TOLONG TULISAN INI JANGAN DIBACA
SOALNYA MANGKRAK
YANG NULIS KEHABISAN IDE!
Dunia hanya memiliki satu daratan yang luas, terbagi atas 4 kerajaan. Kerajaan Lintang, Andesit, Bayu dan Beliung. Disetiap kerajaan memiliki pasukan dukun sakti untuk mencari batu sakti demi meraih kekayaan, kekuasaan, kejayaan dan menjadi kerajaan nomor satu di dunia.
Di kerajaan Lintang, para dukun sakti memperoleh penghidupan yang sangat berkecukupan. Sangat kontras dengan kehidupan rakyat jelata terutama daerah pinggiran yang mengalami kelaparan dan kemiskinan.
Kisah ini akan menceritakan perjalanan panjang seorang anak dari keluarga miskin bernama Aksara yang bercita cita menjadi dukun sakti nomor satu di dunia.
Ikuti kisah Aksara yang penuh perjuangan, intrik, peperangan, dan romansa . . .
Karya kedua dari Bung Kus
IG : bung_engkus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Sakti
Tok Tok Tok
Sebuah ketukan di pintu depan menyadarkan lamunan Bu Mirna. Sedari pagi Bu Mirna melamun memikirkan anaknya yang sedang berjuang mengikuti seleksi dukun istana. Dia benar benar cemas, anak kesayangannya itu bisa saja terluka. Sudah hampir satu minggu lamanya, tak ada kabar dari anaknya.
Bu Mirna bergegas ke depan, menarik gagang pintu dengan sedikit kasar. Entah kenapa ada rasa tidak sabaran dalam dirinya. Ketika pintu terbuka nampak sosok pemuda memakai jubah warna merah. Pemuda yang sangat dia rindukan. Beberapa hari tak bertemu tubuhnya terlihat lebih kekar dan semakin gagah. Aksara, anak kesayangannya itu kini tersenyum lebar di hadapannya.
"Buu . . .aku berhasil buu," Aksara menghambur, memeluk Bu Mirna.
"Lihat Bu, jubah ini Buu. . .aku sekarang resmi menjadi Dukun Sakti istana," Aksara bercerita penuh rasa bangga.
"Selamat ya Naakk. . .selamat," Bu Mirna menitikkan air mata. Rasa bangga dan haru bercampur menjadi satu. Rasa syukur terucap berkali kali di dalam hatinya.
"Bapak mana Bu?," Aksara celingak celinguk mencari sosok Pak Toro, yang tak nampak batang hidungnya kali ini.
"Ah, biasalah. . .Bapakmu tiap hari kan ke hutan. Nyari kayu bakar lah, menanam singkong lah, macem macem pokoknya," Bu Mirna menggandeng Aksara masuk ke dalam rumah.
"Duduklah, istirahatlah. Biar Ibu seduhkan wedang jahe untukmu. Cuaca cukup dingin hari ini," Bu Mirna bergegas ke dapur, menyalakan tungku dan merebus air.
"Bu, mungkin beberapa minggu ke depan aku akan tinggal di mess dukun sakti di sebelah istana," Aksara menyusul Bu Mirna ke dapur.
"Kok gitu Nak? Apa tidak boleh dukun sakti tinggal di rumahnya?," Bu Mirna terlihat kecewa.
"Aku baru saja dilantik Bu. Jadi, minggu minggu ini waktunya kegiatan pengenalan tempat dan kegiatan awal lainnya. Mungkin juga ada menu latihan khusus agar bisa segera ikut misi perburuan batu sakti di hutan mayit," Aksara duduk di kursi menghadap meja dapur yang sudah terlihat reyot.
"Apa asyiknya hidup hanya untuk berburu batu sakti?," Bu Mirna mendebat.
"Menjadi dukun sakti adalah impianku Buu. . . aku ingin lebih tahu tentang dunia ini. Aku ingin membuat keluarga kita menjadi keluarga terpandang, dan di atas itu semua aku ingin merubah wajah dunia ini, menghilangkan kesenjangan dan merangkul perbedaan. Kupikir itu bisa dilakukan jika aku menjadi dukun sakti yang terkuat," Aksara terlihat bersungguh sungguh dengan ucapannya. Bu Mirna hanya bisa geleng geleng kepala.
"Ini wedangnya, ayo diminum," Bu Mirna meletakkan wedang jahe ke atas meja saat terdengar suara langkah kaki masuk melalui pintu belakang.
Pak Toro pulang, pakaiannya yang lusuh dan gurat wajahnya yang menunjukkan rasa lelah. Beberapa hari tak bertemu, Aksara merasa bapaknya terlihat jauh lebih tua. Aksara dan Pak Toro bertemu pandang dalam diam beberapa saat.
"Ehem, kau sudah pulang?," Pak Toro berdehem, kemudian bertanya pada Aksara. Ada rindu yang ditahan, entah kenapa seorang Bapak sulit untuk berterus terang, tak bisa memeluk anak laki laki nya meskipun ingin.
"Ah . . iya Pak," Aksara menjawab singkat.
"Gimana? Berhasil?," Pak Toro melirik pada jubah yang dikenakan Aksara.
