Rebeca Alexander terbiasa mendapatkan segalanya. Kaya, cantik, dan berpengaruh, ia tak pernah ragu merendahkan Cika, gadis sederhana yang berani menjadi saingannya di kampus.
Bagi Rebeca, Cika hanyalah gadis miskin yang tidak tahu tempat.
Namun hidupnya hancur saat sang ayah membawa seorang wanita baru ke rumah mereka. Dan wanita itu adalah Cika.
"Aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai ibu tiriku!"
Cika menyahut dingin. "Bagus. Karena aku juga tidak berniat menggantikan ibumu. Aku hanya akan menjadi istri ayahmu. Dan mulai detik ini, aku punya aturan baru di rumah ini ... belajarlah untuk menghargai orang lain, terutama aku."
Bisakah dua gadis seumuran dan keras kepala itu bersatu dan akur? Atau malah jadi musuh selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18. SATU KEHILANGAN, SATU PENGAKUAN
Cika kembali menelan ludah. Tangannya tanpa sadar saling menggenggam semakin erat.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajah dan menatap Galih dengan senyum tipis. "Maaf, Mas ... untuk sekarang saya belum bisa memberi tahu siapa orangnya."
Galih tampak terkejut. "Kenapa?"
"Bukan karena saya tidak percaya sama Mas," jawab Cika pelan. "Hanya saja ... kami sepakat untuk tidak banyak menceritakan soal pernikahan ini sebelum akad berlangsung."
"Oh ..."
"Setelah semuanya resmi, nanti Mas juga pasti akan tahu."
Galih terdiam. Meski rasa penasarannya semakin besar, ia tidak ingin memaksa.
"Tapi ... calon suami kamu orang yang baik kan?" tanyanya hati-hati.
Senyum Cika kali ini sedikit lebih lebar.
"Alhamdulillah, Mas. Dia orang yang sangat baik."
"Dia menyayangi kamu?"
"I-Iya." Agak ragu Cika menjawabnya karena yang ia tahu, Robinson menikahinya demi untuk membantunya.
"Dan ... kamu juga menyayanginya?"
Cika menundukkan kepala sesaat sebelum mengangguk pelan. "Iya, Mas." Meskipun kenyataannya ia hanya menghormati Robinson.
Jawaban itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris dada Galih. Selama ini, ia memang memendam rasa pada Cika. Namun, ia memilih diam karena masih mencari waktu yang tepat untuk mengutarakan perasaannya pada Cika. Tapi ternyata ... ia terlambat. "Cintaku layu sebelum berkembang," batinnya. Ia menatap Cika dengan dada sesak. "Cika ..." Galih tersenyum tipis, meski senyum itu terasa begitu pahit. "Selamat, ya."
"Terima kasih, Mas."
"Semoga lancar sampai hari H dan kamu bahagia."
"Aamiin."
Suasana kembali hening.
Galih mengalihkan pandangan ke halaman rumah. Angin pagi berembus pelan, tetapi sama sekali tidak mampu mengusir sesak di dadanya. "Kalau kenyataannya seperti itu ... saya nggak akan menahan kamu lagi."
Cika mengangguk. "Saya pamit dulu ya, Mas. Tolong sampaikan salam dan permintaan saya untuk Gian. Maaf kalau saya tidak bisa ke dalam untuk menemui Gian lagi."
"Tidak apa-apa, Cika. Nanti saya sampaikan sama Gian. Kalau kamu ke dalam lagi, dia pasti bakal ngamuk lagi dan melarang kamu pergi dari rumah ini."
Cika tersenyum sopan, lalu berdiri. "Iya, Mas. Terima kasih. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Galih hanya memandangi langkah Cika yang semakin menjauh hingga gadis itu keluar dari gerbang rumahnya. Ia mengembuskan napas panjang. "Semoga lelaki pilihanmu, benar-benar bisa membahagiakanmu, Cika," gumamnya lirih. "Bukan hanya Gian yang kehilangan sosokmu. Aku pun sangat kehilangan, Cika."
Cika berdiri sejenak di depan gerbang rumah Gian. Ia menunggu ojek online yang baru ia pesan. "Habis dari sini, aku mau langsung ke rumah sakit," tuturnya.
Tujuh menit kemudian, ojol yang ia pesan datang menghampiri. Cika segera menyebutkan alamat tujuan, dan naik ke jok belakang. Motor melaju meninggalkan perumahan elit itu.
