Harya Aditya Mura, seorang pemuda yang hidup dalam kesederhanaan di desa ternyata bukan sekedar pemuda desa biasa.
Satu persatu orang datang padanya dan menyuruh nya untuk pulang ke rumah. tetapi bukannya rumah nya di Desa?
Rahasia apa yang selama ini disembunyikan darinya? tidak, rahasia apa yang tidak diketahuinya selama ini.
Kisah perjalanan seorang pemuda Desa yang ingin mencari tahu siapa dirinya setelah ditimpa kemalangan saat masih kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloud_white, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
"Saya hanya anak yang berasal dari Desa dan nama Desa saya adalah Desa Bulan yang belum lama ini di gusur, saya tinggal dengan kedua Kakek Nenek saya" ucap Harya
"Lalu Kakek Nenek mu tinggal dimana jika Desa nya digusur?" tanya penasaran Nyonya Grisha
"Mereka tinggal di Desa sebelah, jika di Desa ada Kembang Desa maka begitulah saya...saya ehem bukan bermaksud sombong tapi saya pemuda paling tampan di Desa" ucap Harya dengan kepedean nya yang melunjak tinggi
"Iya iya, kamu memang yang paling tampan" jawab Nyonya Grisha pasrah, "Harya..tujuan mu ke Kota sebenarnya untuk apa?"
Harya terdiam saat mendengar pertanyaan Nyonya Grisha, ada rasa enggan dalam hati nya untuk memberitahu tetapi ia tak memiliki kekuatan untuk menolak Orang hebat didepannya ini.
"Harya, pesanan nya Nyonya Grisha tolong diantarkan" teriak Cindy dari dapur
'Mbak Cindy penyelamat ku!' batin Harya dan bergegas mengambil dan menghidangkan pesanan yang dipesan
"Ini Tante Parfait Strawberry nya" ucap Harya dan meletakkan segelas Parfait itu di meja
"Terima kasih~ tapi duduk lagi sini...cerita nya belum selesai" jawab Nyonya Grisha dengan senyuman di wajahnya
Harya memasang wajah memelas tapi tubuh nya mengikuti apa yang dikatakan Wanita tersebut, setelah duduk Harya mulai bercerita lagi.
"Tujuan saya ke kota untuk berkuliah di Univ Aksara dalam jurusan Bisnis karna saya sangat menyukai nya dan selain untuk berkuliah saya juga...untuk mencari orang tua saya" ucap Harya yang suara nya makin lama makin pelan
Nyonya Grisha berhenti meminum Parfait nya dan menatap Harya ramah.
"Harya dibuang ya sama orang tua nya, untuk apa dicari lagi Harya kalau sudah dibuang, banyak memang orang-orang Konglomerat itu...bikin anak sembarangan dan ujung-ujung nya dibuang dasar!" ucap Nyonya Grisha kesal sendiri
"Tapi Tante, kalau misalnya kita punya barang dari keluarga kita tapi kita nya dibuang...itu maksudnya gimana?" tanya Harya dengan ekspresi serius nya
Nyonya Grisha tertawa kecil dan menjawab pertanyaan Harya, "Itu bukan dibuang namanya! itu namanya anak nya hilang gara-gara keluyuran"
Harya mengangguk paham dan menyingung senyum diwajahnya.
"Lanjut Harya, cerita nya" pinta Nyonya Grisha sambil menikmati Parfait nya lagi
"Harya suka bekerja di sawah sama Mbah dan kadang bantu Mbah jual hasil panen ke Pasar atau ke Kota, Harya sempat lambat sekolah karna Nenek nya Harya maksa-maksa supaya Harya dirumah dulu buat belajar alhasil umur Harya ketuaan buat masuk sekolah haha" ucap Harya diselingi tawa
"Harya anak yang rajin ya, ngomong-ngomong boleh Wanita ini lihat apa yang ditinggalkan keluarga Harya" tanya Nyonya Grisha lagi-lagi membuat Harya waspada
"Untuk apa Tante? apa Tante mau bawa lari?" tanya Harya waspada
"Haha ya enggak lah Dear, mana tahu Tante tahu berasal dari mana barang itu kan bisa Tante kasih tahu...Tante ini wanita Bangsawan dan Konglomerat jadi suka ketemu sama Keluarga Konglomerat yang lain kalau misalnya ada acara peresmian, acara Amal, atau kumpul-kumpul sesama Konglomerat" jelas panjang lebar Nyonya Grisha
"Tante lagi sombong di depan Harya nih? atau apa" ucap selidik Harya mengundang tawa semua Karyawan dan Nyonya besar itu
"Haha kamu lucu Harya, bisa dibilang lah Tante lagi sombong" tawa Nyonya Grisha
"Kalung..."
"Apa? Harya bilang apa tadi?"
"Harya cuman ditinggalin Kalung usang yang selalu Harya bawa kemana-mana" ucap Harya dengan wajah cemberut yang menggemaskan
"Ih Gemas!"
