NovelToon NovelToon
Beauty & Berondong

Beauty & Berondong

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:835.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bundew

Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.

Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.

Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.

Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.

Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.

Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KERAS KEPALA

Ben masih merasakan matanya yang begitu lengket dan susah dibuka, saat pria itu melihat sekilas Ayunda yang sudah rapi mengenakan setelan baju kerja.

Apa?

Mata Ben langsung terbuka seketika dan tak jadi lengket. Ben yang posisinya sudah berubah tengkurap, segera mengangkat kepalanya dan menatap heran pada Ayunda yang sedang menggelung rambutnya.

"Ay, kau mau kemana?" Tanya Ben menyelidik.

"Ke kantor. Sudah dua hari tidak masuk, pasti banyak yang terbengkalai," jawab Ayunda tanpa sedikitpun menatap pada Ben.

"Tapi kau masih berduka," Ben bingung harus melanjutkan kalimatnya bagaimana.

"Aku hanya akan terus-terusan merasa sedih jika hanya diam di rumah," tukas Ayunda mencari alasan.

"Jika aku kembali bekerja, setidaknya aku punya kesibukan dan mungkin pikiranku juga akan teralihkan. Jadi aku tak akan lagi merasa sedih sepanjang waktu," sambung Ayunda lagi seraya meletakkan sisir yang sudah selesai ia pakai.

Ben bangun dengan cepat dan kini sudah duduk di tepi tempat tidur. Pria itu melirik sejenak ke arah jam dinding yang tergantung di kamar Ayunda yang sudan menunjukkan pukul delapan pagi.

"Aku antar, ya!" Tawar Ben seraya mengusap-usap wajahnha yang masih terlihat mengantuk.

"Tidak usah! Kau terlihat masih mengantuk. Aku akan naik ojek saja," tolak Ayunda cepat.

"Kata siapa mengantuk? Aku sudah tidak mengantuk ini," kilah Ben yang sudah dengan cepat meraih kausnya, lalu mengenakannya.

Ben mencari-cari kamar mandi di dalam kamar Ayunda dan pria itu baru ingat kalau tidak ada kamar mandi di dalam kamar Ayunda.

"Aku akan cuci muka sebentar!" Ucap Ben seraya keluar dari kamar Ayunda dengan cepat.

Ayunda sudah meraih tasnya dan segera ikut keluar, sesaat setelah Ben keluar.

Ben kembali ke kamar dan tak mendapati Ayunda. Pria itu kembali keluar dari kamar dan ternyata Ayunda sedang pamit pada Mbak Tika di teras depan.

Ck!

Tidak sabaran sekali!

"Mas Iyan!" Ben memanggil Mas Iyan yang baru keluar dari kamar.

"Ada apa, Ben?"

"Pinjam motornya sebentar buat antar Ayunda ke kantor," Ben lupa meletakkan kunci mobilnya dimana. Jadi Ben akan meminjam motor Mas Iyan saja.

"Ayunda sudah mau masuk ke kantor?" Mas Iyan malah mengerutkan kedua alisnya.

"Iya. Keras kepala dia. Nggak mau cuti dulu," jawab Ben sedikit menggerutu.

Mas Iyan segera mengangsurkan kunci motornya pada Ben.

"Bisa naik motor memang?" Tanya Mas Iyan meragukan.

"Bisalah!" Jawab Ben cepat yang sudah berlari keluar dari panti. Hanya ada Mbak Tika dan anak-anak. Ayunda sudah tidak terlihat lagi.

Sial!

"Ben-"

"Ayunda udah berangkat, Mbak?" Ben menyela sapaan dari Mbak Tika.

"Iya, baru aja keluar. Mau naik ojek katanya karena tadi dia bilang kamu masih tidur," jawab Mbak Tika menjelaskan.

Ben mengambil motor matic Mas Iyan dengan tergesa dan bergegas menyusul Ayunda yang sudah hampir sampai di pangkalan ojek.

"Ay!" Teriak Ben sambil terus memacu motornya mendekat ke arah Ayunda.

Ayunda menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Ben yang bahkan memakai helm saja sampai tidak karuan.

"Aku antar! Kan tadi aku udah bilang!" Gerutu Ben setelah ia tiba di samping Ayunda.

"Kamu terlihat masih mengantuk tadi. Aku kan tidak mau kesiangan," jawab Ayunda mencari alasan.

"Pakai helmnya!" Ben menyodorkan helm pada Ayunda yang langsung diterima istrinya tersebut.

"Pegangan!" Ben meraih tangan Ayunda dan langsung melingkarkan di pinggang.

Ayunda hanya diam dan menurut.

Ben segera memacu motor matic Mas Iyan menuju ke arah Halley Development. Sesekali, Ben mengusap tangan Ayunda yang terus melingkar di pinggangnya.

****

"Tas berisi baju-baju aku tadi udah aku masukin ke bagasi mobil. Nanti kalau kamu mau pulang dari panti, langsung pulang aja! Aku nanti pulang dari kantor naik ojek," ucap Ayunda seraya melepaskan helm dari kepalanya.

Ben dan Ayunda sudah tiba di kantor Halley Development.

"Nanti aku jemput! Pulang seperti biasa, kan?" Jawab Ben cepat yang hanya dijawab Ayunda dengan anggukan kepala.

"Kamu masih marah sama aku, Ay?" Tanya Ben seraya menumpukan kedua tangannya di atas stang motor dan menatap serius pada Ayunda.

"Kapan aku marah sama kamu? Aku memang begini sejak dulu," kilah Ayunda dengan suara yang sedikit meninggi.

"Iya, aku kan cuma tanya. Aku pikir kamu marah karena pertanyaanku tempo hari tentang Gabrian, trus tentang pernikahan dadakan kita-"

"Aku tidak marah, oke! Jangan mengarang atau mengada-ada!" Sergah Ayunda memotong kalimat dan tuduhan Ben.