"Kapan ya, aku cerita tentang rencana pernikahanku dan Pak Robinson ke Sinta?" Cika sibuk membatin. "Kalau hari ini, rasanya kecepetan. Nanti aja deh, tiga hari sebelum akad," putusnya masih dalam hati.
***
Rebeca turun dari mobilnya setelah merapikan penampilan. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan pesan baru dari Elgar.
Kak Elgar: Aku sudah di dalam, Cantik. Di lantai dua, ruangan VIP nomor tujuh.
"Tenang ... Beca." Rebeca menyentuh dadanya. Jantung di dalam rongga dadanya seakan mau loncat keluar. "Aduh! Sumpah ya, aku nggak bisa tenang," monolognya sambil memejamkan mata centil. "Demi apa pun ... khayalanku berduaan dengan Elgar sebentar lagi akan jadi kenyataan. Aaaa ...!" Ia menjerit kecil. "Stop, Beca. Sekarang waktunya masuk. Jangan buat idolamu menunggu terlalu lama."
Rebeca menarik napas panjang beberapa kali sebelum akhirnya melangkah memasuki Kafe Sweet Dream. Aroma kopi yang khas langsung menyambut indra penciumannya.
Dengan jantung yang masih berdebar tak karuan, ia berjalan menuju tangga, lalu naik ke lantai dua sesuai petunjuk dari Elgar.
Sesampainya di lorong VIP, langkahnya melambat. Pandangannya berhenti di sebuah pintu bertuliskan VIP Room 7.
"Ya Tuhan ... semoga aku nggak salah tingkah," gumamnya pelan. Rebeca mengangkat tangan, lalu mengetuk pintu tiga kali.
Tak sampai beberapa detik, pintu itu terbuka. Elgar berdiri di baliknya dengan senyum hangat yang langsung membuat jantung Rebeca berdetak semakin cepat. "Silakan masuk," ucap Elgar ramah sambil membuka pintu lebih lebar.
"Makasih, Kak," jawab Rebeca pelan.
Baru saja Rebeca melangkah masuk, Elgar perlahan meraih tangan kanannya. Rebeca refleks membeku. Dengan sikap yang begitu sopan, Elgar menundukkan kepala, lalu mengecup singkat punggung tangan Rebeca sebagai bentuk penghormatan. "Terima kasih sudah datang," ujarnya lembut.
Rebeca merasa seluruh tubuhnya seperti tersambar petir. "Oh God ... oh God ... oh God!" jeritnya histeris di dalam hati. Wajahnya langsung memerah sampai ke telinga. Lututnya mendadak lemas, sementara jemari yang tadi disentuh Elgar terasa mati rasa. "Ini ... ini beneran kejadian?" batinnya. "Idolaku ... barusan ... cium punggung tanganku?" Kepalanya mendadak terasa ringan. "Astaga ... aku mau pingsan." Untung saja ia masih bisa mengendalikan diri meski tubuhnya sudah tremor hebat. Kalau bukan karena harga dirinya, mungkin sedari tadi ia sudah menjerit sambil berguling-guling kegirangan.
Elgar yang melihat Rebeca hanya tersenyum kecil. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya heran saat melihat gadis itu mematung.
Rebeca buru-buru mengangguk berkali-kali. "E-eh ... i-iya, Kak. Aku ... aku baik-baik aja." Namun suaranya terdengar bergetar.
Elgar terkekeh pelan. "Santai saja. Anggap saja kita lagi ngobrol biasa."
"I-iya ..." Dalam hati, Rebeca justru menjerit semakin keras. "Mana bisa santai, Kak! Orang yang lagi berdiri di depanku ini adalah laki-laki yang selama ini cuma bisa aku kagumi dari jauh. Sekarang kami benar-benar berduaan dalam satu ruangan. Bahkan tadi Kak Elgar mencium punggung tanganku ... Ya Tuhan ... jangan-jangan setelah pulang nanti aku bakal susah tidur seminggu!" Rebeca diam-diam mencubit punggung tangannya sendiri. "Aww ..."
"Kamu kenapa?" tanya Elgar.
Rebeca langsung menggeleng cepat. "Nggak ... nggak kenapa-kenapa." Padahal dalam hati ia tersenyum lebar. "Syukurlah ... ternyata ini bukan mimpi."
Elgar menarikkan salah satu kursi untuk Rebeca. "Silakan duduk, Cantik."
"Makasih, Kak." Rebeca segera duduk. Begitu pandangannya mengarah ke meja, matanya langsung membulat. Berbagai makanan dan minuman sudah tersaji rapi.
Ada pasta, chicken steak, kentang goreng, dessert, serta dua gelas minuman dingin yang tampak begitu menggoda.
