Aster Jung adalah gadis cantik dan satu-satunya putri dalam keluarga Jung. Aster memiliki teman masa kecil bernama Zian Rey. Awalnya semua baik-baik saja tapi persahabatan mereka perlahan merenggang saat keduanya beranjak remaja hingga Rey dan Aster menjadi musuh bebuyutan.
"Zian Rey, aku tidak akan pernah kalah darimu. Akan ku buktikan pada dunia jika aku lebih baik darimu."
Banyak yang menyayangkan renggangnya persahabatan mereka termasuk keluarga besar Rey dan Aster. Mereka ingin mereka bisa bersatu. Hingga sebuah keputusan besar pun diambil, Aster dan Rey menjadi saudara tiri.
Dan seiring berjalannya waktu benih-benih cinta tumbuh di hati mereka berdua. Rey dan Aster saling mencintai namun sama-sama tidak ada yang menyadari perasaan masing-masing. Dan Rey baru menyadari betapa besar arti kehadiran Aster setelah wanita itu pergi dari hidupnya.
Enam tahun kemudian Aster kembali dengan seorang gadis kecil bernama Hanyeon.
"Sebenarnya dia adalah Putri kandungmu. Benih yang malam itu kau tanam di dalam rahimku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 "FLASHBACK"
Detik berganti menit, menit berganti jam dan waktu terus berjalan. Lima bulan telah berlalu dan perut Aster semakin membuncit hari demi hari.
Mengandung tanpa suami tentu bukan hal yang mudah baginya, pandangan buruk dan cibiran sering kali Aster terima. Sedih pasti, tapi Aster tidak terlalu menghiraukannya dan menganggap hal itu sebagai angin lalu. Dia tetap beraktifitas seperti biasa.
Saat ini Aster tengah membantu Emma di dapur menyiapkan makan malam. Meskipun Emma sudah melarangnya, tapi wanita itu tidak mau mendengar dan Emma tidak bisa melarangnya mengingat bagaimana keras kepalanya Aster.
"Aaahhh...!" Rintihan keluar dari sela-sela bibirnya. Emma segera mematikan kompornya dan menghampiri Aster yang terlihat meringis kesakitan.
"Aster, ada apa?" Panik Emma melihat Aster yang terlihat kesakitan. "Kita duduk dulu." Kemudian menuntun wanita itu untuk di meja makan.
"Aaahhh! Perutku kram, Ibu." Ringgis Aster sambil terus memegangi perutnya.
"Kau sih keras kepala, bukankah Ibu sudah memintamu untuk diam tapi kenapa kau tidak mau dengar." Omel Emma pada putri sambungnya tersebut.
Setelah diam selama beberapa saat, perlahan perut Aster mulai membaik. Wanita itu tidak lagi meringgis kesakitan seperti sebelumnya dan Emma melarang Aster untuk membantunya lagi dan memintanya tetap duduk. Kali ini Aster menurut.
Tiba-tiba Aster ingin memakan sesuatu yang asam dan pedas, tapi ia tidak bisa pergi ke mana pun karna Emma melarangnya. "Ibu, aku ngidam lagi." Renggek Aster yang entah sejak kapan sudah ada disamping Emma.
"Memangnya kau ingin makan apa?" Tanya Emma.
"Sesuatu yang asam dan pedas, bolehkah aku keluar untuk membelinya?" Tanya Aster setengah memohon. Wanita itu menggeleng, membuat Aster mencerutkan bibirnya "Huft, sudah aku duga. Dan bagaimana coba jika janin dalam perutku sampai ngiler karna ngidamnya tidak keturutan? Ibu, boleh ya?"
"Sekali tidak tetap tidak, Aster Jung. Ibu, akan menghubungi ayahmu dan meminta dia membelikan makanan itu sembari pulang. Sebaiknya kau tetap duduk dan jangan banyak bergerak, demi janinmu jadilah anak yang baik, oke." Aster mendengus berat, dengan terpaksa dia menuruti Emma sebelum wanita itu semakin banyak bicara.
Diam-diam Aster meneteskan air matanya. Di saat seperti ini seharusnya ada Rey yang menemani, namun keinginannya tersebut hanyalah angan-angan yang sampai kapan pun tidak akan menjadi kenyataan.
Jujur ia merasakan hidup yang begitu berat, terkadang dia merasa iri melihat wanita hamil diluaran sana yang selalu di temani oleh suaminya kemana pun dia pergi, tapi yang terjadi padanya justru malah sebaliknya. Jangankan suami, menikah pun belum dan janin yang ada di dalam rahimnya adalah janin hasil hubungan di luar nikah.
"Aster, apa yang sedang kau fikirkan?" Tegur Emma melihat kediaman Aster Buru-buru Aster menghapus air matanya. Ia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan siapa pun termasuk Emma.
