Cerita ini tentang cowok 'penakut' yang selalu ditolak sama cewek.
Dia bernama Dafa, dimana dia selalu berteman dengan cewek dan dengan mudahnya dia jatuh cinta. Entah beneran cinta atau karena merasa iri sama yang lain yang bisa dengan mudahnya mendapatkan pacar. Dafa tipe orang yang mudah terbawa perasaan, sehingga jika ada seseorang yang baik kepadanya dia langsung suka. Tetapi sayangnya, yang dekat dengannya rata-rata hanya menganggap dia sebagai teman tidak lebih.
Ikuti ceritanya dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nureti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Di rumah.
"Assalamualikum nek." ucapku.
"Waalaikumsalam nak, sudah pulang?" ucapnya.
"Iya nek." ucapku mencium tangan nenek dan masuk ke dalam rumah.
"Makan dulu Nin." katanya.
"Iya nek, aku ganti baju dulu." kataku.
Aku melangkahkan kaki ke kamar tidur untuk mengganti pakaian dan kembali menuju meja makan.
"Nenek belum makan?" tanyaku yang melihat nenek duduk di meja makan.
"Iya nak, nenek nungguin kamu." katanya sambil mengambil nasi.
"Kenapa harus nungguin nek, seharusnya makan duluan saja. Takutnya aku juga pulang lambat." kataku.
"Sudah ayo duduk, kita makan bersama." katanya.
"Hmmm." kataku menarik kursi untuk duduk.
Seperti biasa, suasana makan hening tidak ada obrolan. Hanya suara dentingan sendok dan piring yang saling beradu.
"Besok ayah dan ibu mu pulang." katanya yang sudah selesai makan.
"Iya nek, ibu sudah ngasih tahu aku semalam." kataku.
"Oh syukurlah kalau begitu." katanya.
Flashback On.
Iya memang semalam ibu telp, waktu aku sedang berkemas buku untuk di bawa ke sekolah. Tiba-tiba ibu telpon.
"Assalamualaikum nak." ucap ibu.
"Waalaikumsalam bu, apa kabar?" ucapku.
"Baik nak, kamu sendiri gimana keadaannya sudah mendingan? kata nenek kamu sakit?" tanyanya.
"Alhamdulillah bu, aku sudah baikan ini lagi kemasin buku untuk besok dibawa ke sekolah." kataku.
"Syukurlah kalau begitu." katanya.
"Iya bu, ada apa telpon?" tanyaku.
"Oh ini nak, besok ayah dan ibu pulang." katanya.
"Naik apa?" tanyaku.
"Naik bus nak, soalnya banyak barang yang harus dibawa. Kita mau pindah, sudah tidak duduk disini lagi." katanya.
"Beneran mau pindah bu?" tanyaku.
"Iya nak." katanya.
"Iya sudah hati-hati bu pulangnya." kataku.
"Iya, kamu juga istirahat sudah malam." katanya.
"Iya bu, iya sudah assalamualaikum." kataku.
"Waalaikumsalam." katanya.
Aku melanjutkan menyiapkan apa yang harus dibawa besok. Setelah selesai aku mencuci muka dan langsung tidur.
Flashback Off.
Aku merapihkan piring kotor dan membawanya ke dapur belakang untuk dicuci. Sedangkan nenek menyiapkan makanan yang mau di jual.
Aku nemenin nenek jualan. Tiba-tiba handpone ku berdering dan ada satu pesan dari Dafa.
"Nin." isi pesan itu.
"Iya." balasku.
"Malam sibuk tidak? jalan yuk." katanya.
"Kemana?" tanyaku.
"Ke pasar malam yang ada di alun-alun. Katanya ini malam terakhir dan aku belum kesana." katanya.
Deg.
"Pasar malam." ucapku tanpa sadar. Dan langsung terlintas dipikiranku mengingat kebersamaan dengan Ikhsan di pasar malam itu.
"Apa aku ikuti ajakan Dafa? aku kangen sama kamu Ikhsan." batinku meneteskan air mata.
"Iya Daf ayo." balasku pada akhirnya.
"Berdua saja iya." pintanya.
"Iya." jawabku singkat karena kali ini tidak mau berdebat.
"Yey, aku habis magrib ke rumah iya. Kalau terlalu malam, takut besok kesiangan ke sekolah." jawabnya.
"Iya Dafa." balasku.