Elgar ikut duduk di hadapannya. "Aku inisiatif pesan duluan. Nggak apa-apa, kan?"
Rebeca langsung menggeleng. "Nggak apa-apa, Kak. Makasih banyak. Aku suka kok sama makanan dan minuman ini."
"Syukurlah." Elgar tersenyum. "Aku sempat takut selera kita beda."
Rebeca ikut tersenyum. Perlahan rasa gugupnya mulai berkurang.
Elgar mengambil gelas minumnya, lalu menyesap sedikit. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh, Kak."
"Sebenarnya ... sejak kapan kamu mengidolakan aku?"
Pertanyaan itu membuat mata Rebeca langsung berbinar. "Sejak sekitar tiga tahun lalu, Kak."
Elgar tampak terkejut. "Selama itu?"
"Iya."
"Gimana ceritanya?"
Rebeca tersenyum malu. "Awalnya aku nggak sengaja nonton series pertama Kak Elgar. Waktu itu aku cuma iseng karena lagi ramai dibahas di media sosial."
"Oh?"
"Iya. Awalnya aku pikir ya cuma aktor yang lagi viral aja. Tapi setelah nonton beberapa episode, aku jadi kagum sama akting Kakak."
Elgar tertawa kecil. "Serius?"
"Iya, serius." Rebeca mengangguk antusias. "Ekspresi Kakak natural banget. Terus setelah dramanya selesai, aku mulai cari tahu tentang Kakak."
"Terus?"
"Aku mulai ngikutin akun media sosial Kakak, nonton semua series dan film yang Kakak bintangi. Terutama film yang booming kemarin ... Ada Apa Dengan Fabian. Ihhh ... aku suka banget sama akting Kak Elgar. Keren!" Rebeca mengangkat kedua jempolnya. "Dari situ ... aku makin nge-fans sama Kakak. Pokoknya semua video wawancara sampai acara variety show yang ada Kakaknya aku tonton!"
Elgar menggeleng sambil tersenyum geli. "Wah ... sampai segitunya."
Rebeca terkekeh pelan. "Pokoknya kalau ada konten baru tentang Kak Elgar, pasti aku nonton."
"Makasih, Cantik." Elgar melemparkan senyum manis pada Rebeca. Membuat jantung gadis itu seperti akan meledak. "Jujur, aku senang bisa ketemu langsung sama salah satu penggemarku."
Mendengar kalimat itu, jantung Rebeca makin berdentam tak terkendali. "Oh God ... hari ini benar-benar jadi hari paling membahagiakan dalam hidupku," batinnya sambil berusaha menahan senyum lebarnya agar tidak terlihat terlalu berlebihan.
Suasana kembali hening beberapa saat. Rebeca memainkan sedotan di gelasnya, seolah sedang mengumpulkan keberanian. "Kak ... sekarang gantian aku yang nanya ke Kakak, boleh nggak?"
Elgar mengangguk pelan. "Tentu."
Rebeca menarik napas dalam. "Kenapa ... dari sekian banyak penggemar ... Kak Elgar justru memilih aku untuk diajak ketemuan?"
Pertanyaan itu membuat Elgar terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab.
Tatapannya justru tertuju lurus ke wajah Rebeca. Sorot matanya begitu dalam hingga membuat Rebeca salah tingkah. "A-ada apa, Kak?" tanyanya gugup. "Maaf kalau pertanyaanku tidak sopan. Nggak usah-"
Elgar menggeleng pelan sambil mengangkat tangan. "Aku sama sekali tidak keberatan dengan pertanyaanmu," sela Elgar. "Serius kamu mau tahu jawabannya?" Elgar balik bertanya.
Rebeca mengangguk.
Elgar mengembuskan napas pelan. "Karena ..." Rebeca menunggu dengan jantung berdebar. "Aku jatuh cinta sama kamu, Rebeca Alexander."
Mata Rebeca langsung membulat sempurna. Bibirnya terbuka lebar. "A-apa ...?" Suara yang keluar nyaris menghilang. "K-Kak Elgar j-jangan bercanda?" tepisnya.
Elgar tersenyum tipis. "No, Beca. Aku tidak bercanda. Aku serius dengan pengakuanku tadi. Aku ... memang jatuh cinta padamu. Dan maukah kamu menjadi pacarku?"
Ucapan itu membuat Rebeca semakin membeku. Otaknya mendadak kosong. Ia hanya bisa menatap Elgar tanpa berkedip. "K-Kakak nggak sedang akting, kan?"