Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tak peduli
...•••...
BRAK!
Bari sontak menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang dibuka secara kasar. Seorang wanita berdiri di ambangnya dengan napas memburu dan raut wajah kesal, seolah tak punya waktu lagi untuk berurusan dengan siapa pun yang mencoba menghalanginya.
“Maaf, Pak. Bu Seline yang memaksa masuk,” ujar seorang satpam yang baru tiba di belakang wanita itu dengan napas yang sama memburunya.
Bari mengangkat sebelah tangan, memberi isyarat agar satpam itu pergi. Setelah pria tersebut menjauh, ia kembali menghadap layar laptopnya, melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti. Seolah tak ada seorang pun yang baru saja menerobos masuk ke ruangannya.
Wanita itu membanting pintu hingga tertutup. Suara dentumannya memenuhi ruangan, tetapi tak cukup untuk membuat Bari kembali menoleh. Melihat pria itu tetap sibuk dengan pekerjaannya, ia segera melangkah menghampiri meja kerja.
Sebuah amplop cokelat dilemparkannya ke atas meja, tepat di hadapan Bari.
“Kurasa kau bukan pria bodoh yang menikahi seorang wanita tanpa tahu latar belakangnya,” ujar wanita itu, menatap Bari dengan tajam.
Gerakan jemari Bari di atas papan ketik terhenti. Perlahan, ia mengangkat kepala dan menatap wanita di hadapannya. Sebuah dengusan lolos dari hidungnya sebelum ia menyandarkan punggung ke kursi kerja, tampak begitu santai meski sorot matanya tidak demikian.
“Siapa Anda sampai berani mencampuri hidup saya?”
“Siapa?” Sahut perempuan itu cepat sambil menggebrak permukaan meja dengan kedua tangannya. “Aku ibu Jay—”
“Ibu mana yang tega meninggalkan anaknya?!” potong Bari tak kalah cepat dengan suara meninggi, menandakan bahwa kesabarannya mulai menipis.
Wanita itu mendengus, kembali menegakkan tubuhnya, menatap Bari dengan ekspresi tak percaya, seolah tidak menyangka pria itu akan membalas ucapannya dengan serangan yang sama.
“Aku tahu aku salah. Tapi bukan itu yang sedang kubahas!” tegasnya. “Perempuan yang kau nikahi itu seorang pembunuh. Perempuan yang Jayden cintai! Apa kau tidak takut hal buruk terjadi?”
Bari tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap mantan istrinya selama beberapa saat sebelum akhirnya bangkit dari kursinya. Satu tangannya terangkat untuk melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya, lalu ia berbalik menuju dinding kaca yang membentang dari lantai hingga langit-langit ruang kerja itu.
Dari ketinggian gedung pencakar langit tersebut, pusat kota terbentang luas di hadapannya. Deretan gedung menjulang di antara jalanan yang dipenuhi kendaraan, sementara hiruk-pikuk kehidupan di bawah sana tampak begitu kecil dari tempatnya berdiri. Pemandangan itu biasanya menjadi latar yang menenangkan di sela kesibukannya, tetali kali ini Bari hanya berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan sebelum ia memutuskan untuk menanggapi kedatangan mantan istrinya.
“Kalau memang itu akan terjadi, ya mau bagaimana lagi?” jawabnya akhirnya.
Wanita itu tertegun, seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Gila!” serunya seraya melangkah menghampiri Bari. “Apa kau sudah gila, hah?!”
Ia mencengkram lengan lelaki itu, memaksanya berbalik menghadap dirinya. “Gunakan otakmu bajingan!”
Pukulannya mendarat di dada Bari. Namun, pria itu hanya diam tak menunjukkan ringisan sama sekali, sebelum akhirnya pria itu menangkap pergelangan tangannya. Ia menundukkan tubuh hingga wajah mereka berjarak dekat.
“Aku tak peduli. Bahkan kalau Jayden menyukainya, bukankah itu menyenangkan? Kami bisa berbagi ranjang ber—”
Cuih!
Wanita itu meludahi wajah pria di hadapannya.
“Gila!” Ia menyentakkan pergelangan tangannya, melepaskan diri dari cengkeraman Bari. “Kau benar-benar sinting!”
Tatapannya menyiratkan kemarahan sekaligus kekecewaan. Bagaimana mungkin pria yang seharusnya ikut memikirkan keselamatan anak mereka justru menanggapi semua ini seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan?
“Aku akan mengambil Jayden darimu!” bentaknya. “Aku tidak akan membiarkan anakku terus tinggal bersama pria sinting sepertimu!”
Wanita itu langsung berbalik dan meninggalkan ruang kerja itu tanpa menunggu jawaban. Langkahnya terdengar cepat dan berat, seiring amarah yang masih membakar dadanya.
Bari hanya menatap kepergian mantan istrinya dengan tenang. Setelah pintu tertutup, ia mengusap ludah di wajahnya dengan ujung jari. Tatapannya beralih pada jemari itu sebelum perlahan menjilatnya.
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG