Tio Alberto Widodo seorang remaja 13 tahun, yang selamat dari tragedi pembunuhan keluarganya yang dilakukan genk pembunuh bayaran.
Sejak saat itu Tio harus disembunyikan oleh pihak kepolisian dari kejaran genk pembunuh bayaran.
Adalah Inspektur Dua Luna Ginaya Budianto seorang polisi wanita berparas cantik berusia 22 tahun yang ditugaskan untuk menjaga selama masa persembunyian Tio.
Dua tokoh ini akan mencoba untuk bertahan hidup dari kejaran genk pembunuh bayaran yang kejam. Banyak nyawa tak berdosa ikut menjadi sasaran kekejam genk tersebut selama mengejar Tio.
Lama bertemu dalam penderitaan perjuangan hidup menumbuhkan rasa cinta dihati kedua insan beda usia ini.
Selamat menikmati ketegangan dan romantisme dalam novel "KISAH TIO DAN BIBI LUNA"
HF. RAJAK
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HF. Rajak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 23
Sesaat kemudian Jimy keluar dari ruang praktik dokter. Mukanya terlihat kusut. Rara masih didalam ruang periksa. Jimy tak menyadari kehadiran Luna. Dia mengacak acak kasar rambutnya, sehingga penampilannya semakin terlihat tak karuan.
“Ji-jimy?” Panggil Luna pelan.Jimy menoleh kearah panggilan.
“Lun.. Luna.”
“Apa yang kamu lakukan disini? Siapa yang sakit? Aku lihat barusan kamu menggendong cewek masuk kedalam sana.” Luna bertanya seolah dia tidak mengenal Rara. Dia ingin mengorek informasi dari mantan kekasihnya itu.
“Owh.” Jimy gelagapan. Sejenak kemudian dia bisa menguasai keadaan. “Sepupuku sakit dan pingsan.” Jawabnya ringan.
“Sepupu? Aku kok tidak tahu kamu punya sepupu yang tinggal dikota ini?” Tanya Luna pura pura bego.
Luna langsung tahu kebohongan Jimy, dan juga menyimpulkan bahwa lelaki didepannya ini adalah pentolan genk
capit merah.
“Ah iya. Dia baru satu bulan tinggal disini.”
Luna terus mengajak bicara Jimy, dia menunggu bala bantuan. Dia yakin Tio akan datang bersama polisi lainnya.
Dokter memanggil Jimy untuk masuk kedalam.
“Maaf, anda keluarga pasien?” tanya dokter Shelly.
“Benar doc. Dia sepupu saya.” Tegas Jimy. Sementara Luna tetap bersiaga diluar ruangan.
“Maaf, sepertinya sepupu anda mengalami serangan sexual yang cukup masif, maaf dia mungkin mengalami pemerkosaan.”
“Dokter, saya mohon maaf bila meragukan hasil pemeriksaan anda. Tapi saya ingin anda segera memberinya obat sehingga sepupu saya itu bisa langsung saya antar pulang kerumah orang tuanya.” Sergah Jimy. Dia gelisah.
“t-tapi kondisi pasien sungguh sangat memprihatinkan. Banyak luka luar. Tapi yang paling memprihatinkan adalah luka pada bagian alat vitalnya. Belum lagi luka secara mental dan psikisnya tuan.”
“Begini ya dokter, saya mohon dengan sangat anda berikan resep yang bisa saya tebus obatnya sekarang juga.” Jimy memberikan penekanan pada sekarang juga.
Shelly dan Jimy berdebat cukup lama. Shelly ingin pemeriksaan yang lengkap dengan visum. Shelly juga ingin agar Jimy melapor pada pihak yang berwajib. Karena sepertinya luka pasien sangat serius.
Tentu saja menolak mentah mentah. Akhirnya Jimy memutuskan untuk membawa paksa Rara keluar ruangan.
Sementara itu, Tio yang membaca pesan Luna langsung mengajak Marco dan Bella menuju alamat yang dibagikan Luna. Beberapa pengawal disuruh mengikuti. Tak lupa Tio menghubungi Kapten Haris.
“Tuan muda, jarak mansion ini ke klinik membutuhkan waktu dua puluh lima menit. Kita bisa menghematnya bila kita naik motor.” Kata Ipda Bella mempertimbangkan kebutuhan waktu yang sangat mepet bagi Luna menghadapi dedengkot genk capit merah sendirian.
“Kamu benar kak. Marco kita naik motor saja.” Titah Tio.
Beberapa saat kemudian tiga motor gede telah melesat meninggalkan mansion. Pengawal lainnya menyusul menggunakan mobil.
Kapten Haris langsung menggerakkan anak buahnya untuk bergerak ke tempat yang dibagikan Tio.
Kembali ke klinik. Jimy marah pada dokter Shelly yang tidak mau memberi resep dan malah melaporkan pada polisi. Tanpa pikir panjang Jimy masuk keruang periksa kemudian tubuh Rara digendongnya menuju keluar. Shelly terus berusaha mencegahnya, tapi tak dihiraukan Jimy.
“Hentikan Jimy! Kembalikan gadis itu kedalam. Biar dokter Shelly yang menanganinya.” Luna mencegat Jimy didepan pintu klinik.
