Kaisar kini berdiri di ambang batas kemanusiaan dan keilahiannya sendiri.