"Baiklah! Aku tidak akan menuduh lagi!" Ben mengangkat tangannya pertanda menyerah dengan perdebatan ini.

"Oh, ya. Kunci mobil aku dimana? Kau tadi pagi membuka bagasi, berarti lihat kuncinya," tanya Ben sebelum menyalakan mesin motor.

"Di atas meja di kamar aku," jawab Ayunda cepat.

Wanita itu sudah berbalik dan hendak meninggalkan Ben, saat tiba-tiba Ben memanggilnya lagi.

"Ay!" Ben mengulurkan tangannya ke arah Ayunda yang mengernyit bingung.

"Kan aku suamimu," ucap Ben yang akhirnya membuat Ayunda paham.

Ayunda segera kembali menghampiri Ben dan mencium punggung tangan Ben. Sama seperti saat mereka baru sah menjadi suami istri kemarin lusa.

"Terima kasih sudah mengantar sampai ke kantor," ucap Ayunda meskipun masih sedikit canggung.

"Sama-sama. Nanti pulang aku jemput, ya!" Ben mengecup kening Ayunda, dan ini benar-benar di luar dugaan. Ayunda sampai tersentak kaget dengan sikap Ben tersebut.

Tapi kalau dipikir-pikir, Ayunda kan memang sudah jadi istri Ben. Jadi sepertinya itu memang hal yang wajar.

"Bye!" Ben melambaikan tangan pada Ayunda seraya menyalakan mesin motor. Detik berikutnya, motor Ben sudah melaju meninggalkan Halley Development.

****

Ayunda sedang merapikan beberapa berkas di atas mejanya, saat Liam keluar dari lift dan langsung terkejut dengan keberadaan Ayunda di kantor.

"Ay, kenapa sudah masuk kerja?" Tanya Liam yang sudah menghentikan langkahnya tepat di depan meja kerja Ayunda.

"Kan sudah dua hari libur, Pak! Nanti pekerjaan menumpuk dan jadwal Pak Liam berantakan kalau saya libur lama," jawab Ayunda yang masih aja bersikap kaku pada Liam.

Padahal sekarang Liam adalah sepupu Ayunda juga.

"Ck! Aku pikir Ben langsung menyuruhmu resign setelah kalian menikah. Makanya ini aku juga cari-cari sekretaris baru buat menggantikanmu," ucap Liam sedikit terkekeh.

"Sudah ada pengganti saya, Pak?" Tanya Ayunda sedikit kecewa sepertinya.

"Belum! Belum dapat. Agak susah juga cari sekretaris pria. Kau punya kenalan mungkin?" Liam malah minta saran ke Ayunda.

"Tidak ada, Pak!" Ayunda menggeleng.

"Harus pria sekretarisnya?" Tanya Ayunda sedikit ragu.

"Biar Yumi nggak rewel. Dia sedikit cemburuan belakangan ini, tapi untungnya kamu udah nikah sama Ben, jadi dia nggak bisa lagi curigain kamu," Liam terkekeh seolah itu adalah hal yang lucu.

"Tapi Ben memang nggak nyuruh kamu resign?" Tanya Liam lagi menyelidik.

"Saya yang tidak mau resign, Pak! Agar pikiran teralihkan, karena kalau cuma diam di rumah bawaannya malah sedih terus," jawab Ayunda seraya menundukkan wajahnya.

Liam hanya mengangguk-angguk seolah paham dengan kesedihan Ayunda. Mungkin nanti Liam akan memberitahu Ben agar bocah itu membawa Ayunda pergi honeymoon, jadi Ayunda akan bisa segera lupa dengan kesedihannya.

"Baiklah! Nanti ke ruanganku dan atur uang jadwalku seminggu ke depan," tukas Liam akhirnya memecah keheningan.

"Baik, Pak!" Jawab Ayunda mengangguk patuh, sebelum Liam masuk ke dalam ruangannya.

.

.

.

Terima kasih yang sudah mampir.

Jangan lupa like biar othornya bahagia.

1
Janah Husna Ugy
inget suami Sasha siapa ya lupa Ando apa Aldo ya🤭🤭🤭egois
Si Memeh
menghibur banget cerita nya thor
Nurul Laila Zulaikah
Luar biasa
Desi Nur
lalu dimana si kayla tante ya ayunda adek dari kenzo
Maya Ratnasari
pluto udah bukan planet lagi
Maya Ratnasari
surprise
Maya Ratnasari
waduh kalo AC suhunya dikecilkan bakalan tambah dingin thor.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.
Maya Ratnasari
kayanya sebelumnya namanya oma nuna, bukan oma salsa. oh mungkin namanya nuna salsa ya
Maya Ratnasari: asiyaapp. makasiii thor.
total 2 replies
Rossy Susilawati
lucu
Ran Aulia
terimakasih author 😍😍😍😍👍👍👍👍
dream
Duh berondong kuat bener baru udahan dah naik lagi🤣🤣🤣
dream
yaelah... ben.... nyusu mulu, kaya bayi gede
dream
Hadeh.... pake acara ngegeledak.... 🤣🤣🤣
dream
Alamak..... gini nih kl sama brondong, kuat.... 😝😝🤣🤣🤣
dream
yeay..... udah gak gelisah lagi, udah tembus beneran ya ben😂😂😂😂
dream
Hahaha..... mana tahan.... 🤣🤣🤣🤣
dream
udah senyum2 ndiri bacanya, gak ku.... ku..... 😂😂
dream
Hahaha..... liat ular kadut depan mata🤭😂
dream
itu mah modus bang Ben🤭🤧
susi 2020
😂😂🤫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!