📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Dua
Jika bukan karena Arka yang mendadak harus pergi ke Surabaya untuk pertemuan rutin kepala Bank, tentu Ardi tak perlu mengikuti acara reuni tahun ini.
“Anterin Freya ke Jogja, Di!” begitu ucap Arka saat pagi-pagi sekali sudah mengunjungi kantornya.
“Nggak mau. Kerjaan aku banyak.” Tolak Ardi sembari mengabaikan Arka, berpura-pura sibuk dengan laporan di hadapannya.
“Ada Arum, dia udah biasa handle semua kan. Iya kan Rum bisa kalo cuma handle dua hari?” tanya Arka pada Arum yang kebetulan sedang ada di ruangan Ardi.
“Bisa Kak.” Jawab Arum.
“Suruh naik kereta aja, Kak. Dulu aja waktu kabur dia naik kereta sendiri bisa.” Potong Ardi. Dia benar-benar enggan jika harus kembali ke tempat yang membuatnya jatuh sejatuh-jatuhnya.
“Freya bisa naik kereta, tapi anak-anak bakal rewel kalo di kereta, nggak betah mereka. Kayak nggak tau aja kamu tuh.”
“Anak-anak di bawa Kak?” tanya Ardi.
“Ya dibawa lah. Mana mungkin Freya ninggalin anaknya. Makanya kamu anterin. Jagain Retha sama Sakha, katanya kamu daddy nya gimana sih nggak tanggung jawab banget.”
“Ya elah giliran yang repot-repot aja aku di anggap daddy nya. Kalian berdua yang bikin, aku yang direpotin mulu.” Seloroh Ardi.
“Pokoknya kakak nggak mau tau kamu harus anterin mereka. Siapa tau kamu ketemu dia di acara ntar malem.” Ucap Arka sebelum pergi.
“Cih… nggak ngarep deh. tiap tahun juga dia nggak pernah hadir. Udah ilang ditelan bumi kali.” Gumam Ardi.
“Rum, tolong yah handle semuanya selama dua hari. Aku mau jadi supir dadakan dulu.” Lanjutnya sambil membereskan dokumen-dokumen di mejanya.
“Siap Pak Bos!” jawab Miya sambil hormat, layaknya anak yang sedang hormat bendera. “aku do’ain kamu bisa ketemu Miya lagi di sana, Di.” Imbuhnya.
“Nggak mungkin.” Balas Ardi.
“Nggak ada yang nggak mungkin, Di. Kalo misal nih yah Di. Misalnya nanti kamu ketemu Miya lagi, apa yang bakal kamu lakuin?”
“Entahlah, Rum. Kayaknya nggak mungkin aku bakalan ketemu dia lagi. Empat tahun dia pergi aja nggak ada kabar. Aku pergi yah, titip kantor sama kamu. kalo ada apa-apa telpon aja.”
“siap.”
Sepanjang perjalanan untuk menjemput Freya, Ardi berulang kali memikirkan ucapan Arum.
kalo misalkan nanti kamu ketemu Miya lagi, apa yang bakal kamu lakuin?
“kita udah terlalu lama nggak ketemu, Mi. Empat tahun bukan waktu yang sebentar, tanpa komunikasi pula. Aku bahkan nggak tau apa yang akan aku lakuin kalo ketemu kamu. mungkin berpura-pura kita tak saling kenal adalah jalan terbaik.” Batin Ardi.
Setibanya di rumah Ardi di sambut oleh Retha yang langsung berlari menghampirinya begitu ia turun dari mobil.
“Daddy Ardi… kata Papa aku ke rumah nenek dianterin daddy?”
“Iya sayang.” Ardi menggendong gadis kecil itu dan berjalan menghampiri Freya dan bundanya di teras rumah.
“Udah siap?” tanyanya.
“Udah. Ayo berangkat! Biar kita nggak telat.” Jawab Freya.
