Luna, seorang mahasiswi cantik, rajin dan energik memiliki masalah dengan dosen yang memberinya nilai D pada semester lalu, Edric.
Demi menolong bapaknya yang kurang biaya rumah sakit, Luna terpaksa menuruti keinginan seorang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nyonya besar tersebut memintanya untuk menikah dengan suaminya.
Saat Luna tahu, suami dari nyonya besar itu adalah, Edric Aderald, sang dosen kejam yang ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai Di Apartemen
"Ya, apa kamu keberatan? Bukannya kau sudah setuju saat bertemu dengan Dita tadi?" tanya Edric.
"Tapi, Pak. Ini terlalu mendadak. Saya pasti akan resign, tapi jangan sekarang. Saya harus memikirkan dulu alasannya agar bisa masuk akal dan diterima dengan teman-teman dan atasan saya," jawab Luna meminta kelonggaran dari Edric.
"Fuuuuh!" Edric mengembuskan napas sambil memutar bola matanya. "Hanya satu bulan, aku tidak mau tau, kau harus sudah resign. Karena kita akan menikah besok lusa!"
"Apa?" Luna menganga, matanya terbelalak. "Dasar dekil!" umpat Luna pelan.
"Kau bilang apa?" tanya Edric.
"Ng-nggak, kok!" Hampir saja 'gelar' kebanggaan yang Luna sematkan pada Edric didengar oleh si empunya.
"Hmmm!"
Gadis itu menarik napas lega ketika Edric tidak membahas lebih lanjut.
Edric membelokkan mobilnya ke sebuah area apartemen dan memarkirkan kendaraan tersebut di basement apartement mewah.
Luna mengintip ke luar jendela, suasana gelap basement ditambah sepi karena hari sudah larut malam membuat Luna agak bergidik ngeri.
Edric memosisikan Toyota Alphard berwarna putih itu sesuai dengan marka parkir yang ada. Pria dengan hidung mancung itu pun mematikan mesin kendaraan dan melepas sabuk pengamannya. "Ayo turun!" perintahnya pada Luna.
"Di sini, Pak?" Luna celingak celinguk memperhatikan area sekeliling parkir yang gelap, karena hanya ada beberapa lampu yang agak redup di beberapa titik saja.
Edric tidak menjawab, julukannya bukanlah dosen killer jika dia tidak memberi tatapan kesal pada Luna. Pria itu menatap tajam pada Luna yang memberi pertanyaan konyol atas perintahnya dan langsung membuka pintu mobil.
"Huuh, dekil!" umpatan itu tentu saja Luna ucapkan saat Edric sudah benar-benar turun dari mobilnya.
Luna pun ikut turun dan langsung menutup pintu mobil dengan agak kencang. Hawa lembab di basement yang gelap ini membuat Luna merasa tak nyaman, apalagi harus berdua saja dengan orang yang paling menyebalkan yang pernah ia temui seumur hidupnya.
Dan Luna belum beranjak dari tempatnya, ia masih berdiri di samping pintu mobil milik Edric, saat pria tampan itu menghampirinya.
Luna membulatkan mata saat Edric berjalan mendekatinya dan memaksa Luna untuk semakin mundur hingga langkahnya terantuk pada bagian bawah mobil.
Edric berjalan terus ke arah Luna dengan wajah datar bagaimanapun ekspresi yang dikeluarkan Luna.
Sementara gadis itu melirik kanan kiri mencari pertolongan. 'Dosen killer ini mau apa sih? Jangan-jangan aku mau dimutilasi di sini.'
Edric mengarahkan sebelah tangannya ke arah Luna, sementara sebelah lagi berada dalam sakunya.
'Nggak ada orang yang bisa dimintai tolong.' Luna pun spontan menutup matanya ketika tangan Edric sudah berada dekat dengan tubuhnya. 'Ya Allah, hamba belum sholat Isya hamba masih mau hidup!'
Ceklek
Edric menarik sesuatu di belakang tubuh Luna. "Minggir!" tukasnya pada Luna.
Luna pun langsung membuka matanya dan menengok ke belakang, dia melihat pada benda yang sedang pegang Edric. "Hehe, pintu mobil! Bapak, mau buka pintu mobil, ya? Hehe." Luna menggeser-geser kakinya hingga dirinya beralih dan agak berjauhan dengan posisi Edric.
Edric masih memasang wajah jutek dan sepertinya ia bertambah kesal pada Luna. 'Dia pikir aku mau apa, pake acara tutup mata segala!' batin Edric.
Pria itu pun langsung membuka pintu dan mengambil sebuah benda, lalu menutupnya kembali. Tanpa aba-aba, dan ...!
Blug
Edric melempar benda yang baru saja ia ambil dari mobilnya.
Luna pun seketika limbung karena Edric melempar benda yang cukup berat padanya, dan benda itu adalah tas jinjing milik Luna sendiri.
"Eh, eh, eh. Dekil sialan, dekil sialan!" ucap Luna spontan, dan gadis itupun memukul-mukul mulutnya yang tiba-tiba menjadi latah. "Untung si dekilnya udah berjalan jauh."
***
Bersambung ...