"Iya Pak, meskipun aku nggak berhasil menang di final tapi aku terpilih masuk di salah satu squad dukun sakti pak," Aksara berkata penuh semangat, sorot matanya berbinar.
"Ya syukurlah, artinya salah satu keinginanmu terwujud," Pak Toro bernafas lega.
"Tapi anakmu tadi udah pamit lho Pak. Katanya nggak pulang dulu beberapa minggu," Bu Mirna menyuguhkan wedang pada Pak Toro.
"Ya biarin to buk. Namanya juga anak laki laki mau ngejar mimpinya. Tidak ada sebuah keberhasilan tanpa pengorbanan buk. Berakit rakit ke hulu berenang ke tepian. Kan gitu. . .," Pak Toro menyesap wedang yang masih terlihat penuh dengan kepulan asap.
"Tugas kita sebagai orangtua sebisa mungkin jadi jembatan, untuk membantu mengantarkan anak kita mencapai cita citanya, begitu buk,"" Pak Toro berucap dengan mimik muka yang serius, Bu Mirna tersenyum geli.
"Iya iya pak. . .tumben Bapak ngomongnya pake hati, " Bu Mirna menggoda Pak Toro.
"Oh iya Pak, waktu itu aku sempat bertemu Baginda Raja Mada pada waktu pertarungan final," Aksara mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong ngomong Raja Mada memakai mahkota dengan sebuah batu berwarna hijau tertanam disana. Sekilas kulihat batu itu memiliki bentuk yang mirip dengan batu di liontin yang Bapak berikan ini," Aksara merogoh kalung di lehernya, menunjukkannya pada Pak Toro. Pak Toro hanya terdiam mematung menatap batu putih itu.
"Ini batu apa Pak? Darimana Bapak mendapatkannya?," Aksara bertanya menyelidik.
"Aku sendiri nggak tahu nak itu batu apa," Pak Toro menghela nafas.
"Bapak mendapatkannya dulu, dulu sekali. . .dari seseorang. Kemungkinan batu itu merupakan salah satu batu sakti dari hutan mayit," Pak Toro menatap Aksara serius.
Aksara menyandarkan badannya di kursi, mengamati liontin itu dengan serius.
"Bukankah setiap batu sakti memiliki kemampuan dan kesaktian yang berbeda beda. Terus apa kesaktian batu ini?," Aksara bertanya, seolah sedang bertanya pada liontin batu itu.
"Bapak juga nggak tahu dan nggak ngerti. Setahu Bapak, batu sakti tidak boleh jatuh ke tangan yang salah agar tidak terjadi gonjang ganjing di dunia ini. Dunia yang sudah terasa semrawut, jangan sampai semakin hancur gara gara batu sakti yang diperebutkan," Pak Toro kembali menyesap wedangnya yang mulai terasa dingin.
"Cita citamu nenjadi dukun sakti nomor satu kan? Untuk menciptakan kedamaian pada dunia ini kan?," Pak Toro bertanya pada Aksara dengan serius. Aksara mengangguk meyakinkan.
"Maka restu Bapak dan ibu menyertaimu. Kumpulkan batu sakti, gunakan untuk menegakkan kebenaran, menghapus kebatilan. Ciptakan dunia tanpa kesenjangan dan diskriminasi Nak," Pak Toro mengepalkan tinju dan meletakkannya di depan dada. Sebuah kalimat yang menggetarkan hati Aksara, semangatnya kembali berkobar.
"Sudah sudah, sekarang waktunya makan. Kalau ibuk cuma pengen mengingatkanmu Nak, setiap masalah tidak harus diselesaikan dengan pertarungan. Komunikasi untuk saling memahami isi hati juga penting Nak," Bu Mirna menghidangkan makanan. Nasi putih dengan sambal dan beberapa butir pete goreng menciptakan aroma yang bikin perut keroncongan. Aksara tak lagi berbicara. Kini mulutnya sibuk mengunyah dan menikmati masakan Ibunya yang sangat dia rindukan.
Saat malam tiba, di bawah sinar rembulan yang temaram Aksara masih memandangi liontinnya di teras depan.
"Tidurlah Nak, sudah malam," Bu Mirna memperhatikan Aksara yang masih melamun.
"Besok hari pertamaku secara resmi masuk di squad dukun sakti istana Bu, mataku tak merasa ngantuk," Aksara masih terus memandangi liontinnya.
Aksara mengangkat tangannya, terlihat seperti mencoba menggenggam bulan di langit.
Sementara itu jauh di tengah daratan di pelosok hutan mayit, dalam pekatnya kegelapan dua belas orang berjubah hitam terdengar membicarakan sebuah rencana. Seulas senyum yang menakutkan disusul tawa tawa aneh memecah kesunyian malam
Bersambung . . .
Holllaa Haallooo temen temen, terimakasih untuk yang sudah baca. Mungkin setelah ini aku pengen gambarin peta dunia. Seperti yang tertulis di chapter awal, dunia dalam cerita kemamang ini hanya berupa satu daratan yang luas dengan hutan mayit berada di tengah tengahnya. Kayaknya perlu deh bikin coretan gambar petanya, biar nggak bingung. 😀