"Tidak apa-apa, Ibu. Hanya merenungi masa lalu. Oya kapan ayah akan pulang? Aku sudah tidak sabar ingin segera memakannya." Ucap Aster mengalihkan pembicaraan san mencoba menyembunyikan kepedihan hatinya.
"Mungkin sebentar lagi, karna saat Ibu menghubunginya dia sedang dalam perjalanan pulang." Jawab Emma
"Ahhh! Begitu, baiklah aku akan menunggu dengan sabar. Ibu, boleh aku menyiapkan buahnya? Diam saja membuatku merasa jenuh, hanya menyiapkan buah saja.dan bukankah itu sangat ringan. Aku mohon." Emma mendesah berat, dengan berat ia mengangguk.
"Baiklah, hanya menyiapkan buah." Aster tersenyum dan mengangguk antusias. Dan tak lama Marcel pulang dengan makanan pesanan Asterm pria setengah baya itu tidak ingin membuat cucunya sampai ngiler dikemudian hari hanya karna keinginannya tidak dituruti.
.
.
.
Waktu terus berjalan, dan tidak terasa kandungan Aster memasuki bulan ke 9. Emma dan Marcel meminta Aster untuk beristirahat total dan memintanya untuk tidak melakukan apapun. Tapi bukan Aster namanya jika menurut begitu saja. Saat ini wanita itu tengah merangkai mawar yang baru dipetiknya dari halaman belakang.
Sementara Emma sedang bersih-bersih rumah dan Marcel membaca koran di teras depan.
Senyum tak pudar sedikit pun dari wajah cantiknya. Mawar adalah salah satu bunga Favoritnya, tak mengherankan bila Aster sering kali menggunakan lilin beraroma mawar sebagai terapi dikamarnya 'PRAKKK..' Suara vas terjatuh mengejutkan semua orang.
Emma dan Marcel meninggalkan kesibukkannya dan bergegas ke dalam. Dan di dalam sana terlihat Aster yang menjerit kesakitan sambil memegangi perutnya. "Suamilu, sepertinya dia akan segera melahirkan. Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit." Ucap Emma yang segera di balas anggunakn oleh Marcel.
Setibanya di rumah sakit Aster langsung di bawah keruang persalinan. Sementara Emma dan Marcel menunggu proses kelahiran cucu pertama mereka dengan gusar. Marcel terus saja mondar-mandir d depan pintu sementara Emma duduk dengan gelisah sambil menatap ke ruang persalinan secara terus menerus
"Astaga, kenapa lama sekali. Apa saja yang mereka lakukan di dalam sana." Panik Marcel di tengah langkahnya.
"Berhentilah mondar-mandir tidak jelas, Oppa. Kau membuatku pusing. Duduklah dengan tenang dan berdoa." Pinta Emma namun tak di indahkan oleh Marcel. Dan bagaimana mungkin dia bisa merasa tenang sementara putrinya sedang bertaruh nyawa di dalam sana.
Satu jam telah berlalu. Tapi proses persalinan belum selesai juga. Marcel semakin panik, sesekali dia menenggok ke dalam tapi sayangnya ia tidak bisa melihat apa-apa sampai..., 'Oekk..!! Oeekk..!' Suara tangis bayi terdengar begitu keras. Emma langsung bangkit dari duduknya , tak lama setelahnya ruang persalinan terbuka dan terlihat seorang dokter keluar dari sana
"How is my daughter doing?" Tanya Marcel pada dokter wanita berkebangsaan Amerika yang keluar dari ruang persalinan.
"Mother and baby are fine. The baby is a girl."
Marcel dan Emma bisa menghela nafas lega sekarang. Rasanya begitu plong dan mereka baru bisa menemui Aster setelah dia dipindahkan keruang inap.
Lagi-lagi Aster merasakan beban yang begitu berat karna melahirkan tanpa di dampingi ayah dari putrinya. Meskipun rasanya sangat pedih dan menyakitkan, tapi Aster akan berusaha untuk tetap kuat dan tegar, bukan untuk orang lain tapi untuk putrinya, malaikat kecilnya yang beru saja melihat dunia.
FLASHBACK END:
Rey tidak mampu berkata-kata setelah mendengar cerita Aster tentang masa-masa sulit yang dia lewati ketika mengandung sampai melahirkan Hanyeon. Ia merasa sebagai pria paling jahat di dunian karna membiarkan Aster melewati masa-masa yang begitu sulit seorang diri.
Bahkan seumur hidup pun ia tidak akan mampu menebusnya meskipun ia memberikan nyawanya. Rey tidak tau seberapa menderitanya Aster pada saat itu, dan jika saja waktu dapat di putar lagi. Rey ingin kembali ke masa lalu.