Nyonya Grisha berdiri dan mencubit kedua pipi Harya hingga sang empu menggerang kesakitan, saat cubitan dilepas nampak pipi Harya memerah bekas cubitan itu.
"Hihi Harya gemas sih kayak anak Tante si Hanfi itu" ucap gemas Nyonya Grisha
"Uhh laki-laki mana ada yang menggemaskan, laki-laki itu tampan dan kekar" ucap Harya dan mencoba menampilkan ototnya
"Tidak ada otot nya tuh, suami Tante ada ototnya" ejek Nyonya Grisha
"Huh gini-gini Harya bisa angkat 2 karung beras tahu" jawab Harya malas
"Harya sudah mulai tidak gugup lagi ya, Tante suka kalau Harya tidak gugup jika ngobrol seperti ini" ucap Nyonya Grisah tersenyum hangat pada Harya
"Tadi kan terlalu mendadak, Harya ini cepat gugup kalau sama orang besar kayak Tante" aku Harya pada Nyonya Grisha
Nyonya Grisah terkekeh pelan dan menatap sayang Harya yang ada di depannya, ia sekilas mengingat anak sulung nya jika sedang berbicara dengan Harya.
"Eh Harya belum kasih lihat kalung nya ke Tante" ucap Nyonya Grisha mengingatkan
Harya ragu-ragu merogoh saku celana nya dan mengambil plastik klip yang berisikan kalung peninggalan kedua orang tua nya yang selalu ia simpan dengan aman.
"Tapi Tante janji dulu, kalau Tante tahu ini dari keluarga mana dikasih tahu ya! jangan diam aja" ucap Harya dan menyodorkan jari kelingking nya
Nyonya Grisha tertawa pelan melihat sikap kekanak-kanakan Harya dan melingkarkan jari kelingking ramping dan indahnya berdampingan dengan kelingking kasar Harya.
"Iya janji deh, kalau diingkari nanti Tante tersandung sepatu sendiri" ucap Nyonya Grisha pada Harya
Harya mengeluarkan kalung didalam plastik klip itu walau dengan ragu-ragu dan memperlihatkan nya pada Nyonya Grisha dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Ini Tante, tolong diberitahukan dari keluarga mana!" ucap Harya tegas dan menyingkirkan pikiran-pikiran negatif
"Uhh Harya"
"Iya Tante? Tante sudah tahu?!"
"Bukan maksud Tante, bagaimana bisa Tante tahu kalau yang kamu kasih liat cuman tali kalung nya saja" ucap Nyonya Grisha menunjuk kalung yang diberikan Harya
"Eh maaf Tante, gugup soalnya" jawab Harya dan memperbaiki caranya memegang kalung itu
Pola Air mata menggantung indah pada tali kalung nya yang senada, ada kesan antik dan kesan elegan tercampur dalam Kalung tersebut.
Nyonya Grisha menatap lekat kalung itu seperti ia pernah melihatnya tetapi dimana, begitulah.
Harya berharap Nyonya Grisha tahu asal kalung itu jadi bisa mempermudah ia menemukan Keluarga nya yang ia tinggalkan.
"Tante seperti pernah melihat tapi dimana ya...EH-" ucap Nyonya Grisha dan segera merampas kalung itu dari tangan Harya
Betapa paniknya Harya saat kalung itu ditarik paksa dari tangan nya, ia menatap Nyonya Grisha yang terus menatapi kalung itu hingga ia meneteskan bulir air mata.
"Eh Tante kenapa nangis?! jangan nangis...tunggu sebentar" ucap Harya panik saat Nyonya Grisha mulai menangis tanpa suara
Nyonya Grisha mengangkat kepala nya menatap Harya dan saat itu juga bersamaan Harya yang mengambil Tissue dan menyeka air mata Nyonya Grisha dengan tangannya sendiri.
"Kenapa nangis Tante, nih Harya lap kan...jangan nangis lagi Tante masalahnya Harya yang panik" ucap Harya yang masih setia menyeka air mata wanita itu
"Harya..." ucap lirih Nyonya Grisha
Tanpa bicara sepatah kata pun, Nyonya Grisha langsung mendorong mundur Harya dan berlari sambil menangis menuju mobil mewah nya yang terparkir, ia dan sang Sopir segera tancap gas kembali ke Kediaman Rayendra.
Kalung Harya masih berada di tangan Nyonya Grisha, Harya panik layaknya orang Stress karna salah satu petunjuk yang ia punya untuk mencari Keluarga nya malah dibawa kabur oleh Nyonya Grisha.
"Aduh ini salah ku! salah ku! sekarang bagaimana!" ucap Harya merutuki kebodohannya dan dengan pasrah dan lemas masuk kembali ke dalam Cafe
"Tadi kenapa Nyonya Grisha buru-buru pergi Yak? pesanannya belum dibayar" ucap mas Raul yang berada di belakang meja kasir
"Biar...biar Harya yang bayar tagihannya" jawab Harya lemas bagai orang yang jiwa nya mati
...----------------...
udah baca dari awal endingya kaya taaaai anjiiing..
Emang Noveltoon anjiiiing