IG : Kaykha_kay
W A R N I N G .!!!
Banyak adegan Action.!
Leah Cou, bergelar dokter Sp.Og. Tak sengaja bertemu pria keji di gang kecil saat mengejar pencuri.
Akibat teriakannya, lelaki itu mendapat tusukan di perutnya. Leah terkejut dan terjatuh di tanah. Lelaki itu mendekat dan melihat ID card yang menempel disakunya.
“Kamu bisa menjahit.?” Tanya lelaki itu.
Dan jawaban Leah merubah segalanya.
Up Selow..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KAY_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 23
Wonder Land. Begitu nama yang terpampang di atas pintu masuk. Taman bermain yang memiliki luas hampir 20 hektar. Dengan wahana wahana menarik yang di suguhkan.
Leah seperti kembali ke masa kecil, sesaat usai melewati pintu masuk. Dari kejauhan, dia dapat melihat biang lala besar, dan ujung tertinggi jalur Roller Coaster. Leah ternganga sesaat, matanya menelisik setiap sudut jalan.
Sedari kecil, dia hanya punya kesempatan bermain 2 kali di taman bermain. Dan itupun hanya taman bermain kecil. Setiap waktunya di gunakan untuk belajar dan terus belajar, meski hari libur, dia tetap harus menjalani serangkaian les privat.
Tak banyak kata lagi, Leah segera menarik tangan John. Sambil berlari kecil, kakinya menyusuri jalan menuju ke sebuah wahana. Itu adalah wahana Roller Coaster. Namun tiba- tiba langkahnya terhenti, dia menyadari jika pakaiannya tak cocok jika naik wahana seperti itu.
John seolah mengerti sikap Leah saat tangannya dilepaskan begitu saja. Dengan tindakan sigap, John mengandeng tangan Leah lagi dan mengajaknya pergi ke sebuah toko yang ada di taman bermain.
Leah tak bertanya kemana pria itu akan membawanya, dia hanya berjalan mengikuti John. Dan John pun hanya diam dan terus berjalan.
John melepaskan tangan Leah begitu sampai di toko. Dia melihat beberapa kaus dan celana panjang. John mengambilnya satu, lalu memberikan pada Leah.
“Coba pakai baju santai. Dress gak cocok disini.!”
Kata- kata itu terdengar kasar, namun Leah justru tersenyum dan langsung menganti pakaiannya.
Tak sampai 5 menit Leah keluar dari ruang ganti dan segera berjalan ke kasir untuk membayar. Namun ternyata John sudah membayar tagihan itu.
Mood Leah kembali lagi usai berganti pakaian. Dia segera berlari menghampiri Roller Coaster. John pun sempat tersenyum tipis saat melihat antusias Leah.
Leah nampak asik mencoba berbagai wahana seru. Tak terasa mereka sudah melewati 3 jam tanpa istirahat. John yang mulai lelah menarik tangan Leah saat dia berjalan ke arah wahana yang lain.
“Ada apa.?” Tanya Leah yang langsung menoleh.
“Istirahat dulu. Kita belum makan siang.!”
“Aahhh... aku hampir lupa” batin Leah yang kemudian tersenyum lebar.
“Baik.!” Jawab Leah dengan keras.
“Itu... apa kamu baru pertama kali kesini.?” Tanya Leah saat berjalan menuju restoran.
“Engak. Aku sering kemari.”
“Sering.? Jadi, kamu bermain wahana mengasikkan seperti ini begitu sering.?”
“Engak.! Ini kali pertama.?”
“Bagaimana bisa dia berkata pertama kali.? Saat naik wahana yang menguji ardenalin dia tak terlihat takut sama sekali. Bahkan ngak berteriak dan justru terlihat santai. Itu gak seperti kata pertama kali.” Batin Leah.
Hari sudah semakin sore, matahari mulai condong ke arah barat. Warna merah di langit pada waktu matagari terbenam yang disebapkan oleh kombinasi hamburan Rayleigh warna biru dan tingkat kepadatan atmosfer bumi, membuat suasana yang begitu hangat.
Leah meletakkan sendoknya, lalu meregangkan tubuhnya.
“Mau lanjut jalan- jalan.?” Tanya John.
“Eem. Jalan- jalan sore di taman bermain sepertinya menyenangkan.” Leah tersenyum.
Entah kenapa, senyuman Leah membuat wajah John merona merah saat melihatnya. Dia pun segera membuang muka agar Leah yang duduk di depannya tak melihatnya tersipu seperti itu.
“Heem.. ayo kita jalan.!” Ajak John.
Mereka baru saja berjalan beberapa langkah usai keluar dari restoran. Tiba tiba saja, ponsel John berdering. Membuatnya segera merogoh saku untuk melihat. Rupanya, itu panggilan dari Gio.
Matanya membulat usai mendengar panggilan Gio. Dia langsung menarik tangan Leah sekali lagi dan mengajaknya pergi.