"Aster, maafkan aku. Aku benar-benar bukan pria dan seorang ayah yang baik. Aku benar-benar buruk, karna diriku kau menderita. Aku minta maaf, aku sungguh-sungguh minta maaf." Aster menggeleng.
"Tidak, Rey, ini semua bukanlah salahmu. Semua telah berlalu, sebaiknya sekarang kita buka lembaran baru. Kita mulai semuanya dari awal dan memberikan kasih sayang yang utuh untuk, Hanyeon."
"Kau memang wanita yang sangat hebat, Aster Jung. Hanyeon sangat beruntung karna terlahir dari rahim seorang Ibu sehebat dirimu, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dan aku akan memperbaiki semuanya." Aster menyeka air matanya dan berhambur ke dalam pelukkan Rey.
"Jadilah ayah yang baik untuk putrimu, itu sudah lebih dari cukup untukku dan, Hanyeon. Karna kami sangat membutuhkan kehadiranmu, Zian Rey." Ujar Aster seraya mengeratkan pelukkannya. Rey mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukkan Aster.
"Pasti, Sayang. Dan untuk itu menikahlah denganku." Sontak Aster mengangkat wajahnya, dengan tersenyum ia mengangguk dan membenamkan kembali wajahnya pada lengkungan leher Rey.
"Aku mau, Rey, aku mau menikah denganmu." Jawab Aster parau.
Aster merasa bahagia. Setelah perjuangan panjangnya, akhirnya ia bisa merasakan sebuah kebahagiaan. Baik Rey maupun Aster sama-sama tidak ada yang menyadari sejak kapan cinta itu datang dan singgah di hati masing-masing.
Rey melepaskan pelukkannya, salah satu tangannya menarik tengkuk Aster seraya memiringkan kepalanya. Dan detik berikutnya Aster dapat merasakan sesuatu yang basah dan lembut menyapu permukaan bibirnya diikuti lum*tan-lum*tan lembut yang semakin lama berubah menjadi ciuman keras yang menuntut.
Salah satu tangan Rey memeluk pinggang Aster dan menariknya lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak diantara mereka, sementara tangan lain menekan tengkuk belakang Aster agar ciuman itu tidak mudah terlepas. Dan Kris mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar Rwy setelah melihat sebuah live kiss di depan matanya
"Ya Tuhan, begini amat nasib BU-DI(bujang abadi). Bisa-bisanya kau membiarkan mata ini ternoadai oleh ciuman panas mereka."
"Uncle, kenapa tidak jadi masuk? Apakah Mam dan Daddy, Yeon, tidak ada di dalam?" Tanya Hanyeon memastikan. Kris bingung harus menjawab apa. Ia pun memutar otaknya dan mencoba menemukan jawaban yang tepat untuk pertanyaan Hanyeon.
"Ahhh! daddy dan mammi, Yeon, sedang istirahat. Bagaimana kalau, Yeon, main dengan Uncle tampan saja?" Usul Kris yang kemudian di balas anggukan oleh Hanyeon.
"Setuju, tapi Uncle harus membawaku terbang oke." Pinta Hanyeon.
"Bukan hal yang sulit. Baiklah princess, saatnya kita FLLLAAAAAYYYY..!" Teriak Kris seraya membawa Hanyeon pergi dari sana.
Dan teriakkan Kris mengintrupsi mereka berdua untuk melepaskan tautan bibirnya. Aster meninggalkan kamar Rey dan pergi ke lantai satu untuk bertemu dengan Ibu dan ayah sambungnya. Enam tahun tidak bertemu membuat Aster sangat merindukannya. Sementara Rey sedang membersihkan diri dikamarnya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Rey lekas bergabung bersama seluruh keluarganya. Dari arah tangga Rey melihat Aster yang sedang berbincang dengan Kahi dan Zian Lee, sementara Hanyeon bermain bersama Kris. Hati Rey menghangat melihat kebersamaan itu.
Dan sudah lama rasanya Rey tidak merasakan kehangatan seperti ini, senyum di bibir Hanyeon bagaikan sinar mentari pagi yang hangat dan murni. Rasanya begitu luar biasa ketika mengingat bila dirinya sudah menjadi seorang ayah.
Visual Emma, ibu tiri Aster...
.
.
BERSAMBUNG.
Dan typo lain . ada Jian juga. haduh
typo Thor 🙏
Rey akan selalu merasa bersalah mengingat beratnya perjuangan Aster. berbahagialah sekarang
rengekan sang putri akhirnya membuat Naluri seorang Ibu luluh..
keputusan yang tepat Aster.
putrimu berhak tahu siapa ayahnya
Choa ternyata laki laki