Dafa disana lagi kegirangan karena akhirnya bisa jalan berdua sama aku. Tetapi tidak dengan aku. Aku menerima ajakan Dafa karena aku kangen sama Ikhsan dan salah satu kenangan kita yaitu di pasar malam itu.
"Nek, aku habis magrib ke pasar malam lagi iya nek, sama Dafa." kataku ke nenek yang lagi mengasingkan jualannya yang sudah habis.
"Iya nak pulangnya jangan malam-malam karena besok kamu masih sekolah." katanya.
"Iya nek." kataku yang mengambil nampan-nampan yang kosong itu.
Aku masuk ke rumah membawa nampan-nampan kosong itu untuk membersihkannya. Karena jualan nenek pun tinggal sedikit, jadi nenek memutuskan untuk menutup jualannya hari ini.
Aku menonton televisi setelah melaksanakan shalat magrib di musolah. Tiba-tiba terdengar suara motor mematikan mesinnya di depan rumah.
"Assalamualaikum Nin." ucap seseorang dibalik pintu.
"Waalaikumsalam. Iya tunggu sebentar." kataku berjalan ke arah pintu.
"Eh Dafa, sudah sampai?" tanyaku.
"Iya, nenek mana?" tanyanya yang tidak melihat keberadaan nenek.
"Nenek lagi di belakang." kataku.
"Iya sudah aku mau pamit ke nenek dulu." katanya memasuki rumah menuju dapur belakang.
"Nek, aku mau ngajak Nina pergi dulu." katanya menyalami nenek.
"Oh Dafa, iya boleh nak. Hati-hati bawa motornya." kata nenek.
"Iya nek, aku permisi dulu. Assalamualaikum." kata Dafa pamitan.
"Assalamualaikum nek." kataku mencium tangan nenek.
"Waalaikumsalam." kata nenek.
Aku dan Dafa pergi ke pasar malam itu.
Jalanannya tidak semacet waktu aku dan Ikhsan kesini.
Aku dan Dafa mengelilingi pasar malam.
"Eh bentar Nin, kita beli nyoklat dulu." kata Dafa berhenti di kedai minuman coklat.
"Mas nyoklatnya dua." kata Dafa memesan minuman.
"Mau topping apa mas?" tanya penjualnya.
"Nin kamu mau apa?" tanya Dafa.
"Gue oreo saja." kataku.
"Topping oreo sama bubble mas." kata Dafa.
"Baik mas. Tunggu sebentar." kata penjualnya.
Tidak harus menunggu lama minuman nyoklat sudah ada di tangan.
"Ini mas bayarnya terimakasih." kata Dafa meninggalkan kedai nyoklat itu diikuti aku di belakangnya.
"Nin kita naik bianglala yuk?" ucap Dafa.
Aku memandangi sekilas bianglala itu. Banyak lampu yang mengelilingi wahana itu menjadikannya sangat indah.
Aku hanya menganggukan kepala.
Kita naik ke wahana itu. Saat berada di atas, hal yang paling aku suka adalah bisa melihat keseluruhan pemandangan pasar malam ini dari atas bianglala.
Aku menengok ke samping tempat duduk aku, dan aku melihat Ikhsan yang tersenyum menatapku. Senyuman itu persis saat aku dan dia menaiki wahana ini. Tiba-tiba air mataku jatuh tanpa permisi.
Dafa yang melihat aku tiba-tiba menangis langsung menggenggam tanganku.
"Hey kenapa?" tanyanya panik.
Aku langsung memeluk Dafa.
"Aku kangen." kataku yang akhirnya pecah juga tangisanku ketika bisa mengungkapkan dua kata itu.
Dafa mengelus kepalaku dengan lembut.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lebih tenang." katanya. Meski batinnya sakit melihat aku menangisi seseorang yang aku cintai.
Aku melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku.
"Kenapa hati aku sakit, melihatmu terpuruk seperti sekarang ?" batin Dafa.
Bianglala berhenti beroperasi dan aku langsung turun meninggalkan Dafa. Dafa mengikutiku hingga dia berada di sampingku dan menggenggam tanganku.
"Gue mau pergi dari tempat ini." kataku menatap Dafa.
"Iya, ayo kita pergi." katanya tersenyum.
Aku dan Dafa meninggalkan pasar malam ini. Selama diperjalanan air mataku tak kunjung berhenti, Dafa hanya melihatku dari kaca spion.