Jimmy terkejut melihat Luna menodongkan revolver nya. Dia mundur dua langkah. “Apa yang kau lakukan Lun?” Tanyanya. “Kenapa kau todongkan pistolmu padaku?”
“Turuti saja dokter Shelly Jim. Jangan paksa aku menembak kepalamu.” Jawab Luna dingin.
“Hahahaha…. Kau gila Luna. Ini sepupuku, biar aku yang mengurusnya kalau dokter goblok ini tak bisa.” Jimy tertawa lagi dan melangkahkan satu kakinya. Tapi lalu berhenti setelah mendengar suara jempol Luna menarik hamer pistolnya. Dia tak main main dengan ancamannya kata Jimy dalam hati.
Jimy sekarang mengerti, Luna sudah tahu siapa sebenarnya dirinya. Dan pasti tujuan Luna adalah menangkap dirinya.
“Letakkan dia Jim.” Titah Luna tegas.
Jimy mundur dan masuk lagi kedalam ruangan periksa. Tubuh Rara diletakkan dibrankar. Dokter Shelly mendekat kearah Rara tanpa curiga pada Jimy sedikitpun. Dalam pemikirannya adalah segera memberikan pertolongan pada pasien yang terlihat sangat mengenaskan itu.
“Shelly! Berhenti!” Luna berteriak, tapi terlambat. Jimy sudah merengkuh leher dokter berkacamata itu dengan lengan kirinya. Sementara tangan kanannya telah meraih sebuah pistol jenis colt berkaliber lumayan besar.
“Aah…” Jerit dokter Shelly. “Lepaskan aku tuan… tolong lepaskan aku.” Pinta Shelly dengan sangat ketakutan. Tubuhnya semakin bergetar hebat, ketika pelipis kanannya terasa ada logam dingin yang menempel. Matanya memandang pada Luna. “Lun… tolong aku.”
Jimy menyembunyikan kepalanya dibalik kepala Shelly, membuat Luna tidak mendapatkan sasaran tembak yang bersih. Sementara lengan kirinya terus melingkar rapat dileher dokter itu. “Mundur Luna! Atau kepala dia akan bolong.” Gertak Jimy, matanya mengintip diantara telinga dan pundak Shelly.
Luna tetap diam. Dia terus fokus mencari celah untuk melumpuhkan Jimy. Tapi Jimy bukanlah penjahat kelas teri. Dia terus menyembunyikan kepalanya dibalik kepala Shelly.
Harus cepat keluar dari sini dan menuju mobil. Pikir Jimy dalam hati. Dia menarik hamer colt nya. Pertanda dia siap menembakkan peluru pistolnya.
“Mundur Luna, jariku mulai bergetar…” Jimy berkata dengan nada mengejek.
Mau tak mau Luna memundurkan langkahnya. Jimy merangsek mendorong sanderanya kearah pintu keluar klinik. Sesampai diluar klinik, punggung Jimy tetap menempel ditembok dan tangannya menarik tubuh Shelly mundur mengikuti langkahnya menuju mobilnya.
Terdengar deru motor memasuki halaman klinik. Tio dan dua pengawalnya telah tiba. Ketiganya langsung memposisikan mengepung dengan mengacungkan pistol kearah Jimy. Tio berjarak satu langkah disebelah kiri Luna.
“Hei… hei… tenang.” Jimy berusaha mengontrol situasi yang makin tidak menguntungkan. Dia tak bisa menuju kemobilnya, karena jika nekat maka area belakang tubuhnya akan terbuka dan bisa menjadi sasaran tembak yang dapat mematikannya.
Jimy masih mencoba bertahan. Meskipun dia tahu semakin lama berada disini posisinya akan semakin terjepit.
Luna segera bergeser berdiri di depan Tio, menutupi dari sasaran tembak Jimy. Tubuhnya dijadikan tameng hidup.
“Bibi kenapa menghalangiku?” Tanya Tio tak paham maksud Luna berada didepannya.
Luna tak menjawab. Dia tetap menatap kearah Jimy dan sandera. Kalo Jimy menembak Tio, itu berarti misi capit merah berhasil. Itu tidak boleh terjadi, batin Luna.
“Diam dibelakangku tuan muda.” Titah Luna.
“Tuan muda…” Tio lirih bertanya karena merasa heran. “Apakah karena dia mantanmu bi?”
Hati Tio tiba tiba seperti mendapat tekanan berton ton beban. Ugh kenapa tiba tiba terasa sesak dan gerah disini, pikir Tio dalam hati. Kenapa bibi memanggilku tuan muda, apa dia malu sama mantannya, batinnya dengan kebingungan.
“Sebaiknya tuan muda mundur saja. Biar kami yang menangani disini.” Ipda Bella mengatakan setelah menyadari situasinya.
Cerdas juga batin Luna.
“BERISIK!!! Letakkan pistol kalian semua! Cepat.” Teriak Jimy dengan geram. Sekarang dia tak punya pilihan selain kabur dengan sandera. Tapi semua tak mengindahkan perintah Jimy. “Bangsat!” Lalu Jimy memukulkan popor pistolnya kekepala Shelly. Dokter itu menjerit kesakitan. Pelipis kanannya mengucurkan darah segar.
Bersambung…
=========================
Makasih para readers…
Jangan lupa Vote, Like dan Koment
ya…
Biar makin semangat nih nulisnya
I love you Readers