Andara Agustin, gadis malang yang tidak diinginkan keberadaannya. Kehadirannya dianggap sebagai kesialan. Kalau bukan karena wasiat sang Nenek, Dara pasti sudah pergi dari keluarga yang memperlakukan dirinya tak lebih dari sampah.
Namun, takdir Tuhan membawa Dara pada seorang Raffaza Alfarezo. Presdir Perusahaan Gerdion, pria dingin dan arogan. Kesalahan satu malam yang mereka perbuat menghasilkan sosok makhluk kecil yang tak bersalah. Akan tetapi, Raffa sudah memiliki kekasih bernama Khanza Abir yang sangat dicintainya.
Siapa sangka justru sang kekasihlah yang meminta Raffa menikahi Dara, lantas bagaimana sikap Dara setelah mengetahui pria yang telah menghamilinya memiliki kekasih yang baik hati. Apa Dara tega menyakiti hati wanita lain demi anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nidati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati
Terdapat kata-kata kasar. Dimohon bijak dalam memilih bacaan.
Fera memaki dirinya sendiri di tepi jalan. Dia tidak sengaja memergoki Tomi selingkuh. Fera patah hati, merasa dikhianati oleh orang terkasih. Fera menendang apapun yang ada dihadapannya, melampiaskan rasa sedihnya. Ia kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Tidak bisa bercerita kepada siapapun. Fera memberenggut kesal karena tidak bisa menghubungi Dara. Sebenarnya apa yang sedang Dara lakukan hingga tidak mengangkat panggilan Fera.
"Akhh ... pria breng*sek, baj*ngan, bed*bah, sialan, pengkhianat!" Segala cacian Fera tunjukkan pada mantan kekasih tak menghiraukan orang yang lalu lalang memperhatikan dirinya dan menganggap Fera aneh. Yang ingin gadis itu lakukan adalah mengeluarkan segala sesak di hati. Ternyata putus cinta bisa sesakit ini.
"Kep*rat! Gue jijik pernah kenal sama lo. Dasar pria mata keranjang," umpat Fera.
Menatap sekeliling ternyata ia sudah terlalu jauh melangkah hingga tiba di danau. Fera menundukkan tubuh pada rerumputan hijau menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan dan kedua lutut. Fera menangis mengeluarkan segala sakit yang ia rasakan. Ia ingin menangis sepuasnya menjerit, meraung asal sesak di dadanya dapat berkurang. Tak percaya Fera bisa dipermainkan oleh Tomi dan hanya dimanfaatkan. Sungguh bodoh jika Fera mengingat hal itu.
"Gue udah berkorban banyak demi lo, tapi apa balasan yang gue dapat. Pengkhianatan! Lo pria paling bre*gsek yang gue kenal. Gue nyesel pernah suka sama lo!" teriak Fera disertai tangis. Tidak memperdulikan jika ada orang yang mendengar dirinya. Masa bodoh dengan keadaan sekitar. Biar saja orang menganggap Fera ini gila. Karena ia sudah gila dikhianati. Serta kecewa pada Dara yang menghilang tanpa jejak. Tidak tahu, 'kah Dara. Fera membutuhkannya di saat seperti ini.
"Balikin duit gue bego. Lo jalan sama gue, gue yang bayar, ternyata semua lelaki itu sama aja."
"Menangis lah jika itu membuatmu lega, tapi saya tidak menyetujui jika semua lelaki sama. Saya berbeda dengan lelaki lainnya," ucap seseorang di belakang Fera. Cukup mengejutkan gadis tersebut. Fera menoleh melihat siapa yang berani mengganggu dirinya.
"Lo tahu apa? Lo gak ngerasain apa yang gue rasa. Gak usah sok nasehatin gue," balas Fera ketus.
Gadis itu kembali berteriak meluapkan segala kekesalan hatinya. Mencaci maki pria bernama Tomi. Fera juga melempar kerikil pada danau sehingga menimbulkan suara gemercik air.
"Hiks... duit gue hangus. Bang*at lo punya banyak hutang ke gue. Suatu saat gue bakal tagih hutang lo!" seru Fera memekikkan telinga.
Pria yang berada di belakang Fera bahkan sampai menutup telinga mendengar suara melengking Fera. Gadis itu bersikap bodoh amat.
"Tidak ada gunanya Anda meraung seperti itu. Uang Anda pun tidak akan kembali," ucap pria tersebut.
"Bukan urusan lo. Udah sana pergi hush ... hush," usir Fera bak mengusir anak ayam.
Fera kembali menangisi sesuatu yang tak sepatutnya ditangisi. Melempar kerikil semakin brutal. Pria tersebut belum beranjak pergi dari tempatnya. Dia malah mengulurkan sapu tangan berwarna putih bersih ke hadapan Fera yang ditatap tajam oleh Fera.