Keduanya berpamitan pada Bunda Mira, “Hati-hati di jalan. Cucu Oma nggak boleh rewel yah. Kakak Retha juga harus bantu jaga dedek Sakha yah.” ucap Mira.
“Siap Oma.” Jawab Retha.
Kini mereka sudah berada di mobil. Retha duduk di depan, di samping Ardi. Sementara Freya dan anak bungsunya menempati kursi belakang. Selama perjalanan, seperti biasa Retha selalu cerewet menceritakan berbagai hal sampai akhirnya gadis kecil itu terlelap. Tak jauh berbeda, sang adik juga sudah terlelap di pangkuan Freya. Padahal perjalanan mereka baru dimulai sejam yang lalu.
Ardi membenarkan posisi kepala Retha supaya keponakannya itu bisa terlelap dengan nyaman. “Retha kayak kamu Fre, selalu cerewet dan bisa menghidupkan suasana.”
“Kan anak aku, bakal aneh kalo mirip sama kamu. makanya kamu cepetan nikah biar punya anak juga. Seneng tau Di.”
“Ntar lah nunggu Retha gede. Biar ada yang ngasuh anak aku nanti.” Jawab Ardi.
“Nunggu Retha gede kelamaan Di. Keburu karatan permen kamu kagak dipake-pake. Ntar malah nggak bisa nyetak anak lagi.” Ledek Freya sambil tertawa.
“Bahasamu Fre. Ada anak-anak juga.”
“Biarin mereka lagi pada tidur inih, kagak paham juga mereka tuh.” Balas Freya.
“Tapi kalo kedengeran Retha bahaya tau. Ntar dia nanya 'permen apa yang bisa nyetak anak?' Baru nyaho kamu Fre.”
“Tinggal jawab aja permen papanya yang bisa nyetak anak hahaha.” Kelakar Freya.
Setelah menghabiskan waktu hampir dua belas jam mereka tiba di rumah orang tua Freya. Biasaya perjalanan Bandung-Jogja bisa ditempuh dengan waktu sepuluh jam saja, tapi mereka harus sering berhenti karena anak-anak yang ingin ini dan itu. Membuat kedatangan mereka sedikit terlambat.
Karena Retha dan Sakha yang kelelahan setelah perjalanan jauh membuat Freya tak membawa kedua anaknya ke acara reuni. Padahal tahun-tahun sebelumnya kedua anaknya itu selalu ikut.
“Kalian berangkat aja. Biar anak-anak sama Mama.” Ucap Mama Ratna, ibunya Freya.
“Iya Ma. Nitip anak-anak yah.” ucap Freya sebelum mereka pergi.
Tadinya Ardi mau di rumah saja tapi Freya memaksanya untuk ikut. Biginilah jadinya ia kini, menjadi bahan ledekan teman-temannya yang sebagian besar sudah menikah. Diantara mereka banyak yang membawa pasangan maupun anak. Freya sibuk bercerita denga teman-temannya. Sementara Ardi hanya dia dan menanggapi beberapa obrolan di hadapannya.
Ardi mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari sosok yang sudah ia duga tak akan hadir.
“Nyariin Miya yah?” tanya teman di sebelahnya.
“Nggak, cuma liat-liat aja. Tempat ini keren.” Elak Ardi.
“Mending move on deh Di, udah empat tahun loh. Kayak nggak ada perempuan lain aja.”
Sekelebat Ardi melihat perempuan berambut panjang yang mirip Miya saat dia berbalik sambil mengangkat telepon. Ia ingin memastikan perempuan itu Miya atau bukan tapi kabar keponakannya yang menangis membuat perhatiannya seketika beralih.
“Pasti cuma salah liat.” Batin Ardi.
Ardi segera mengajak Freya pulang setelah mendapat telpon dari Mama Ratna yang memberitahu jika Sakha terbangun dan terus menangis mencari mamanya. Dengan buru-buru Freya berpamitan dan meninggalkan acara reuni.
semuanya👍👍👍👍👍