“Hei.!! Hei.!! Kita mau kemana.?” Tanya Leah berusaha memberanikan diri.
“Ada hal mendesak.! Kamu ikut aku dulu.!”
John memacu mobilnya dengan cepat. Berkelak kelok melewati penguna jalan yang lain. Kecepatannya hampir 140 kilometer/jam. Membuat Leah memegang erat sabuk pengaman yang melintang di dadanya.
*Ckriit*
Bunyi rem yang terdengar cukup keras saat John menarik tuas rem dibarengi dengan menginjak rem kaki. Dengan cepat melepaskan sabuk pengaman dan keluar dari mobil. Tak lupa dia juga menyuruh Leah keluar dan mengikutinya.
Langkahnya begitu cepat, sangat cepat sampai Leah harus berlari untuk dapat mengejarnya. Gedung 53 lantai itu tampak begitu berantakan. Banyak orang yang tergeletak dengan bersimbah darah di lantai.
Leah begitu terkejut, dia bahkan sampai menutup mulutnya yang ternganga. Kakinya terus melangkah mengikuti John sampai masuk ke dalam lift. Dia melirik ke arah John, melihat raut wajah pria yang berdiri disampingnya itu nampak gusar. Ada kecemasan yang sepertinya di sembunyikan John.
*Ting*
Pintu Lift terbuka di lantai 20. Beberapa orang terlihat berdiri di lorong. Mereka semua adalah tangan kanan John yang sedang berkumpul menunggu pemimpinnya.
“Bagaimana.?” Tanya John.
“Dia mendapat 2 tembakan, tp bukan tembakan yang fatal.” Jawab Gio.
“Kenapa kau membawanya.?” Tanya Gio.
John tak menjawabnya. Dia menoleh ke belakang, melihat Leah yang berdiri terpaku tak bersuara. John tau jika Leah akan terkejut saat melihat orang tergeletak di lantai.
“Kemarilah.!” Pinta John membuat Leah tanpa sadar mengikutinya dan masuk ke sebuah ruangan.
Itu seperti ruang yang penuh dengan alat- alat medis. Lebih mirip seperti IGD di tengah- tengah bangunan 53 lantai. IGD yang sederhana tapi cukup lengkap untuk melakukan pertolongan pertama.
“J.!!” Sahut suara wanita yang terbaring di ranjang dengan lirih.
John segera datang mendekat ke arahnya. Lalu mengusap rambutnya dengan lembut dan berbisik padanya.
“Tenang lah, aku membawa dokter untukmu.!”
Itu adalah Alia, yang tergeletak tak berdaya dengan baju basah yang penuh dengan darah. Wajahnya penuh memar, bahkan bibir bawahnya sobek.
“Tolong lihat bagaimana kondisinya.!” Pinta John.
“Aah.. baik.!” Leah sedikit terperanjat sesaat.
Dia segera mencuci tangannya, mengambil beberapa peralatan medis dan masker.
“Sudah berapa lama lukanya.?” Tanya Leah
“Setengah jam.” Jawab Victor yang sedari tadi berdiri di samping Alia.
“Tekanan darahnya menurun, kita butuh tansfusi darah secepatnya sambil menunggu dokter untuk melakukan operasi.!”
“Kalau begitu ambil darahku dan cepat operasi dia.!” Pinta John dengan nada yang sedikit meninggi.
“Ini bukan keahlianku.! A..aku ngak bisa.!” Sahut Leah.
“Bukankah kau bisa menjahit.?”
“Benar.. tapi itu kondisi yang berbeda. Ini luka tembak, bukan sekedar sayatan biasa.!”
“Tunggu.!! Aku.. aku akan menghubungi salah satu rekanku.!”
Disisi lain
Luis, Gio dan Long berdiri didepan ruangan dengan harap- harap cemas tentang kondisi Alia. Gio sempat mengeluh kepada rekannya yang lain soal John yang membawa Leah datang ke markas.
“Bagaimana dia bisa begitu mudah mengajak orang lain datang ke mari.?”
“Dari luar, gedung ini memang terlihat seperti kantor pada umumnya. Tapi secara garis besar, ini adalah markas utama kita.!” Gerutu Gio.
“Dia seorang dokter.! Mungkin itu alasan John membawanya.” Sahut Luis.
“Tetap saja itu tindakan gegabah. Bagaimana jika dia salah satu mata mata musuh.?”
“Aku sudah menyelidikinya. Tenang saja, J selalu bisa di andalkan.!” Sahut Long mencoba meredam rasa jengkel Gio.
*DOR*
Mereka masih beradu argumen, saat tiba- tiba suara tembakan terdengar nyaring dari balik pintu. Hal itu membuat mereka segera bergegas masuk dan melihat keadaan.
...----------------...
*Sampai jumpa lagi **👋🏻*
*Jangan lupa like **👍🏻*
Terimakasih
ak g bsa move on dr cerita ini