"Ambil, tuh ingus kamu kemana mana." Spontanitas Fera mengambil saputangan pria tersebut mengelap seputar hidungnya. Bisa malu tujuh turunan, ketika seorang Fera ingusan dan dipergoki oleh pria. Kecantikannya bisa menurun secara drastis.
Fera mengulurkan kembali sapu tangan yang telah ia gunakan pada si pemilik. Pria itu memandang jijik pada sapu tangan miliknya.
"Kembalikan saat sudah bersih," ucap pria tersebut.
Fera menarik tangannya memasukan sapu tangan pada tas miliknya. Memandang lurus danau yang berair jernih.
"Lo ngapain masih di sini. Sono pergi tenang aja gue bakal balikin tuh sapu tangan," ujar Fera.
"Damai aja di sini."
"Sanah pergi gue mau sendiri gak tahu orang lagi patah hati ya lo. Gue gak akan bunuh diri kalau itu yang lo takutkan."
"Jangan terlalu percaya diri nona. Saya hanya suka tempat ini." Fera meringis merasakan malu. Ia juga tidak akan melakukan hal konyol hanya karena patah hati. Fera masih menyayangi hidupnya.
Hening. Mereka tidak bersuara. Menikmati keindahan danau pada sore hari. Fera tak lagi menangis hanya saja tatapannya kosong.
"Arya Pradana." Pria itu mengulurkan tangan mengajak berkenalan.
Fera menatap uluran tangan tersebut tak berapa lama Fera menjabat tangan Arya.
"Fera Lathifa," ucapnya, kemudian melepaskan tautan tangan mereka.
☘☘☘
Oma menyambut kedatangan Dara dengan heboh. Berkali-kali menanyakan keadaan Dara. Raffa menatap jengah pada Oma yang terlalu protektif. Saat keluar dari mobil dan melihat Dara kesulitan melangkah Oma meminta Raffa menggendong Dara. Terpaksa Raffa menuruti perkataan Oma. Bila tak ingin mendapat amukan dari Oma.
Dalam gendongan Raffa. Dara bisa memandang wajah tegas Raffa dari dekat. Wajah yang selalu menatapnya marah dan mata penuh kebencian. Mulutnya yang selalu mengeluarkan kata pedas, tapi semua seakan sirna saat melihatnya dari dekat. Dara harap semua penderitaannya akan berakhir dalam waktu dekat, meski terdengar mustahil.
Raffa menurunkan Dara pada ranjang miliknya, kemudian melangkah ke kamar mandi. Tak lama terdengar gemercik air. Raffa mandi atau merasa jijik karena sudah menggendong Dara. Tidak ada yang tahu.
Dara mengalihkan pandangannya ketika Oma masuk dengan nampan berisi bubur dan susu putih yang masih mengepulkan uap panas.
"Oma bawakan bubur. Kamu pasti belum makan. Oma tahu, karena makanan rumah sakit memang tidak enak."
Bahkan Dara belum sempat mencicipi bubur rumah sakit, jadi ia tidak tahu enak atau tidaknya. Oma menyendok bubur mengarahkan pada mulut Dara agar menerima suapannya. Namun, Dara menggeleng mengambil alih mangkuk bubur. Memakan bubur dengan tersenyum menatap Oma. Dara berusaha menelan bubur tersebut agak susah karena harus menahan perih pada tenggorokannya.
"Jangan dipaksakan kalau memang sakit. Sedikit-sedikit yang penting bisa masuk," ucap Oma. Dara mengangguk.
Raffa berlalu dari hadapan Dara dan Oma ketika keluar dari kamar mandi. Mengambil kaos di lemari dan memakai dengan cepat.
"Mau kemana kamu." Pergerakan Raffa membuka pintu terhenti saat Oma berkata demikian.
"Mama minta dijemput," ucap Raffa malas. Sebenarnya itu hanya alasan melarikan diri dari rumah. Raffa tidak lagi betah berada di rumah karena kehadiran Dara.
"Mama kamu bukan anak kecil yang lupa jalan pulang. Kamu di sini temenin Dara. Oma mau ke bawah bantu masak." Oma berdiri.
"Pastikan Dara menghabiskan buburnya, ya meski perlu waktu lama. Oma gak mau tahu kamu harus tetap di sini. Oma gak bisa naik turun tangga, nyeri." Raffa hanya mendengarkan tanpa niat membalas.
Sebelum pergi Oma mengusap kepala Dara, kemudian pergi. Dara tersenyum mengiringi kepergian Oma. Ya, Dara tidak tega melihat wajah tua Oma penuh kesedihan. Sebisa mungkin Dara menutupi kesedihan dirinya agar Oma tidak tahu apa yang telah anak dan cucunya lakukan pada Dara.
***
Happy reading.
Uwwu kayaknya ada pasangan baru nih. 🤭
Salam sayang dari aku.
heheh
beneran ayah dihukum 20 tahun ..
heran ..
emang melakukan pembunuhan berencana?😀
kalau sakit Karena alergi itu pengobatannya juga pakai dibius