"Kamu mau langsung pulang?" tanyanya.
"Gue tidak tahu." kataku menatap kosong.
"Kita ke taman dulu iya, kali saja bisa membuatmu lebih tenang." katanya.
Tanpa ada balasan dariku, Dafa melajukan motornya ke taman kota. Suasana taman kota malam ini lumayan sepi, biasanya ramai meski sudah malam. Mungkin orang-orang malam ini berkumpulnya di pasar malam itu.
Aku melangkahkan kakiku ke taman dan duduk di bangku taman di ikuti Dafa di belakangku.
Aku diam menatap kosong ke sungai yang ada di tengah-tengah taman.
"Kalau masih mau menangis, menangis saja jangan ditahan." katanya menatapku.
Aku hanya diam.
"Tapi tolong, setelah ini kamu tidak menangisinya lagi. Hatiku sakit melihatmu menangis seperti ini." katanya.
Aku menatap Dafa dan memeluknya. Dafa mengeratkan pelukannya.
"Kamu harus janji padaku, kamu tidak akan seperti ini lagi." katanya mengangkat wajahku supaya bisa menatapnya.
"Gue tidak berjanji." kataku mengalihkan pandanganku.
"Lu masih beruntung Daf, meski Yanti menolak lu tapi dia masih ada. Lu masih bisa melihatnya. Sedangkan gue? dia juga menyukai gue. Tapi dia meninggalkan gue untuk selamanya." kataku yang akhirnya menangis lagi.
Dafa memelukku erat.
"Iya kamu benar Nin. Tapi aku ada, aku disini akan selalu ada di sampingmu." katanya.
Aku masih menangis di pelukan Dafa sampai benar-benar aku merasa lebih baik.
"Maafkan gue, baju lu jadi basah karena gue menangis terlalu lama." kataku yang sudah tidak menangis lagi.
"Tidak masalah, asal kamu sudah merasa lebih baik." katanya tersenyum.
"Kita pulang yuk, sudah malam." kataku berdiri.
"Iya ayok." katanya.
Kita berdua meninggalkan taman kota.
Dafa melambatkan kecepatan motornya.
"Kenapa?" tanyaku.
"Takut kamu kedinginan. Udara malam ini sangat buruk dan aku tidak bawa sweeter." katanya.
"Gue tidak apa-apa Dafa. Gue juga pakai baju panjang jadi tidak masalah." kataku.
"Tapi kamu baru juga sembuh." katanya.
"Sudah tidak apa-apa. Lu lajunya lambat udaranya semakin tidak baik." kataku meyakininnya.
"Baiklah, kamu pegangan." katanya.
"Iya." kataku yang langsung memegang pinggang Dafa.
Benar kata Dafa udara malam ini sangat dingin. Aku memeluknya dari belakang.
Kita sudah sampai di rumah nenek.
"Terimakasih." kataku tersenyum ke arahnya.
"Sama-sama, kamu minum teh hangat dulu untuk menghangatkan tubuh kamu." katanya.
"Iya, sebentar yah gue ambilin jaket dulu buat lu pakai." kataku hendak masuk ke dalam rumah.
"Tidak usah, gue sudah biasa." katanya menolak.
"Yakin?" tanyaku.
"Iya." katanya tersenyum.
"Iya sudah lu hati-hati pulangnya." kataku.
"Iya sayang." katanya tersenyum.
Aku menatapnya tajam.
"Haha becanda Nin, iya sudah aku pulang dulu. Assalamualaikum." katanya.
"Waalaikumsalam." kataku.
Dafa sudah pergi meninggalkan halaman rumah nenek. Aku memasuki rumah, dan ternyata nenek sudah tidur. Aku langsung masuk ke kamar dan merebahkan diri.
...****************...
jangan lupa mampir di karyaku juga ya
minding baca komik bobo
salam dari Barryneald :))
#Izin Thor
salam kenal 🤗
semangat berkarya 💖
jika ada waktu jgn lupa feedback ke karyaku "love in silence" dak tinggal kan jejak like dan comment mu sbg bentuk dukungan karayku 😘
Terima-kasih banyak.
jgn lupa mampir juga di novelku dg judul "My Annoying wife" 🍇🍇🍇
kisah cewe bar bar yang jatuh cinta sama cowo polos ☘️☘️☘️
tinggalkan like and comment ya 🥭